
Yanktie sampaikan SELAMAT MEMBACA
Beep … beep … beep suara pager terdengar. Harry membaca pesan yang tertulis di sana. “Mama nanya kita sekarang bisa ke rumahnya enggak?” jelasnya pada Dini sehabis baca pesan dipagernya itu.
“Sehabis periksa kita telepon rumah aja, bilang aja kita kesana sehabis tebus vitamin Amora!” jawab Dini. Dia pikir baju ganti Amora di tas aman lah sampai nanti malam.
Jam dua siang mereka tiba di rumah keluarga Harry. Baru saja Dini akan turun dari motor, suara teriakan mama mertuanya menusuk gendang telinga.
“Kalian ni bodok paskalie, bawa bayi seng tutu rapat, mar mo biking saki kapae?” teguran dalam bahasa Ambon itu terjemahan bebasnya kalian ini bodoh atau ceroboh sekali, bawa bayi tak di tutup rapat pakaiannya, mau bikin dia sakit kah? Begitu deh translate bebas bahasa Ambon sepotong-sepotong yang mama mertua Dini katakan.
‘Padahal Amora keluar pakai jaket yang ada tutup kepalanya, siang-siang pakai kaos kaki dan sepatu pula, apa masih kurang rapat?’ pikir Dini. “Belum juga masuk rumah sudah dibikin bete,’ keluhnya kesal.
Sebelum turun dari motor Dini membisiki ultimatum untuk Harry, “Jangan lama-lama di sini, maksimal dua jam kamu harus atur kita pamit, kalau lebih dari dua jam aku enggak akan lagi mau kamu bawa kesini.”
“Hai Oma, apa khabar?” sapa Dini lembut pada mama mertuanya yang menunggu di depan pintu. Di tarik tangan mertuanya untuk di cium, hal yang tidak biasa di keluarga Harry, kemudian baru mencium pipi kanan kirinya seperti kebiasaan keluarga Harry.
Hal serupa pun Dini lakukan pada papa mertuanya, padahal dia agak risih mencium pipinya karena hal itu tak biasa di keluarganya. Memang mereka dari dua kultur yang berbeda. Dini asli Jogja dan Harry asli Ambon.
“Ale ambil mana Harr?” tanya mama mertua Dini. Maksud mama Harry tu tanya kamu lewat jalan mana?
“Dari rumah sakit Ma, jadi lewat Pondok Kopi, bukan dari rumah,” jawab Harry pada mamanya.
“Amora ada saki kapae?” tanya mama Harry, menanyakan apakah Amora sakit?
“Engga Oma, aku sehat koq,” kata Dini mewakili Amora, “Tadi aku cuma mau liat om dokter gagah aja,” canda Dini lagi sambil menyerahkan Amora kepelukan mertuanya.
Ternyata di rumah itu juga sudah ada om nya Harry, suami adik mama yang paling kecil, Dini dan mama serta papa Harry duduk di ruang tv sambil nge teh, ngobrol tentang perkembangan Amora. Harry duduk di ruang tamu dengan om nya. Dari raut wajahnya terlihat dia sedikit tertekan.
“Bund, pulang yok, takut kemalaman sampe rumah,” ajak Harry sesudah pembicaraan dengan om nya selesai.
“Ayo Yah, tolong baju kotor Amora masukkan tas ya, Bunda pakein princess jaket dan sepatu dulu,” jawab Dini cepat berbarengan dengan penolakan dari mamanya yang meminta mereka menginap saja. Namun Harry bilang besok pagi-pagi akan ada kerjaan yang tak bisa di tunda.
__ADS_1
***
Sejak tiba di rumah Harry terlihat gelisah. Makan malam pun dia hanya diam tanpa bicara, selain bilang dia yang akan cuci piring bekas mereka makan.
Dini membuatkan kopi lalu diletakannya di meja kecil di ruang depan. Kebiasaan Harry sehabis makan malam dia minum kopi. Kafein tak berpengaruh untuk rasa kantuknya, biar habis ngopi, kalau dia ngantuk ya bisa tidur.
Katanya dulu sehabis makan dia akan ngopi sambil merokok, tapi sejak Dini hamil kan memang dia berhenti merokok, jadi hanya ngopi saja yang masih menjadi kebiasaannya.
“Kenapa?” tanya Dini duduk di kursi sebelahnya.
“Kelihatan ya?” tanya Harry ambigu.
“Ya jelaslah. Enggak mungkinkan mama nyuruh kamu datang tapi di sana sudah ada om Bens” jelas Dini.
“Mama tanya kapan Amora di baptis!” jelasnya lirih.
Dini diam, ingin langsung menjawabnya tapi tak akan dapat solusi terbaik. Maka dia pilih bersabar untuk tau cerita lengkapnya.
“Aku mau kita bercerai!” jawab Dini tegas.
“Bund!” pekik Harry sambil memeluk Dini.
“Aku tak mau anakku terombang ambing, kamu sudah pindah agama. Walau tertatih kamu sudah menjalankan kewajibanmu, mengapa kamu tidak tegas? Dari pada anakku rusak karena di seret kesana kesini lebih baik kita putuskan jalan sendiri-sendiri. Dan yang harus kamu ingat, anak dibawah umur di bawah pengasuhan ibunya!” jelas Dini sambil berdiri meninggalkan suaminya menuju kamar.
Dini memeluk dan menciumi Amora sambil menangis, dia tidak rela anaknya menjadi korban ketidak becusan dia sebagai bundanya. Buat Dini semua agama mengajarkan kebajikan. Namun kalau seorang anak diharuskan mengikuti agama lain yang kedua orang tuanya bukan menganut agama itu, tentu hasilnya akan kurang baik.
Siapa yang akan mengajari anak itu sehari-hari? Karena ‘sekolah’ anak pertama adalah kedua orang tuanya. Dini tak ingin Amora hilang kendali.
Harry putus asa, dia keluar rumah. Berjalan ke kios rokok di ujung jalan rumahnya. Di belinya tiga batang rokok, dan dihisapnya sebatang untuk menenangkan pikirannya yang kalut. Sehabis rokok sebatang dia kembali ke rumahnya.
Dini mendengar saat pintu depan dibuka. Dia tidak peduli Harry kemana, yang dia pedulikan hanya nasib anaknya kelak. Dini tidak tau sudah berapa lama dia menangis, hingga sesak napasnya. Dia juga tidak tau kapan Harry masuk rumah kembali.
__ADS_1
Dini baru sadar saat ada lengan kokoh memeluknya erat dari arah punggungnya, dia mencium bau rokok di napas Harry saat laki-laki itu menyembunyikan wajahnya di leher belakang Dini.
“Maafin Ayah ya Yank,” bujuk Harry lirih.
“Please jangan pernah punya niat berpisah, Ayah enggak akan sanggup,” rengeknya.
“Jangan pernah mengatakan kata-kata cerai. Bila Ayah ikut terbawa emosi dan meng iya kannya, bukankah artinya sudah jatuh talak satu?” kata Harry. Dia memang masih baru dalam mempelajari agama. Tapi dia mulai tahu apa yang dilarang dan diperbolehkan. Itu sebabnya dia takut bila dia salah ucap.
“Aku enggak akan pernah meletakkan kebahagiaan anakku sembarangan. Apa pun akan aku perjuangkan demi anakku. Siapa pun yang berani menyakiti anakku seujung kuku saja, akan kubalas dengan menikamnya!” jawab Dini.
“Kalau Ayah akan membuatnya tersiksa dengan kebingungan, lebih baik aku mencegahnya sejak dini. Ingat itu baik-baik. Kamu boleh hina atau siksa aku bagaimana pun. Aku tak akan peduli, tapi kalau menyangkut anakku aku akan berjuang sampai ajal menjemputku,” ancam Dini tanpa berbalik badan.
Harry membalik badan Dini untuk menghadap padanya, ditatapnya mata istrinya dalam. “Ayah janji akan melakukan hal yang sama buat Amora, dia anak kita Bund, bukan hanya anakmu, ingat itu ya” janjinya.
Dihapusnya air mata Dini, dikecupnya kedua mata istrinya. “Jangan nangis dong, sampe bengkak gitu matanya. Enggak malu kalau Amora tanya kenapa mata Bundanya bengkak?” candanya.
***
Besok Dini harus pergi ke kampus untuk isi KRS ( kartu rencana studi ), dia mulai bingung mau titip Amora ke siapa? Ke rumah mami tidak mungkin karena sekarang mami sedang tidak ada pembantu. Ke dua pembantu mami sedang pulang kampung karena ibu mereka sakit, mbak Yam dan mbak Surti memang kakak adik.
Cari baby sitter, tak mungkin karena rumah sewanya tidak ada ruang lagi untuk tidur pembantu atau baby sitter. Harry menyarankan titip di rumah mama, karena Vionne toh tidak kuliah dan ada dua pembantu di rumah besar itu. Tapi kalau titip disana itu sangat tidak efisien karena Dini mesti ke Selatan dulu menitipkan Amora, baru ke Utara menuju kampusnya. Kalau Amora di bawa ke kampus juga tidak mungkin.
================================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
__ADS_1