CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
165 LELAKI INI YANG AKAN DIPILIH DINI UNTUK MENJADI PENDAMPINGNYA


__ADS_3

Hai hai para kesayangan yanktie, sehat semua kan?  Bagaimana puasa kalian sampai hari ini?


Terima kasih sudah selalu setia mengikuti cerita sederhana ini. Kenapa yanktie selalu menyampaikan terima kasih untuk yang selalu setia membaca dan memberi like saat kalian selesai membaca bab cerita ini? Karena ada notif siapa aja yang kasih like.


Cepat sembuh ya mas Abbhie. Maem yang banyak biar infusnya cepat dibuka. Sekarang kita ikutin terus keseruan bab ini. Selamat membaca!


Yanktie mohon sehabis baca bab langsung tinggalin jejak like dan hadiah ya….


Maturnuwun.


--------


‘Ibu, sudah hari gini aja belum makan siang. Andai Bapak tahu pasti akan ditegur. Untung Bapak sedang tidur. Mereka memang pasangan serasi dan saling menyayangi. Tak seperti  mantan suamiku. Kere tapi hobby selingkuh.’ mbak War membatin melihat Dini terlambat makan siang. Dia ingat mantan suaminya, tak punya pekerjaan tetap, tapi punya istri tiga. Maka dia minta cerai. “Ini sampun Bu,” mbak War sudah rampung membawa semua baju kotor serta tempat makan kotor. Dini memberikan uang untuk naik taksi. Lalu mbak War segera pulang.


“Kamu telat makan Mom?” Anto terjaga karena tanpa sengaja mbak War menutup pintu agak keras sehingga dia bangun.


“Tadi pulang nguji, ade mampir ke rumah. Ambil materi buat besok. Sekalian ambil baju kerja juga. Jadi enggak sempat makan,” Dini yakin habis ini akan keluar deretan kata-kata mutiara dari mulut suaminya menasehati dirinya yang terlambat makan.


“Kamu ‘tu. Harusnya tadi di rumah habis ambil materi ya makan dulu. Baru siapin baju dan yang lain. Bukan malah ngeduluin meluncur kesini. Kamu harus jaga kesehatanmu kalau mau nunggu orang sakit. Jangan sampai kamu malah ikut sakit.” Anto langsung ngomel tak berkesudahan.


“Ade ‘tu tadi kepikiran kalau Maz enggak sempat beli makan. Jadi ade langsung aja bawa makanan buat kita. Ternyata Maz sudah makan dan sedang tidur. Jadi ya ade makan sendirian.” Jelas Dini. Dia juga tak mau disalahkan, karena dia tadi hanya berfokus pada makan siang suaminya.


“Maaf ya, makasih kamu kuatirin aku. Tapi jangan telat makan lagi ya?” Anto mendekati istrinya dan mencium puncak kepalanya.


“Maz mau makan lagi? Aku suapin ya, mumpung belum cuci tangan.” Dini menawarkan Anto makan. Dia tahu kebiasaan suaminya. Anto pasti tadi makan hanya sekedarnya saja.


“Mau.” Jawab Anto tanpa ragu. Dia paling suka bila makan dari suapan istrinya. Dini segera menambah nasi dan lauk di piringnya. Dia mulai menyuapi kekasih hatinya. Mereka makan sambil bercerita hasil lab Abbhie juga kerewelan Arya dan Amora.

__ADS_1


***


Risye minta izin kembali ke Jogja dulu selama menunggu waktu pernikahannya dua minggu lagi. Tentu saja Leo melarangnya. Dia tak ingin terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan. Bahkan untuk ke Bandung rumah keluarga ayahnya saja, Leo tak memberi ijin. “Kita tidak akan tiap hari bertemu walau kamu ada di Jakarta. Dan kamu juga tidak usah keluar kerja tiap hari. Minggu depan malah kamu full di rumah. Tidak aku ijinkan kerja menjelang pernikahan, kamu ngerti ya honey. Aku cuma enggak ingin terjadi sesuatu hal yang tidak kita inginkan.” Leo memeluk Risye. Dia tak ingin keras melarangnya. Namun dia ingin perintahnya di taati oleh calon istrinya.


“Iya babe, aku ikutin kemauanmu.” Jawab Risye. Larangan Leo itu sama dengan larangan ayah dan ibunya. Mereka juga tak ingin terjadi hal-hal yang tak diinginkan jelang pernikahan mereka.


“I love you honey. Jangan merasa terpaksa ya. Aku ngelarang ini untuk kebaikan kita berdua koq.” Leo menjelaskan mengapa dia melarang Risye pulang ke Jogja. Saat ini Risye sedang berada di rumah Leo. Sejak siang dia datang dan sengaja menunggu Leo pulang kerja. Dia masak untuk makan malam. Dia mengajak ngobrol calon mama mertuanya walau tak ada reaksi. Setidaknya calon mama mertuanya tidak marah. Karena bu Sandra akan marah pada orang yang tidak dia sukai.


***


Saat Dini baru saja cuci tangan, terdengar ketukan di pintu. Anto membukakan pintu. Ada dua sosok pria di depan pintu, yang satu Anto pernah berkenalan saat awal datang ke Jogja dan dia belum menikah dengan Dini. Yang seorang adalah  sosok pria berwajah Jawa yang menurut pandangan laki-laki saja terlihat tampan. Dia rapih dan harum dengan senyum yang tersungging di bibirnya. “Assalamu’alaykum,” sapa pria itu ramah. “Ini benar kamar anak Abbhie?”


Anto berpikir sejenak. ‘Andai saat itu Harry tidak memperkosa Dini. Andai saat itu Dini tidak hamil Amora. Pasti lelaki ini yang Dini pilih untuk menjadi pendamping hidupnya!’ 


“Benar. Mari silakan masuk.” Anto mempersilakan tamunya masuk. Dini sedang salat Ashar. Mereka memang harus bergantian. Takut Abbhie terjaga. “Silakan duduk, Dini sedang salat.”


“Assalamu’alaykum,” Dini memberi salam pada kedua tamunya. Dharsono terpesona pada wajah fresh Dini yang natural sehabis wudhu. Tak ada polesan make up di wajah cantik itu. Dini mengulurkan tangan pada kedua tamunya. “Daddy sudah pernah kenal dengan mas Joko ‘kan? Ini seniorku juga, mas Dhar, kebetulan dia sedang datang ke Jogja.” Dini memperkenalkan tamunya pada suaminya. “Mas Dhar, ini ayahnya anak-anak.”


“Pras.”


“Dharsono.”


“Saya tinggal ya, mau laporan dulu.” Anto pamit untuk salat.


“Monggo.” Hampir bersamaan Joko dan Dharsono membalas perkataan suami Dini.


“Jadi gini Din, kami mau buat reuni kecil-kecilan untuk alumni mahasiswa bio yang saat ini berdomisili di Jogja - Solo dan sekitarnya. Namun tak menutup kemungkinan teman daerah lain yang ingin datang. Kamu bisa ikut berpartisipasi jadi panitia enggak?” tanya Joko.

__ADS_1


“Pada prinsipnya aku suka dan mau, namun saat ini kondisi saya sedang tidak bisa bergerak. Sedang banyak kesibukan.” Jawab Dini. Seperti semua tahu, untuk berkipraah di organisasi Dini memang tak perlu diragukan lagi. Dini berdiri untuk mengambil soft drink bagi dirinya.


“Maz, ikut ngobrol ke depan ya?” pinta Dini saat melihat suaminya sedang melipat sajadah. Dia kembali ke kulkas dan mengambil satu kaleng soft drink lagi untuk suaminya.


“Silakan di minum, seadanya ya.” Dini juga menyediakan aneka kue basah yang tadi dia beli untuk minum teh sore hari.


“Kita ‘kan enggak sering ketemu secara langsung. Kita bisa bicara di group chat atau bisa saling kunjung saat sedang sempat aja.” Dharsono berupaya mengompori Dini agar menyetujui ajakan Joko.


“Gimana ini Dadd?” Dini meminta pendapat Anto yang baru saja duduk di sebelahnya.


“Apanya yang gimana?” Anto bingung karena tidak tahu apa yang ditanya oelh Dini.


“Kita alumni mahasiswa bio mau bikin reuni untuk yang  berada di Jogja dan sekitarnya. Mas-mas ganteng ini nodong Mommy untuk gabung di kepanitiaan.” Jelas Dini. Dengan santai dia menyebut para tamunya ganteng di depan suaminya. Tentu saja Joko dan Dharsono kaget. Namun tidak buat Anto. Dia sudah tahu Dini memang seperti itu.


“Kalau Mommy sanggup, mengapa harus ditolak? Sanggup waktu dan tenaga. Jangan hanya bilang tidak bisa atau bisa namun tidak konsekwen. Kalau bisa ya harus total. Kalau tak bisa jangan jadi perusuh.” Anto mempersilakan istrinya berkiprah. Dia taak mau membatasi ruang gerak kekasih hatinya. Dulu saat dia mau reuni pun sahabat-sahabatnya meminta Dini ikut urun saran. Karena istrinya memang dibutuhkan.


--------------------


Terima kasih sudah selesai membaca bab ini, semoga tidak mengecewakan. Nantikan cerita selanjutnya besok ya. Jangan lupa kasih like sebelum menutup cerita ini.


Salam manis dari Jogja


Sambil nunggu yanktie update bab baru esok hari, coba deh mampir ke karya teman yanktie yang super keren ini, ga bakal nyesel baca ceritanya, judulnya  DUDA VERSUS ANAK PERAWAN  karya   SANTI SUKI



__ADS_1


__ADS_2