
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai sini, makasih buangeeeeet penuh lope lope untuk semua pembaca yang selalu kasih like tiap habis baca bab.
Gimana keseruan mbak Moya melihat dede Arya ya? Ikutin keseruannya di bab ini aja deh.
Tapi jangan hanya baca … kasih yanktie semangat dengan cara kasih kasih like dan vote serta komen dan bintang 5 nya.
Inget juga pesan yanktie, jangan lupa mulai intip-intip spin cerita ini dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR ya.
-------------------
“Walau menjelang maghrib, mommy tetap istirahat ya, kan lagi ga sholat. Daddy mau ke mushola. Ada yang mau di pesan?” tanya Anto pada istrinya yang terlihat sangat mengantuk. Kalau dia ada di ruang itu tentu Dini tak akan tidur.
“Belikan pembalut dadd, juga belikan gunting kuku karena mommy takut kuku mommy kena badan dede Arya. Dan mintakan simbok bikinkan bubur ketan hitam. Dari tadi koq pengen bubur ketan hitam buatan simbok,” Dini berpesan sebelum Anto keluar,
Saat menuju mushola Anto bertemu dengan Steve dan Sari, namun dia mencegah keduanya masuk ruang rawat agar Dini bisa tidur sejenak sebelum menyusui Arya. Mereka di minta menunggu di teras ruang rawat saja, dan masuk berbarengan dengan baby Arya. Mendengar itu Steve memutuskan ikut Anto sholat di mushola sementara Sari karena sedang tidak sholat dia beranjak sendiri menuju ruang rawat kakak iparnya.
Di depan ruang rawat Sari mengintip ke dalam kamar, ternyata benar, kakaknya sedang tertidur kelelahan karena semalaman tidak tidur. Sampai Steve dan Anto datang baby Arya belum di antar untuk minum ASI. Maka mereka bertiga menunggu di depan ruang rawat. Steve mengajak Sari dan Anto memakan burger yang dia bawa sambil menunggu waktu.
“Koq nunggu di luar Pak?” tanya seorang perawat yang mendorong box tempat tidur kecil di mana baby Arya tertidur di dalamnya.
“Ibu sedang tidur, kami ga ingin ganggu istirahatnya,” jawab Anto sambil membuka pintu agar perawat langsung masuk ruangan.
“Malam bunda, baby mau mimik nih,” sapa perawat membangunkan Dini yang masih terlelap. Mendengar panggilan itu Dini pun membuka matanya dan melihat suster sudah berada di sisi brankarnya.
“Saya tensi dulu ya, sekalian ibu membasuh tangan agar baby aman,” walau ibu baru bangun namun suster tetap menyarankan ibu yang akan pegang bayi selalu dengan tangan bersih. Dia melakukan pengecekan suhu dan tensi sebelum memberikan baby ke tangan Dini.
“Besok pagi Ibu bisa turun untuk berjalan ke toilet,” lanjut perawat saat memberikan baby pada Dini. “Jangan lupa upayakan sendawa sehabis minum ASI ya Bu.”
Anto mengajak Steve keluar ruangan agar Dini bisa menyusui Arya.
“Panggilkan mas Anto de,” pinta Dini saat dia sudah selesai memberi ASI pada baby Arya, dia bersiap membuat Arya mengeluarkan sendawa namun meminta Anto ikut terlibat. Sebenarnya tanpa bantuan Anto pun tidak masalah. Namun itu memang sengaja dia lakukan agar ada katerikatan baby dengan ayahnya. Bukan hanya pada Anto, dulu hal itu juga dia lakukan pada Harry. Dan sosok Harry yang sangat tidak perhatian menjadi sangat mengerti tentang merawat bayi sejak Dini selalu melibatkannya dalam perawatan bayi mereka.
“Mas, di panggil mbak Dini,” Sari menyampaikan pesan kakak iparnya.
__ADS_1
“Kamu mau pangku dia de?” tanya Dini pada Sari.
“Pengen mbak, tapi takut,” jawab Sari sambil melihat Anto memangku baby Arya. Dan Dini kembali bersandar di kasurnya yang sengaja di stel dengan kemiringan 45º.
“Mas juga takut, tapi yo belajar wae,” Anto menjelaskan pada Sari prosesnya pagi tadi. Mereka tidak memperhatikan Steve sedang cuci tangan dengan sabun dan mengeringkannya dengan tissue hingga benar-benar kering.
“Aku ijin gendong ya Din,” pinta Steve yakin.
“Kamu bisa?” hampir bersamaan Dini dan Sari bertanya mendengar permintaan Steve.
“Tenang, aku biasa menggendong bayi baru lahir, sejak aku kecil,” jawab Steve dengan cool. Dia mengambil baby Arya dari pangkuan Anto dan membawanya ke sofa dekat Sari. Tentu saja Anto dan Dini tidak percaya melihat kejadian itu karena Steve terhitung anak tunggal.
“Kalian pasti bertanya mengapa aku bisa menggendong bayi kan? Jadi awalnya karena oma sulit punya anak. Sejak muda oma rajin ke panti asuhan yang menerima bayi. Saat opa dinas kemanapun oma selalu perhatian pada bayi terlantar. Dan setelah papi ku lahir rahim oma di angkat karena kanker. Sejak itu oma mendirikan panti asuhan bagi baby terbuang. Sejak aku ikut oma ketika papi dan mami meninggal, aku terbiasa di bawa oma bila oma atau oma bersama opa mengunjungi panti yang mereka miliki. Di situ lah aku jatuh iba melihat bayi yang terbuang dan aku mulai belajar menggendong serta mengurus mereka,” cerita Steve. Saat itupun Steve memperagakan kemahirannya menggendong baby Arya ke posisi membuang angin. Tentu saja Anto sangat tertarik belajar.
***
Hari ini Dini boleh pulang, tentu saja mama, Steve dan Sari sudah mempersiapkan segalanya di rumah. Hanya Steve yang menjemput Anto di rumah sakit. Steve tidak membawa mobil, tadi dia diantar Sari yang hendak mengambil pesanan mama di toko kue. Amora seudah tak sabar menanti kehadiran adiknya, sejak pagi mulut kecilnya tak berhenti bertanya pada eyang dan para pengasuhnya.
“Kenapa belum sampe juga?”
“Kenapa daddy ga telepon mbak Moya?”
“Kenapa eyang ga ikut njemput dede?”
“Apa mommy perutnya di buka jadi dede bisa keluar?”
Dan banyak pertanyaan dari bibir mungil itu yang membuat eyangnya takut salah jawab. Karena bagi Dini menjawab pertanyaan Amora tidak boleh menyesatkan. Pertanyaan Amora harus di jawab dengan sebenarnya namun dengan bahasa yang di pahami oleh anak seusianya.
Bu Rahma banyak mendengar cerita tentang betapa kritisnya Amora, oleh sebab itu Dini mewanti-wanti siapapun jangan pernah salah menjawab bila Amora bertanya.
Flash back on
“Mama Yai, mengapa ibu itu pakai tutup kepala (hair steamer)?” tanya Amora saat ia ikut Sari ke salon.
__ADS_1
Tanpa berpikir panjang Sari menjawab santai, “Itu alaat untuk keluarin batu buat orang yang suka ngeyel.”
Malamnya Amora langsung bertanya ke daddynya, apa di kepala ada batu sehingga harus di keluarkan agar tidak ngeyel?
Di lain kesempatan Amora memprotes daddynya, “Daddy kenapa ga pakai sandal saat masuk toilet? Bukankan lantainya banyak kuman?”
Anto saat itu belum terbiasa dengan kritisnya putri sulunya menjawab asal, “Daddy sudah besar, jadi daddy gapapa ke kamar mandi tanpa pakai sandal, kalau Moya ga boleh ya, Moya masih kecil.”
Seharusnya Anto menjawab dia lupa dan minta maaf atas ke alpaannya. Esoknya Anto meminta Amora mengambilkan buku di meja kerja Dini. Di sinilah Anto menyadari kesalahannya dan mulai memperhatikan semua jawaban yang akan dia berikan bila Amora bertanya, karena jawaban yang Amora berikan saat menjawab permintaannya sangat menohoknya. “Daddy ambil sendiri, daddy kan sudah besar, Moya ga bisa, masih kecil!”
Dan sang eyang sendiri juga pernah kena skak mat oleh Amora, saat pagi-pagi berkebun bu Rahma melarang Amora, “Jangan main air sayang, masih pagi lho,”
Dan Amora pun menurut tanpa membantah. Siangnya sehabis bangun tidur dia bermain air di kebun dan mbak Inah melarangnya. Maka bu Rahmah kaget karena dia lah yang menjadi alasan Amora bermain air. “Tadi eyang bilang kalau pagi ndak boleh main air, aku kan habis bobo siang, jadi sekarang sudah siang. Siang bukan pagi, jadi boleh main air!” Amora muter-muter menerangkan kalau siang boleh main air seperti kata eyangnya tadi pagi.
Flash back off
-------------------
Yuhuuuuuuuuuuuuuuuu, ga kerasa lho cinta kecilnya maz Anto akan berakhir, tapi biar ga penasaran ikuti ceritanya di bab berikutnya yaa, udah mau tamat koq.
Untuk menggantikan novel ini nantinya, yanktie SUDAHrilis cerita baru berjudul IMPOSSIBLE LOVE
Ceritanya tetap sederhana, membumi karena bukan tentang CEO tajir melintir bertemu dengan gadis sederhana!
Ceritanya tentang seorang pemuda cukup mapan yang baru lulus kuliah di London lalu jatuh cinta pada mantan gurunya.
Mantan guru pasti lebih tua kan? Dan hebohnya lagi si mantan guru adalah janda anak 3 lho!
Bisa ga pemuda lajang itu ngedapetin kepercayaan mantan ibu guru yang sudah sangat terluka karena berkali-kali di selingkuhi mantan suaminya dulu?
ini covernya cerita berikutnya
__ADS_1