CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
OUR FIRST KISS


__ADS_3

HAPPY READING


“Enggak janjian ya Din?” tanya bu Rahma, mama Anto.


“Enggak Tante, tadi spontan aja pengen ke sini. Kalau aku telepon ke rumah juga, Maz enggak bakal tau kan karena dia enggak absent ke rumah,” sahutku. Saat itu belum jaman HP ya. Jadi hanya bisa telepon rumah saja. Itu pun baru ruamh tertentu yaang memiliki sambungan telepon.


“Kalau kamu tadi telepon, pas Mas mu bilang mau pulang telat, kan bisa Tante kasih tau?” jawab bu Rahma menjelaskan.


‘Iya juga sih, tapi kan aku juga kesini bukan direncanakan, baru pas sampe terminal Senen aja kepikiran buat cari solusi ke maz,’ kata Dini dalam hatinya. Dia sudah pening mau bertindak bagaimana lagi.


Jelang maghrib orang yang dinanti tiba di rumah dengan wajah kuyu. Sepertinya dia terlalu lelah. Rasanya Dini mau urung curhat ke dia. Dia ingin pamit saja dan mengundur curhatnya.


“Eh ada tamu,” sapa Anto sambil memarkir vespanya.  “Sudah lama De? Maz mandi dulu ya? Kita salat bareng,” sambungnya.


Sehabis salat jamaah Dini minta ditemani ke taman kota, dia merasa tak bisa cerita di rumah Anto atau di tempat makan. Pasti banyak gangguan.


“Makan dulu ya sebelum ke taman kota,” Anto menjawab permintaan Dini tadi. “Mau makan di rumah atau di mana?” lanjutnya.


“Ade enggak pengen makan Maz,” tolak Dini. Padahal sejak siang dia tak makan apa pun. Pikirannya sudah tak lagi konsen untuk makan.


“Tapi Maz belum makan sejak sarapan tadi De’. Kalau Maz pingsan kamu mau tanggung jawab?” tanya Anto serius. “Maz cape banget habis bikin maket seharian,” lanjut Anto.


‘Ya ampuuuuun, kenapa aku egois gini? Kenapa aku cuma mikirin diriku sendiri? Bahkan aku juga enggak mikirin calon anak diperutku. Maafin Bunda ya Baby,’ keluh Dini dalam batinnya.


“Ya wis biar cepet makan di rumah aja Maz, Ade temani aja ya?” jawab Dini.


“Atau aku pulang aja Maz. Kapan-kapan aja ceritanya. Kan Maz cape,” lanjut Dini. Dia tak enak memaksakan kehendak pada Anto yang jelas-jelas sudah sangat lelah.


“Coba aja kamu duduk di meja makan tanpa makan, mau ditelen mama?” sahut Anto memperingatkan kalau Dini hanya ingin menemaninya makan. Anto malah tak menggubris soal Dini yang ingin langsung pulang.


Dini hanya bisa nyengir mendengar tantangan Anto.


***


“Kenapa?” tanya Anto. Anto bingung, karena sejak tiba di taman kota Dini malah tak bicara apa pun.


“Ade enggak tau harus mulai cerita dari mana Maz. Ade enggak tau harus nangis dulu atau njerit agar bisa cerita hal ini,” keluh Dini putus asa.

__ADS_1


“Ya sudah, njerit aja biar kamu plong. Tapi jangan salahin kalau nanti tetiba ada yang nonjok Maz karena dikira melakukan hal yang enggak baik ke kamu,” saran Anto. Dia juga bingung mau menjawab apa.


Dini hanya bisa memeluknya dan menangis. Setelah puas menangis Dini mengeluarkan test pack dan memberikan pada Anto. Juga obat-obat dari dokter tadi pagi.


Anto memegang test pack dengan tangan gemetar. Lelaki itu menatap Dini tak percaya dengan air mata yang mulai ada di manik matanya walau belum terjatuh.


“Kamu kenapa bisa berbuat hal kotor seperti itu De’?” tanyanya lirih.


“Jangan nuduh Ade menjijikan seperti itu Maz. Tunggu penjelasanku dulu baru Maz boleh menganggapku rendah,” sanggah Dini tak mau dianggap rendah oleh Anto. Tentu saja dia bukan perempuan rendahan karena dia hamil bukan karena perbuatan saling suka.


Dini menceritakan tragedi yang di alaminya tiga minggu lalu. Kejadian itu bukan kemauannya, bukan dasar suka sama suka seperti yang Anto bayangkan. Ini murni musibah buat Dini.


“Lalu sekarang bagaimana? Mami sudah tau? Kamu sudah kasih tau Bapak? Harry sudah tau?” cecar Anto tak sabaran.


“Maz orang pertama yang Ade kasih tau. Selanjutnya Ade harus bagaimana? Ade takut kalau di suruh gugurin dia. Walau dia hadir bukan atas kemauanku, tapi enggak boleh ada yang ambil dia dari ade. Dan yang pasti Ade enggak pengen Harry tau. Ade enggak pengen anak Ade punya ayah yang enggak bertanggung jawab,” sahut Dini bingung.


“Kamu harus bilang ke mami. Maz yakin dia enggak akan suruh kamu gugurin, dia perempuan, dan dia tau banyak orang ingin punya anak sampai susah, koq kamu di kasih amanat mau di buang. Percaya sama Maz, mami pasti akan kasih solusi terbaik.” Anto memberi saran terbaik untuk Dini.


“Maaf Maz belum bisa ambil tanggung jawab itu sekarang. Kalau saja kejadian ini sesudah Maz lulus, Maz pasti mau jadi suamimu, kalau harus nunggu empat bulan sampai kelulusan, perutmu akan semakin besar,” jawab Anto sedih. Andai bisa, dia ingin dia yang jadi ayah anak itu.


Dini tau kalau saat ini Anto ketahuan nikah lalu di DO dari sekolah maka kehidupan mereka akan sulit berbekal ijasah SMP Anto saja. Dini merasa memang selama ini dia jatuh cinta pada orang yang tepat.


Setelah diskusi panjang maka solusi yang akan di tempuh adalah bicara dengan mami sejujurnya. Tak perlu ke bapak dulu mengingat temperamen dan kesehatan jantung bapak.


“Maz boleh minta sesuatu dari kamu De?” tanya Anto pelan.


“Apa?” jawab Dini juga lirih.


“Apa kamu sayang ke Maz seperti Maz sayang ke kamu?” tanya Anto lagi.


“Ade enggak cuma sayang ke Maz. Ade bahkan cinta ke Maz. Ade cuma percaya ke Maz,” jawab Dini sama lirih dengan Anto sambil menunduk. Dia tak berani menatap mata Anto yang terluka.


Anto menyentuhnya dagu Dini, di dongakkan wajahnya agar mata mereka bisa saling menatap. “Maz boleh cium kamu sebelum kita pulang?” tanyanya.


Dini hanya bisa melihat mata Anto yang sudah berair, laki-laki manis di depannya menangis karena terluka. Dini memeluknya dan kembali menangis. Dan mereka akhirnya menangis bersama, tak mereka duga bisa sangat terluka seperti ini.


Akhirnya Anto melepaskan pelukan Dini, dia dekatkan bibirnya ke bibir Dini. Dan ciuman pertama mereka terjadi dengan lembut. Ini ciuman pertama Dini. Dia merasakan sentuhan bibir Anto lembut. Dini tak tau yang dilakukan Harry saat tragedi itu. Tapi yang pasti saat itu dia sedang tak sadar. Jadi dia anggap itu bukan ciuman karena tak ada interaksi dari dua pelakunya.

__ADS_1


PRASETYANTO POV


Hari ini kegiatanku super padat. Jam istirahat tadi aku lari sebentar ke wartel untuk minta izin mama akan pulang agak telat karena akan menyelesaikan tugas kelompok di sekolah. Bukan minta izin sih, tepatnya memberi tahu he he.


Jelang maghrib aku baru sampai rumah, kulihat ada Dini di teras.


“Eh ada tamu” sapaku sambil memarkir vespaku. Hilang penatku melihat sosok mungil pujaan hatiku itu.  “Sudah lama De? Maz mandi dulu ya? Kita sholat bareng” lanjutku. Badanku sudah sangat lengket, rasanya tak kuat kalau harus menunda mandi.


Sehabis salat jamaah dia minta ditemani ke taman kota, pasti akan ada hal penting yang ingin dia bahas.


“Makan dulu ya sebelum ke taman kota” pintaku. Siang tadi aku tak sempat makan siang. “Mau makan di rumah atau di mana?” lanjutku


“Ade enggak pengen makan Maz” jawabnya lirih.


“Tapi maz belum makan sejak sarapan tadi De’ kalau Maz pingsan kamu mau tanggung jawab?” tanyaku. “Maz cape banget habis bikin maket seharian” lanjutku. Ini cacing di perut sudah demo minta diberi asupan.


 “Ya wis biar cepet makan di rumah aja Maz, Ade temani aja ya?” jawabnya.


“Atau aku pulang aja Maz. Kapan-kapan aja ceritanya. Kan Maz cape,” lanjut Dini.


“Coba aja kamu duduk di meja makan tanpa makan, mau ditelen mama?” sahutku memperingatkannya. Aku malah tak menggubris soal Dini yang ingin langsung pulang. Aku yakin ada hal teramat penting yang ingin dia katakan padaku.


Akhirnya dia ikut makan denganku, mama dan Sari adikku. Kulihat selintas dia hanya makan sedikit, karena itu adikku menggodanya soal diet


“Enggak usah diet ketat Mbak, badan Mbak enggak gemuk kok,” goda Sari. Dini hanya senyum-senyum menjawab godaan itu.


Dini dan Sari memang akrab. Adikku menyukai Dini. Sepertinya semua menyukai dia. Karena mbak Rina kakak sulungku dan suaminya juga pada Dini. Selain mama tentunya. Karena mama memang fans beratnya Dini.


\=======================================================================


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta

__ADS_1


__ADS_2