CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
GUE BUKAN PAHLAWANNYA … TAPI GUE LAKI-LAKI YANG MENCINTAINYA DENGAN TULUS!


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Sesampai di taman kota kami duduk di lokasi yang terang, tapi jarang di lewati pengunjung lain agar bisa ngobrol dengan tenang. Aku tak ingin kami duduk dilokasi gelap karena sering petugas merazia dikira hendak berbuat hal yang tidak baik.


“Kenapa?” tanyaku memaksanya memulai bicara. Karena dia tak memulai percakapan sejak tiba di sini.padahal dia mengajak kesini karena ingin bercerita.


“Ade enggak tau harus mulai cerita dari mana Maz. Ade enggak tau harus nangis dulu atau njerit agar bisa cerita hal ini,” jawabnya ragu.


“Ya sudah, njerit aja biar kamu plong. Tapi jangan salahin kalau nanti tetiba ada yang nonjok Maz karena di kira melakukan hal yang enggak baik ke kamu,” kataku berupaya membuat dia agak rilex.


Dia memelukku dan menangis. Aku hanya bisa mengusap punggungnya lembut untuk menenangkannya. Setelah lama menangis dia mengeluarkan kertas kecil yang setelah kuamati ternyata test pack dan ku amati ada dua garis merah disana.


Aku tak percaya, benarkah bidadari kecilku ini hamil. Semudah itu kah dia terbawa arus? Aku tak mau menangis didepan dia. Walau sakit didadaku ini sangat menyiksa, sakit yang belum pernah kurasakan sebelumnya.


“Kamu kenapa bisa berbuat hal kotor seperti itu De?” tanyaku masih tetap tak percaya akan kehamilannya.


“Jangan nuduh Ade menjijikkan seperti itu Maz. Tunggu penjelasanku dulu baru Maz boleh menganggapku rendah!” protesnya.


Ku dengarkan ceritanya secara seksama. Aku sangat ingin memukul Harry, aku sangat ingin melaporkannya atas pelecehan yang dia lakukan, tapi aku bisa apa? Sedang korbannya sendiri hanya pasrah?


“Lalu sekarang gimana? Mami sudah tau? Kamu sudah kasih tau bapak? Harry sudah tau?” tanyaku. Jujur aku mengkhawatirkan kondisi bapaknya yang punya tekanan darah tinggi dan sakit jantung.


“Maz orang pertama yang Ade’ kasih tau. Selanjutnya Ade harus gimana? Ade takut kalau disuruh gugurin dia, walau dia hadir bukan atas kemauanku, tapi enggak boleh ada yang ambil dari aku. Dan yang pasti Ade enggak pengen Harry tau. Ade enggak pengen bayiku punya ayah yang enggak bertanggung jawab,” jawabnya.


“Kamu harus bilang ke mami, Maz yakin dia enggak akan suruh kamu gugurin. Dia perempuan, dan dia tau banyak orang ingin punya anak sampai susah, koq kamu di kasih amanat mau di buang. Percaya sama Maz, mami pasti akan kasih solusi terbaik.”


“Maaf, Maz belum bisa ambil tanggung jawab itu sekarang. Kalau saja kejadian ini sesudah Maz lulus, Maz pasti mau jadi suamimu, kalau harus nunggu empat bulan sampai kelulusanku, perutmu akan semakin besar” jawabku.


Aku berharap aku yang ambil tanggung jawab ini, aku akan bisa njelasin ke mama, walau harus berbohong dan mengakui itu ulahku, tapi mau bagaimana masa depan kami nanti bila aku harus cari nafkah dengan bermodal ijasah SMP saja?


 “Maz boleh minta sesuatu dari kamu De?” tanyaku.

__ADS_1


“Apa?” jawabnya terdengar ragu.


“Apa kamu sayang ke Maz seperti Maz sayang ke kamu?” tanyaku selanjutnya.


Agak lama tak kudengar jawabannya, mungkin dia memilih kata agar aku tak kecewa.


“Ade enggak cuma sayang ke Maz, Ade bahkan cinta ke Maz, ade cuma percaya ke Maz” jawabnya lirih sambil menunduk.


Ku angkat dagunya untuk melihat kejujuran dimatanya.


“Maz boleh cium kamu sebelum kita pulang?” tanyaku. Sudah tak bisa kutahan air mataku.  Pupus sudah harapanku bersamanya. Kuingin sebelum dia resmi menjadi milik orang lain secara resmi, aku pernah menciumnya untuk yang pertama dan mungkin yang terakhir. Tuhan mengapa sesakit ini?


Dia memelukku dan kembali menangis. Dan kami akhirnya menangis bersama.


Akhirnya kulepas pelukannya, dan kukecup bibirnya perlahan. Itu ciuman pertama kami, dan itu juga ciuman pertamaku. Aku melepas bibirnya sesaat dan kembali **********, kurasakan balasannya ragu.


PRASETYANTO END POV


Maminya Dini hanya diam saat Dini menjelaskan dia hamil dan penyebab dia hamil. Wanita itu tidak ingin bahas apa dan bagaimana terjadinya. Yang dia ingin bahas bagaimana ke depannya. Itu pandangan maminya saat ini.


Akhirnya mami meminta Dini memanggil papi untuk ikut diskusi, dan mereka pindah dari kamar Dini ke meja makan.


“Panggil Harry kesini” kata papi setelah tau cerita lengkapnya dari mami. “Enggak usah cerita ke bapakmu dulu sebelum masalah selesai, Papi enggak ingin masalah akan berkepanjangan. Tapi kalau Ade mau bapak yang menyelesaikan masalah, Papi dan Mami akan diam hanya mensupport dari belakang. Karena untuk urusan seperti ini kami tak ingin bersitegang dengan ayahmu itu,” sambungnya lagi.


“Apa enggak bisa Ade enggak perlu nikah dengan dia Pi?” tanya Dini. “Ade enggak ingin nikah dengan manusia licik seperti dia,” lanjutnya.


“Bisa aja!” jawab papi tegas, membuat Dini senang. “Tapi apa Ade enggak mikir anakmu? Di aktenya nanti dia tidak berayah. Biar saja nikah lalu nanti sesudah  bayi itu lahir kalian pisah. Walau Papi enggak ingin kalian bercerai, kasihan anakmu akan mengalami nasib sepertimu yang punya dua ayah dan dua ibu,” lanjut papi membuat aku langsung terhenyak.


‘Dilema. Kalau aku menikah, aku tak bisa membayangkan hidup dengan orang yang tak kucintai, tapi bila enggak menikah bagaimana nasib anakku?’ pikir Dini ragu.


PRASETYANTO POV

__ADS_1


Sepulang dari mengantar Dini, sudah jam sebelas malam, aku langsung ke tempat Harry biasa nongkrong dengan genk peminumnya. Dia sedang asyik ngobrol dan kulihat banyak temannya disekelilingnya.“Harr, bisa bicara sebentar?” sapaku tanpa basa basi.


“Ngomong aja di sini, semua bebas koq ngebacot di sini, enggak perlu minta izin kayak bences ( waria ) aja lo!” jawabnya ketus. Aku tau, Harry memang enggak suka dengan ke dekatanku dan Dini.


“Lo enggak malu kalau gue kasih tau kelakuan be-jad lo depan teman-teman lo? Lo ngerasa hebat udah memperkosa orang? Lo ngerasa hebat udah bikin orang stress?” bentakku ketus, diikuti dengan gumam beberapa temannya yang tak percaya Harry melakukan hal licik seperti itu.


Buat mereka having sex adalah biasa, tapi atas dasar suka sama suka, bukan pemaksaan. Buat mereka hal menjijikan berbuat pelecehan seperti itu.


Kulihat wajah Harry pias, mungkin dia tidak mengira Dini akan cerita kejadian itu ke orang lain. Dia juga sedikit malu kedok liciknya terbongkar dihadapan genk yang dia pimpin. Seorang pemimpin malah berbuat memalukan, memperkosa orang yang tak sadarkan diri.


“Oke, kita ngomong disana” jawabnya sesaat sambil menunjuk kursi kecil di bawah pohon mangga.


“Telat Har, semua temen lo udah denger koq kelakuan lo. Elo ‘kan yang tadi minta kita bicara disini?” jawabku. Walau ini daerah kekuasaannya, aku tak gentar. Karena aku tahu genk ini menomor satukan harga diri. Mereka tak akan main keroyokan atau menyerang orang yang tak bersalah.


“Mau lo apa? Bangga lo jadi pahlawannya Dini?” katanya setelah medengar kata-kataku barusan.


“Gue bukan pahlawannya, tapi gue laki-laki yang tulus mencintainya dan enggak pernah berpikir ngerusak dia. Apalagi bikin dia sakit hati atau stress.”


“Gue laki-laki yang enggak pengen liat airmatanya jatoh karena gue enggak be-jad kayak lo.! Kalo lo emang enggak mau kehilangan dia, kalo lo cinta ama dia, bukan begitu caranya,” sanggahku berapi-api.


Aku tak peduli dengan permintaan Dini sebelum kami berpisah. Dini tak ingin Harry tahu tentang kehamilannya! Aku ingin meluapkan rasamarahku pada Harry yang telah merusak masa depan perempuan yang ingin aku jadikan pendamping hidupku kelak.


================================================================ 


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta

__ADS_1


__ADS_2