
Halloooooooooo……..
Jozz ya gerak cepatnya om Yo, Gimana kelanjutan kisahnya? Ikutin terus di bab ini ya
Yanktie mohon sehabis baca BAB langsung tinggalin jejak like dan hadiah ya….
Maturnuwun.
-------------
Mata bu Sandra melihat Leo selintas, lalu dia kembali menatap lurus. Leo meminta Risye duduk di kursi sebelahnya. “Ma, ini Risye, dia calon istri Yo. Yo berharap Yo bisa menikah dengan restu mama. Leo meletakan telapak tangan Risye diatas punggung tangan mamanya. Sekarang dua tangan bersatu dalam genggaman Leo. Tak ada reaksi bu Sandra, Risye membawa tangan bu Sandra dan mengecup punggung tangannya.
***
Setelah dirasa cukup perkenalan dengan lingkungan keluarganya, Leo mengajak Risye pulang. Saat ini sengaja Leo menggunakan mobilnya. “Itu gedung kantorku, dulu bersebrangan dengan kantor Anto. Lalu Leo mengajak Risye nongkrong di cafe, bukan hendak kencan seperti pasangan pada umumnya. Mereka hendak menggali semua info tentang pasangan masing-masing karena ini adalah pertemuan ke tiga mereka dan mereka sudah berani menyatakan mereka akan serius menikah.
“Apa makanan yang kamu hindari dan apa yang kamu sukai?” tanya Risye saat mereka baru saja memesan minuman di cafe itu. Leo membalas apa yang di tanya Risye dan dia pun menanyakan hal serupa agar tidak blank terhadap kesukaan calon istrinya itu.
“Apa pekerjaanmu?” tanya Leo, saat ini dia yang bertanya. Dia sudah menjelaskan pada Risye, dirinya bekerja di asuransi gedung dan kendaraan.
“Pekerjaan pokokku editor majalah model, namun sesekali aku menjadi bintang iklan,” jelas Risye.
“Artinya kamu tidak perlu tiap hari berangkat ke kantor?” tanya Leo.
“Ya, aku free lance, bisa kerja dimana pun,” jawab Risye.
“Kamu tidak ada kewajiban tinggal di Jogja?” desak Leo lagi.
“Aku melarikan diri ke rumah Jogja sejak kegagalan pernikahanku, bukan karena faktor kerjaan,” jelas Risye.
“Untuk selanjutnya, kamu memilih tinggal dimana?” tanya Leo.
“Kalau suamiku di Jakarta, tentu aku akan memilih tinggal dengannya,” jelas Risye.
__ADS_1
“Andai sesuai hatimu, kamu senang tinggal dimana?” Leo masih mengajuk hati Risye, karena dia bisa saja pindah sesuai keinginan istrinya bila dia berhenti kerja dan memulai usaha sendiri.
“Aku kalau boleh memilih, lebih suka Jogja atau Cimahi tempat kelahiran ayah. Kotanya sejuk dan tidak hiruk pikuk,” Risye menjawab pertenyaan Leo.
“Andai aku berhenti kerja dan kita menetap di Jogja serta membuka usaha sendiri, apa yang kamu akan pikirkan?” Leo menantang Risye memberikan jawaban atas kemungkinan yang dia inginkan.
“Kamu serius? Mau buka usaha apa?” tanya Risye antusias.
“Aku kepikiran buka cafe,” jawab Leo. “Tapi karena buka di Jogja, aku ingin buka cafe anak muda seperti warung klotok, sederhana, murah meriah namun tetap bergaya cafe. Atau lebih tepatnya perpaduan cafe dengan lesehan lah,” Leo membuka sedikit idenya.
“Aku enggak keberatan kamu buka usaha, apa kamu sudah lihat daerah mana lokasinya, karena pangsa pasar yang kamu mau bidik kan anak muda,” Risye yang suka tantangan tentu saja setuju. Dia dan orang tuanya memang tidak berpikiran kolot seorang laki-laki harus punya penghasilan bulanan sebagai pegawai.
“Aku mau fokus di pernikahan kita dan pengunduran diri dari kantor dulu. Sehabis nikah kita langsung pindah Jogja. Jadi kita bergerak sudah dalam ikatan legal. Tidak bercabang-cabang pemikirannya. Itu sih rencanaku,” Leo memberi gambaran planningnya.
“Memang kamu ingin kita menikah kapan?” tanya Risye. Dia sudah tidak kaget lagi akan pemikiran Leo yang cepat. Mulai hari ini dia membiasakan dengan pola pikir calon suaminya itu.
“Minggu depan aku melamarmu, sebulan dari sekarang atau 3 minggu dari lamaran kita menikah. Bagaimana?” tanya Leo pasti.
“Undangan, baju pengantin, gedung apa bisa selesai dalam tempo seperti itu?” tanya Risye. Dia ingat dulu dia dan Gilang butuh waktu 6 bulan mempersiapkan pernikahan mereka.
Risye ingat, butuh waktu empat bulan untuk menjahit baju pengantinnya yang gagal. Maka sekarang dia ingin mengikuti pemikiran Leo saja. Dia akan pergi ke butik dan mencari baju pengantin sesuai seleranya. Bayar dan langsung selesai.
“Risye.”
Risye dan Leo mendengar suara bariton memanggil dengan jarak tidak terlalu jauh. “Gilang?” desis Risye pelan.
“Kamu apa khabar?” tanya Gilang sambil memeluk Risye yang hanya duduk terpaku.
“Aku baik. Gilang perkenalkan, ini Bung Leo suamiku,” Risye mengenalkan Leo pada Gilang yang sudah tak dipanggil dengan sebutan mas lagi. Leo tentu mengerti sandiwara yang dilakukan oleh Risye.
“Leo.”
“Gilang.”
__ADS_1
“Kamu kapan menikah?” tanya Gilang pelan.
“Baru minggu lalu di Jogja, nanti undangan resepsi akan aku kirim, kami akan resepsi sebulan lagi,” Risye menjelaskan pada Gilang. “Oh ya, anakmu pasti sudah besar ya, sudah TK? Dan sudah nambah berapa adiknya?” tanya Risye sarkas.
“Kamu tahu sejak dia melahirkan aku langsung menceraikannya. Dan dia kembali ke desanya. Lalu dia sudah dua kali menikah, aku tak tahu lagi kabarnya dan tidak mau tahu. Sampai sekarang aku belum menikah karena aku hanya berharap akan menikahimu saja,” desah Gilang.
Mendengar kata-kata Gilang, Leo makin yakin siapa sosok lelaki di hadapannya yang membuat Risye mengakui dirinya menjadi suami. “Kami berharap anda dan pasangan akan datang di acara resepsi pernikahan kami. Alamatnya masih ada kan honey?” tanya Leo lembut.
“Masih koq, aku enggak akan lupain alamat rumah calon mertuaku yang gagal itu,” jawab Risye datar.
“Gilang aku duluan ya, kami masih mau hunting baju pengantin,” Risye berdiri dan menggamit Leo untuk meninggalkan cafe itu.
Leo melajukan mobilnya ke sebuah mall besar di Senayan. Dia tak ingin buang waktu. Baju pengantin dan cincin akan dia beli hari ini agar segera berkurang beban yang harus di cari oleh Risye.
“Besok mau hunting gedung?” tanya Leo saat mereka baru saja keluar dari cafe menuju mall di Senayan.
“Boleh, jemput aku ya?”pinta Risye.
“Kamu ke gereja jam berapa?” tanya Leo.
“Aku ambil yang jam tujuh aja,” jawab Risye.
“Ok, kita berangkat ke gereja bareng, lalu langsung hunting gedung. Kamu bawa baju ganti ya biar enggak ribet saat hunting nanti,” Leo menyanggupi menjemput Risye pagi sekali. “Besok sehabis hunting, aku akan bilang ke ayah dan ibu kalau minggu depan aku akan melamarmu.”
------------------------
Terima kasih sudah selesai membaca BAB ini, semoga tidak mengecewakan. Nantikan cerita selanjutnya besok ya. Jangan lupa kasih like sebelum menutup cerita ini.
Sambil nunggu yanktie update, kita baca cerita menarik milik teman yanktie ini ya, judulnya NAFSU ATAU CINTA karya TYATUL
Ceritanya seru abis.
------------------
__ADS_1