CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
152 YOU ARE MY INSPIRATION, WITHOUT YOU, I’M BLANK!


__ADS_3

Hai hai para kesayangan yanktie, sehat semua kan? Terima kasih sudah selalu setia mengikuti cerita sederhana ini. Kenapa yanktie selalu menyampaikan terima kasih untuk yang selalu setia membaca dan memberi like saat kalian selesai membaca bab cerita ini? Karena ada notif siapa aja yang kasih like. Kemarin mbak Dini berhasil mengungkapkan kegundahan hatinya karena sempat memikirkan mas Dhar. Tapi mas Dhar nya kan belum kita tahu apa maunya? Kalau di bab hari ini kita belum bahas mas Dhar ya, mungkin lusa atau hari berikutnya. Hari ini kita baca kompetitornya maz Anto di dalam rumahnya sendiri.   Ikutin terus keseruan bab ini.


Yanktie mohon sehabis baca bab langsung tinggalin jejak like dan hadiah ya….


Maturnuwun.


----------------


Anto membiarkan istrinya tidur dalam dekapannya. Dia tak ingin mengganggunya, walau hasrat biologisnya ingin mengajak tempur Dini. Dia ingin istrinya rehat karena pikirannya sudah lelah. ‘Kamu tu beneran primadona dalam kehidupanku cinta. Tak aku sangka di kampus kamu banyak pemujanya juga,’ Anto hanya membatin sambil memandangi wajah istrinya yang sedang lelap. ‘Terima kasih, kamu bersedia menjadi pendamping hidupku. Terima kasih kamu mau menjadi ibu anak-anakku.’


***


Hari Sabtu membuat Dini malas, sehabis salat subuh dia ingin kembali bergelung dibalik selimut. Terlebih saat ini hujan deras. Tak dilihatnya suami terkasih kembali ke dalam kamar. Namun dia tak perduli. Dia sedang merasa lega karena sudah berbagi gundah dengan Anto semalam. Tak butuh waktu lama Dini benar-benar terlelap.


“Daddy, apa Mommy sakit?” tanya Arya cemas saat melihat daddynya membuatkan omelet untuk mereka sarapan.


“Enggak, Mommy hanya cape dan dia kembali tidur sehabis salat subuh tadi. Mas butuh apa, biar daddy yang buatin atau bantu,” jawab Anto. Jagoan besar mereka memang lebih dekat ke ibunya dibanding pada dirinya. Anto juga tahu Arya lebih suka figur Steve dari pada dirinya.


“I want Mommy. Not you,” Arya meninggalkan Anto dan berjalan menuju kamar orang tuanya.


“Mommy bangun, wake up please,” pinta Arya sambil mengguncang tubuh Dini.


“Hallo jagoan,” dengan suara parau Dini memeluk Arya yang memang sudah naik ke kasurnya.


“Bangun Mom, ayo sarapan dan bantu aku menggambar,” kembali Arya memohon agar Dini bangun.

__ADS_1


“Ini hari libur, kenapa mas enggak libur dan main lego aja?” tanya Dini masih sambil setengah terpejam. “Mommy ngantuk dan karena libur Mommy pengen istirahat. Atau mas bikin gambarnya sama Daddy aja ya?”


“Enggak mau, Daddy engga asyik ngegambarnya. Garisnya kaku!” Arya memberi alasan mengapa dia malas dibantu Anto.


Anto yang baru masuk kamar terbahak mendengar alasan Arya menolak bantuannya. Dia mengakui memang tak suka menggambar. Satu itu perbedaannya dengan Dini yang gemar melukis. “Daddy ngaku kalah kalau soal menggambar, Mommy the best lah. Tapi kita sarapan dulu aja yuk. Nanti kalau Mommy bangun baru kamu melukis dengan Mommy.”


Bujukan Anto tidak mempan menghentikan rengekan Arya meminta Dini bangun. Dengan malas Dini menyingkirkan selimutnya dan duduk bersandar di ranjangnya. “Kamu sarapan dulu. Mommy mandi dan sehabis Mommy sarapan kita ngegambar ya.”


“Yeeeeeaayyyyyy” Arya bersorak dengan mengangkat kedua tangannya ke atas seakan memenangkan suatu pertarungan. Anto dan Dini hanya tersenyum melihat kelakuan anak mereka itu. Arya bergegas turun dari ranjang dan berlari ke ruang makan.


“Daddy enggak bisa ya kasih Mommy dispensasi? Masa jaga anak-anak biar enggak ganggu Mommy aja gagal. Tega bangeeet sih?” protes Dini manja.


“Daddy lagi angkat omelet saat dia lari masuk kamar kita. Kalau tahu dia mau langsung kesini pasti aja akan Daddy tahan koq. Lagian kamu kenapa? Kita enggak perang kan? Koq kecapean? Apa mau persiapan perang nanti malam?” goda Anto


“Ihh, siapa juga yang mau persiapan? Aku pengen sekali-sekali bangun siang,” jelas Dini sambil menurunkan kedua kakinya dari ranjang. Dia harus segera mandi sebelum pacar kecilnya kembali masuk kamar dan memintanya segera membantu membuat gambar.


“Aku ‘kan KB, mens emang enggak teratur, tapi bukan berarti aku hamil. Dan kita sudah sepakat enggak nambah momongan ‘kan Maz?” Dini jadi galau mendengar kekhawatiran suaminya.


“Benar kita sudah sepakat dan kita juga sudah berikhtiar dengan ikut KB. Tapi kehendak Allah enggak ada yang tahu. Kita harus kontrol jangan sampai niat kita untuk tidak lagi punya momongan jadi gagal.” Anto mengingatkan Dini untuk segera cek ke dokter agar niat mereka tidak gagal.


***


“Kenapa hari libur kamu tetap ingin ngegambar?” tanya Dini. Arya juga sejak lama minta buku gambar besar, bukan buku gambar kecil yang sesuai untuk anak taman kanak kanak sesuai usianya.


“Ini bukan pelajaran di sekolah. Aku ingin melukis, bukan menggambar!” Arya menjawab ibunya sambil menyiapkan buku gambar besar dan crayonnya.

__ADS_1


“Apa beda melukis dengan menggambar?” tanya Amora penasaran.


“Kalau melukis itu bisa apa yang aku mau, bisa bayanganku lalu aku tambahin pikiranku ( mungkin maksud mas Arya imajinasinya kali ya? ) dan bisa warna sesukaku. Kalau gambar itu harus sama dengan yang ada. Ga boleh diganti. Pisang enggak boleh warna biru. Tapi kalau di lukisan, pisang boleh warna apa aja.” Entah Moya ngerti enggak jawaban Arya ini. Tapi itulah pemahaman Arya. Menggambar menurutnya seperti gambar gedung atau otomotif atau benda lain yang memang harus sesuai keadaan aslinya. Sedang melukis bisa sesuai imajinasi pelukis. Tak ada kekangan keharusan dalam melukis. Arya butuh kebebasan berekspresi.


“Lalu mengapa kamu butuh Mommy? Bukankah melukis tidak butuh acuan baku sehingga kamu bebas menggores semua keinginanmu?” tanya Anto yang kebetulan sedang membaca dekat Amora. Kebiasan Dini dan Anto, saat bersama anak-anak, walau sedang membaca atau bekerja, telinga dan mata mereka tetap harus sesekali memperhatikan ketiga buah hatinya agar tidak kehilangan moment pertumbuhan ketiganya.


“Karena *Mommy my inspiration, without her, I’m blank,” *jawab Arya yang sedang kegilaan bahasa inggris. Dia sudah di masukan kelas conversation oleh Dini, karena kalau masuk kelas reguler, akan bingung dengan penulisan kata.Arya belum lancar membaca dan menulis.


Dini hanya tersenyum dan mengerling pada suaminya yang kini jelas punya kompetitor memiliki dirinya. Anto yang melihat pandangan Dini hanya tersenyum kecut. Sejak tadi Dini sudah mengeluarkan risol frozen, maka kini cemilan mereka adalah risol hangat yang di goreng simbok. Minumannya air jahe sereh dengan gula batu panas karena saat ini masih hujan deras. “Masak lodeh wae mbok, goreng ikan dan krupuk njur tambah sambel karo lalap yo,” perinta Dini saat simbok menaruh risol panas dan minuman di ruang keluarga.


------------------------


Nah jelaskan siapa kompetitornya maz Anto. Bisa bersaing sehat gak ya mereka hehe.


Terima kasih sudah selesai membaca bab ini, semoga tidak mengecewakan. Nantikan cerita selanjutnya besok ya. Jangan lupa kasih like sebelum menutup cerita ini.


Salam manis dari Jogja


 sambil nunggu yanktie up besok, kita jalan-jalan ke karya teman yanktie yo, ceritanya keren dan pasti kalian akan suka


judulnya DENDAM karya author NAZWA TALITA


Setelah disiksa, dikhianati, dan dibuang di suatu tempat dalam keadaan tak bernyawa, Gendis bertekad mengubah takdir demi membalas dendam pada Arga Demian, pria tampan berhati iblis yang pernah menjadi kekasih rahasianya.


Akankah Gendis berhasil membalaskan dendam dan sakit hati pada pria yang selama ini terus bersemayam di hatinya? Ataukah dia justru kembali terjebak dan terjerat pada pesona Arga Demian dan kembali menjatuhkan hatinya pada pria itu?

__ADS_1


cuss kesana ya



__ADS_2