CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
117 WELCOME BABY ARYA


__ADS_3

Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai sini, makasih buangeeeeet penuh lope lope untuk semua pembaca yang selalu kasih like tiap habis baca bab.


Dini pernah harus bed rest dan dokter berharap si baby dalam kandungan Dini bisa bertahan hingg sisap lahir walau tak sampai di usia sembilan bulan, dan prediksi itu terjadi. Dini merasakan mulai akan melahirkan setelah acara selmetan Wisudanya. Ikutin terus ceritanya ya


Tapi jangan hanya baca …  kasih yanktie semangat dengan cara kasih kasih like dan vote serta komen dan bintang 5 nya.


Inget juga pesan yanktie, jangan lupa mulai intip-intip spin cerita ini dengan judul  KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR  ya.


-----------------


“Minum dulu susunya. Kamu mau maem biar ada tenaga tambahan? Mau roti atau nasi, biar maz minta di carikan,” lanjut Anto lagi sambil menyerahkan segelas susu coklat  hangat yang di siapkan rumah sakit.


“Terserah Maz aja. Ade bakal maem biar kuat, biar bisa ketemu jagoan kita,” jawab Dini pasti.


“Good, itu baru istri maz,” tukas Anto.


“Jadi selama ini ade bukan istri Maz?” rajuk Dini


“Hahahaa, kalau bukan istri maz, lalu jagoan ada dari mana coba?” goda Anto, dia ingin mengurangi ketegangan yang sedang di hadapi Dini


Perjuangan panjang Dini berakhir pk 08.12 menit saat teriakannya  terdengara berbarengan dengan tangis jagoannya. Anto yang selama proses melahirkan berada di sisi Dini menangis dan memeluk kepala Dini. Di ciuminya wajah istri tercintanya. “Makasih atas perjuangannya cinta kecilnya maz, makasih atas upayamu menjaga jagoan sejak dia ada hingga sekarang bisa bertemu kita, makasih ya cinta,” terus dan terus di ucapkannya kata terima kasih serta di ciuminya wajah lelah istrinya.


Di depan ruang bersalin terlihat kebahagian dari keluarga Anto dan Dini, tidak di sangka pas semua ngumpul malah Dini melahirkan prematur.


“Rupanya jagoannya Dini pengen kita semua kumpul menyambutnya, ga mau nunggu 2 bulan lagi karena takutnya kita ga sempat terbang untuk datang ke rumah sakit menanti kelahirannya,” papi ceria menanggapi tangis bayi yang terdengar dari ruang bersalin. Semua mengucap syukur. Karena prematur bayi 2,9 kg itu tetap masuk inkubator sehabis di bersihkan serta di adzani oleh Anto.


Dini sudah di pindah ke ruang rawat. Mami dan papi serta mama sudah gantian pulang ke Bumijo agar mbak Sashi dan mbak Kiran bisa datang menengok Dini. Rencananya malam ini mereka akan kembali ke Jakarta. Demikian juga mbak Rina dan mas Imron yang dapat penerbangan sore. Sari dan Steve pulang ke Condong catur. Kini tinggal Anto dan Dini di ruang rawat VIP itu. Anto tertidur di sofa, sedang Dini baru saja membuka matanya, dia melihat suaminya yang sangat kelelahan karena menemaninya sejak semalam. Dini makin merasa mencintai sosok pemuda kecil yang dulu dia sempat benci ketika mengucapkan dia ade gue di lapangan basket.


Mbak Sashi dan mbak Kiran masuk sambil berjingkat karena melihat Dini memberi tanda meletakkan telunjuk di mulutnya, agar Anto tidak terusik.


Anto terbangun setelah mbak Sashi dan mbak Kiran pulang. Dia terbangun karena mendengar petugas mengantarkan makan siang untuk Dini

__ADS_1


“Di habiskan ya Bu, setelah itu ini obat siangnya, sebentar lagi jadwal bayi di antar ke sini untuk mendapat ASI,” suster menerangkan Dini agar menghabiskan makannya.


“Mau di suap mom?” tanya Anto.


“Mommy ga sakit cintaaaa, liat ga dapat infus juga, mommy bisa sendiri, daddy juga maem, tu tadi mbak Sashi dan mbak Kiran sudah bawakan makan dan bajumu. Cepet rapih lho, sebentar lagi jagoan kita datang, malu kalau daddya belum mandi,” goda Dini.


“Koq daddy ga di bangunin mbak-mbak pada datang?” Anto langsung melahap makannya terlebih dulu. Dia lalu mandi dan sholat di ruangan itu. Saat Anto belum selesai sholat jagoan kecil sudah di antarkan.


“Assalamu’alaykum jagoan mommy. Sehat selalu ya nak. Mommy, daddy dan mbak Moya mencintaimu,” sapa Dini dan mencium kening serta ubun-ubun anak lelakinya.


“Maz mau kasih nama apa? Kita belum sempat cari nama dia sudah lahir,” ucap Dini pada Anto yang mendekat dan menciumi pipi jagoannya yang sedang menyusu


“Arya atau Aditya mom? Arya artinya terhormat, Aditya artinya pandai dan bijaksana,” usul Anto. “Mommy sendiri mau kasih nama apa?”


“Sejak tau dia laki-laki saat kita lihat di USG, mommy sudah putuskan urusan nama full hak daddy. Gimana kalau di pakai ke duanya aja Maz, Arya Aditya Soekarso,” usul Dini.


“Maz setuju, jadi selamat datang de Arya” sapa Anto pada putra pertama, namun anak ke dua mereka itu.


Dini memberikan ASI pada Arya, seperti biasa ibu yang baru menyusui pasti akan merasakan perih karena lidah bayi masih kasar. Anto melihat istrinya meringis menahan sakit menjadi tidak tega. “Apa akan selalu seperti itu?”


Dini meletakan baby Arya di pundaknya untuk membuat sendawa. Sebelumnya dia meminta Anto menyiapkan tissue basah non alcohol untuk mengelap mulut baby Arya bila mengeluarkan cairan ASI yang biasa dia sebut gumoh.


“Daddy tolong lap bila dede Arya gumoh ya, mommy mau buang angin biar dia ga kembung,” pinta Dini.


“Aduh mom, hati-hati. Daddy takut ngelihatnya,” Anto yang melihat bayi lemah itu di pindah dari gendongan menjadi di baringkan di atas dada ke bahu malah ketakutan bila si bayi patah tulangnya.


“Mommy kan juga hati-hati dadd, dan ini memang harus kita lakukan bila bayi habis minum ASI atau Sufor (susuformula) agar bayi tidak kembung,” jelas Dini.


“Daddy mau pangku dede ga?” tanya Dini menawarkan suaminya.


“Daddy masih takut, tapi gapapa Daddy belajar,” Anto lalu duduk di sisi Dini untuk menerima Arya. Dia memangku bayi mungilnya dengan hati-hati dan penuh kelembutan.

__ADS_1


Saat Anto sedang memangku Arya Dini menggunakan waktu untuk meminum juice alpokatnya. Ibu menyusui memang cepat lapar. Tadi mbak Sashi dan mbak Kiran banyak membawakan makanan agar Dini tidak kelaparan bila menunggu jadwal makan dari rumah sakit.


Perawat masuk untuk kembali membawa Arya ke ruang perawatan baby. “Semoga besok pagi dokter membolehkan baby tidur dengan Ibu ya,” pesan sang perawat sebelum meninggalkan ruangan. Tadi dia bertanya apa baby mau minum ASI dan apakah sudah di buat bersendawa. Saat itu Anto baru mengerti ternyata bersendawa pada baby sangat penting.


***


“Maz ga pulang dulu nengok pacar?” goda Dini saat mereka hanya berdua.


“Tadi maz sudah telepon, ngasih tau beberapa hari ini kita berdua di sini menemani dede Arya. Dan dia sangat senang mendengar nama adiknya mirip dengan namanya,” balas Anto.


“Wah rupanya ada yang selingkuh ya, telepon di belakang mommy,” tentu saja Dini penasaran kapan Anto memberi tahu Amora tentang kelahiran adiknya itu.


“Daddy telepon tadi pagi, takutnya dia bangun ga lihat kita berdua dia nangis, maka daddy semalam langsung pesan begitu dia bangun harus kabari daddy,” Anto tahu kebiasaan Amora yang tak bisa jauh dari dirinya.


“Maaf, mommy malah lupa ya dadd,” Dini menyesal, dia malah lupa kebiasaan Amora di pagi hari. Dia bersyukur cinta Anto benar-benar tulus pada anaknya.


“Walau menjelang maghrib, mommy tetap istirahat ya, kan lagi ga sholat. Daddy mau ke mushola. Ada yang mau di pesan?” tanya Anto pada istrinya yang terlihat sangat mengantuk. Kalau dia ada di ruang itu tentu Dini tak akan tidur.


-------------


Yuhuuuuuuuuuuuuuuuu, ga kerasa lho cinta kecilnya maz Anto akan berakhir, tapi biar ga penasaran ikuti ceritanya di bab berikutnya yaa, udah mau tamat koq.


Untuk menggantikan novel ini nantinya,  SUDAH rilis cerita baru berjudul IMPOSSIBLE LOVE


Ceritanya tetap sederhana, membumi karena bukan tentang CEO tajir melintir bertemu dengan gadis sederhana!


Ceritanya tentang seorang pemuda cukup mapan yang baru lulus kuliah di London lalu jatuh cinta pada mantan gurunya.


Mantan guru pasti lebih tua kan? Dan hebohnya lagi si mantan guru adalah janda anak 3 lho!


Bisa ga pemuda lajang itu ngedapetin kepercayaan mantan ibu guru yang sudah sangat terluka karena berkali-kali di selingkuhi mantan suaminya dulu?

__ADS_1


ini covernya cerita berikutnya



__ADS_2