
Halloooooooooo……..
Nah tante Risye dapat dukungan dari mbak Dini dan mbak Sari. Gimana kelanjutan kisahnya? Ikutin terus di bab ini ya
Yanktie mohon sehabis baca BAB langsung tinggalin jejak like dan hadiah ya….
Maturnuwun.
-------------
Akhirnya inti pembicaraan terjawab sudah. Risye memberi kepastian akan menjawab permintaan Leo untuk mulai mendekatkan diri sebelum mereka membahas hal yang lebih serius untuk hubungan mereka berdua. Dini pun pamit lebih dahulu dari Risye. Amora sejak tadi sudah menghubnginya.
Dini sampai rumah ketika Anto baru saja turun dari mobilnya. Tentu saja ketiga anaknya senang saat kedua orang tuanya bersamaan masuk rumah. “Assalamu’alaykum” sapa Dini sambil mengunci mobilnya. Lelahnya langsung hilang melihat tiga buah hatinya. Dua jagoannya berada dalam gendongan suami tercinta.
***
i pesawat menuju Jakarta, Leo termenung. Dia lelah jungkir balik cari uang mau buat apa? Mau buat siapa? Tak ada yang dia nafkahi. Selama ini hanya saat tertentu dia membantu papa untuk biaya berobat Vionne dan mama, tapi selebihnya semua di tanggung full oleh papa.biaya rumah tanggaa pun semua papa yang tanggulangi, gaji mama sebagai dosen juga masih mengalir, walau di hitung sebagai gaji pensiunan, namun intinya mama dan papa tidak kekurangan. Lalu buat apa dia ngotot kerja? Masih belum lepas lelah, di maki-maki boss karena tidak sesuai kehendaknya. Harus tepat waktu dan banyak lagi yang dia pikirkan. Dia ingin banting stir seperti yang Steve lakukan. Dia mau bebas secara waktu dan finansial, bukan hanya seperti sekarang. Hanya bebas finansial saja.
Leo semakin memantabkan hati untuk mulai berpikir serius bisnis apa yang ingin dia lakukan.
Pukul 21.05 Leo baru masuk ke rumahnya, sangat penat. Dia memberikan oleh-oleh dari Dini pada seorang ART nya agar di panaskan atau disimpan di freezer dulu biar tidak basi. Leo membongkar baju kotor serta berkasnya. Menaruh baju kotor di belakang baru dia mandi untuk menyegarkan dirinya. Sehabis mandi Leo memasuki kamar mamanya.di lihatnya tubuh ringkih mamanya terbaring. Papanya juga sudah lelap di kasur yang lain. Memang sejak mama pulang dari rumah sakit, papa tidak tidur seranjang dengan mama, karena tak suka dengan dipakaikan dapers, padahal mama tidak bisa turun bila ingin pipis atau buang air besar. Sehingga papa memberikan alas perlak bagi kasur mama agar kasurnya tidak bau. Dan papa mengalah tidur di ranjang yang lain.
‘Andai mama mau mendengar apa yang aku kemukakan, Harry masih bahagia dengan Dini dan Vionne tak akan mengalami nasib buruk,’ Leo membatin, memandang sedih pada sosok perempuan keras kepala yang sudah melahirkannya. ‘Mama terlalu egois, mama tak pernah mau melihat sekeliling, sehingga kami bertiga yang menjadi korban. Untung aku bisa berpikir waras. Andai aku mengikuti jalan yang Harry ambil, main perempuan dan gemar narkoba. Bagaimana papa bisa bertahan sendirian?’
Leo keluar pelan-pelan dari kamar kedua orang tuanya. Dia membuat kopi dan menyalakan televisi. Dia menghisap rokoknya dalam-dalam. Leo mulai merasa hidupnya tanpa arah. Ada sisi kosong dalam palung hatinya. Namun dia tidak tahu, apa penyebabnya. Akhirnya tanpa sadar bukan Leo yang menonton televisi, malah televisi yang menonton Leo tidur. Jam 4 pagi baru Leo tersadar tertidur di depan televisi. Dia mengambil remote dan mematikannya, lalu pindah ke kamarnya.
***
__ADS_1
“Pulang jam berapa Yo?” tanya papa saat Leo keluar kamarnya hendak sarapan.
“Masih tempo, tapi semua sudah tidur,” jawab Leo. Masih tempo itu padanan kata dalam bahasa Indonesia, tergantung konteks waktu saat di ucapkan, karena Leo bicara berhubungan dengan waktu kepulangannya semalam maka artinya masih belum terlalu larut malam. Leo menyeruput kopinya, lalu membuat roti untuk sarapannya. Dia melihat Vionne juga sedang sarapan sereal.
“Kamu kapan jadwal kontrol Yone?” tanya Leo, dia takut lupa mengantar adiknya itu. Kalau dia tidak sempat tentu dia akan menugaskan Harry menemani.
“Hari Kamis,” jawab Vionne tanpa mengangkat kepala melihat siapa yang diajak bicara.
“Ok, jangan terlambat minum obat ya?” nasehat Leo. Dia segera menghabiskan sarapannya dan bergegas untuk berangkat kerja. Sepanjang perjalanan menuju kantornya Leo memperhatikan sekelilingnya, mencari ide untuk membuka usaha.
***
Risye ragu menentukan kapan akan menghubungi Leo. Setelah kemarin diskusi panjang dengan Dini yang sangat mengenal Leo sejak Dini SMP, dan juga pernah sangat dekat karena Leo adalah mantan adik iparnya Dini. Risye tak ragu lagi, dia akan menerima Leo menjalani penjajagan. Namun dia berpikir, tentu untuk urusan seperti itu tak bisa di bicarakan by phone, karena akan sangat panjang. Risye memutuskan akan bertemu dengan Leo di Jakarta, sekalian dia pulang menengok ibu dan ayahnya. Hari ini Kamis, Risye sudah berada di rumah ibu nya di Jakarta. Namun dia sengaja tidak menghubungi Leo. Dia menuntaskan pekerjaannya dulu agar tidak terbebani dikejar oleh agency nya.
Saat ini pukul 22.11 hari Jumat, Risye menghubungi Leo.leo yang mendengar nada panggil di ponselnya tertegun saat nama Risye tertera sebagai orang yang menghubunginya malam ini. “Hallo,” sapa Leo.
“Enggak koq,” jawab Leo.
“Yo, aku mau ngobrolin yang kamu bilang kemarin,” Risye to the poin. Memang seperti itulah dirinya.
“Oh, silakan,” Leo bersiap menerima penolakan. Karena dia yakin akan sulit bagi orang yang baru kenal dan bertemu dua kali mau di ajak berhubungan serius.
“Enggak bisa by phone Yo,” jawab Risye.
“Wah aku lagi enggak bisa kabur ke Jogja. Kamu mau besok? Baik besok aku ke Jogja deh tapi langsung pulang, kita ketemu dekat bandara gimana?” tanya Leo yang enggak konsisten sendiri. Awalnya bilang enggak bisa ke Jogja, namun langsung meralat bisa langsung ke Jogja.
“Kamu enggak perlu ke Jogja, kamu ke rumah orang tuaku aja ya besok pagi. Sarapan bareng di rumahku,” jawab Risye santai.
__ADS_1
“Kamu lagi di Jakarta?” Leo kaget, Risye mengajaknya sarapan bareng namun dia tak perlu ke Jogja.
“Iya, aku di Jakarta. Kamu tahu daerah Kramat Batu?” tanya Risye.
“Aku agak buta daerah sana, kasih patokannya saja, besok pagi aku cari,” Leo menjawab dengan pasti. Akhirnya mereka ngobrol sesaat untuk memperjelas arah rumah Risye.
***
Risye memang sengaja langsung mengundang Leo untuk ke rumahnya, karena dia akan langsung memberi tahu ayah dan ibunya dia akan mulai membuka hati untuk melakukan hubungan dengan lawan jenisnya. Dia memang seperti itu, tak pernah ingin memulai sesuatu tanpa di ketahui kedua orang tuanya. Tanpa kesulitan, jam 7 pagi Leo sudah memarkirkan motor gedenya di rumah Risye. “Nyasar enggak?” tanya Risye saat Leo sedang membuka helm nya.
“Kalau nyasar, aku pasti telepon kamu buat tanya arah,” Leo menepis pertanyaan Risye dengan jawaban pasti.
“Masuk yok, kenalan dengan ayah dan ibuku,” Risye mengajak Leo masuk. Leo tak menyangka mendapat sambutan hangat dari ayah dan ibu Risye. Dari foto yang terpajang di dinding terlihat Risye adalah anak tunggal.
Leo banyak menjawab pertanyaan ayah Risye, yang pastinya ingin tahu, teman yang di bawa oleh putri tunggalnya niatnya apa dan bagaimana kehidupannya. Selain Gilang memang Risye tak pernah mengajak teman laki-laki main ke rumahnya. Setelah selesai sarapan, Risye mengajak Leo duduk di halan belakang rumahnya yang asri, disana ada gazebo yang berisi bantal bantal bulat dalam jumlah cukup banyak. Di tengah gazebo ada meja kecil pendek. Rupanya di gazebo biasa duduk lesehan dengan bantal.
--------------------
Terima kasih sudah selesai membaca BAB ini, semoga tidak mengecewakan. Nantikan cerita selanjutnya besok ya. Jangan lupa kasih like sebelum menutup cerita ini.
Sambil nunggu yanktie update, kita baca cerita menarik milik teman yanktie ini ya, judulnya SEGENGGAM LUKA karya TEH IJO
Ceritanya seru abis.
------------------
__ADS_1