
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai sini, makasih buangeeeeet penuh lope lope untuk semua pembaca yang selalu kasih like tiap habis baca bab.
Setelah mereka menikah, apa masih harus LDR lebih lama lagi? Ikutin keseruannya yok.
Tapi jangan hanya baca … kasih yanktie semangat dengan cara kasih kasih like dan vote serta komen dan bintang 5 nya.
Inget juga pesan yanktie, jangan lupa mulai intip-intip spin cerita ini dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR ya.
----------------
Sudah hampir jam 2 siang, Dini menuju kamarnya, ingin membangunkan Anto, karena waktu Dzuhur hampir habis. Ternyata Anto baru saja keluar kamar mandi dengan rambut basah masih menetes airnya. “Maz, rambutmu tu pendek lho, kenapa sih ga handukan kering sisan (sekalian), biar ga netes-netes airnya?” sambil dia mengambil handuk di leher Anto dan memintanya menunduk agar Dini bisa mengeringkan rambut Anto.
“Kalau di keringkan berasa ga seger mom,” kilah Anto.
“Anakmu tadi nyariin, dia minta bobo ama daddynya,” lapor Dini.
“Kenapa ga Mommy kasih? Kan biasa juga bobo ama Daddy?” Anto tak sadar mengapa Dini engga bawa Amora ke kamar mereka.
“Daddy ga sadar, kamu kan naked, gimana mau bawa Moya ke sini?” cerca Dini kesal.
“Hahahaaaaa, sorry Mom,” Anto mengecup pipi Dini sebagai permintaan maafnya “Kamu tu bikin daddy ga mau berhenti.”
***
“Maz, ade bisa titip gudeg ga buat mama?” kata Dini saat mereka sedang minum teh sore di teras depan sambil mengawasi Amora yang sedang bersepeda.
“Ga perlu di tanya mom, daddy pasti bersedia kalau mommy yang minta,” Anto berkata sambil jalan menuju Amora yang sedikit sulit membelokan stang sepedanya karena rodanya keganjel batu.
Ketika Anto sudah kembali duduk Dini melanjutkan perbincangan mereka : “Nanti habis maghrib kita beli gudeg ya? Trus Maz balik ke sini lagi nanti akhir Februari aja kan? Biar ga buang-buang uang. Kalau baju dan barang lain kebanyakan, kirim pakai Herona aja Maz.”
“Maz mau bawa pakai mobil aja mom. Kan muat banyak, Maz bisa minta tolong pak Zul nemani, nanti dia pulang ke Jakarta naik pesawat aja. Anto memberikan argumennya.
__ADS_1
“Mobil tinggal di Jakarta Maz, biar di pegang Sari aja, di sana lebih berguna. Di sini kan sudah ada mobil, buat apa 2 mobil, kalau Maz ga suka, yang di sini bisa di tukar tambah sesuai keinginan Maz, tapi yang di Jakarta lebih berguna di sana.
“Kamu tu ya, maz ga habis pikir deh, kamu selalu ngeduluin orang lain. Ya maz manut, mobil biar di Jakarta aja, tapi kalau soal balik kesini nanti akhir Februari, maz ga janji. Begitu maz kangen maz langsung budal (berangkat) ga nunggu akhir Februari.”
“Cieee, wis ngerti budal mbarang,” goda Dini. Saat itu mbak Inah datang tergopoh-gopoh membawakan HP Anto yang berdering sejak tadi.
“Njih bu, wa’alaykum salam” sahut Anto menjawab suara dari ujung sana.
Anto mendengarkan mantan mertuanya bicara, “Nto, mengenai amanat Shinta, ibu belum tenang nek belum melaksanakannya. Ini ibu sudah dapat arsitek laki-laki. Kapan bisa ketemu?”
“Gini aja bu, biar sama-sama enak dan ga mengganggu. Ibu bangun aja rumah seperti yang ibu dan arsitek itu mau. Anto ga akan mencampuri bagaimana prosesnya dan typenya. Anto terima jadi aja. Sepertinya itu solusi terbaik,” kata Anto tegas. Dia sudah memutuskan begitu rumah itu berdiri akan langsung dia jual saja, dia tidak ingin ingat memory di rumah itu, hidup dengan perempuan kotor dan sudah menipunya.
***
Dari bandara Anto langsung menuju kantornya, hal rutin yang di lakukannya setiap dia dari Jogja. Sampai di kantor kali ini ada yang sedikit beda, Anto meminta pak Zul mengantar gudeg titipan istrinya ke rumah mama, mami, mbak Kiran,bapak serta mbak Sashi. Dini juga menyiapkan gudeg untuk Yadi dan pak Zul tentunya.
Hari pertama kerja di tahun baru Anto langsung menghadap Direktur di kantor Utama setelah tadi dia absen di kantor cabang yang dia pimpin. Tujuannya menyampaikan permohonan pengunduran dirinya karena akan bekerja di Jogja. Anto belum mengatakan akan pindah kemana. Pak direktur mencoba menahannya dengan menawarkan peningkatan salary dan tunjangan. Namun buat Anto, kedekatan dengan keluarganya jauh lebih penting dari tawaran tersebut. Andai dia minta pendapat Dini pun percuma, harta bukan yang Dini kejar, buktinya mobilnya pun di minta Dini untuk di berikan ke Sari, perempuan lain mungkin berpikir untuk menyuruhnya menjual mobil tersebut. Akhirnya pak direktur menyetujui permohonan mengundurkan dirinya, dengan catatan mempersiapkan 3 calon pengganti agar direktur bisa memilih yang terbaik. Anto menyanggupinya.
***
Saat ini tanggal 22 Januari, sebulan sudah Dini berstatus menjadi istri Anto. bangun tidur pagi ini Dini merasa sangat pusing dan mual, di luar masih gerimis, maka Dini tidak berangkat ke sekolah, karena Senin dia libur kecuali upacara. Upacara pasti ga akan di laksanakan bila gerimis seperti sekarang. Amora sudah sejak tadi keluar kamar.
Di lihatnya Amora sedang duduk di kursinya, sedang menghabiskan omelet yang di sediakan mbak Inah. “Mbok, aku minta teh jahe yo, gulone sitik wae” pintanya, dia meminta teh jahe dengan gula sedikit saja.
“Mbak tukoke iki nang apotik yo, minta beberapa 4 merk yang berbeda” perintah Dini pada mbak Inah. Dini minta di belikan test pack di apotik pada mbak Inah. Dia sadar, sudah terlambat lebih dari seminggu dari jadwal mensnya. Bulan lalu dia mens tanggal 15 Desember, maka seharusnya 13 Januari tamu bulanannya sudah datang. Di tambah lagi dia mulai pusing seperti saat hamil Amora dulu, bedanya sekarang bonus mual.
Esok paginya kembali Dini merasakan mual dan pusing, dia mengambil urine pertamanya dan mencoba ke empat test pack yang kemarin di belinya, di tunggunya dengan tak sabar, di intipnya perlahan, semua menunjukkan 2 garis.
“Maz, hari sibuk ga?” tanya Dini yang langsung menghubungi suaminya.
“Kenapa cinta? Udah kangen ma maz, tumben kamu telpon pagi-pagi belum berangkat ke sekolah? Hari ini bawa mobil atau mbecak?” Anto membombardir Dini dengan rentetan pertanyaan. Dia engga sadar saat ini baru saja jam 5 pagi.
__ADS_1
“Maz sibuk ga hari ini dan besok?” tanya Dini tanpa menjawab semua pertanyaan Anto.
Anto merasakan perbedaan dari kata-kata Dini : “Maz pagi ini ngasih training buat 3 orang kandidat, jam 10 selesai. Besok juga ga ada yang terlalu penting. Kamu pengen maz ke Jogja? Ada yang urgent?” cecar Anto curiga.
“Iya Maz, ade tunggu sore ini ya, bisa ambil penerbangan jam 12 atau jam 1 ga?” pinta Dini.
“Ada apa mom? Kasih tau daddy, jangan bikin daddy panik dan berangkat sekarang juga!” pinta Anto.
“Gapapa Maz, Maz lakukan dulu tugas hari ini dengan baik ya, nanti habis itu baru Maz ke sini, jangan maksain cari tiket buat sekarang, berangkat yang jam 12 atau jam 1 aja. Ade juga masih ngajar sampai jam 1 koq.
Anto penasaran, ada apa Dini memintanya ke Jogja, padahal mereka sudah berkomitmen Anto ke Jogja akhir Februari. Saat sarapan Anto pamit pada mamanya akan ke Jogja, karena tadi Dini menelponnya. Tadi sesudah Dini menelponnya Anto sempat memasukan baju serta ijasah serta dokumen-dokumen lain ke koper besar, dia juga sudah memasukan gitar ke mobilnya untuk di bawa ke Jogja. Di Jogja hanya ada piano milik papi mertuanya, kebetulan dia dan Dini tidak bisa main piano
***
\================
Yuhuuuuuuuuuuuuuuuu, ga kerasa lho cinta kecilnya maz Anto akan berakhir, tapi biar ga penasaran ikuti ceritanya di bab berikutnya yaa, udah mau tamat koq.
Untuk menggantikan novel ini nantinya, yanktie bakal rilis cerita baru berjudulIMPOSSIBLE LOVE
Ceritanya tetap sederhana, membumi karena bukan tentang CEO tajir melintir bertemu dengan gadis sederhana!
Ceritanya tentang seorang pemuda cukup mapan yang baru lulus kuliah di London lalu jatuh cinta pada mantan gurunya.
Mantan guru pasti lebih tua kan? Dan hebohnya lagi si mantan guru adalah janda anak 3 lho!
Bisa ga pemuda lajang itu ngedapetin kepercayaan mantan ibu guru yang sudah sangat terluka karena berkali-kali di selingkuhi mantan suaminya dulu?
Cari nanti begitu cerita CINTA KECILNYA MAZ tamat ya,
ini covernya cerita baru nanti
__ADS_1