
“Saat diinterogasi, bu Ita cerita dia ingin membuat photo-photo tak sopan saat pak Anto pingsan, dia ingin membuat photo-photo itu nantinya bisa menekan pak Anto agar bersedia menjadi suaminya. Bila itu tidak berhasil dia akan menyebarkan photo-photo tersebut di kantor pak Anto dan dia juga akan membuat pak Anto bertekuk lutut padanya karena dia kan membuat dirinya seolah-olah hamil akibat perbuatan pak Anto sesuai photo-photo tersebut” lanjut pak Irhan.
Semua yang hadir diruangan itu diam, kaget akan fakta yang dimiliki pak Irhan.
Anto kembali membuka suara : “Monggo cari pengacara hebat yang bisa membuktikan kalau Ita ga menjebak saya, dan dia hanya tulus ingin menolong saya yang tiba-tiba pingsan saat minum kopi dengan dia”
Bu Gita makin malu pada Anto, 2 kali dia kecolongan, pertama saat Shinta hamil walau belum pernah disentuh Anto dan kedua saat ini, saat dia percaya Ita hanya bermaksud menolong Anto padahal terbukti dia yang memberikan obat tidur di kopi Anto.
Bu Gita menghampiri bu Rahma, dia meminta maaf dengan lirih : “Jeng saya sangat malu, 2 kali saya kecolongan seperti ini, saya ga tau kalau Ita berkelakuan seperti itu, saya mohon maaf”
“Semua berpulang dari cara kita menanam mbak, jadi jangan kaget dengan apa yang kita panen” jawab bu Rahma datar. Kalau orang yang mencermati, kata-kata bu Rahma merupakan tombak yang menikam ulu hati. Dia tidak mejawab permintaan maaf, malah mengatakan kesalahan mendidik yang dilakukan bu Gita dan bu Murni. Kalau di catur itu sama aja skakmat.
Akhirnya rombongan bu Gita pamit dengan wajah tertunduk. Dini sekali lagi menyampaikan terimakasih pada pak Irhan.
***
Saat semua sudah pulang Anto meminta Dini duduk di kasurnya “Mom, 2 hari daddy bikin salah” katanya.
Dini bingung mengapa Anto berkata demikian : “Kenapa?”
“2 malam daddy ga pacaran” Anto mengakui kesalahannya.
“Malam pertama karena daddy pacaran ama yang lain kan?” goda Dini.
“Ih engga mom, jam ngapel daddy sudah ga sadar, jadi bukan karena sedang pacaran” sanggah Anto.
“Tapi sebelum ga sadarkan daddy kencan?” goda Dini.
“Kiss dong mom, daddy dari waktu mommy emosi tadi tu pengeeeen banget nyium bibirmu yang manyun saat marah, sayang banyak orang dan jauh?” rengek Anto.
“Ih, lagi serius koq bisanya memperhatiin bibir orang” kata Dini sambil mencubit bibir Anto.
“Hmm, mom sakit ah kalau pakai tangan” keluh Anto.
Dini mencium bibir Anto sekilas, “Maunya gitu?” godanya.
“Maunya cium yang lamaaaa” kata Anto langsung ******* bibir Dini dengan lembut. “Mom, yunior daddy bangun” bisik Anto.
“Ihh, saru” kata Dini mencubit perut Anto.
__ADS_1
“Makanya cepet halalin ya, kasian kan dia” rayu Anto.
“Udah ah, senior dan yunior bobo aja, biar besok fresh” kata Dini berbarengan dengan ketukan di pintu. Lalu terlihat perawat masuk hendak ganti shift kerja.
“Habis infus ini, masih 1 botol infus lagi ya bu, pak, kalau nanti yang ini habis mohon pencet bel seperti biasa. Obat malam sudah diminum pak?” suster bertanya sambil mencatat tentang kondisi infus dan tentang obat.
“Sudah sus” jawab Dini, ini perkiraan berapa lama lagi infus ini habis?” tanyanya
“Sekitar 2 jam lagi bu. Mari bu, selamat rehat,” pamit suster lalu keluar ruangan.
Dini sengaja ga tidur sebelum botol infus diganti, dia ikut berbaring disebelah Anto, dia memeluk Anto dan menciumi pipi lelaki itu.
“Makasih ya cinta, selalu ada untukku” ucap Anto sambil membelai pipi Dini.
“Jangan bikin aku khawatir lagi ya maz, aku takut banget” sahut Dini.
“Kurangin tu rasa khawatir berlebihanmu, biar ga bikin kamu stress” nasihat Anto.
“Siapa yang ga khawatir kalau orang yang dicintai sakit, kalau dibalik ade yang jadi maz, apa maz akan cueq aja, santai aja, sementara maz ga bisa cepet lari ke ade?
“Hahahaaa, nyeraaaaaaah kalau seperti itu, iya maz salah. Tadi aja ade ngilang, HP ade ada disini, maz udah hampir gila, kalau ga dimarahin mama, maz udah nekat buka infus secara paksa dan keluar cari kamu” cerita Anto.
“Iya gapapa, kamu kecapean dan tertekan, jadi pas udah plong bisa tidur, maz yang minta maaf kamu jadi kesiksa gini” hibur Anto.
“Kalau kemaren mas ga minta tolong Yadi, ade ga tau nasib ade maz,” Dini ketakutan membayangkan hal buruk yang akan menimpanya.
“Sssttt, please ga usah dipikir lagi, ga usah dibayangin lagi” bujuk Anto
Pelukan mereka semakin erat, mereka mensyukuri bisa menyingkirkan batu yang akan menghalangi jalan mereka.
***
Sesuai kesepakatan mereka, pagi ini sehabis sholat subuh Dini pulang untuk bertemu Amora.
Sari dan bu Rahma datang saat Anto sedang dibuka infusannya. Hari ini Sari libur sehingga dia bisa full standby bila Dini ingin istirahat dulu, namun tadi Dini telpon akan datang bila Amora sudah selesai makan.
“Sudah maem maz? Sudah diminum obatnya” tanya Dini saat baru tiba, sehabis dia memberi salam pada bu Rahma. Dini menghampiri Anto dan mencium pipi lelaki itu. Anto sangat bahagia karena Dini berani mengekspresikan cintanya di depan mama dan adiknya.
“Sudah cintaku” jawab Anto santai, juga memperlihatkan dia juga mencintai Dini tanpa ragu.
__ADS_1
“Infus sudah dibuka gini, mau mandi atau lap-lap lagi?” lanjut Dini.
“Mandi aja deh biar seger” jawab Anto.
Dini menyiapkan baju ganti Anto, juga memberikan handuk serta sabun dan sikat giginya. Dini hendak memapah Anto ke kamar mandi, namun Anto melarangnya : “Maz tu sehat de, bisa koq jalan sendiri”
Saat Anto dikamar mandi bu Rahma bertanya : “Kapan to nduk?”
“Apanya ma?” tanya Dini pura-pura ga ngerti arah pembicaraan calon mertuanya.
“Ijab e” sahut bu Rahma.
“Maz sudah lama minta disegerakan bu, tapi Dini bilang habis Dini selesai kuliah. 8 bulan lagi rampung ma” jelas Dini menjawab pertanyaan calon mertuanya.
Anto menyerahkan baju kotor dan alat mandinya ke Dini, dia baru sadar ternyata Dini menyediakan kaos couple seperti yang Dini gunakan, juga jeans hitam sebagai bawahan mereka.
“Maz, semoga hari ini sudah boleh pulang ya?” harap Dini.
“Aamiiin, semoga boleh pulang, biar lusa bisa tumpengan ulang tahun Moya” sahut Anto.
“Wah si endud mau ulang tahun ya” pekik Sari. “Kalau gitu tante Yai mau pulang dulu, mau cari kado buat ponakan chubby ku” lanjutnya. “Mama mau disini liat orang pacaran, nanti sore aku jemput atau ikut pulang sekarang?” tawar Sari.
“Siapa juga yang pacaran?” kilah Dini.
“Mama pulang ajalah, biar ga ganggu calon penganten” goda Bu Rahma.
“Ye mamaaaa” kata Dini yang malu digoda calon mertuanya.
“Aaaamiiiin, doain biar cepet ya ma” jawab Anto.
Saat Sari dan bu Rahma baru saja keluar, dokter visite datang dan membolehkan Anto untuk pulang. Karena sebenarnya Anto sehat, dia dirawat hanya membuang sisa obat tidur yang dikonsumsi secara over dosis olehnya, walau bukan konsumsi secara sadar, namun karena awalnya dia bukan orang yang ketergantungan terhadap obat itu, maka recoverynya sangat cepat.
Anto menghubungi Yadi untuk menyelesaikan urusan administrasi pembayaran biaya rumah sakit. Setelah semua selesai, Dini langsung membawa mobil Anto ke rumah maminya. Dia tau Anto sudah sangat merindukan Amora, namun ga ingin Amora dibawa ke rumah sakit, karena ga baik untuk kesehatan Amora.
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini, udah anteng seperti ini, bakal segera halal ga sih?
ikutin ceritanya di bab berikutnya yaa
Jangan lupa like dan vote serta komennya
__ADS_1
Inget pesan yanktie, jangan lupa mulai intip-intip spin cerita ini dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR ya