
“Pergi kalian semua!” ucapnya lagi mendorong sang Ratu sampai berpindah keluar kamar.
“Berani sekali kau!” sang Ratu mengangkat tangan hendak mengayunkan ke wajah sang putri.
Tangannya di tahan oleh Ratu Rafa, dia menarik tubuh sang Ratu berjalan beriringan menuju alun-alun istana.
“Ratu Sesa, sudah cukup” ucap Ratu Rafa.
“Kau lihat, anak itu semakin aneh. Para dayang pendampingnya hilang tanpa jejak.” Ucap Ratu Sesa melotot mengatur nafasnya yang mulai tidak stabil.
“Tenanglah, pengawal pribadi ku akan menangani kasus ini. Biarkan putri Helena istirahat, dia tidak mengganggu mu bukan?”
...🔥🔥🔥...
Di kerajaan Yaksa
Ibu suri terkulai lemas di atas ranjang kebesaran dengan baju tidurnya. Dia enggan makan dan minum bahkan para dayang yang hilir mudik ke kamarnya keluar masuk membawa hidangan yang masih utuh. Dia sedang menyalakan sinyal tuntutan kehendak yang belum tercapai kepada Raja Permadi, keinginan menikahkan sang Raja dengan putri Helena.
__ADS_1
Kasim Jou menyampaikan keinginan ibu suri kepada sang Raja, di dalam Aula kerajaan sang Raja menekan kepala lalu berjalan menuju kamar ibu suri.
“Beri hormat untuk Raja Yaksa” ucap kasim Jou mengikuti dari belakang.
Sang raja mendekati ibu suri, dia mengeluh dan memalingkan muka.
“Pergilah, biarkan aku menunggu kematian ku” ucap ibu suri.
“Nenek, ijinkan aku bahagia dengan pilihan hati ku. Dia adalah putri Arska sosok jin yang teramat aku cintai”
“Berabad-abad lamanya dua kerajaan itu tidak akan pernah damai. Jangan engkau lupakan pertumpahan darah di masa lalu tentang Raja yang di lengserkan dan kakek mu yang gugur di tangan Raja Jati Jajar. Aku berpikir mereka memakai ilmu hitam dan sosok penjaga lain sehingga kerajaan kecil itu tetap berdiri dan Berjaya” kata ibu suri.
Raja meminta ijin undur diri meninggalkan kamar kebesaran. Dia tidak memperdulikan segala perkataan ibu suri. Kini dia sudah menjadi penguasa Yaksa dan menghentikan peperangan kepada kerajaan Jati Jajar. Di kamar ibu suri sosok jin itu menghentikan drama mogok makan dan kembali bangkit untuk membunuh putri mahkota Jati jajar.
“Sia-sia semua perjuangan ku jika Raja tidak mendengarkan keinginanku” gumamnya.
Di depan cermin dia menyisir rambut, memilih aksesoris tusuk konde dan anting. Tiba-tiba bagian tengkuk leher belakangnya terasa sangat merinding. Guci raksasa yang berada di sudut ruangan pecah tanpa ada yang menyentuhnya. Suara teriakan terdengar jelas dari balik dinding dekat cermin hias, ibu suri meletakkan sisirnya kemudian mendekatkan telinganya di samping cermin posisi tepat dia duduk.
__ADS_1
Tok, tok
(Suara ketukan dari balik dinding)
"Mati.." suara serak melengking terdengar olehnya.
"Hantu!" jeritan ibu suri histeris.
Para dayang dan pengawal bergerak memasang posisi berjaga.
"Wahai ibu suri apakah anda terluka?" tanya salah satu dayang.
"Ada sesuatu di balik dinding itu!" dia menunjuk dengan tangan bergetar.
Para pengawal memeriksa dan memastikan dengan teliti. Ibu suri memutuskan untuk membongkar dinding yang berada di kamarnya. Tapi panglima kerajaan menolak karena itu akan berdampak kerusakan pada sisi bagian bangunan di dinding lain.
"Maafkan hamba wahai ibu suri, jika dinding itu di hancurkan maka akan berdampak dinding wilayah barat" kata panglima perang memukul kepalanya ke atas ubin.
__ADS_1