CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
170 SELAMAT JALAN BY


__ADS_3

Hai hai para kesayangan yanktie, sehat semua kan?  Bagaimana puasa kalian sampai hari ini?


Terima kasih sudah selalu setia mengikuti cerita sederhana ini. Kenapa yanktie selalu menyampaikan terima kasih untuk yang selalu setia membaca dan memberi like saat kalian selesai membaca bab cerita ini? Karena ada notif siapa aja yang kasih like.


Wah, itu tho masalah yang bikin Robby kepikiran terus. Padahal Dini nya sudah melupakan lho. Sekarang kita ikutin terus keseruan bab ini. Selamat membaca!


Yanktie mohon sehabis baca bab langsung tinggalin jejak like dan hadiah ya….


Maturnuwun.


--------


“Gimana meeting tadi?” tanya Dini saat mereka sedang duduk di sofa depan televisi.


“Like usual, dan masih berlanjut besok. Mommy besok ngasih kuliah?” jawab Anto sambil mengecupi puncak kepala istrinya yang sedang bersandar di dadanya.


“Enggak, Mommy izin seminggu.kebetulan habis ujian ‘kan juga sudah enggak ngasih materi di kelas.” jawab Dini sambil matanya tetap ke televisi namun tangannya mengusap pipi suaminya yang berada dibelakangnya.


***

__ADS_1


Pukul 04.01 ponsel Anto berbunyi berkali-kali. Anto yang sedang menggantikan diapers Abbhie tersentak, siapa yang menghubunginya dini hari? Ada berita apa? Terlihat caller id Leo.


“Nto … Robby ….”


“Ada apa? Ngomong yang jelas deh!” Anto kaget mendengar apa yang baru saja di katakan Leo.


“Baru aja, Melly telepon gue. Ngabarin berita ini. Masa soal seperti ini gue main-main?” balas Leo serius.


“Oke, nanti gue kasih tahu Dini kalau dia sudah bangun dan selesai salat. Habis ini gue hubungi Steve. Lo hubungi teman-teman lain ya?” Anto pun menutup sambungan telepon dari Leo.


Anto segera menghubungi Steve. Dia yakin Steve pasti sudah bangun karena saat ini sudah mau masuk waktu subuh untuk Jogja.


“Serius Mas?” Steve pun tak percaya. Dia ingat kemarin masih minum kopi berdua sebelum dia menyarankan Robby bertemu Anto terlebih dahulu bila ingin menemui Dini.


Anto pun ingat, saat duduk berdua di warung kopi seberang rumah sakit malam itu, Robby berkata yang membuatnya bingung. ‘Gue pengen ngomong berdua ama Dini sebentar aja. Entah mengapa gue punya feeling harus kasih tahu Dini sebelum gue pergi. Gue enggak pengen Dini punya rasa benci ke gue, karena ada salah paham yang belum pernah gue tuntaskan ama dia. Gue yakin Dini pasti udah ngelupain dan udah maafin. Tapi batin gue belum puas bila gue belum ngejelasin semua secara langsung ke dia.’ Jelas Robby saat itu.


Anto menunggu Dini selesai membuat kopi dan coklat su5u panas untuk mereka berdua. Selama di rumah sakit mereka sarapan menunggu mbak War datang. “Mom, daddy mau ngasih tahu sesuatu.” berat rasanya Anto hendak bicara pagi ini. “Duduk dulu Mom.” Anto tak ingin dia menyampaikan berita yang dia terima dari Leo sebelum subuh tadi dengan posisi Dini berdiri. Dia tak ingin Dini kaget lalu terjatuh. Biar bagaimana pun Robby pernah dekat dengan istrinya.


“Ada apa Dadd?” tanya Dini bingung, dia melihat suaminya seperti tertekan hendak bicara dengannya kali ini.

__ADS_1


Anto memegang erat jemari kedua tangan istrinya, dia pandang mata indah Dini. “tadi sebelum subuh Leo telepon.” Anto menjeda kalimatnya. Dini langsung berpikir ada khabar duka tentang mantan mertuanya atau Harry. Dia sudah cemas, tapi tak ingin memutus Anto bicara.


“Pukul 01.27 dini hari tadi Robby meninggal!” bisisk Anto.


“Enggak … enggak mungkin … enggak mungkin!” jawab Dini sambil terisak dan menggeleng. Dia tak yakin mendengar berita duka ini. Robby adalah mantan pacar pertamanya, walau bukan cinta pertama. Dengan Robby dia pernah merasakan punya pacar. Dini hanya sekali pacaran, dan itu dengan Robby!


Anto memeluk bahu istrinya dengan erat. Dia tahu, walau bagaimana pun ada rasa kehilangan dalam batin Dini. Terlebih mereka baru kemarin bicara berdua.


***


Anto sudah berangkat kerja. Dini membuka chat dengan Robby kemarin ‘Hai Dini, gue Robby. Gue minta waktu kita bicara berdua bisa? Ada hal yang gue ingin sampaikan ke elo. Ini terakhir gue bicara ama elo. Sesudah itu gue akan pergi menjauh. Kalau bisa tolong kasih tau di mana dan jam berapa bisa ketemu?’ Dini membaca kata akan pergi jauh berulang kali. ‘Ini maksudmu pergi jauh By?’


Dini ingat juga kemarin saat mereka mulai bicara, Robby mengatakan banyak kata yang ternyata menyiratkan dia hendak meninggalkannya ke alam keabadian. ‘Din, sorry kalau yang mau gue omongin mungkin udah lo lupain, atau malah udah lo anggap enggak ada. Tapi ini ngeganjel di hati gue. Gue enggak ingin lo punya pandangan jelek ke gue. Gue pengen lo ngenang gue sebagai sosok yang baik, yang enggak pernah nyakitin lo. Sosok yang selalu mencintai lo bahkan sampai saat ini.”


Dan untungnya kemarin Dini mengabulkan permintaan terakhir Robby untuk memeluknya. Setidaknya Dini tidak menyesal karenanya. ‘Sebagai permintaan terakhir, boleh aku peluk kamu sebagai perpisahan antar sahabat?’


‘Sepertinya aku enggak akan bisa hadir di pernikahan Leo. Aku pamit ya, salam buat Anto. Terima kasih sudah pernah jadi bagian indah hidupku.’ Itu kalimat terakhir sebelum Robby minta peluk. ‘Kamu jahat By, aku enggak nyangka keceriaanmu berakhir begini. Pantas kamu bilang kita enggak akan bertemu di pernikahan Leo dua minggu lagi. Selamat jalan By, selamat tidur di keabadian. Dan terima kasih juga pernah membawa keceriaan untukku saat aku remaja dulu.’


-----------------------------

__ADS_1


Terima kasih sudah selesai membaca bab ini, semoga tidak mengecewakan. Nantikan cerita selanjutnya besok ya. Jangan lupa kasih like sebelum menutup cerita ini.


Salam manis dari Jogja


__ADS_2