
Hai hai para kesayangan yanktie, sehat semua kan? Bagaimana puasa kalian sampai hari ini?
Terima kasih sudah selalu setia mengikuti cerita sederhana ini. Kenapa yanktie selalu menyampaikan terima kasih untuk yang selalu setia membaca dan memberi like saat kalian selesai membaca bab cerita ini? Karena ada notif siapa aja yang kasih like.
Sediiiih … bang Robby si hitam manis ternyata sudah tahu akan meninggal. Sekarang kita ikutin terus keseruan bab ini. Selamat membaca!
Yanktie mohon sehabis baca bab langsung tinggalin jejak like dan hadiah ya….
Maturnuwun.
--------
Dan untungnya kemarin Dini mengabulkan permintaan terakhir Robby untuk memeluknya. Setidaknya Dini tidak menyesal karenanya. ‘Sebagai permintaan terakhir, boleh aku peluk kamu sebagai perpisahan antar sahabat?’
‘Sepertinya aku enggak akan bisa hadir di pernikahan Leo. Aku pamit ya, salam buat Anto. Terima kasih sudah pernah jadi bagian indah hidupku.’ Itu kalimat terakhir sebelum Robby minta peluk. ‘Kamu jahat By, aku enggak nyangka keceriaanmu berakhir begini. Pantas kamu bilang kita enggak akan bertemu di pernikahan Leo dua minggu lagi. Selamat jalan By, selamat tidur di keabadian. Dan terima kasih juga pernah membawa keceriaan untukku saat aku remaja dulu.’
Dini tak ingin terus bergelut dengan kenangan masa lalu dengan Robby. Pemuda Ambon yang ceria dan manis tutur katanya. Pacar pertama dan satu-satunya pria berpredikat pacar. Karena sesudah itu dia tak pernah pacaran. Dia lalu terpaksa menikah, bercerai dan kembali menikah tanpa pacaran lagi.dengannya tak pernah ada kata dusta, semua mereka bahas tuntas. Bahkan setelah sepakat berpisah pun mereka tetap akan selalu mengatakan lebih dulu info tentang diri mereka. Seharusnya Dini yang punya ganjelan karena saat akan menikah dengan Harry dia tidak memberitahu Robby lebih dulu. Saat itu pikirannya sudah tertutup oleh kekesalannya karena dia harus menikah karena kehamilan yang tidak dia rencanakan.
***
__ADS_1
Anto masih melihat, kadang istrinya seperti tidak fokus. Dia memaklumi, karena hanya Robby lah pria pertama yang menjadi pacar Dini saat remaja dulu. Hanya Robby yang pernah menoreh kenangan manis di putih abu-abu. Anto malah menorek duka saat itu. “Mom, dokter bilang Abbie bisa pulang kapan?” tanya Anto saat dia baru saja membersihkan diri sepulang kantor. Dia kangen Arya dan Amora yang selama Abbhie dirawat hanya bisa berkomunikasi lewat telepon saja.
“Dokter besok pagi akan memutuskan Dadd, kalau tidak ada halangan besok bisa pulang sih.” Dini menjawab sambil menyiapkan makan malam mereka. “Daddy besok kerja? Kalau gitu biar besok Mommy yang urus administrasi Abbhie.”
“Besok Daddy bisa urus koq, Daddy enggak kerja.” Anto mengingat besok tak ada meeting penting.
“Tapi masak kita besok pulang dua mobil? Nanti kalau Abbie maunya di mobil Daddy, mobil Mommy gimana?” tanya Dini.
“Apa mobil Mommy diantar pulang ke rumah malam ini? Nanti Daddy balik ke sini naik ojek aja.” Jawab Anto sambil menerima piring yang disodorkan Dini.
“Iya, bisa juga begitu deh Dadd. Kasih tahu juga mbak War besok enggak perlu datang ke sini. Malam ini barang-barang kita juga Daddy bawa duluan aja, biar besok enggak kebanyakan barang.” Dini menyetujui usul Anto.
***
“Hallo jagoan, sudah siap pulang? Sehat terus ya,” dokter yang visite pagi ini memberi izin Abbhie untuk pulang. Dia menuliskan resep untuk tambahan di rumah. Anto segera mengurus administrasi pembayaran biaya rawat Abbhie. Pukul 10.00 mereka sudah bisa meninggalkan rumah sakit menuju Bumijo. Mama, Sari dan Steve sudah menunggu kedatangan Abhhie di rumah.
***
Seminggu sudah Abbhie pulang dari rumah sakit, hari ini Dini mulai bersiap untuk berangkat ke Jakarta 2 hari lagi. Sari dan Steve tak bisa berangkat karena Sari sudah mendekati HPL anak ke dua. Dini membawa seorang pengasuh saja untuk membantu mengawasi Abbhie, karena Arya sudah mulai bisa diberitahu dan larangan. Saat resepsi nanti mereka akan menggunakan seragam dari pihak laki-laki yang diberi oleh Leo. Sedang untuk acara akad di gereja Dini menggunakan seragam dengan Anto dan ketiga anaknya saja. Sejak jauh hari Dini dan Anto sudah mempersiapkan mental Amora yang akan bertemu dengan keluarga besar ayahnya. Dini dan Anto takut ada kata-kata yang tak pantas Amora dengar, maka mereka mulai memagari dan memberi pengertian pada anak sulung mereka itu.
__ADS_1
-------------------------
Terima kasih sudah selesai membaca bab ini, semoga tidak mengecewakan. Nantikan cerita selanjutnya besok ya. Jangan lupa kasih like sebelum menutup cerita ini.
Salam manis dari Jogja
Sambil nunggu yanktie update bab baru esok hari, coba deh mampir ke karya teman yanktie yang super keren ini, ga bakal nyesel baca ceritanya, judulnya TAKDIR GADIS SI BURUK RUPA karya IMAMAH NUR
Rindu Maharani harus menerima kenyataan pahit saat terbangun dari koma, akibat kecelakaan yang menimpa diri dan keluarganya.
Tidak hanya kehilangan kedua orang tua, tetapi ia juga dihadapkan dengan kenyataan bahwa kini wajahnya menjadi buruk rupa.
Bukan hanya wajah tetapi pekerjaan yang sebagai pencabut bulu itik dan ayam menjadi sorotan dan hinaan di sekolah.
Cobaan demi cobaan senantiasa menemani perjalanan hidupnya. Namun, Rindu tidak patah semangat. Dia menjadikan hinaan dan cercaan sebagai semangat untuk bangkit dan berkembang.
Mampukah ia mengubah takdirnya?
__ADS_1