
Halloooooooooo……..
Di sesion dua banyak cerita dari tokoh lain agra cerita enggak ngebosenin ya. Tapi tepa tidak akan ada polemik yang terlalu berat karena yanktie yakin banyak pembaca yang cari hiburan saat membaca novel. Kalau konflik terlalu berat nanti malah jadi beban pikiran bukan menghibur.
Yanktie mohon sehabis baca BAB langsung tinggalin jejak like dan hadiah ya….
Maturnuwun.
-------------
“Bu, wonten bu Risye,” simbok mengabarkan kalau Risye teman SMA Dini telah datang.
“Aku ke depan ya, dadd jangan lupa bersiap makan siang,” Dini meninggalkan gazebo karena ada tamu.
***
“Hallo Ris,” sapa Dini ceria. Mereka langsung cipika cipiki. “Rajin amat sih udah datang aja, ‘kan aku undang makan malam,” cecar Dini.
“Hahahaha, kamu tu ya, tamu datang malah di ejek. Aku kangen ama Dhisty, katanya dia on the way siang, jadi sengaja biar bisa main ama dia lamaan. Kalau malam kan dia udah rewel minta bobo,” kilah Risye. Dia memang sangat menyukai Dhisty anak Sari dan Steve.
“Makan siang dulu yuk, ada mamiku juga,” Dini mengajak Risye makan siang bersama. “Kenalin, ini ayahnya Amora,” ucap Dini pada Risye. Risye tidak menyangka Dini sangat berjiwa besar menerima mantan suami yang sudah sangat melukainya.
Mereka makan di seling obrolan ringan, karena disana juga ada mbek Kiran dan mbak Sashi dengan keluarga lengkap. “Kamu kapan move on?” tanya Dini selintas pada Risye.
“Belum ada yang nyangkut di hati. Aku enggak mau salah langkah lagi. Untung saja dulu terbongkar sebelum aku nikah. Enggak kebayang kalau terbongkar setelah aku resmi jadi istrinya,” tukas Risye mengingat kisah pedihnya dengan calon suaminya. Risye gagal menikah, karena dua minggu sebelum akad, ada perempuan datang minta pertanggung jawaban calon suaminya, kejadiannya sudah7 tahun lalu namun dia belum bisa melupakan sakit hatinya. Undangan sudah tersebar, baju sudah di buat bukan di sewa, gedung dan cattering sudah lunas dibayar. Dia tak menyangka Gilang akan berbuat sekeji itu padanya. Gilang tak pernah ketahuan selingkuh karena korbannya adalah tukang cuci seterika di apartemennya.
Saat semua telah selesai makan terlihat Leo memasuki ruang keluarga. “Om Yo!” pekik ketiga keponakannya heboh. Mereka suka terhadap sosok Leo yang selalu bisa menjadi teman mereka kapanpun anak-anak membutuhkannya. Dan akhir-akhir ini Leo memang sering datang ke Jogja karena ada tugas dari kantornya. Tentu saja dia sengaja tidak mau tidur di hotel. Dia lebih memilih tidur di rumah Dini agar bisa berinteraksi dengan para kurcaci.
“Halloooooooo, wah para jagoan Om sudah makin gede aja ya. Dan kamu pastinya main cantik,” Leo mengecup pipi Amora. Dia memberikan masing-masing satu bungkusan. Tak pernah sekalipun dia membedakan para keponakannya itu. Karena kalau secara garis keturunan, keponakannya hanya Amora. Kedua adiknya bukan.
__ADS_1
“Terima kasih Om,” Arya dan Abbhie mengucap secara spontan. Sedang Amora berterima kasih dengan cara memeluk erat Om nya.
“Yo, kenalin teman SMA ku, kalau kamu masih ingat, dulu dia sering datang ke lapangan basket tiap hari Minggu. Walau hanya menonton, karena dia enggak suka main basket,’ jelas Dini sambil memperkenalkan Leo dengan Risye.
“Dia adik iparku, adik ayahnya Amora,” Dini menjelaskan siapa Leo pada Risye.
“Aku inget sih wajahnya, cuma baru tahu kalau dia pernah jadi adik iparmu,” balas Risye lalu dia mengulurkan tangan pada Leo.
“Leo.”
“Risye.”
“Assalamu’alaykum,” sapa Sari dan rombongannya.
“Wa’alaykum salam,” hampir serempak semua yang berada disana menjawab salam. Dini meminta ART nya segera mengatur meja untuk rombongan kedua termasuk Leo yang baru datang.
Risye langsung mengajak Adhisty bermain dengannya dan Amora. Saat itu Harry mencoba ikut bergabung, dia ingin mulai mendekati putrinya.
“Bisa, hanya enggak boleh gendong, takut jatuh,” jawab Amora tanpa berpaling melihat ayahnya.
“Wah anak ayah hebat ya,” puji Harry. Dia sesungguhnya bingung harus memulai dari mana percakapan dengan anak biologisnya itu. Anak yang sudah memprotes keberadaannya.
“Awas Mbak, Adek mau maem mainannya,” Risye memperingatkan Amora melihat Dhisty hendak memasukan boneka barbie ke mulutnya.
“Jangan Dek, ini enggak enak dan kotor. Diam sini Mbak ambilkan kamu buah ya,” bujuk Amora lalu berlari ke dapur untuk mengambil buah kiwi, melon dan buah naga yang sudah dipotong kecil-kecil.
“Tinggal dimana?” tanya Leo saat dia sedang di luar karena hendak merokok. Risye memang sedang diluar sehabis menerima telepon dari konsumennya.
“Daerah Batikan,” sahut Risye.
__ADS_1
“Memang kamu tahu mana itu daerah Batikan?” goda Steve yang baru saja keluar karena hendak mengambil hadiah ulang tahun Amora yang lupa diturunkan dari mobil.
“Mbak aku bikin combro sejak kemaren, mau enggak?” tanya Dini pada mbak Rina. Untuk mereka yang besar di Jakarta lalu pindah ke kota yang sulit dapat oncom seperti Dini dan mbak Rina tentu saja combro merupakan makanan mewah hehe. Bukan karena mahalnya, namun karena bahan bakunya sulit di dapat.
“Mau pake bangeeeeeeeeeet Dek,” mbak Rina tentu saja tidak menolak makanan ndeso namun super enak untuk lidah mereka.
Dini pun ke dapur untuk mulai menggoreng combro dan misro yang memang diperuntukkan sore ini. “Butuh bantuan enggak?” tanya Risye.
“Tolong kamu ambilkan beberapa piring ceper yang sudah aku siapkan di meja sana deh,” sahut Dini. “Mbak ini lemon tea sudah siap, kalau ada yang minta kopi kamu buatkan ya,” Dini memerintah ART untuk membawa minuman dan gorengan yang sudah dia buat untuk para tamunya.
Acara ulang tahun Amora yang di jadwalkan sore akhirnya dimulai siang dan berakhir malam. Semua bahagia. Harry pun sedikit plong saat tadi sempat berbisik mengatakan ‘ayah sayang Moya’ saat akan berfoto berdua dengan putrinya. Seperti tahun-tahun sebelumnya bila Harry hadir, maka wajib dia berfoto dengan Amora, lalu bertiga antara Dini, Amora dan Harry. Juga foto bertiga antara Amora, Anto dan Harry. Memang keluarga tak ingin Amora tidak mengetahui siapa sosok Harry dalam hidupnya. Sejak dini Dini mengajarkan kejujuran pada putri kecilnya itu.
“Bicara lah dengan Amora di kamarnya, biasanya gue dan Dini bicara dengan anak-anak tiap mereka mau tidur. Lo duluan bicara, nanti kita nyusul. Biar dia tahu kita sayangi dia,” bisik Anto pada Harry saat anak-anak sudah dipersiapkan masuk kamar oleh para pengasuhnya.
Dini masih menemani Risye yang hendak pamit, karena besok pagi jadwal dia ke gereja. “Aku antar ya?” Leo menawarkan diri.
“Nanti pulang Lo enggak nyasar?” tanya Steve. Dia memberikan kunci mobil pada Leo. Harry dan Anto sedang berbisik di belakang.
“Patokan gue ya stasiun Tugu lah,” jawab Leo santai. Karena Bumijo memang di belakang stasiun Tugu.
“Pamit ya say,” Risye berpamitan pada Sari dan Dini. Sejak kemarin mobilnya sedang di bengkel karena dia cat ulang di bengkel Steve.
Dini segera menuju kamar kedua jagoannya bergantian, dia mengucapkan selamat tidur dan mengecup kening. Memang itu ritual yang dibiasakan Dini dan Anto pada ketiga anaknya.
Di kamar Amora, Harry berupaya membuka percakapan dengan gadis kecilnya. “Mbak Moya sudah mau bobo?” tanya Harry. Amora hanya menganggukan kepala. Dia perhatikan lelaki tampan yang duduk di ranjangnya.
------------------
Terima kasih sudah setia membaca cerita sederhana ini, jangan lupa kasih like dan komen mbangun serta hadiah ya
__ADS_1
Salam manis yanktie ino di Jogja