Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Halau


__ADS_3

Di dekat kedua kandidat dayang pendamping putri mahkota, keduanya bersikap tegang bahkan untuk melemparkan senyuman pun sangat sulit. Keduanya bertekad ingin menjadi di dekat sang putri. Sampai pada hari ini putri memberikan sebuah pertanyaan kepada mereka.


“Beritahu pada ku, apakah yang kalian harap kan sesungguhnya dari ku jika aku mengabulkan sebuah permintaan” ucap sang putri duduk di dekat sang ratu.


Dayang yang memakai pita merah bergerak maju lalu menunduk kemudian memberi hormat.


“Wahai tuan putri yang adil dan bermurah hati kepada rakyatnya. Ijinkanlah aku meminta sesuatu yang berharga sebagai tanda jasa abdi ku” ucapnya memelas.


Dayang selanjutnya berdiri di hadapannya, dia memberi hormat dan membungkuk sebanyak tiga kali. Di benaknya dia tidak berharap kemungkinan untuk menjadi pendamping sang putri. Dia tidak memiliki pengetahuan yang luas bahkan keahlian dalam bidang seni dia juga tidak mengetahuinya. Dayang yang mengikat rambut kuncir duanya dengan pita berwana hijau.


“Tuan putri, hamba tidak tau harus meminta apa. Tapi yang pasti hamba ingin menjadi pelayan engkau yang setia dan hamba bisa makan dengan kenyang setiap hari.”

__ADS_1


Mendengar jawaban dayang kedua, sang putri dan ratu langsung tertawa. Melihat hal itu, dayang yang mengenakan pita berwarna merah menjadi sangat kesal.


“Ibunda, sudah hamba putuskan untuk memilih dayang yang kedua” ucap sang putri.


...----------------...


Penjaga pendamping raja Permadi setiap hari selalu mengawasi sang putri mahkota dari kejauhan. Dia melihat perkembangan kesehatan sang putri yang semakin puluh. Setiap hari pula sang raja jin bersayap itu tanpa lelah menunggu putri Arska di tepi danau ataupun lembah sungai jin.


Suara tabu gong dan sofar terdengar keras, raja Permadi terbang di angkasa melihat gerombolan dari kerajaan lain menunggangi kuda hitam menuju perbatasan wilayah. Arah yang mereka tuju ke benteng raksasa Jati Jajar, wajah yang tidak asing itu aalah pangeran Tranggala membawa pasukan dan kibaran bendera kerajaan. Benteng kerajaan di buka, para gerombolan berkuda itu memasuki istana.


“Segera beritahu aku jika ada yang tidak beres disana” kata sang raja.

__ADS_1


“Perintah di laksanakan.”


Raja Jati Jajar dan pangeran Trangga bertemu di aula istana. Dia membawa beberapa hadiah di dalam kotak-kotak besi besar yang bersulam kain emas.


“Pangeran, aku tidak bisa menerima hadiah semewah ini” ucap raja Jati Jajar.


“Wahai yang mulia, ini adalah tanda kesetiaan dan kedamaian dari kerajaan kami kepada Jati Jajar” ucapnya sambil tersenyum lalu meneguk secangkir teh hangat.


Acara kedatangan putra mahkota itu di gelar, para punggawa dan pejabat ikut berjabat tangan dan menghadiri pertemuan dengan pangeran Tranggala. Di dalam alun-alun istana, tirai di buka memperlihatkan para jin penari yang cantik sedang memberi pertunjukan tari-tarian yang indah di sertai iringan musik.


“Pangeran, penari mana yang cantik dan engkau suka? Aku akan membawakannya untuk mu” bisik salah satu pejabar perairan.

__ADS_1


“Siapa lagi bunga yang bisa menarik perhatian ku selain putri raja yang tidak mau membalas tatapan ku disana?” jawab pangeran Tranggala.


Pandangan tajam berusaha menggoda putri Arska yang duduk di samping sang ratu. Jika mengingat semua reinkarnasi yang terjadi mungkin mereka enggan atau berani menampakkan diri. Tapi ingatan yang terhapus untuk memperbaiki waktu dari ramuan cenayang Karang menjadi sebuah anugerah akibat cinta biru raja Permadi dan putri Arska.


__ADS_2