
HAPPY READING
Di pesta tidak banyak yang Dini kenal, karena dia memang tidak akrab dengan teman-temannya Harry. Merasa tak nyaman Dini segera minta pulang. Harry segera menyetujui dan mereka bergegas pulang. Harry juga tak lama di rumah Dini, dia langsung pamit.
Esoknya di lapangan basket Harry tidak hadir. Dini sebagai pacarnya tidak peduli dan tak ingin tahu. Toh dia merasa tidak mencintai Harry, jadi dia tak merasa kehilangan.
Tapi Robby mendatangi Dini dan memberitahu kalau Harry di rawat di rumah sakit Persahabatan karena OD ( Over Dosis ). Dia sengaja mengkonsumsi narkoba dalam jumlah banyak karena semalam Dini baru saja memutuskan hubungan mereka.
FLASHBACK ON
Semalam di pesta beberapa temannya Harry mengatakan selamat atas kesembuhannya dari semua keburukannya. Entah mereka mengejek Harry karena insyaf atau memang jujur senang karena Harry berubah menjadi lebih baik. “Iya Bro, tinggal rokok yang belum bisa gue lepas,” jelas Harry ke teman-temannya
Dini tak sengaja mendengar Harry menolak ajakan teman-temannya untuk ke puncak sehabis pesta ini. Mereka bilang beberapa nama ceweq mencari-cari Harry karena kangen making love dengannya. “Enggak Bro, gue punya bini sekarang, enggak mau lah gue celup-celup lagi,” tolaknya tegas.
“Lo bebas nyelup doi?” tanya temannya penasaran
“Yang ini beda, nyipok aja gue enggak berani,” jawab Harry tanpa malu ditertawai oleh rekan-rekannya.
Tak lama Harry melihat Dini yang kembali dari toilet.
‘Dia dengar enggak ya percakapan kami tadi?’ batin Harry, karena di depan Dini dia masih sering mengaku belum bisa lepas dari narkoba dan minuman.
Harry takut Dini akan menendangnya bila tau dia sudah normal kembali. Harry sangat mencintai Dini walau dia tau dia salah karena meminta Dini dari Robby dengan ancaman bunuh diri. Serius waktu meminta ke Robby dia dalam kondisi tidak mabuk, dia sadar karena dia sudah putus asa mencari jalan untuk bisa dekat dengan pujaan hatinya itu.
Dini sangat senang mendengar pengakuan Harry pada teman-temannya, artinya tugasnya sudah selesai. Dia bisa meninggalkan Harry dan kembali ke kehidupan normalnya. Robby pernah memberinya sebutan dokter cinta karena tugasnya ini.
Dini merasa tak nyaman dengan kondisi pesta yang dia lihat banyak menghisap lintingan kecil yang dia tau itu gan-ja, maka dia minta ke Harry agar segera pulang. Dia tak mau ikut menghisap asap narkoba tanpa sengaja karena berada dalam lingkup seperti ini.
Harry setuju dan dia langsung pamit pada yang ultah.
__ADS_1
***
“Har, serius lo udah enggak pernah nge-gele?” tanya Dini pelan. Biasa dalam bahasa sehari-hari gan-ja disebut dengan gele.
Harry menatap Dini, mencari kejelasan apa maksud pertanyaan kekasihnya itu.
“Lo enggak percaya ke gue?” tanya Harry.
“Bukan enggak percaya, gue hanya butuh kepastian,” kilah Dini memastikan. Dia harus mendapat kejelasan.
“Gue serius, gue enggak pernah lagi nge-gele dan udah jauh ngurangin minum sampe mabok cuma rokok gue belom bisa,” akhirnya Harry mengatakan sejujurnya pada Dini.
“Lo bohong kan ke gue. Tadi gue denger lo enggak pernah minum sama sekali” sanggah Dini. Dia tentu berang Harry menyembunyikan kebenaran yang dia barusan dengar.
Harry terdiam, ternyata Dini tadi mendengar celotehnya di pesta, dia menyesal karena sudah membohongi cintanya itu. “Iya Din, gue ngaku salah, gue udah lumayan lama enggak minum, gue bisa ngilangin kebiasaan itu karena lo,” sesalnya.
“Gue kecewa tau selama ini lo banyak bohong ke gue, tapi gue seneng kalau lo udah berubah jauh, gue minta seterusnya berubah ya. Bukan buat gue, tapi buat masa depan lo,” cetus Dini.
“Iya, gue bakal serius berobah buat lo,” desah Harry.
“Bukan buat gue, tapi buat lo sendiri. Gue cuma ngebantu lo buat berobah. Seperti konsensus gue ama Robby, gue mau ngebantu lo buat berubah. Sekarang lo sudah kembali normal. Rasanya cukup sampai sini bantuan yang bisa gue kasih ke elo. Mulai malam ini gue mundur dari tugas gue ngebantu elo,” jelas Dini pasti.
“Maksud lo? Kita putus?” tanya Harry bingung. “Selama ini gue bohong karena gue enggak mau pisah ama elo Din,” lanjut Harry putus asa.
“Apa pernah kita jadian? Apa pernah gue bilang gue sayang ama elo, gue pacar elo? Enggak kan? Lo juga enggak pernah kan bilang lo suka ama gue, bilang lo sayang ama gue? Kita jalan bareng karena Robby minta gue bantu elo, itu juga permintaan elo ke Robby kan?” sahut Dini berupaya tak terpancing emosinya.
“Attensi gue sekedar sebagai sahabat, sama seperti attensi gue ke Robby dan teman-teman lainnya. Jadi please enggak usah memperburuk keadaan. Kita enggak putus karena kita enggak pernah jadian,” jelas Dini datar.
Harry diam, lalu dia pamit dari rumah Dini. Dipacunya motornya ke pangkalan dia biasa nongkrong sebelum dia dekat dengan Dini. Tak tanggung-tanggung dia telan mor-fin seujung sendok teh.
__ADS_1
FLASHBACK OFF
Dini tidak pernah berpikir Harry akan berbuat nekat seperti itu. Dini berniat ke rumah Anto sehabis latihan, Dini ingin mengajak Anto untuk menemaninya membezoek Harry di rumah sakit, saat ini Anto tidak datang latihan karena dia sedang persiapan ujian akhir.
Di rumah sakit adiknya Harry cerita semalam Harry kebut-kebutan di jalanan lalu kembali ke markas lamanya untuk cari ‘barang’.
Tak tanggung-tanggung, dia langsung menelan seujung sendok teh mor-fin. Itu cerita yang Anto dan Dini dapatkan dari Leopold atau yang biasa di panggil Leo, adik Harry.
Saat mereka datang ke rumah sakit, Harry masih belum sadar.
“Ade harus gimana Maz?” tanya Dini di warung bakso sehabis dari rumah sakit. Anto hanya geleng-geleng. Dia minum fan-ta merah kesukaannya tanpa bisa berkata-kata.
“Aku enggak bisa berpendapat De. Kamu yakin laki-laki seperti itu akan jadi imammu kelak? Belum lagi dia bukan muslim. Kalau sulit dilepas seperti ini, kamu harus berpikir panjang. Karena bisa jadi kamu akan menikah dengannya. Bagaimana agama kalian nantinya?” jelasnya.
Anto memang selalu berpikir bijak dan jauh ke depan. Itu yang membuat Dini sangat suka padanya.
“Yang pasti, aku enggak akan pindah agama Maz” jawab Dini pasti.
“Ok, wait and see, yang pasti kamu harus mulai berpikir jauh. Maz akan selalu sabar nunggu kamu,” jawabannya tenang
PRASETYANTO POV
Ngantuk bercampur lelah membuat tidur soreku nyaman. Namun rupanya semesta enggak rela aku terus berteman guling dan iler he he.Mama mengetuk pintu kamarku dan mengatakan ada Dini di ruang tamu. Ada perlu apa lagi anak kecil itu ke rumah? Ha ha ha sebenernya Dini lebih tua dariku hampir 2 bulan, tapi dalam pandanganku dia tetaplah anak kecil nan imut. Walau merindunya, tapi kali ini aku sedang malas berdebat dengannya, aku lagi suntuk dengan beban tugas-tugas sekolahku.
==================================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
__ADS_1
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta