
59 TERNYATA DIA PUNYA YAYANG
“Pagi pala lo peyang, biasanya jam segini gue dah sampe kantor tau,” kata Steve sambil melihat jam nya yang menunjukan pk 07.32
“Kamu masuk kuliah jam berapa de?“ tanya Anto
“Jam 10 mas. Nanti jam 9 aku dari sini” jawab Sari sambil mempersiapkan makan untuk kakaknya itu.
“Mas mau mandi dulu aja de” kata Anto sambil mengambil baju gantinya di ranselnya. “Lo makan duluan aja Steve gapapa” kata Anto pada temannya
“Santai aja, nanti kita bareng aja, gue yang penting udah ketemu kopi” jawab Steve. Saat Anto pergi menuju toilet, HP Steve berbunyi
“Hallo sayangku, kenapa?” tanya Steve lembut saat mengangkat telpon dari Dini
Wajah Sari langsung berubah kaku, rupanya dia punya kekasih, batinnya. Sari tidak tau kalau pangilan antara Dini dan Steve memang special namun rasa sayang mereka memang pure sayang antar sahabat
Bodohnya Steve agak menjauh dari Sari sehingga membuat Sari makin yakin Steve tidak mau percakapannya dengan kekasihnya didengar Sari. “Shinta di ICU, belum sadar sejak semalam, luka bakar parah, kamu doain aja biar dia bisa bertahan ya. Siang ini dokter akan kasih tau kondisi bayinya, semalam sih masih ada harapan bila Shintanya bertahan. Iya sayangku nanti aku sampein ke Anto ya, kamu tenang aja.” begitu yang Sari dengar
Saat Anto sedang menyeruput kopinya Steve datang “Nto, kata yayang gue lo suruh sabar dan salam buat lo, lo diminta ama dia suruh kuat dan jangan telat makan biar ga drop” kata Steve pada Anto
Sebegitu attensinya pacarnya Steve pada kakaknya, bener-bener perempuan baik hati dan sangat manis budi pekertinya, pikir Sari. Rasanya dia ga pantas berharap dari percikan-percikan an godaan yang Steve berikan sejak kemarin. Aku harus mundur sebelum basah, pikir Sari
“Aku pamit sekarang ya” kata Sari pada Anto
“Lho de, baru jam 8 lho, ngapain buru-buru, tunggu kami selesai makan dulu aja biar tempat kosongnya kamu bawa pulang, nanti disini malah bau” cegah Anto. tapi Sari sudah menunjukkan muka betenya
“Ya udah makan cepet, aku tungguin” kata Sari sambil menjauh dari ICU
“Lagi PMS kayaknya tu anak” kata Anto ke Steve melihat raut wajah adiknya yang tiba-tiba seperti akan ada badai turun. Dia melihat perubahan saat dia pergi sebelum mandi wajah adiknya masih senyum-senyum, begitu selesai mandi wajahnya sudah murung.
__ADS_1
***
Sehabis mereka selesai makan, Steve membereskan semua perlengkapan makan dan Anto bersiap menuju ruang perawatan untuk menanyakan perkembangan Shinta. “Ni de alat makannya” kata Steve memberikan tas makan pada Sari. Tanpa bicara Sari mengambil tas tersebut lalu berjalan menuju ke area parkir. Steve yang melihat perubahan sikap Sari mengikutinya dan memegang pergelangan tangan gadis itu lembut, namun Sari berupaya menepis tangan Steve di pergelangan tangannya
“De, kamu kenapa?” tanya Steve bingung
“Ga usah, tanya-tanya lah, nanti ada yang marah lho” jawab Sari santai walau terdengar ada sedikit luka di intonasi suaranya
“Siapa yang marah? Anto? atau pacarmu ya?” cecar Steve
“Yayangnya abang lah” jawab Sari datar
Steve terkekeh saat mendengar Sari mengatakan yayangmu, hahaha ada yang cemburu rupanya, pikirnya senang
“Bahagia ya bang” tanya Sari memastikan
“Lepas bang, ga pantas bila ada yang lihat lalu sampai ke yayangmu” kilah Sari
Steve ga melepaskannya, dia menarik Sari ke mobilnya, menyuruhnya masuk “Masuk de, kita bicara sebentar” pinta Steve, dia menutup pintu dan memutar lalu masuk di kursi pengemudi
“Kamu kenapa pagi-pagi sudah manis, lalu tiba-tiba bete gitu?” tanya Steve pura-pura ga tau
“Gapapa koq, saya mau ke kampus aja sekarang“ kata Sari sambil memegang pintu ingin keluar
“Abang antar, nanti biar pulang abang jemput lagi, mobil Anto biar disini. Tapi kita harus selesaikan dulu salah paham ini” kata Steve
“Ga ada salah paham, saya hanya ingin segera ke kampus aja” sanggah Sari
“Semalam kamu sudah menggunakan aku, koq barusan pakai saya, ada apa? Abang salah apa?” tanya Steve
__ADS_1
“Ga ada yang salah bang, hanya saya ga ingin ada yang terluka atau menduga yang engga-engga” jawab Sari lirih sambil menunduk
Steve memegang dagu Sari, memutarnya sedikit agar mereka bisa bertatapan. “De, siapa yang akan terluka? Siapa yang menduga yang engga-engga?” tanya Steve sambil menatap dalam -dalam mata Sari
“Saya ga ingin orang mengira kita dekat bang, dan saya ga ingin pacarmu marah dan terluka” jawab Sari sambil memandang Steve
“Biar aja orang ngira kita pacaran, kita jadian bahkan kita sudah resmi jadi pasangan legal, memang kita bisa mencegah orang berpikir atau menduga. Ga bisa kan? Karena mereka pakai otak dan pikiran sendiri ga pinjam punya kita. Sehingga ga bisa kita cegah de. Nah kalau soal yayangku, dia ga akan marah atau terluka bila kita dekat, kalau dia tau soal kedekatan kita, abang yakin dia pasti akan mendukung 100%” jelas Steve panjang lebar
“Ngaco, mana ada pacar ngerelain pasangannya dekat dengan orang lain” jawab Sari tanpa sadar dia akan terjebak dengan perkataannya sendiri
“Jadi kamu yakinkan kalau kamu tu dekat ama abang?” tembak Steve sambil tersenyum licik
“Iiiiih, abang. Ga mungkin kan pacar abang akan mendukung abang dekat dengan perempuan lain?” elak Sari
“Abang ga punya pacar sayangku. Abang cuma punya calon istri, itupun kalau dia mau” jawab Steve
“Nah, lebih-lebih calon istri, ga bakal dia ngebolehin abang selingkuh. Udah ah, berangkat kuliah dulu” Sari kembali ingin keluar dari mobil
Steve menarik bahu Sari dan memeluknya, mencium keningnya “Kamu calon istriku, bila kamu mengijinkan abang” kata Steve
“Bang, jangan ngawur, nanti yayangmu marah, perempuan sebaik dia, yang bisa kasih attensi ke teman abang dengan sangat baik, perempuan seperti itu ga boleh abang sia-siain” jawab Sari sambil berupaya melepas pelukan Steve
“Kamu tau siapa yang abang panggil sayangku tadi pas telpon? Dia ibu anakku” jelas Steve
Manik mata Sari mulai terlihat berair, ternyata Steve sudah punya anak. Dia ga ingin merusak rumah tangga orang. Dia segera keluar mobil dan berlari menjauh dari mobil Steve. Karena panik, arah lari Sari bukan menuju kearah jalan besar untuk mendapat taxi atau bajaj, dia malah lari ke parkiran samping menuju arah apotik.
Steve keluar mobil dan mengunci mobil secara otomatis lalu mengejar Sari. Langkahnya yang lebih besar tentu saja lebih mudah mendekati gadis kecil pujaannya. Di peluknya Sari dari belakang, dia berupaya menenangkan hati gadis itu. “Jangan suka lari dari masalah, kamu belum dengar semuanya, jangan langsung ambil kesimpulan.
Dibaliknya tubuh Sari, di tatapnya mata bak bintang kejora yang saat ini penuh air mata terluka. “Anak abang tu Amora, kamu tau kan? Dan kamu kenal dekat ama bundanya Amora kan? Sejak Dini SMA, abang panggil dia sayangku, Anto pun ga cemburu, bahkan Harry yang jadi suaminya aja ga bisa ngelarang abang panggil dia yayang atau sayangku. Karena buat Abang Dini itu adik abang yang abang cinta karena adik abang meninggal di usia 7 tahun akibat kecelakaan.”
__ADS_1