
72 LAPANGAN SELATAN = ALUN-ALUN KIDUL
Paginya Dini berangkat diantar Steve dan Anto, namun dia tetap memesan pada tukang becak langganannya untuk menjemputnya jam 10 nanti. Karena dia memang biasa pulang dulu. Nanti jam 1 siang baru berangkat kegiatan MGMP.
“Pak mangke petuk jam setunggal nggeh, bioso teng dinas” kata Dini saat akan tiba di rumah sepulang ngajar. Dia minta agar dijemput jam 1 siang untuk pertemuan di dinas pendidikan. Memang dia juga sering seperti itu.
“Bu Dini ga bawa mobil?” sapa seseorang teman sejawat Dini di MGMP saat dia mau pulang setelah kegiatan, pak Joko, bujangan ganteng, kabarnya anak tunggal juragan batik di Jogja. Rumors nya dia idola gadis-gadis disini, wajah ganteng, tajir, anak tunggal, semua aspek itu sangat membuat siapapun akan tergila-gila padanya. Beberapa kali kegiatan Dini merasa pak Joko memberikan attensi yang lebih padanya daripada ke rekan-rekan lainnya. Itulah sebabnya Dini selalu menghindari interaksi dengan pak Joko, dia takut banyak tudingan terhadapnya karena statusnya adalah janda
“Engga pak, nanti mau bareng bu Sabrina dari SMA MUHI” jawab Dini.
“Ya bareng saja, nanti saya antar bu Sabrina juga, ga papa, kita kan semua searah.” sahut pak Joko
“Wis bu, rapopo” jawab bu Rina. “Ben ndang tekan omah” kata bu Sabrina, biar cepat sampai rumah katanya, dia memang sudah lelah, usianya terpaut lumayan jauh dengan Dini, anaknya yang bungsu saja sudah SMP
Dini berpikir, karena nanti di mobil ga hanya berdua, dan usia bu Rina yang jauh di atas mereka maka bisa meredam gosip yang bisa timbul. Dini mempersilahkan bu Rina duduk di depan dan dia lebih dulu masuk ke kursi belakang. Dini melihat wajah pak Joko yang cemberut ga suka atas kelakuannya. Pak Joko ga kehilangan akal, dia sengaja mengantarkan bu Sabrina lebih dulu, dengan alasan menghormati yang sepuh. Terpaksa sehabis bu Rina turun, Dini pindah ke kursi depan, Joko terlihat senyum simpul berhasil memperdaya Dini
“Kamu lulusan tahun berapa?” tanya pak Joko kepada Dini saat mereka beranjan dari rumah bu Rina
“2 tahun lalu” jawab Dini jujur
“Bu Ros masih ngajar?” tanya Joko
“Ros mana? Rosita atau Rosminar?” tanya Dini “Koq tau nama dosenku?”
“Aku 3 tahun diatasmu, ya taulah, kamu dulu aktiv di HMJ kan? Pernah jadian ama Dharsono ya?” tanya Joko. Dia sudah ber aku kamu dan ga memanggil bu lagi pada Dini
“Engga, ga pernah jadian, mas Dhar aja suka, tapi aku ga jadian koq” sangkal Dini, mengingat saat dikampus dulu, dan akhirnya dia ga bisa pacaran dengan siapapun karena hamil Amora. Dini yakin Joko ga tau dia hamil karena kejadiannya setelah Joko lulus.
“Diangkatanku dulu heboh saat tersiar kabar mantan Ketua HMJ ( tahun ke 4 sudah ga boleh menjabat menjadi ketua ) naksir yunior yang katanya tomboy , padahal Dhar paling dingin ama ceweq. Maka semua cowoq pengen tau siapa anak bawang tersebut” kata Joko
“Ya ampuuuuuun, dikatain anak bawang, jahat banget sih” kata Dini
“Ya anak baru lulus SMA kan anak bawang” jelas Joko lagi. “Kamu inget ga pernah diajak Dhar ke pulau Rambut, diluar rombongan mata kuliah ekologi?” tanya Joko
“Di mushola jurusan ya?” tanya Dini ambil mengingat-ingat
“Nah itukan Dhar, aku, Khariri dan Amir Hamzah yang ngajak kamu” jelas Joko
“Lupa, lagian kalau udah tau kenapa tadi pakai nanya aku lulusan kapan” kata Dini
__ADS_1
“Memastikan aja, kamu lupa ingetan engga, karena selama ini kamu ga inget aku” kata Joko lagi
“Bukan ga inget, kan emang ga kenal” sahut Dini
Dini melihat mobil Steve sudah ada di halamannya dan ada Amora digendongan Anto yang sedang digoda memetik mangga. Rumahku yang itu, kata Dini mengarahkan Joko, karena ini pertama kali Joko mampir ke rumahnya. “Turun yok, ga enak sampai rumahku ga turun” ajak Dini
“Mau maghrib Din, ga enak” tolak Joko
“Ya turun aja, lalu langsung pulang gapapa” ajak Dini lagi, Dini ingin mengenalkan Joko dengan Amora, agar Joko mundur mengejarnya.
“Assalamu’alaykum” salam Dini
“Wa alaykum salam” jawab Anto
“Bundaaaaa” sapa Amora
“Mari pak Joko masuk” ajak Dini
“Assalamu’alaykum” salam Joko
“Wa alaykum salam” jawab Anto
“Metik mangga sama daddy?” kata Dini. “Pak Joko, kenalkan ini maz saya, dan ini anak saya” kata Dini. Aku ga salah kan ngakuin dia mas ku, aku ga nipu dan ngakuin dia suamiku koq kata Dini dalam hati
Wajah Joko pias mendengar Dini memperkenalkan suaminya serta memberitahu dia memiliki anak.
“Maz, ini teman ade di MGMP, tadi dia nawarin ngantar aku dan bu Rina pulang karena kami searah” kata Dini kepada Anto
“Ayo masuk mas, duduk dulu” kata Anto menawarkan Joko untuk duduk di dalam. Diturunkannya Amora, “Moya cuci tanga dulu sama mbak” kata Anto
“Iya dad, Moya cuci tanan duyu” kata Amora sambil bergerak masuk ke dalam
“Maaf saya langsung saja, sudah hampir maghrib” tolak Joko
“Terimakasih lho pak Joko, jadi ngrusuhi” ucap Dini
“Ga koq bu, ga ngrepoti. Mari, Assalamu’alaykum” salam Joko. Dini sebegitu takutnya suaminya cemburu sehingga menjelaskan dengan rinci kalau mereka tadi pulang bertiga dengan bu Sabrina, pikir Joko. Kukira dia masih single batinnya lagi
***
__ADS_1
“Koq pulang cepet? Apa sudah selesai liat-liat lokasinya?” tanya Dini pada Anto
“Steve cuma ambil baju, liat kantor dan jalan2 di Malioboro, ga jadi belanja. Katanya belanjanya besok hari Minggu ama kamu,” jelas Anto datar, dia merasa mulai terusik dengan kehadiran Joko tadi, padahal semalam dengan pedenya dia bilang ga takut ada kompetitor
“Nanti malam jadi ke Alkid?” tanya Dini
“Terserah tuan rumah” jawab Anto
“Wah tuan rumah ga ada, adanya nyonya rumah’ jawab Dini
“Kalau gitu, maz aja yang jadi” balas Anto cepat
“Jadi apa?” tanya Dini bingung
“Jadi tuan rumah lah, kan tadi katanya ga ada tuan rumah” jawab Anto mantab
“Au ah” jawab Dini. “Wah baru mandi nih tuan besar” goda Dini pada Steve yang baru keluar kamar mandi, sengaja dia mengalihkan pembicaraan yang menjurus dari Anto tadi
“Yo’i” jawab Steve
“Nanti jadi ke Alkid ga Steve?” tanya Dini
“Kenapa, kamu ga bisa?” tanya Steve
“Kamu tu ya, aku nanya malah balik nanya,” kata Dini
“Hehehe, ya jadilah, kasihan ama orang Jakarta, kalau belum kesana lalu keburu pulang” kata Steve meledek Anto
“Yo wis, kita jalan setelah Amora tidur ya, ke Alkid sore-sore juga ngapain kan
***
Disinilah mereka saat ini, duduk di tikar lesehan di alun-alun kidul atau yang biasa disingkat Alkid. 3 mangkok wedang ronde, 2 jagung bakar, 2 porsi sosis bakar sudah terhidang di meja mereka. Mereka bercanda ria, mengingat mereka baru saja melakukan ritual jalan dengan ditutup matanya. Ke Alkid tanpa mencoba ritual tutup mata rasanya ga afdol. Sedang asyik bercerita datang 3 orang pengamen ke meja mereka menyanyikan lagu titip rindu buat ayah dari ebiet g ade, belum selesai lagu itu Steve menyuruhnya berhenti. “Bisa ganti lagu ga?” pinta Steve
“Lagu apa mas” tanya si pengamen
“Minta SOMETHING dari beatles, bisa?” tanya Steve
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote nya ya