
SESION BARU
Halloooooooooo……..
Kita masuk hari kedua di sesion dua ya, semoga masih setia mengikuti keseruan keluarga kecil Maz Anto dan mbak Dini.
Yanktie mohon sehabis baca BAB langsung tinggalin jejak like dan hadiah ya….
Maturnuwun.
--------------------
“Mommy merasa mbak Moya sengaja menjauh dari mas Arya dan de Abbhie, mommy juga melihat beberapa hari ini mbak Moya sedih. Apa ada kata-kata mommy atau daddy yang bikin mbak enggak suka? Atau mungkin mbak Moya punya keinginan yang mau disampaikan ke daddy atau mommy tapi mbak ragu buat bilang ke kami?” lembut dan lirih Dini menanyakan hal itu pada putri kecilnya.
Lama Amora terdiam, dia memandangi mommy dan daddy nya berganti-ganti. Dan tanpa kedua orang tuanya menyangka, keluar kalimat yang membuat hati gadis kecil itu galau.
“Mengapa aku bukan anak daddy?”
Nah lho, rupanya itu yang membebani pemikiran Amora. Bagaimana ya tanggapan Dini dan Anto. Ikutin kisah serunya di bab selanjutnya esok ya.
Anto dan Dini tidak menyangka kalimat itu keluar dari bibir mungil putri mereka. Mereka sadar tak boleh menjawab sembarangan karena akan berakibat fatal bila salah jawab. Anto dan Dini berpandangan seakan mencari kata sepakat siapa yang akan menjadi juru bicara kali ini.
“Maksud mbak Moya apa dengan kata-kata kamu bukan anak daddy?” tanya Dini lembut.
Amora ragu untuk menjawab. Dia tahu daddy dan mommynya sayang padanya dan tak pernah membedakan dirinya dengan kedua adiknya, namun jelas dia menggunakan nama belakang keluarga Harry bukan Soekarso seperti kedua adiknya.
“Kenapa aku Pelletimu bukan Soekarso seperti Arya dan Abbhie. Kenapa aku punya ayah yang ga sayang sama aku?” akhirnya Amora berani mengungkapkan rasa tidak sukanya karena dia bukan anak Anto.
“Kamu memang anak ayah Harry, makanya pakai nama Pelletimu, tapi kamu juga anak daddy seperti Arya dan Abbhie. Memang nama daddy tidak ada di namamu, tapi cinta daddy milikmu sepenuhnya,” Anto berupaya menjelaskan dengan bahasa sederhana.
__ADS_1
“Ayahmu, opa serta om Yo sayang kamu koq, hanya mereka jauh sehingga tidak bisa setiap saat memeluk dan bercerita denganmu. Tapi seperti mommy dan daddy mereka semua sayang mbak Moya,” Dini melengkapi kalimat suaminya.
“Enggak! Ayah itu enggak sayang Moya! Mommy liat aja, Opa, om Yo, Eyang uti, Eyang kakung semua rajin telepon dan ngobrol sama Mbak, tapi kapan ayah telepon tanya aku? Kapan ayah datang liat aku? Ayah enggak pernah tanya apapun. Hanya tiap tahun ngucapin selamat ulang tahun. Bahkan lebaranpun ayah enggak pernah njawab teleponku!” setengah menjerit Amora mengemukakan semua yang mengganjal di hatinya. Dini langsung memeluk putrinya dalam dekapan hangatnya.
Itulah karakter Harry, dia memang tidak perduli pada siapapun selain pada dirinya sendiri. Dulu ketika Dini masih menjadi istrinya Harry memang sedikit berubah mengikuti arahan Dini, namun selepas itu ya dia kembali pada sifat dasarnya. Karena memang itu yang dia terima dari didikan mamanya. Tanpa kehangatan cinta.
Anto hanya bisa diam melihat putri tercintanya terpuruk seperti itu. “Ayah memang seperti itu. Dia tidak mudah mengungkapkan perasaannya. Namun daddy yakin dia sangat mencintai mbak Moya. Tapi yang terpenting dan harus mbak ingat. Cinta daddy dan mommy untukmu sama seperti yang kami berikan pada Arya dan Abbhie. Bagi daddy anak kami tiga. Amora, Arya dan Abbhie. Kalian triple A kami, kami ingin kalian selalu tahu kalian adalah nomor satu. Seperti huruf A dalam abjad, kalian adalah nomor satu bagi mommy dan daddy,” ungkap Anto sambil mencium kening Amora yang masih dipeluk Dini.
“Tuh dengar daddy, kalian nomor satu bagi mommy dan daddy. Jadi mbak enggak perlu berpikir yang buruk atau menyesalkan mengapa ayah bersikap seperti itu. Karena kamu punya daddy seutuhnya. Tak ada yang bisa menggantikan daddy di hati mommy dan Mbak Moya kan? Dan pastinya kamu anak Prasetyanto Soekarso seutuhnya walau namamu tak pakai Soekarso,” Dini mencium pipi dan kening putrinya.
“Sudah jelas ‘kan?” tanya Anto sambil mengacak puncak kepala anaknya.
Amora mengangguk lemah, dia tahu cinta daddynya memang tak ada duanya. Yang dia kesalkan adalah tak ada attenssi Harry untuknya! Walau belum puas, namun dia berupaya menyudahi percakapan dengan kedua orang tuanya itu.
“Sekarang mbak bobo, biar enggak kesiangan besok,” Anto menyuruh Amora tidur. Sebelum keluar kamar Anto dan Dini menciumi Amora bergantian. Amora memeluk daddy dan mommynya sebelum mereka keluar kamarnya.
***
“Bilangnya sih gitu dad. Emang daddy mau ngapain?” Dini tahu suaminya pasti ingin bicara dari hati ke hati dengan Harry demi Amora. Namun tetap saja dia pura-pura bertanya.
“Menurut mommy, apa alasan Harry tak pernah mau berbicara atau mendekati Amora?” Anto balas bertanya. Dia ingi Dini mengemukakan pendapatnya.
“Mungkin Harry merasa Amora sudah ditangan yang tepat. Dia enggak pengen ganggu kamu sehingga bikin Amora bingung. Atau emang dia engga punya empati buat anaknya,” jawab Dini mencoba menerka latar belakang pikiran mantan suaminya itu.
“Daddy sependapat dengan pikiran pertamamu mom. Harry mungkin berpikir daddy bisa menjadi ayahnya Amora sehingga dia tidak perlu memperlihatkan kasih sayangnya secara terbuka. Dia merasa cukup menyayangi Amora dalam diam dari jarak jauh saja.Tanpa perlu mengungkapkan secara lisan,” Anto pun mempunyai pemikiran yang sama.
“Dia kan memang seperti itu,” jawab Dini. Karena Dini pernah tahu bagaimana pola pikir Harry. “Dia enggak sadar Amora butuh pengakuan!” mengingat itu membuat Dini kesal. “Harry memang sulit mengungkapkan, tapi ada yang lebih parah lho dad, seseorang yang enggak berani mengungkapkan,” balas Dini.
“Maksudmu?” tanya Anto, dia tidak sadar sedang dijebak istrinya.
__ADS_1
“Ya sulit mengakui dengan enggak beranikan beda dadd. Nah yang seorang ini enggak berani ngakuin sayang lah,” ungkap Dini lagi. Anto yang belum tahu kemana arah bicara istrinya malah jadi penasaran dan lanjut bertanya.
“Siapa mom?” tanyanya tanpa merasa sedang digoda istrinya.
“Orang yang enggak berani ngakuin pacarnya, dia bilang cuma adenya aja,” jawab Dini sambil mengulum senyum.
Anto baru sadar, dia mengelitiki istrinya karena merasa diungkit perbuatan bodohnya dulu. “Jahat kamu mom, daddy serius nanya malah ngejebak gitu.”
“Ampuuuuuuuuuuun … cukup aku enggak tahan geli,” Dini memohon ampun karena tak tahan digelitiki suaminya. Anto berhenti mengelitiki, diganti dengan menciumi istrinya. Sehingga membuat peperangan berganti jalur.
***
Esoknya Amora mulai bersikap biasa, walau belum sepenuhnya normal. Setidaknya dia sudah merobohkan pagar antara dirinya dengan adik-adiknya. Anto cukup senang melihat perubahan itu. Dia mengapresiasi dengan dekap hangat.
Hari ini rencananya mami dan papi Dini akan datang. Mereka memang ingin lebih lama di rumah anak bungsunya. Semua kamar sudah disiapkan oleh Dini. Mbak Rina rencananya akan menginap di rumah Sari karena mama kan tinggal disana. Saat ini Sari sedang hamil anak kedua.
Tawa bahagia mulai membuat rumah tambah semarak. Abbhie selalu saja membuat eyang kakungnya gemas karena ada saja jawaban dari kata-katanya. Abbhie tak pernah tidak menjawab semua kata yang dilontarkan eyang. “Din, Abbhie biar ikut eyang di Jakarta aja ya?” seloroh papi pada Dini. Karena dia tahu anaknya tak mungkin mengabulkan keinginannya.
“Bawa aja kalau papi mau, nanti aku bikin lagi selusin yang seperti itu,” jawab Dini juga bercanda. Abbhie memang sangat berbeda jauh dengan Arya yang bicara hanya bila ada perlunya. Dan senyum Arya hanya dia berikan pada orang-orang tertentu saja.
“Bikinnya rajin kali, jadinya yang enggak,” Anto malah menimpali kata-kata istrinya, membuat semua tertawa. Untung Amora dan adik-adik sudah tidur sehingga tidak mendengar candaan orang dewasa kali ini.
-----------------------
Hahaha enggak kebayang kalau Anto sampai ngidam lagi kan? Ikuti keseruan kisahnya besok ya.
Namun sambil nunggu yanktie update, kita baca cerita menarik milik teman yanktie ini ya, judulnya SUPERBIA karya Jika Laudia.
Ceritanya seru abis.
__ADS_1
------------------