CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
63 TWO THUMBS FOR U


__ADS_3

63 TWO THUMBS FOR U


“Lho koq gitu maz? Aku lagi cari teman buat kesana, Leo masih di Singapore” jelas Dini


“Maz tau tujuan kamu telpon Steve, maka maz larang duluan, kamu ga usah cari teman berangkat, kalau mau datang ya besok aja, denger ga?” kata Anto tegas


“Maz.. ak ” belum sempat bicara Anto memotong kalimat Dini


“Jangan bantah de, Assalamu’alaykum” jawab Anto lalu memutus sambungan telpon, dan dikembalikannya HP kepada Steve


Iiiiiih tu orang enak aja mutusin pembicaraan, keluh Dini. Mana pake ngelarang dateng lagi, nyebelin banget, lanjut Dini


***


Seminggu sudah Dini memasukkan berkas pengajuan cerai, dan sudah seminggu pula Shinta meninggal. Hari ini Dini mengunjungi Harry, seperti biasa dia membawakan makanan serta photo Amora terbaru. Masih seperti biasa dia mencium tangan Harry, karena sampai saat ini statusnya masih istri Harry. Steve yang menemaninya saat itu benar-benar takjub akan sikap Dini yang sangat menjunjung tinggi adab tatakrama.


“Pa khabar bro” sapa Steve sambil menyalami kawannya itu


“Harr, aku mau kasih tau, seminggu lalu aku sudah masukin pengajuan cerainya” kata Dini mengawali pembicaraan hari ini. Dini sudah tau, waktu berkunjung sangat terbatas, oleh karena itu dia sudah tidak berbasa basi, lebih-lebih waktu yang ada akan selalu digunakan untuk Harry ngobrol dengan Amora.


“Iya, ayah terima bun, ayah pasrah” jawab Harry tanpa daya. Dia malu Dini masih bersikap baik walau sudah sangat disakiti olehnya dan mamanya


“Kan dari awal sudah kita diskusikan, kamu jangan nyerah, sehabis keluar kamu harus semangat dan merubah diri menjadi lebih baik” tegas Dini


“Kan juga sudah ayah kasih tau, buat apa lagi melanjutkan hidup tanpa kamu dan Amora?” jawab Harry sedih


“Bukan tanpa aku dan Amora, hanya aku yang ga ada disisi kamu, Amora tetap ada, dia tetap anakmu. Sebentar aku minta ijin dulu ya buat telpon” kata Dini ambil bangkit


Petugas jaga mengawasi Dini memencet nomor di HP Dini dan mendengar siapa yang terima karena di loud speaker, lalu mengangguk memberi ijin


Steve trenyuh melihat Harry ngobrol dengan Amora, kadang di bantu Dini sebagai translater.


Sehabis dari lapas Steve mengajak Dini makan siang, sesungguhnya mereka ga niat janjian, Steve telpon ke Dini saat Dini akan berangkat ke lapas. “Hallo sayangku, siang ini bisa maksi bareng ga, pengen ngobrol nih” kata Steve begitu telpon tersambung, tanpa basa basi sama sekali

__ADS_1


“Kamu tu ya, ga pake salam, ga pake ketok pintu, langsung aja nyerocos kaya petasan cabe rawit yang di gantung serenceng” jawab Dini


“Heheheheeee..iya deh met pagi sayangku” goda Steve


“Aku ga bisa maksi bareng kamu say, hari ini mau kasih tau Harry kalau gugatan sudah aku masukin, jadi dia bersiap mental buat sidang akhir, karena aku ma dia sudah diskusiin ber kali-kali, tapi kan dia tetap wajib di kasih tau progressnya” kata Dini


“Jam berapa kamu kesana?” tanya Steve


“Ni udah mau berangkat” jawab Dini


“Ya udah, kalau kerjaanku bisa cepet selesai, ketemu di lapas ya, kalau lama selesainya ya pas maksi kan bisa ketemu” bujuk Steve


“Ok, see you” jawab Dini sambil masuk ke mobilnya


Itulah sebabnya Steve tadi hadir juga di lapas, tujuannya maksi karena ingin minta saran atas persoalannya


“Kita ke café pelangi aja ya?” tanya Steve saat keluar lapas menuju parkiran


“Boleh” jawab Dini ambil menuju mobilnya


Sambil menunggu makanan diantar Steve membuka pembicaraan. “Gue salut ama elo, masih aja hormat ke Harry, masih cium tangan. Bisa ya lo” serunya


“Kamu aku sayangku” Dini memperingatkan Steve. “Sampai ketok palu sidang cerai diputuskan, dia tetap imamku, tetap suamiku, dan aku sudah ikhlasin jalan yang aku pilih, aku ga mau kami gontok-gontokan, karena kami punya Amora. Walau jujur aku masih sakit, tapi kan ga harus bikin aku jadi ga hormat” jawab Dini bijak


“Kalo ga malu, gue nangis liat Harry ngobrol ama Amora tadi” jelas Steve


“Aku, bukan gue” ralat Dini. Steve tersipu, kadang dia masih aja keceplosan


“Tiap ada kesempatan, aku emang kasih mereka ngobrol, aku ga mau menjauhkan keduanya, sampai kapanpun Harry adalah ayahnya Amora


“Two thumbs for you” kata Steve sambil menunjukan dua jempolnya. “Sambil makan yok,” katanya karena makanan yang mereka pesan sudah datang.


“Mau cerita apa?” tanya Dini

__ADS_1


“Aku tu dapat promosi jabatan, tapi dipindahin ke cabang Jogja atau Bali, gimana menurut kamu?” tanya Steve


“Menurut kamu, mana yang prospek naiknya lebih cepat?” tanya Dini


“Kantor Jogja lebih kecil, jadi sepertinya disana aku akan lebih mudah naik dan berkembang lebih baik dari pada di Bali yang lebih complex departementnya” terang Steve


“Lha kalau udah tau gitu, kenapa tanya aku? Apa kamu lebih condong ke Bali walau lebih liat potensi di Jogja, itu yang bikin kamu puyeng jadi tanya aku?” terka Dini


“Iya, pengen banget hidup di Bali, kayaknya gimanaaaaa gitu” kata Steve


“Andai kamu seagama ama aku, kamu bisa sholat istikharah buat nentuin yang terbaik untukmu. Coba deh kamu berdoa dan minta petunjuk untuk mantepin pilihanmu” saran Dini


“Trus, gimana hubunganmu ama Sari? Jangan main-mainlah, kamu bukan anak ABG lagi, usia udah mapan, cari yang serius” kata Dini


“Aku serius ke Sari, aku ga ngerti, kenapa bisa naksir anak bau kencur itu” jawab Steve bingung atas perasaannya yang datang tiba-tiba


“Gimana mau serius wong keimanan kalian berbeda, sebelum basah, mending kamu pikir ulang, ini bukan soal ganti baju lho” nasehat Dini bijak


“Serius aku tu ga main-main, aku mau serius ke Sari dan aku akan cari solusinya. Jujur waktu mau dekatin kamu saat kamu SMA aja aku mikir ga mau ngelanjutin karena beda prinsip, maka aku lebih senang kita bersahabat, tapi ke Sari ga bisa. Aku ga pengen mundur apapun alasannya” jelas Steve


“Ga akan ada kompromi, solusinya kalian satu agama atau pisah diawal seperti sekarang. Sari itu seperti adikku sendiri, mungkin karena aku bungsu, jadi sejak SMP waktu awal kenal Anto ya aku senang punya adik.” jelas Dini tegas


“Aku tau hanya 2 pilihan itu, tapi yang pasti pilihan ke dua ga akan aku pilih, aku ga pengen mundur dan pisah ama dia. Namun untuk pilihan pertama aku masih bingung untuk ambil poin itu” jawab Steve


“Kamu ingat kan, aku pernah cerita kalau mamiku asli Klaten, dan papi jadi mualaf saat menikah dengan mami?. Jadi aku dan Angel juga muslim sejak lahir, hanya sejak papi dan mami meninggal aku di rawat opa dan oma, di raport serta KTP aku masih muslim karena ikut data papi. Namun keseharianku sejak usia 10 tahun ikut oma. Ini yang aku bingungin. Aku ni hanya islam KTP” keluh Steve


“Aku baru tau kalau ktp mu seperti itu Steve. Tapi jujur kalau soal agama aku ga mau ikut campur, karena itu ada dalam lubuk hati setiap orang” Dini ga bisa memberi saran, karena soal keyakinan itu bukan masalah sepele, dia ga akan ikut campur, dia melanjutkan makannya.


HP Steve berbunyi berbarengan dengan HP Dini bergetar.


“Hallo bro, pa khabar” sapa Steve pada orang yang menelponnya. “Gue di café pelangi lagi maksi, tapi udah mau selesai sih, kalau lo mau dateng mbayarin ya gue ga nolak. Balik kantor tapi siangan lah” begitu percakapan Steve


Sedang Dini mendapat telpon dari pengasuh Amora yang melaporkan susu Amora akan habis.

__ADS_1


Lamat-lamat terdengar lagu bermimpi dari Base Jam


__ADS_2