CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
27 DEDE AMORA MINTA ASINAN


__ADS_3

Tumben nih bijak, pikir Dini. “Mental jadi orang tua satu orang anak tu beda ama mental orag tua dua orang  anak, kita juga belum siapkan? Atau tepatnya aku belum siap. Kita harus adil bagi attensi dan perawatan buat dua orang anak yang berbeda usia, mungkin beda jenis kelamin jadi harus beda perlakuan. Ga segampang itu lah” jawab Dini.


“Jadi intinya kamu hamil ga?” tanya Harry penasaran.


“Ya ga lah, wong aku pakai IUD”, jawab Dini santai.


“Kamu pakai IUD? Sejak kapan? Koq ga bilang ayah?” tanya Harry, entah apa yang dia rasa, kecewa, marah atau apa. Ga bisa dia jabarkan.


“Udah lama, saat Amora baru beberapa bulan. Maaf kalau ga bilang, saat itu komunikasi kita belum seperti sekarang. Aku ga berani tuker pikiran, tapi juga ga pengen kebobolan karena pasti kamu ga akan bisa ga nyentuh aku.” jawab Dini menerangkan kondisinya saat itu. Mendengar itu emosi Harry langsung redup, dia maklum akan pemikiran Dini dan sangat setuju dengan jalan yang telah dipilihnya.


“Iya gapapa, ayah ngerti kalau kondisi saat itu, semoga aja kedepannya kita bisa saling terbuka dalam segala hal ya bund” tukas Harry.


“Harapan itu sebaiknya ayah tanamkan di pikiranmu sendiri. Yang selama ini memendam semua persoalan tu siapa? Aku mah selalu terbuka koq” sahut Dini mengingatkan kebiasaan Harry memendam segala persoalan sendirian lalu di alihkan dengan hal-hal ga berguna.


Harry POV


Gue  tertikam dengan kata-kata istri gue ini, mengapa anak kecil ini selalu bisa mengupas suatu persoalan dengan sangat jernih? Mengapa dia bisa tau banyak hal yang gue sembunyikan namun dia ga meledak-ledak seperti cerita teman-teman gue yang mengalami istrinya pada ngamuk karena ketahuan bohong?


Saat gue mengatakan : “Iya gapapa, ayah ngerti kalau kondisi saat itu, semoga aja kedepannya kita bisa saling terbuka dalam segala hal ya bund”


Dia malah menjawab  “Harapan itu sebaiknya ayah tanamkan di pikiranmu sendiri. Yang selama ini memendam semua persoalan tu siapa? Aku mah selalu terbuka koq” dengan santainya. Kalau dia tau gue sering menyembunyikan segala tekanan sehingga gue  malah sering salah mencari pelepasan, mengapa dia ga ngamuk? Apa yang ada dipikiran istri gue ini?


Saat ini gue  sering tertekan, karena mama masih sering menghubungi gue. Mama selalu menyalahkan Dini yang menurutnya Dini sudah bikin gue menjadi pembangkang, suatu hal yang dulu ga pernah gue lakukan.


Dulu memang gue selalu menuruti semua keinginan mama, gue ga tega menolaknya karena Leo selalu membantahnya. Gue ingin mama punya 1 anak yang membuatnya bahagia karena menurut pada kehendaknya. Walau gue tau, sering permintaan mama bertenangan dengan keinginan gue, namun gue berupaya menurutinya. Salah satunya meminta gue kuliah di jurusan ekonomi, padahal aku ingin di arsitektur.

__ADS_1


Sekarang mama menekan gue agar aku segera berpisah dengan Dini karena Dini menolak mama membaptis Amora. Mama sangat membenci Dini, satu-satunya perempuan yang gue  cintai. Gue memang player, tapi sejak dengan Dini gue berhenti walau kemarin hampir saja aku tergelincir karena mantan teman tidur terpanas mengajak kembali mereguk panasnya ranjang dengannya. Saat akan melakukannya gue tersadar ada Dini dan Amora menunggu di rumah. Gue segera kembali memakai bajuku dan meninggalkan peermpuan itu.


Semoga kedepannya gue bisa menahan godaan yang datang saat gue sedang tertekan.


***


Pagi ini Dini mulai mempersiapkan bekal pakaian Amora untuk seharian di rumah mbak Kiran. Berbeda dengan saat di Kramat, maka sekarang Amora hanya dititipkan siang saja, mereka ga nginap sejak Senin hingga Kamis, karena jarak rumah mbak Kiran ga jauh dari rumah barunya. Itupun hanya sementara sampai pengasuh yang Dini pesan datang.


“Udah siap ya cantiknya bunda?” tanya Dini pada anaknya yang sudah rapi didandani ayahnya, seakan-akan Amora sudah bisa menjawab pertanyaannya. “Kamu mau langsung berangkat atau balik dulu ke rumah?” tanya Dini ke Harry. Karena rumah mereka memang hanya 2 km saja dari rumah mbak Kirana.


“Kayaknya ayah ngedrop kalian di rumah bude Kiran aja lalu antar bunda ke kampus deh. Hari ini ayah cuma nyerahin tugas aja jam 3 sore. Mau cari-cari lowongan kerja full time deh kan sebentar lagi ayah sudah ga kuliah” sahut Harry.


***


“Bude Kiraaaaaaan, aku datang nih” teriak Dini mewakili Amora saat motor Harry baru saja berhenti di depan pagar rumah mbak Kirana.


“Mbak, ini maksinya Amora, takut dia ga mau menu sini, dia sulit terima menu baru di lidahnya, kalau buat sore aku emang ga bawain, biar dia pengenalan, yang penting sudah 1x makan siang aku ga khawatir, dia juga biasanya banyak ngemil koq” jelas Dini ke ART yang akan mengasuh Amora.


“Njih bu, nanti saya berikan” sahut ART tersebut.


“Mbak Kiran, ade langsung berangkat yo, takut telat, kalau Amora rewel telpon ke Harry aja, hari ini dia lebih banyak stanby daripada ade” pamit Dini ambil mencium tangan kakaknya.


“Mbak, saya pamit antar Dini” kata Harry.


“Yo, ati-ati yo de” sahut mbak Kiran sambil menyuapi Farhan si bungsu.

__ADS_1


Jam 2 ternyata Dini sudah kembali sampai ke rumah mbak Kiran karena mata kuliah jam terakhir kosong. Mau langsung minta jemput Harry untuk pulang ke rumah mereka, ternyata Harry sudah OTW ke kampusnya untuk menyerahkan tugas smesternya.


“Bang” teriak Aldo si sulung anak mbak Kirana memanggil tukang asinan sayur yang lewat didepan rumahnya.


“Mas Aldo koq main panggil aja, emang sudah bilang mommy?” tanya ART yang menjaganya. Aldo sekarang kelas 4 SD. “Ada uang ga untuk bayar?” tanyanya lagi. Mbak Kiran memang mengajarkan tanggung jawab pada anaknya, jadi walau dia di rumah dan para ART juga ada dana dapur, namun untuk jajan Aldo tidak serta merta boleh pakai dana dapur.


“Minta mommy aja mbak, bilang dede Amora minta asinan” jawab Aldo santai. Dini dan mbak Kirana yang mendengar dari ruang keluarga hanya mesem tanpa menegurnya.


“Mas minta sendiri ya,mbak ga berani minta uang kalau buat jajan,kalau buat belanja sayur mbak berani” sahut ART tersebut.


“Ih mbak mah gitu” gerutu Aldo sambil masuk ke dalam membawa asinan sayur pesanannya tadi. “Mom, minta uang dong” rengeknya pada mbak Kirana.


“Buat apa mas, kan uang jajan sudah mommy kasih tadi pagi?


“Buat bayar asinan, ini dede Amora minta” jawab Aldo.


“Yang pengen makan asinan mas atau dede? Dede mintanya gimana?” jawab Dini sambil menahan senyum.


Sementara mbak Kirana sudah keluar untuk ikut memesan asinan untuknya juga untuk Dini. Aldo kebingungan sendiri dapat pertanyaan Dini. “Pokoknya bayarin dulu, kasihan abangnya nunggu belum dibayar” rengek Aldo.


“Mas yang bayar dong, yang makan asinan kan mas, dede lagi bobo mana bisa minta asinan” sahut mbak Kiran yang baru masuk sehabis pesan asinan.


Simak terus lanjutan cerita ini di bab selanjutnya ya


Makasih yanktie ucapkan buat yang selalu setia baca kisah ini

__ADS_1


Jangan lupa kasih like dan vote serta komen ya


Salam manis dari Jogja


__ADS_2