CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
66 NDAK BOYEH NANIS, SUDAH BESAL


__ADS_3

66 NDAK BOYEH NANIS, SUDAH BESAL


“Ndak mau, Moya ama daddy ajah” kata Amora sambil menyembunyikan wajahnya dibahu Anto


“Iya boleh sama daddy, tapi kan daddy belum makan, nanti daddy lapar, ga kuat gendong Amora. Jadi biar daddy makan dulu, nanti habis daddy makan digendong lagi sama daddy ya?” bujuk Dini lagi


“Ndak mauuuuuuu..” tolak Amora


“Daddy maem dulu, Moya duduk sebelah daddy ya, nanti begitu daddy selesai maem Moya daddy gendong lagi, ok?” bujuk Anto memberi solusi pada Amora yang ga ingin jauh dari dirinya


“Iyah” kata Amora setuju, akhir katanya sering menggunakan huruf H


Dini mengambilkan Anto nasi, lalu diletakan didepan Anto “Mau pakai apa maz?” tanya nya. “Pakai semua ya?” tawarnya sebelum Anto sempat menjawab.


“Lo ga perlu jaim Yo” kata Dini pada Leo


“Amora mau perkedel?” tawarnya pada anaknya yang sesekali masih cegukan akibat menangis yang terlalu lama


“Iyah, mau petedel” jawab Amora


“Bonyok (bokap nyokap = ayah dan ibu ) kemana Din?” tanya Leo karena ga lihat pak Iman dan bu Dyah di meja makan


“Tadi papi main tenis, lalu telpon ke mami suruh nyusul sekalian bawain baju ganti, katanya mau ke Bekasi” jawab Dini


Sehabis makan Amora malah main boneka yang baru Leo belikan di Singapore dengan Leo, sehingga Dini bisa leluasa berbicara dengan Anto


“Maz tadi di telpon Leo?” tanya Dini, dia tau Anto masih sedikit kesal padanya.


“He eh” jawab Anto sambil mengangguk, matanya ga beralih dari menatap Amora


“Maaf kalau tadi ade ga nurutin permintaan Amora buat manggil maz, mami juga nyuruh ade telpon maz, tapi ade ga ingin Amora semakin tergantung ke maz. Tolong sejak sekarang menjauhlah dari dia” pinta Dini lirih


Anto langsung memalingkan wajahnya, ada gurat kecewa dan marah di wajah manisnya. Dia sangat kecewa Dini bisa meminta hal seperti itu. “Maksud kamu apa de? Kamu ga suka maz dekat dengan Amora? Salah kami apa?” tanya Anto

__ADS_1


“Kamu ga salah maz, Amora yang salah karena berharap terlalu banyak padamu” jelas Dini


“Wajar kan dia dekat dengan maz, apa ada yang ngelarang?” tuntut Anto minta penjelasan


“Keadaan yang melarang maz. Tolonglah, jangan terlalu akrab dengan Amora, ade ga mau dia terluka, ade ga pengen dia selalu demam sampai ngigau kalau kangen pengen ketemu kamu” jelas Dini


“Kamu yang kelewatan de, apa salahnya dia ketemu aku? Segitu teganya kamu cegah dia ga ketemu sampai dia demam dan ngigau.” keluh Anto


Kamu ga tau planningku maz, kamu ga tau aku yang akan kerepotan bila kita sudah jauh lalu Amora merindukanmu. Kamu ga tau sebentar lagi aku akan meninggalkan Jakarta, kata Dini dalam hatinya. Itulah sebabnya dia sengaja menjaga jarak antara Anto dan Amora


***


Sejak mengetahui Anto melakukan jogging di hari Minggu, Dini tidak pernah lagi membawa Amora jalan pagi, karena dia sudah libur ngajar sejak 2 minggu lalu, maka dia jalan pagi sejak hari Senin sampai dengan hari Jum’at. Hari Sabtu dan Minggu dia sengaja dirumah saja agar terhindar bertemu dengan Anto.


Sementara sebaliknya, setiap hari Minggu Anto selalu mencari keberadaan Dini dan Amora


“Assalamu’alaykum mbak” suara diujung telpon sana memberi salam pada Dini


“Sehat mbak, mbak sekarangkan udah selesai semester, mama ngajak masak bareng” kata Sari to the poin


“Boleh tuh, kapan de? Sama mbak Rina sekalian ga?” tanya Dini antusias. Dulu sejak SMP dia memang sering masak bareng dengan tante Rahma dan mbak Rina.


“Wah aku belum hubungi mbak Rina mbak, mama tadi minta hubungi mbak Dini aja” jawab Sari polos


“Ya sudah, kamu telpon mbak Rina sekalian” pinta Dini “Eh kapan itu acaranya?” tanya Dini berikutnya


“Besok hari Selasa ya mbak, bisa kan?” tanya Sari


“Ok, jam 9 an ya aku datangnya, kita mau masak apa biar aku bawa bahannya” jawab Dini


“Semur daging dan sop jagung aja mbak gimana?” tanya Sari


“Ya sudah, mbak bawa bahannya, bumbu ready semua kan?” tanya Dini antusias

__ADS_1


“Bumbu lengkap” jawab Sari


“Ok see you hari Selasa yo de, Assalamu’alaykum” kata Dini mengakhiri pembicaraan itu


***


Minggu-minggu ini Dini juga disibukkan dengan mempersiapkan kepindahannya ke Jogja. Dia sudah mengurus kepindahannya mengajar di Jogja. Barang-barangnya dan barang-barang Amora sudah di packing dan siap kirim. Minggu depan dia akan berangkat, maka dia senang mendapat undangan dari Sari, setidaknya Amora masih sempat sekali lagi bertemu dengan Anto sebelum mereka pindah


Hari ini hari Minggu, Dini ingin belanja untuk persiapan masak bersama di hari Selasa, karena besok hari Senin dia ga akan bisa belanja. Besok adalah hari kebebasan Harry, dia ingin memberi Amora kepuasan bisa seharian dengan Harry


***


Hari yang dinantikan Harry tiba, dia keluar lapas dengan lega, didepan pintu sudah menunggu istri dan anaknya. Harry berjongkok saat melihat Amora berlari ke arahnya. “Ayah” peluk Amora


Harry memeluk anaknya dan menangis, tak henti diciumi bidadari kecilnya, bidadari yang sejak berumur 10 bulan sudah terpisah dengannya. Dia belum bisa berkata-kata, diciumnya aroma bayi dari tubuh anaknya, aroma tubuh yang dia rindukan”


“Ayah nanis? Ndak boyeh nanis, udah besal” kata Amora sambil memegang wajah ayahnya yang basah


Harry menerima tissue yang diulurkan oleh Dini, di usapnya wajahnya agar semua airmata terhapus dari wajahnya. Hari ini Dini sengaja tidak membawa pengasuh Amora, dia ingin Amora mempunyai quality time dengan ayahnya. “Langsung ke mobil aja yok” ajak Dini. “Atau kamu minta jemput keluargamu?” tanya Dini pada Harry


“Engga, ayah ga minta jemput karena tau kamu dan Amora akan datang” jelas Harry


“Yo wis, ke mobil aja biar enak ngobrol jawab Dini


Dini membawa mobilnya menuju café taman “begonia”. Café ini bernuansa keluarga, ada arena bermain, ada beberapa kandang hewan kecil seperti kelinci dan ayam kate serta kolam koi, dan tempat duduknya berupa gazebo dari anyaman bambu


Sesampai disana Dini langsung memesan minuman dan snack karena masih terlalu pagi untuk makan siang. Diletakannya tas Amora lalu dia duduk di lesehan gazebo. Harry langsung mengikuti Amora karena tangannya ditarik anaknya menuju kandang kelinci. Dini mengeluarkan camera digitalnya ( HP saat itu belum pakai camera ) , di potretnya moment bahagia Harry dan Amora. Sesekali dia juga membuat photo bertiga dengan menyetel timer pada cameranya. Puas memberi makan kelinci Amora minta main perosotan, Harry dengan telaten menjaga anaknya yang sangat aktif itu. Dia sangat bahagia bisa memeluk dan mendengar teriakan serta tawa anaknya. Anak yang dia tunggui langsung proses kelahirannya. Anak yang membuatnya bisa merasakan mempunyai keluarga bahagia


“Sayang, cukup mainnya, minum juice mu dulu yaa” panggil Dini


Harry yang mendengar Dini memanggil Amora segera membujuk anaknya agar berhenti dulu. “Sayang, bunda sudah panggil tuh, berhenti dulu ya, nanti kita main lagi” ajaknya pada Amora. Amora yang memang sudah merasa agak cape menurut ajakan ayahnya


Setelah mengeringkan tangan Amora yang habis cuci tangan, Dini memberikan gelas juice alpokat pada Amora. “Duduk diam dan minum ini jangan pindah-pindah agar ga tumpah” kata Dini pada anaknya. “Ayah mau juice mangga atau alpokat?” tanya Dini, karena dia memang memesan 3 gelas juice. Dia tau Harry sukanya alpokat, Amora mungkin sangat menyukai juice alpokat karena turunan dari ayahnya

__ADS_1


__ADS_2