
54 KAMU MEMANG BENERAN ANAK BUNDA
“Sudah mamam?” tanya Harry, dia speechless mendengar suara diujung sana, rasanya bingung mau tanya apa, 2 tahun sudah dia kehilangan kontak dengan anaknya, bahkan diulang tahun pertama dan kedua dan ketiga putrinya dia tidak dapat hadir.
“Dah, mamam” jawab Amora, “Tati moya atit, atuh” ceritanya.
Harry agak sulit mencerna, karena ga pernah bicara dengan anaknya. “Kenapa sayang?” tanya Harry sambil minta Dini mendengar perkataan Amora agar bisa membantunya menerangkan apa maksud Amora
“Tati Moya atit, atuh” kata Amora lagi. Dini membantu menerangkan maksud Amora.
“Kakinya sakit karena terjatuh” jelas Dini.
“Jatuh dimana sayang? Kamu lari-lari?” tanya Harry
“Ndak yayi-yayi, Moya naik eja” sahut putri kecilnya.
“Ga lari-lari, dia naik meja” jelas Dini
Cukup lama mereka berdua bercerita, sampai pengawas memberitahu waktu berkunjung sudah habis. Dini memberitahu Amora bahwa ayahnya harus kembali kerja.
Dini memberitahu Harry, setiap sebelum tidur malam Amora diajak melihat photo ayahnya, atau melihat photonya ketika mereka bertiga. Lalu diajak mendoakan ayahnya yang sedang kerja jauh. Dini menjelaskan Harry ga perlu ragu atas kesungguhan Dini mendekatkan ayah dan anak walau jarak memisahkan mereka
Hal itu tambah membuat Harry menyesal, dia sungguh bodoh melepas Dini dengan cara membuatnya marah. Andai waktu bisa diputar, ingin rasanya dia memperbaiki kesalahannya dulu. Harry baru ingat kata-kata beberapa temannya dulu yang baru sekarang dia yakini kebenarannya : rumah tangga itu rumit, yang mudah adalah ular tangga
Dini keluar dari lapas, namun merasa ada yang mengawasinya. Dini mencari-cari siapa yang mengawasinya, namun tak ada sosok yang dia kenal disana
***
Dini melajukan mobilnya menuju supermarket yang dekat rumahnya, dia ingat susu Amora hampir habis, juga perlengkapan Amora lainnya selain cadangan sembako di rumahnya. Saat dia turun dari mobilnya, dia melihat sosok yang dia kenal ada didepannya, hendak masuk ke supermarket juga. Koq jam segini dia disini? Apa ga kerja? Inikan belum pulang jam kantor pikir Dini
Dini segera mengambil trolly belanjaan, disaat bersamaan orang didepannya menarik trolly. “Loh de, mau belanja?” sapa laki-laki itu dengan senyum manisnya
“Iya maz, susu Amora habis” sahut Dini sambil menarik trolly, “Maz ga kerja, koq jam segini sudah disini” tanya Dini
“Tadi dari lapangan, trus karena dekat rumah mama, ya mampir aja kesini, mau beliin mama sedikit keperluannya, karena mau ke rumah mama” sahut Anto
“Maz ga tinggal sama tante lagi” tanya Dini
__ADS_1
“Nanti maz cerita ya, sekarang kita belanja dulu” kata Anto
Anto terus berada disisi Dini, dia juga mengembalikan trollynya, dia bilang biar ga ganggu pembeli lainnya karena jalan bersisian, lebih baik mereka satu trolly aja. Anto memperhatikan dengan seksama jenis susu dan cemilan Amora. Dia juga memperhatikan merk dan size diapers yang Dini beli bagi Amora. Memang itu tujuannya mengikuti Dini sejak di lapas tadi. Dia sengaja masuk ke supermarket lebih dulu dari Dini agar tidak dicurigai membuntuti Dini
Selesai sudah Dini mencari keperluan dapur dan kebutuhan Amora, Antopun sudah sejak tadi selesai, saat antri dikasir Dini memilah belanjaannya, agar saat membayar nanti ga bingung. “Kenapa dipisah-pisah gitu?” tanya Anto bingung
“Biar belanjaan kita ga kecampur maz, jadi gampang pas mbayar” sahut Dini tanpa menengadahkan wajah, dia masih sibuk memisah-misah barang di trolly. Anto memegang tangan Dini yang sibuk memisahkan barang.
“Kamu tuh kayak ama siapa aja sih de” bisik Anto ditelinga Dini, dia ga ingin konsumen lain mendengar tegurannya. Dini memanyunkan bibirnya, sambil menepis tangan Anto yang memegang jemarinya. “Besok-besok kalau ketemu, ga usah dicampur belanjaannya dan jangan antri bareng” ketusnya
Anto ga menggubris omelan Dini, dia memajukan trollynya lalu membayar semuanya. “Kita minum dulu ya, maz tadi kan pengen cerita ke kamu” kata Anto
“Ok” sahut Dini
Anto menceritakan pernikahannya dengan anak pengusaha kaya, tentang jebakan Shinta hingga usia kandungan Shinta yang saat ini memasuki bulan ke 4 padahal mereka baru menikah 2 bulan. Anto ga ingin Dini mendengar dari orang lain, Anto juga ga ingin Dini merasa bersalah mengganggu rumah tangganya. Dini hanya terdiam, dia ga bereaksi terhadap kisah pernikahan Anto. Jujur awalnya dia sedih saat Anto berkata dia sudah menikah, namun begitu tau ceritanya dia malah kasihan terhadap laki-laki pujaan hatinya itu. Namun rasa sedih itu tak ingin diperlihatkannya.
“Udah sore. Pulang yok, kasihan Amora kelamaan nunggu” ajak Dini. “Sebelum dimasukkan mobil, pisahkan dulu belanjaannya maz, nanti kebawa ke rumahku semua” pinta Dini, agar Anto tidak lupa
“Maz ga boleh main ke rumahmu? Maz kangen Amora. Nanti dirumahmu aja dipisahinnya” jawab Anto tanpa ragu walau kesannya bertanya
***
“Assalamu’alaykum” salam Dini saat memasuki rumah maminya, sejak bermasalah dengan Harry memang Dini kembali ke rumah ini
“Itum ayam undaaaaaaa” balas Amora yang mendengar bundanya pulang
Dini bergegas mengangkat Amora dan menciumi pipi gembil anaknya itu.
“Assalamu’alaykum anak daddy” sapa Anto
Amora yang tidak tahu ada tamu terperangah melihat ada daddynya datang. “Itum ayam daddy, ndong” sahut Amora sambil memberikan dua tangannya pada Anto
Amora pun berpindah dari gendongan Dini ke gendongan Anto. “Duduk dulu maz, aku pisahin belanjaan sekalian bikin minum ya” kata Dini mempersilahkan tamunya untuk duduk
Dini kedalam membawa belanjaannya, memisahkan miliknya dan milik Anto. “Mbak, ini tolong bawa kedepan lagi dan buatkan lemon tea hangat dua ya” perintahnya pada ARTnya, dia sendiri langsung masuk kamarnya mandi dan sholat.
“Diminum maz. Sudah sholat Ashar belum?” tanya Dini
__ADS_1
“Makasih. Sudah sholat Ashar tadi sebelum ke supermarket”. Jawab Anto, lalu kembali bercerita dan bermain dengan Amora tanpa menghiraukan Dini
“Amora mandi dulu ya, nanti main lagi” perintah Dini pada putrinya
“Nda au, nti daddy uyang” tolak Amora
“Daddy akan tunggu sampai Moya selesai mandi, baru daddy pulang. Sekarang princess cantik mandi dulu ya” bujuk Anto pada Amora
“Daddy nda bo’on tan?” tanya Amora ragu
“Engga, daddy ga akan bohong” jawab Anto pasti
Akhirnya Amora mau pergi mandi dengan pengasuhnya. Dini memastikan lagi belanjaan Anto. “Maz, cek deh, takutnya ada yang kurang dari belanjaanmu tadi.” pinta Dini
“Kalau ada yang kurang kan kebeneran, ada alasanku buat balik lagi” goda Anto
“Harry pulang jam berapa?” tanya Anto pura-pura ga tau
Dini diam beberapa lama, akhirnya dia memutuskan untuk jujur pada Anto . “Harry ga pulang kesini maz. Dia sedang dipenjara, sampai 4 bulan lagi” jawab Dini
“Kenapa de? Ada masalah apa?” ungkit Anto
“Panjang ceritanya maz, ga enak cerita sekarang, nanti baru mulai cerita Amora datang jadi keputus. Lain kali ade ceritain bila kita ketemu” kata Dini. Baru aja dia selesai bicara Amora sudah berlari kearah mereka. “Jangan lari-lari, nanti jatuh lagi, sakit lagi kakinya” kata Dini memperingatkan putrinya
“Daddy, tati atit,atuh” Amora memperlihatkan lutut kirinya yang sedikit bekas luka tergores yang sudah mengering kepada Anto
“Kenapa sakit?” tanya Anto sambil mengusap-ngusap luka gores yang sudah hampir hilang itu. “Moya lari-lari?” tanyanya lagi
“Ndak yayi, Moya naik eja” jawab Moya jujur
“Hahhahahaaaa, kamu beneran anak bunda” tawa Anto
“Kenapa emangnya maz?” tanya Dini bingung
“Persis kamu kan, tukang manjat-manjat” jawab Anto
“Ih kamu tuh ya, malah ngeledekin ade” kata Dini tersipu
__ADS_1