
“Engga, tadi pagi pas habis polisi telpon kerumah papa langsung kasih tau permintaan lo minta cerai, sebelum mama mikir seperti dugaan lo barusan. Papa juga tau lah pasti mama akan mikir lo sengaja buang Harry saat dia di titik nadir seperti sekarang. Mama kaget karena gue ama papa bisa komunikasi ama elo sedang Harry engga. Papa udah kasih tau semua fakta dari lo soal semua kesalahan Harry. Nah trus tadi pagi nyokap nemuin Harry di polsek, Harry juga cerita ke nyokap kalau lo udah buang dia karena dia udah salah banget ga ikutin aturan lo. Harry cuma pengen ketemu lo dan liat Amora” jelas Leo menjawab keraguan Dini.
“Gue bisa nemuin Harry, tapi kalau Amora kayaknya ga bisa deh. Nanti photo Amora ama tumpengnya tadi gue cetak trus gue bawa deh buat Harry” jelas Dini ke Leo.
Pagi ini Dini akan mengunjungi Harry yang sudah pindah ke lapas, dia membawakan kwetiau seafood masakannya sendiri, juice jambu biji dan beberapa lembar photo Amora saat berulang tahun kemarin, hanya photo Amora tanpa dirinya.
Sedikit malas, tapi dia berupaya melawan rasa itu untuk bisa menyelesaikan semua permasalahan mereka. Karena memang sejak dia tau Harry bersekongkol dengan mamanya, mereka belum pernah bertemu dan bicara apapun.
Saat Harry keluar untuk menemuinya, Dini kaget melihat wajah berantakan nan kurus tak terawat didepannya. Dini mengambil tangan Harry untuk cium tangan, karena dia tau biar bagaimanapun dia masih resmi menjadi istri Harry. Harry menitikan air mata melihat siapa yang datang menengoknya hari ini. Harry melihat wajah cantik yang sangat dirindukan hampir selama 3 bulan perpisahan mereka. Dia merasakan ketulusan istrinya mencium tangannya. Ditariknya tangan mungil istrinya agar mereka bisa lebih dekat, diciumnya kening istrinya walau ada meja memisahkan mereka. Dia mencium aroma tubuh dan parfum istrinya yang selama ini sudah menjadi candu untuknya.
“Gimana khabarmu?” tanya Dini basa basi untuk membuka percakapan mereka. Dini duduk disebrang Harry. “Aku bawain ini, semoga kamu suka” lanjut Dini sambil menyerahkan kotak makan dan sebotol juice jambu buatannya.
“Kamu sehat kan bund, Amora sehat? Ayah kangen” kata Harry tanpa menjawab pertanyaan Dini.
“Alhamdulillah Amora sehat, dia sudah bisa jalan, sudah bisa nyanyi dan ini tumpengan ultahnya minggu lalu” jawab Dini sambil menyerahkan beberapa photo terbaru Amora. Harry menerima photo-photo itu, menatapnya nanar lalu mendekapnya didadanya. Dia menangis tanpa malu, dia sangat merindukan putri kecilnya. Sosok yang membuat dia berkesempatan mempunyai keluarga kecil bahagia. Karena kehadiran Amora diperut Dini membuat dia pernah hidup teratur dan bertanggung jawab. Dia rindu masa-masa itu.
“Boleh ayah minta sesuatu?” tanya Harry sambil memegang tangan Dini.
“Silahkan aja, tapi aku belum tentu bisa mengabulkannya” jawab Dini.
__ADS_1
“Ayah mau minta maaf, dan ayah minta kita kembali seperti dulu” jawab Harry.
“Sepertinya hal ini ga perlu dibahas lagi, kamu sudah tau jawabannya. Ingat waktu kita mau nikah, aku sudah bilang ga akan nolong saat kamu jatuh lagi dan ga akan maafin kesalahan kamu bila kamu kembali ga benar. Ingat waktu kamu bilang cuma memulai merokok, aku bilang sehabis rokok pasti kamu akan kembali ke narkoba dan perempuan karena kamu ga pernah tulus meninggalkan semuanya, sekarang terbuktikan?” Dini terdiam sesaat unntuk mengisi paru-parunyakarena sudah teramat sesak.
“Kamu sudah ga jujur, aku temuin ******, lalu bau alkohol dan bau rokok. Kalau saat kamu dapat tekanan, kamu cerita ke aku, kamu share semua kesulitanmu, tentu kita bisa cari solusi sehat bersama. Tapi kemana kamu saat tertekan? Kamu cari pelampiasan sendiri, kamu cari jalan keluar sendiri dengan minum dan narkoba. Aku menyesalkan saat itu. Saat kamu ga jujur padaku dan lari dari kesulitan dengan jalan yang salah” jawab Dini untuk permintaan Harry agar mereka kembali bersama lagi
“Bukan aku ga mikir tentang masa depan Amora, tapi aku sudah finish, sudah final pemikiranku tentang kelangsungan rumah tangga kita. Sejak aku tau kamu dan mami merencanakan pesta dibelakangku, aku merasa kamu sudah menjadikanku keset kaki. Aku merasa sudah dianggap sampah oleh suamiku sendiri. Dan sejak saat itu, kamu sudah mati di hatiku” lirih Dini berucap karena sakiiiiiiiiiiiiiit dirasakannya.
“Apalagi mami malah mendorongmu untuk kembali berhubungan dengan Sarah dan Sarah dengan bangganya cerita didepan semua orang kehangatan pergulatan kalian di ranjang, itu titik balikku. Jadi please jangan berharap lagi. Keputusanku bukan karena kamu sudah jadi napi, tapi jauh sebelum sekarang.” lanjut Dini.
“Aku sudah minta papa memberitahukanmu soal gugat cerai, tapi karena posisimu saat ini seperti ini, biar aku yang mengajukan gugat cerai. Aku harap kamu tau, ini aku lakukan karena tindakanmu, bukan karena status napimu. Oh ya 1 lagi, aku juga tau malam saat ditangkap kamu sedang berbuat mesum dengan pelacurkan? Haha serendah itu aku dimatamu, sehingga digantikan oleh pelacur, itu tak termaafkan. Sorry” jelas Dini sinis.
“Forgive me please” rengek Harry “Aku membutuhkanmu, seperti paru-paru butuh oksigen”
“Saat ini bukan kapasitasku untuk memaafkanmu. Aku sudah mengikhlaskan semua yang terjadi, aku mengikhlaskan aku akan menjadi janda saat usia seperti sekarang. Yang harus kamu mintakan maaf adalah pada Amora, anakku itu akan kehilangan sosok ayahnya, apa pernah kamu pikirkan? Jangan karena hal itu lalu kamu mengusulkan agar tidak usah bercerai demi Amora. Kalaupun tidak cerai, dia akan tetap tersiksa karena kamu bukan ayah yang baik untuknya, karena permasalahannya bukan ada atau tidak ada kamu disisinya melainkan adalah perilaku kamu yang sangat tidak baik untuk perkembangannya kelak” kata-kata Dini menusuk Harry dengan sangat tepat di jantungnya.
Perih. Ya Harry merasakan sangat perih saat mendengar Dini menyebutkan kata anakku, bukan anak kita saat membicarakan Amora. Dini benar-benar sudah menganggapnya tidak ada.
“Waktu berkunjung habis!” seru penjaga memberitahukan para pengunjung untuk segera pulang.
__ADS_1
“Aku pamit dulu, jangan lupa ini dimakan” kata Dini pamit sambil menyodorkan bawaannya tadi, Dini kembali mencium tangan Harry. Harry mencium kening istrinya, dan disempatkannya pula mencium kedua pipi istrinya sebelum terakhir dia lama mencium puncak kepala Dini sambil menangis. Dia melihat Dini berbalik badan dan menjauh dari dirinya.
Harry POV
Sejak semalam gue mengharapkan dapat memeluk dan menciumi dua kekasih hatiku, gue sangat merindukan mereka. Istri dan anak gue. Gue sangat menyesalkan semua kebodohan gue. Gue menyesalkan kenapa gue masih saja bodoh dan ga bisa tegas seperti bimbingan Dini, kenapa gue selalu saja kalah bila ditekan mama.Din, ayah merindumu dengan sangat. Gue juga merindu ciuman Amora dipipi sepulang kerja.
Kerja?
Haahahaha, apa gue masih punya masa depan setelah gue jalani hidup nan kelam di penjara saat ini?
Dalam merindu gue makin ga bisa tidur, teman-teman sekamar sudah lelap sejak tadi, gue hanya berupaya tidur, namun kantuk ga kunjung tiba.
Pagi ini sipir memanggil, ada yang berkunjung katanya. Gue malas, karena selama ini yang datang hanya mama, mama dan mama saja. Pernah sekali mama datang dengan Vionne, tapi selebihnya hanya mama sendirian, papa dan Leo benar-benar tak perduli lagi ke gue. Itu memang salah gue, terlebih Leo yang selama ini selalu mensupport gue untuk kembali benar namun selalu gue tentang. Adik gue itu memang selalu baik, sekarang dia sudah terlalu kecewa sejak gue menyakiti Dini untuk kesekian kalinya.
Simak terus lanjutan cerita ini di bab selanjutnya ya
Makasih yanktie ucapkan buat yang selalu setia baca kisah ini
Jangan lupa kasih like dan vote serta komen ya
__ADS_1
Salam manis dari Jogja