CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
155 DINI KECELAKAAN DAN KRITIS


__ADS_3

Hai hai para kesayangan yanktie, sehat semua kan? Terima kasih sudah selalu setia mengikuti cerita sederhana ini. Kenapa yanktie selalu menyampaikan terima kasih untuk yang selalu setia membaca dan memberi like saat kalian selesai membaca bab cerita ini? Karena ada notif siapa aja yang kasih like.


Wah, bakal seru ya kalau Robby, Anto dan Steve bisa ketemuan di Jogja lusa? Sayang Leo enggak bisa ikut ngumpul karena sedang sibuk menghadapi acara pernikahannya.  Sekarang kita ikutin terus keseruan bab ini. Selamat membaca!


Yanktie mohon sehabis baca bab langsung tinggalin jejak like dan hadiah ya….


Maturnuwun.


----------------


Lalu Anto memberikan ponselnya pada Steve agar Robby bisa bertukar cerita dengan Steve.  Dini yang memperhatikan kehebohan suami dan adik iparnya tentu jadi penasaran. Siapa sosok yang menghubungi suaminya tercinta? Dia mendekati Anto dan bertanya tanpa suara, hanya bibirnya saja bergerak.


“Mantan pacarmu,” jawab Anto santai.


“Siapa dadd?” jawaban Anto tentu makin membuat Dini penasaran.


“Robby.”


***


Anto sedang berkutat dengan berkas di mejanya. Dia agak sedikit mengantuk karena semalam kurang tidur. Abbhie demam, mungkin terlalu banyak berteriak saat main bola di rumah Sari kemarin. Sehingga tenggorokannya iritasi. Dan repotnya Abbhie tak mau di gendong Dini. Dia hanya ingin dalam dekapan Anto. Dengan memaksakan diri Anto mengamati laporan Ndari. Walau terkantuk dia paksakan untuk memeriksa berkas itu. Lamat dia rasakan getar ponsel di saku celananya. Anto mengambil ponselnya dan melihat nomor baru yang melakukan panggilan.


“Selamat siang, dengan Prasetyanto,” Anto menyapa sopan.


“Selamat siang, Pak,” suara manis di ujung telepon menjawab salam yang Anto sampaikan. “Kami dari rumah sakit Margoyudan, menanyakan apa Bapak mengenal Ibu Rahdini Mustika?”


“Itu istri saya, ada apa?” Anto cemas saat mendapat telepon dari rumah sakit.

__ADS_1


“Istri Bapak baru saja mengalami lakalantas, bisa Bapak melihat kesini, Bapak kami tunggu di IGD.” Jelas sekali pesan dari lawan bicara yang mengabarkan istri tercintanya kecelakaan. Anto lemas. Dia segera membereskan berkas di meja kerjanya. Langsung dia masukan di laci dan dia kunci. Dia matikan computer di mejanya. Lalu bergegas menuju rumah sakit yang tadi menghubunginya.


Anto membawa mobilnya dengan kecepatan penuh. Dia tak sabar ingin mengetahui bagaimana kondisi istrinya. Tadi Dini memang bilang siang ini dia akan keluar meeting di UGM dengan beberapa rekan dosennya. “Bisa saya tahu pasien bernama Rahdini Mustika?” tanya Anto di bagian humas rumah sakit yang dia datangi.


“Masih di IGD Pak, menanti keluarganya. Bisa Bapak lengkapi data pasien?” petugas memberikan selembar kertas yang diminta dilengkapi oleh Anto. Anto segera melengkapi data yang di butuhkan rumah sakit. Lalu dia segera memasuki ruang IGD. Di ranjang nomor tiga dilihatnya istrinya terbaring tak sadar dengan alat bantu napas dan ada infus di tangan kirinya. Kepalanya sudah diperban. Anto menghampiri sosok yang selalu ada dalam setiap tarikan napasnya sejak dia mengenal gadis itu di SMP.


“Cinta … cinta banguun dong … Mom,” bisiknya sambil menciumi wajah pucat istrinya.


“Apa hubungan Bapak dengan Ibu Rahdini?” tanya seorang perawat laki-laki dengan membawa data di tangan kirinya.


“Saya suaminya,” jawab Anto.


“Bapak diminta menemui dokter Rizanul di meja sebelah sana,” jelas petugas tersebut.


Anto segera menuju meja yang ditunjuk perawat laki-laki tadi. Dilihatnya seorang pria dengan snelli putihnya. Di bacanya nama di dada kanan Dr. Rizanul I Sp.PD. Anto memperkirakan dokter ini seusia papa mertuanya. Tubuhnya agak gemuk. “Selamat siang Dok,” sapa Anto.


“Selamat siang, silahkan duduk, maaf dengan keluarga pasien siapa ya?” tanya sang dokter.


Sang dokter mengambil map atas nama Rahdini, dia melihat selintas lalu menatap Anto dengan pandangan yang sulit di artikan. “Bu Rahdini hanya sedikit luka luarnya, namun luka dalamnya sangat berbahaya. Kami akan memindah ke ICU. Dada dan kepalanya terbentur  sangat keras.”


“Mohon lakukan yang terbaik untuk istri saya Dok,” pinta Anto lirih.


“Kami pasti akan melakukan yang terbaik, namun anda tahu, semua ketetapan Allah tidak bisa kita lawan. Terlebih kondisi istri Bapak juga sangat jauh dari kata baik-baik saja.” Dokter tidak mau memberi harapan palsu. Dada Dini remuk dan kepala juga sudah terbentur.


Anto diam, dia menemani petugas membawa Dini untuk dipindah ke ICU. Setelah proses pemindahan selesai, Anto baru menghubungi mama, Steve, dan mami. Anto benar-benar tak ada daya. Dia teringat pagi tadi Dini bilang malas meeting karena membuatnya harus meninggalkan tugas pada para mahasiswanya.


“Assalamu’alaykum Mas,” Steve memberi salam pada kakak iparnya.

__ADS_1


“Wa’alaykum salam. Steve, Dini kecelakaan, dia kritis di rumah sakit Margoyudan.” Lirih Anto menerangkan kondisi istrinya pada adik iparnya. “Maafin semua kesalahannya ya, dan tolong kasih tau mama pelan-pelan. Kamu juga enggak boleh bikin Sari shock karena dia sedang hamil.”


Steve tak bisa berkata apa pun. Dia bingung harus bagaimana dia mengatakan berita ini pada dua wanita di rumahnya? Dia segera menuju rumah, sambil memikirkan apa yang harus dia lakukan. Padahal kalau boleh, dia ingin segera lari ke rumah sakit menemani Anto. Dia juga ingin melihat kondisi Dini secara langsung.


***


“Assalamu’alaykum Pi,” Anto sengaja menghubungi papi mertuanya, dia tak sanggup bila bicara dengan mami mertuanya.


“Wa’alaykum salam, tumben kamu telepon Nto,” sapa papi santai.


“Aku mau ngabarin, Dini kecelakaan, dan kondisinya kritis di rumah sakit Margoyudan Pi. Aku enggak berani bicara ke mami. Mohon Papi aja yang sampein ke mami ya?” Anto hanya pasrah. Dia segera masuk kamar ICU sesudah menggunakan baju khusus untuk ruang ICU.


“Mom, kamu yang kuat ya. Kamu inget janji kamu, mau menemani anak-anak sampai mereka dewasa dan kita melihat mereka berumah tangga. I love you Mom. Kamu kejoraku. Please kuat ya buat aku,” Anto berbisik. Air matanya luruh tak henti. Di ciuminya tangan kanan istrinya dengan lembut.


“Cintaaaa, bangun dong?” rengek Anto disela tangisnya.


***


Papi Iman kaget mendengar khabar dari Leo. Dia menghubungi Teguh, suami Sashi, anak sulungnya. “Guh, kabari Sashi, adikmu Dini kritis karena kecelakaan. Anto barusan kasih tahu papi. Ini papi sedang menuju kantor mamimu. Kalau bisa jangan lewat telepon, agar akalu istrimu pingsan kamu bisa menanganinya.”


Pada Amir, suami Kiran pun khabar yang sama dia sampaikan. Seperti Anto, dia tak tega bila langsung menyampaikan berita duka ini pada anak perempuannya. Dia sangat bingung bagaimana menyampaikan hal ini pada istrinya. Sepanjang jalan menuju kantor istrinya pak Iman tak dapat menyetop air matanya. Dini si bungsu adalah anak yang paling dekat dan manja pada dirinya. Dia mengenal Dini sejak anak itu berusia dua tahun. Rekanannya membuat acara family gathering di kantornya. Dia berkenalan dengan sekretaris sang rekanan yang membawa tiga putrinya dan seorang pengasuh. Karena kesibukan sang ibu, maka Dini kecil bebas bermain dibawah pengawasan sang pengasuh. Saat berlarian di lapangan Dini kecil terjatuh dan menangis sangat keras tak mempan di bujuk oleh kedua kakaknya dan pengasuhnya. Pak Iman yang kebetulan lewat sehabis dari mushola mencoba menghampiri gadis kecil itu dan menyapanya.


‘Apa kakinya sakit?’ tanya pak Iman dengan pelan.


Gadis kecil itu hanya mengangguk sambil terus menangis. ‘Kalau menangis, kamu jadi jelek, nanti enggak punya teman,’ pak Iman yang memang belum pernah punya anak tentu bingung membujuk anak berusia dua tahun. Dan kata-kata yang dia ucapkan juga bukan bujukan karena dia belum berpengalaman membujuk anak kecil. ‘Sini om lihat lukanya,’ Iman mencoba melihat luka gores yang hanya kecil. Dia coba tiup-tiup, namun Dini kecil terpaku akan perbuatannya dan tangisnya berhenti.


---------------------------------

__ADS_1


Hiks hiks, yanktie aja sebagai author nangis nulis berita duka ini. Enggak kebayang maz Anto hidup tanpa kekasih kecilnya itu. Terima kasih sudah selesai membaca bab ini, semoga tidak mengecewakan. Nantikan cerita selanjutnya besok ya. Jangan lupa kasih like sebelum menutup cerita ini.


Salam manis dari Jogja


__ADS_2