
Hai hai para kesayangan yanktie, sehat semua kan? Terimakasih sudah selalu setia mengikuti cerita sederhana ini. Anto berupaya mempertahankan keutuhan rumah tangga yang dia bangun dengan susah payah. Gimana kelanjutan kisahnya? Ikutin terus di bab ini ya
Yanktie mohon sehabis baca BAB langsung tinggalin jejak like dan hadiah ya….
Maturnuwun.
-------------
Anto mendekap istrinya lembut. Dia ciumi puncak kepala Dini. Dan dia rasakan tubuh istrinya terguncang karena menangis. “Koq malah nangis? Kita punya tiga anak Mom, Daddy punya kamu bidadari hatiku, sejak kita kecil. Kurang apa lagi hidup daddy sehingga harus mencari kebahagiaan dengan orang baru yang tidak mungkin bisa menggantikan dirimu dan anak-anak di hati daddy. Kalau daddy harus berpisah dari kalian dan memilih dia, daddy tidak akan mungkin sanggup. Please sudah nangisnya ya?” bujuk Anto sambil menciumi pipi istrinya yang makin terisak.
Anto mengecup bibir istrinya lembut dan kembali mendekap tubuh istrinya yang lelah menangis. Dia baringkan tubuh Dini, di tariknya selimut dan dia dekap dalam pelukan. Hingga pagi Dini tertidur nyaman dalam dekapan lelaki masa kecilnya itu.
***
Pagi di Bumijo tempat tinggal Dini dan Anto riuh rendah karena sejak pagi Arya sibuk menggoda Abbhie saat sarapan. Dini yang sedikit kesiangan tambah senewen karena Amora minta diantar dirinya, tak mau seperti biasa berangkat dengan Anto. “Mas Arya, mbok jangan ganggu adiknya gitu dong. Cepat bersiap berangkat dengan Daddy ya Mas? Mommy antar mbak Moya.”
Dini bergegas, karena jam masuk sekolah Amora lebih cepat dari jam masuk Arya yang masih TK. Dan sekolah Amora lebih jauh dari sekolah Arya. “Kenapa sih Mbak tumben banget minta diantar sama Mommy?”
“Ada yang bilang, enggak percaya Mommy aku itu dosen dan bisa nyetir mobil. Aku enggak suka kalau pada enggak percaya Mommyku dosen.”
“Lalu bagaimana caranya kamu buktiin ke temanmu itu kalau Mommy dosen?” Dini tentu penasaran akan pola pikir anaknya.
“Aku akan panggil dia untuk melihat name tag Mommy,” jawab Amora santai.
“Ya ampuuuuuuuuuun, Mbak. Kalau temanmu itu masih lama datangnya, apa mommy harus nunggu sampai dia datang?” pancing Dini tak percaya akan pola pembuktian yang akan Amora jalankan.
__ADS_1
“Mbak sudah minta dia datang cepat dan menunggu di pintu gerbang biar Mommy enggak lama nunggu.”
Akhirnya pembuktian yang dilakukan Amora berhasil dengan baik. Dini mengikuti kemauan anaknya, karena dia ingat saat TK dulu Amora pernah di bully tak punya ayah. Karena dia dan Anto tak pernah mengantar Amora hingga ke ruang kelas. Dulu mereka merasa cukup Amora diantar hingga gerbang sekolah lalu semua tak ada persoalan.
“Mommy berangkat kerja dulu ya sayang. Belajar yang rajin dan percaya pada kemampuan diri sendiri. Jangan pernah kamu mendapat nilai baik karena mencontek pekerjaan temanmu. I love you princess.” Dini mencium pipi dan kening dan bibir putri sulungnya. Saat berjalan menuju mobilnya ada yang memanggil Dini di pintu gerbang sekolah Amora.
“Rahdini … kamu Rahdini ‘kan?” seorang pria berpakaian sangat rapi dan trendi memanggil Dini yang baru saja keluar dari pintu gerbang sekolah Amora.
“Iya … siapa ya?” jawab Dini ragu. Dia serasa pernah mengenal sosok ini, namun lupa karena sudah lama tak bertemu.
“Apa khabar Din?” sapa pria itu sambil mengulurkan tangannya dengan sambil tersenyum manis. Perempuan yang masih sendiri mungkin akan segera tekuk lutut melihat senyum super manis dari pria gagah di depan Dini ini.
“Maaf, anda siapa ya?” Dini menjawab belum menerima uluran tangan pria itu.
“Dhar … Dharsono,” jawab lelaki manis tersebut.
“Hai, apa khabar juga mas Dhar? Sekarang tinggal di Jogja atau sedang berkunjung ke Jogja?” tanya Dini ramah sambil menerima jabat tangan pria itu.
“Aku sedang study banding di Jogja, baru hari ini dan kemungkinan akan disini tiga minggu. Bisa kita ketemuan dengan rekan-rekan alumni yang ada di Jogja?” Dharsono menggulirkan wacana untuk membuat reuni kecil alumni biologi yang stay di Jogja.
“Mas hubungi mas Joko aja, dia lebih leluasa bergerak dan punya banyak waktu. Aku manut aja.” Dini memberikan nomor ponsel Joko pada Dharsono. “Aku pamit sik mas, sebentar lagi jadwal ngasih kuliah,” Dini segera pamit setelah tukar nomor ponsel dengan seniornya saat di kampus IKIP Jakarta dulu.
***
“Silahkan masuk,” Anto menjawab ketukan di pintu ruang kerjanya. Dia sedang mengamati hasil laporan anak cabang yang berkasnya kemarin di tumpuk Pujo di mejanya. Sebenarnya itu berkas dari Ndari, namun Ndari memberikannya pada Pujo untuk di letakan di meja big boss mereka.
__ADS_1
“Tamunya sudah datang Pak,” lapor Pujo.
“Suruh masuk saja, dan bilang Ndari langsung pesankan minum ke OB.” perintah Anto pada Pujo. Dia menutup berkas yang sedang di bacanya dan bersiap menghampiri para tamunya.
Ternyata tamu yang hadir adalah pak Santo sebagai ketua yayasan, ibu Theresia sebagai sekretaris yayasan dan juga pak Lukas sebagai guru pembimbing anak magang.
“Selamat pagi, silahkan duduk Bapak, Ibu,” Anto menghampiri para tamu dan mempersilakan mereka duduk di sofa dalam ruangannya.
“Apa khabar pak Lukas?” Anto bertanya pada guru pembimbing, karena baru dengan pak Lukaslah pihak kantornya bertemu. Ketua yayasan dan sekretaris tentu saja tidak pernah ikut serta dalam urusan anak magang.
“Baik, sangat baik Pak Pras,” jawab pak Lukas sopan.
“Bapak dan Ibu, tentu waktu anda sangat terbatas mengingat jabatan Bapak dan Ibu di Yayasan. Saya mengundang Bapak dan Ibu sebagai kelengkapan terhadap tindak laku siswa dari yayasan yang anda pimpin. Mungkin saat pertama menerima email saya, Bapak dan Ibu sudah tahu permasalahan apa yang saya maksud. Namun rupanya teguran saya pada Bapak dan Ibu tidak meredam kelakuan Hapsari. Dia malah bertindak makin menjadi. Jadi dengan terpaksa kemarin saya melakukan pelaporan ke polisi tindak kejahatan tidak menyenangkan yang dilakukan oleh siswa didik Bapak dan Ibu.” Anto menyerahkan copy laporan yang dia lakukan pada ketiga tamunya.
“Apa hal itu sangat mengganggu anda, sehingga Bapak sampai bertindak sangat jauh dari kelaziman?” tanya bu There pelan.
“Maaf, ibu bilang saya bertindak di luar ke laziman? Lalu apa pendapat Ibu yang berkiprah di dunia pendidikan terhadap perlakuan seorang siswa, yang memaki-maki istri saya karena mengangkat telepon yang dia lakukan ke ponsel saya? Apa pendapat Ibu sebagai seorang yang bergerak di dunia pendidikan bila siswa didik Ibu mengatakan akan kalau istri saya lancang dan dia katakan kalau dia adalah kekasih saya? Apa pendapat ibu bila itu terjadi pada diri Ibu? Dan apa pendapat para Bapak bila sesudah itu istri Bapak berniat mengajukan cerai karena tahu suaminya selingkuh?” Anto sangat geram dan berkata sedikit keras.
“Pujo, keluarkan semua anak magang sejak hari ini dan black list yayasan pak Santo dari kantor kita!” Anto sangat marah dan memerintah Pujo langsung di depan para tamunya.
-------------------
Waduuuuuuh serem juga ya marahnya mas Anto kali ini.
Terima kasih sudah selesai membaca BAB ini, semoga tidak mengecewakan. Nantikan cerita selanjutnya besok ya. Jangan lupa kasih like sebelum menutup cerita ini.
__ADS_1
Salam manis dari Jogja