
Yanktie sampaikan SELAMAT MEMBACA
“De, kamu sekarang makan bukan buat kamu sendirian lho, ada baby yang ikut makan dari mulutmu,” bujuk mbak Sashi dengan lembut. Kakak sulungnya ini sangat mengerti keterpaksaan yang harus Dini jalankan.
‘Baby, kata manis dari mbak Sashi itu rasanya akan terus kupakai untuk memanggil anakku selama di perutku,’ pikir Dini.
Di usapnya perutnya sambil mengajaknya bicara, ‘sehat terus ya baby nya bunda.’ kata Dini dalam hati.
Ada tangan hangat ikut memegang punggung tangannya yang berada di atas perutnya. Dini melihat pemilik tangan itu dengan tatapan tak suka, ngapain dia ikut membelai babyku secara tak langsung seperti saat ini?
“Makan ya?” ulang pria itu lagi.
Dini tak njawab semua kata-kata yang ditujukan padanya, dia mengambil ikan bakar dan udang asam manis tanpa nasi seperti kebiasaannya. Dia makan dengan lahap, dan sekarang dia akan ambil kwetiauw goreng seafood kegemarannya. Tak dia pedulikan mahluk alien disebelahnya.
Huuuuh kenyaaaaaaaang … porsi yang di luar kebiasaannya sudah lenyap dari piring Dini, lanjut dengan meminum juice sirsak pesanannya tadi.
***
“Ini kamarku, kamar mandi disana” jelas Dini pada suaminya. Suaminya memang belum pernah masuk ke dalam rumah Dini, selain sampai ruang tamu. Ruang keluarga, ruang salat dan yang lain dia belum tau.
Dini bergegas masuk kamarnya untuk mengambil baju ganti, dia tidak betah pakai kebaya seperti ini, pengen cepat mandi. Harry terlihat hanya diam sambil mengikuti masuk kamar Dini.
“Bajunya simpan disini aja,” jelas Dini menunjuk satu lemari yang sudah dikosongkan sebagian untuk menyimpan baju-baju yang pagi tadi Harry bawa tapi belum sempat di bongkar karena begitu dia datang mereka langsung berangkat ke Cisarua untuk akad nikah.
Saat Dini masuk ke kamar sehabis mandi dilihatnya Harry baru saja selesai menaruh baju-bajunya di lemari, Dini tak peduli rapih atau tidak yang penting pintu lemarinya bisa di tutup. Di tangan Harry ada peralatan mandinya serta kaos dan celana pendek yang akan dia pakai sehabis mandi.
Dini langsung bergegas ke ruang salat dan mengerjakan kewajibannya, pengen cepet tidur karena terlalu lelah. Mereka sampai depan pintu kamar hampir bersamaan, terhirup wangi sabun dan shampo yang Harry gunakan, Dini merasa mulai menyukai bau maskulin yang Harry gunakan.
Tok tok tok
Suara pintu kamar di ketuk. Dini membuka cepat dan dia lihat mbak Surti di depan kamarnya membawa segelas coklat milk panas dan sebotol air putih serta gelas kosong untuknya. “Kok ada coklat milknya mbak?” tanya Dini ragu.
__ADS_1
“Ini sussu khusus ibu hamil, ibu yang nyuruh mbak Dini minum sebelum tidur katanya,” jawab mbak Surti.
Diterimanya nampan yang dibawakan mbak Surti ke dalam kamar dan diletakkan di meja belajarnya.
“Langsung habiskan susunya De, baru tidur ya!” perintah tamu di kamar itu. Dini masih aneh ada pendatang baru di kamarnya.
Dia masih menganggap pria itu adalah tamu. Harry langsung menyuruhnya meminum suplemen bumil itu karena dilihatnya Dini langsung meletakkan nampan dan mematikan lampu kamar lalu mengganti dengan lampu untuk tidur dan langsung naik ke kasur.
Dini sudah tidak mau peduli stranger di kamarnya, tubuhnya sudah sangat lelah.
“De, minum dulu ya,” lelaki itu duduk di pinggir ranjang dan memberikan gelas coklat milk itu pada istri cantiknya, tapi Dini enggan menerimanya.
“Yank, please ya, buat anak kita lho, sayank mau anak kita sehat kan?” bujuk lelaki itu lagi.
‘Aku ga salah dengar kan? Dia menyebutku sayank? Kejutan apa lagi ini?’ Dini takjub akan sikap aneh Harry padanya saat itu.
“Yank, dikit aja ya, minum susunya buat si kecil” rengek Harry lagi.
Dengan malas Dini duduk dan menerima gelas darinya. Tanpa menatap oknum yang tadi memberinya gelas, diminumnya hot milk yang sudah terasa hangat sehingga pas untuk langsung diteguk sampai hampir habis.
“Good job mama, danke banya lai,” katanya saat menerima gelas dari Dini. [ danke banya lai = terima kasih banyak ya ].
“Aku enggak suka dipanggil mama, aku mau baby memanggilku bunda,” kata Dini. Dia tak mau sejak awal sang baby bingung. Dia menyebut bunda lalu Harry menyebut mama.
“Bunda?” tanya Harry ragu, saat itu memang panggilan bunda masih belum umum digunakan. “Baiklah kalau itu maumu, ayah ngikut aja!” jawabnya dengan pede.
Ih, kepedean banget sih nyebut dirinya ayah.Dini langsung balik badan dan menarik selimutnya sambil tidur memunggungi suaminya.
Tengah malam Dini merasa ada yang aneh dengan kasurnya, kenapa jadi sempit sih? Dini duduk dan melihat penyebab kasurnya menyempit. Ternyata ada sosok asing dikasurnya, pantas aja jadi sempit. Dilihatnya sosok itu terlelap dengan manisnya.
Dini berpikir andai sosok ini tidak memperkosanya, mungkin dia bisa cepat memaafkannya, tapi dia adalah pemerkosanya, tidak mungkin dia akan langsung menerimanya begitu saja.
__ADS_1
Tapi bila tidak ada pemerkosaan, kan tidak akan ada baby ini di perutnya. Bila tidak ada baby kan tidak mungkin dia udah nikah saat ini, lanjutnya berpikir lagi. Tapi mengapa saat ini dia tetiba ingin tidur dalam dekapannya? Ah apa sih mauku, tidaklah, aku tidak akan minta dia memelukku. Kata Dini lagi dalam hatinya.
Dini turun dari ranjang dan keluar kamar. Dini merasa butuh sesuatu untuk di kunyah untuk mengalihkan keinginannya di peluk Harry. Di bukanya kulkas mencari sesuatu yang bisa dia makan.
Ada seporsi udang asem manis yang mami beli siang tadi di restoran puncak pass. Di nikmatinya pelan-pelan masakan yang seharusnya di makan dengan nasi tersebut. Lumayan kenyang setelah menghabiskan setengah porsi, dia kembali ke kamar. Saat hendak membuka pintu kamar, ternyata pintu lebih dulu terbuka dari dalam, suaminya menatap penuh tanya.
“Kenapa bangun?” sapa suaminya lembut.
“Pengen pipis dan lapar,” jawab Dini sekenanya.
Harry bingung Dini bilang lapar, karena selama jadi pacarnya dia tau porsi makannya Dini, dan tadi siang Dini sudah over makan siangnya.
Harry pergi ke kamar mandi. Begitu masuk kembali ke kamar dia langsung tanya, “Sekarang anak ayah sudah kenyang?”
Mendengar pertanyaan itu Dini jadi berpikir apa ini bawaan baby ya yang maunya makan terus? Harry merebahkan tubuhnya di belakang Dini lalu tangannya melingkar di perut istrinya. Harry ingin mencoba mendekatkan diri dengan anaknya, dia memeluk istrinya walau tidak berani langsung memeluk erat. Dia takut penolakan istri cantiknya itu.
‘Mengapa aku merasa nyaman? Mengapa aku malah berharap dia memelukku semakin erat? Mengapa aku ga ingin memindahkan tangannya dari perutku?’ kata Dini dalam batinnya. Dia tak meolak pelukan Harry diperutnya.
‘Aaaaaaaaa… perasaan apa ini?’
Dini menahan napas menanti kelanjutan tindakan Harry. Dia diam tanpa bergerak.
“Yank” bisik Harry lembut “Izinin Ayah meluk ya? Izinin Ayah dekat anak kita ya,” pintanya.
==================================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
__ADS_1
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta