
Hai hai para kesayangan yanktie, sehat semua kan? Bagaimana puasa kalian sampai hari ini?
Terima kasih sudah selalu setia mengikuti cerita sederhana ini. Kenapa yanktie selalu menyampaikan terima kasih untuk yang selalu setia membaca dan memberi like saat kalian selesai membaca bab cerita ini? Karena ada notif siapa aja yang kasih like.
Anto berbesar hati menerima permintaan Robby untuk di izinkan bertemu Dini. tapi kenapa ya Robby berkali-kali menyatakan dia ingin clear saat dia pergi?Sekarang kita ikutin terus keseruan bab ini. Selamat membaca!
Yanktie mohon sehabis baca bab langsung tinggalin jejak like dan hadiah ya….
Maturnuwun.
--------
“Kalau mau ketemu ama Dini, silakan aja. Setahu gue, dia mau ketemu siapa pun dia akan minta izin dulu ama gue sebagai imamnya. Kalau dia secara enggak sengaja ketemu orang, sore atau malamnya dia pasti lapor karena takut ada orang sirik lalu bikin rumors yang enggak-enggak. Itu sikap Dini sebagai istri. Bahkan dia pernah mikirin mantannya aja dia langsung merasa bersalah dan minta maaf ke gue. Gue dan Dini cuma berprinsip membangun rumah tangga dengan kejujuran. Pertemuan kita ini gue belum bilang ke dia. Nanti saat dia minta izin karena lo ngajak ketemuan, gue akan bilang kita sudah bicara. Anto menyeruput kopinya di lanjut dengan memakan martabak yang tadi dia beli. Memang dia beli dua bungkus karena satu untuk dimakan berdua Robby. Dan satunya untuk Dini di ruangan Abbhie.
***
Dini sedang asyik mendengarkan berita televisi, bukan menonton televisi. Karena dia mendengarkan saja, dia sedang mengoreksi tugas para mahasiswanya. Seminggu ke depan dia minta izin karena Abbhie sakit, namun tugas para mahasiswanya tetap harus dia koreksi. Besok Anto akan berangkat kerja dan dia yang stan by di ruangan. Biasanya dia di temani mbak Warni. “Masih sibuk Mom?” tanya Anto pelan, dia tak ingin Abbhie terbangun.
“Enggak sih …. Kok lama Dadd?” tanya Dini.
__ADS_1
“Beli martabak Mom, kayaknya enak buat teman nonton bola sebentar lagi.” Anto bersiap membuat teh panas untuknya, karena dia lihat Dini masih ada teh yang belum dia habiskan.
“Awas ya kalau enggak sadar kita lagi di mana. Nonton bolanya jangan pakai emosi. Kasihan Abbhie kalau Daddy nya teriak-teriak.” Ancam Dini, karena kalau nonton Bola sering tanpa sadar Anto berteriak bila kesal.
“Iya, Daddy tahu koq,” jawab Anto. Walau dia enggak yakin bisa enggak menutup mulutnya kalau kesal nanti.
Saat Dini sedang membereskan tugas-tugas yang sudah selesai dikoreksi, ponselnya berbunyi pelan. Hanya ada notifikasi pesan dari nomor baru. Penasaran Dini membacanya. ‘Hai Dini, gue Robby. Gue minta waktu kita bicara berdua bisa? Ada hal yang gue ingin sampaikan ke elo. Ini terakhir gue bicara ama elo. Sesudah itu gue akan pergi menjauh. Kalau bisa tolong kasih tau dimana dan jam berapa bisa ketemu?’
“Dadd,”
“Hmm.”
“Dadd!”
“Ini ada chat, dari Robby. Dia minta waktu buat bicara. Enaknya jawab apa ya?” tanya Dini.
“Dia bukan orang Jogja Momm, kamu cepet jawab aja kapan bisa ngobrol. Kasihan kalau dia sudah mau pulang ke Jakarta.” Anto menjawab santai. Sejak dulu memang dia tak pernah cemburu berlebihan pada Robby. Terlebih setelah Dini menjadi istrinya, dia percaya penuh pada kekasih sejak masa kecilnya itu.
“Tapi … aku malas ketemu dia berdua Dadd,” balas Dini.
__ADS_1
“Sesuatu hal, apa pun itu, kalau masih ada yang belum selesai harus dituntaskan. Mungkin buat Mommy tak ada hal yang perlu dibahas lagi. Kalian sudah berpisah lebih dari sepuluh tahun lalu. Namun bila Robby merasa ada yang mengganjal, kita mau bilang apa? Saran Daddy, kasih lah kesempatan dia, agar dia tak punya beban lagi.” Anto memberi saran untuk Dini yang sudah merasa tak ada persoalan apapun dengan Robby.
“Ade ketemu disini aja ya Maz? Besok ‘kan Daddy ke kantor? Mommy berdua mbak War. Jadi Mommy enggak perlu keluar. Takut Abbhie nyariin. Dan yang penting ada saksi kalau Mommy enggak cuma berduaan ama lelaki lain.” Dini minta persetujuan suaminya menentukan tempat dan waktu bertemu dengan Robby.
“Boleh, begitu juga lebih baik,” balas Anto.
“Mommy tidur ya, Daddy beneran mau nonton bola? Enggak mau bobo meluk Mommy aja?” tanya Dini setelah dia selesai membereskan kertas lembar kerja mahasiswanya. Dia segera menuju toilet untuk bersih-bersih sebelum tidur. Setelah selesai baru Dini memegang ponselnya di ranjang. ‘Hai By, kamu ganti nomor? Haha udah lama bangeet pasti ganti ya? Oke, kita bisa ngobrol berdua. Tapi aku enggak bisa ninggalin Abbhie. Gimana kalau kita ketemu di ruang rawat anakku aja? Anto sudah kasih izin kok,’ balas Dini. Dia sengaja mengatakan Anto sudah memberi izin, agar Robby tahu, yang dia lakukan sepengetahuan suaminya.
‘Terima kasih ya, oke besok jam sepuluhan gue ada disana. Bye,’ Robby menjawab chat itu. Dan Dini merasa tak perlu lagi dia memberi balasan.
Dini merasa ada pergerakan di ranjang, dia mendapat pelukan dari belakang. Siapa lagi pelakunya kalau bukan suami tercinta yang katanya mau nonton bola sendirian. Saat itu Dini baru selesai membalas chat Robby. “Ngapain kesini? Tadi bilangnya mau nonton bola sendirian?”
“Enggak ah, enggak enak nonton sendirian dan enggak bisa teriak-teriak. Mending bobo sama Mommy aja bisa dapat kisses sampai puas,” Anto segera menciumi Dini. Mereka memang tak bisa melangkah lebih jauh mengingat sedang berada di rumah sakit. Namun setidaknya mereka bisa pengungkapan rasa cinta dari pasangan tercintanya.
***
Terima kasih sudah selesai membaca bab ini, semoga tidak mengecewakan. Nantikan cerita selanjutnya besok ya. Jangan lupa kasih like sebelum menutup cerita ini.
Salam manis dari Jogja
__ADS_1
Sambil nunggu yanktie update bab baru esok hari, coba deh mampir ke karya teman yanktie yang super keren ini, ga bakal nyesel baca ceritanya, judulnya PESONA TUAN DE LUCA karya KOMALASARI