CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
29 YOU ARE THE BEST FOR ME


__ADS_3

Saat Amora sedang menyusu, Dini kembali mengajari “Ini Amora, Aaamoooraaaaaaa” kata Dini sambil menunjuk Amora. Amora melepas mulutnya lalu berkata “Oa” lalu kembali menghisap asi.


“Aaamooraaaaa, bukan OA” kata Dini, walau dia bangga Amora sudah mengenal dirinya sendiri. “Nanti bilang ayah ya, ini Amora” kata Dini sambil menunjuk Amora. Yang ditunjuk sudah ga menjawab karena mulai terpejam.


***


Sehabis maksi Dini pamit pada mbak Kiran, sekarang dia ga nunggu Harry karena dia pulang dengan mbak Yanti. Mereka naik bajay. Harry sampai rumah ga berapa lama sejak Dini masuk ke rumahnya.


“Ah” seru Amora saat melihat Harry masuk rumah. “Yah kasih salam dong, itu dipanggil Amora lho” kata Dini.


“Hehe ayah lupa, assalamu’alaykum” sapa Harry.


Dini langsung bertanya pada Amora “Ini siapa?” tanyanya sambil menunjuk Harry.


“Ah” jawab Amora.


“Aaaayyaaaaah” jawab Dini. Sementara Harry terpaku, anaknya sudah bisa memanggil dirinya AH ( dari kata ayah )


“Ini siapa?” tanya Dini lagi, sekarang Dini menunjuk dirinya sendiri.


“Da” jawab Amora.


“Buuuunndaaa” jawab Dini lagi.


“Nah kalau yang cantik ini siapa?” tanya Dini sambil menunjuk Amora.


“OA” jawab Amora.


Harry terperangah atas kemajuan yang diperlihatkan Amora, pagi tadi saja mereka belum mengetahui kemampuan ini. Kalau ga malu, mau rasanya dia menangis atas keajaiban yang dia rasakan saat ini. Bagaimana bisa dia mengalami keajaiban melihat perkembangan seorang anak seperti yang dia lihat sore ini. Tanpa malu diciuminya Amora dan Dini bergantian. Alhamdulillaaah batinnya, dia bisa mendapat kesempatan dari Allah melihat tumbuh kembang putri kecilnya.

__ADS_1


***


Malamnya saat di kamar Harry melihat wajah damai Amora yang sedang lelap tertidur di kasurnya. Dini sedang sibuk depan computernya membuat paper tentang hewan Tapir ( Tapirus indicus ). “Mau ayah bantu ketikin bund?” tanya Harry menawarkan diri.


“Ga usah, ni sudah mau rampung, tinggal save lalu besok diprint di warnet” sahut Dini. Harry sedih karena dia belum mampu membelikan printer baru untuk Dini, printer lama sudah rusak saat mereka pindahan. Pernah dia bawa ke tukang service, jawaban tekhnisinya membuatnya berpikir 2x, karena tekhnisi bilang biaya service dan ganti spare part hampir sama dengan harga printer baru. Itulah sebabnya Harry menunda service, dia berharap bisa membelikan printer baru.


“Yiipiiiiii..akhirnya selesai juga, kata Dini sambil membereskan disket-disket kuliahnya. Dini membaringkan dirinya di kasur bawah, kasurnya Amora. “Yank, tidur sini deh,” ajak Harry agar Dini pindah ke ranjang mereka.


“Sama aja toh yah, nanti malam juga pindah lagi pas Amora mau nyusu, jawab Dini malas beranjak.


“Ayah ada perlu bicara dikit,” sahut Harry.


“Ya bicara aja, toh aku dengar dan ayah juga ga perlu berteriak, kenapa juga bicara koq harus bersebelahan?” jawab Dini asal-asalan.


“Soal wisuda ayah minggu depan, gimana pendapat bunda?” tanya Harry.


“Maksudnya?” tanya Dini menggantung.


“Terserah kamu” jawab Dini malas membahas hal yang berkaitan dengan mertuanya tersebut.


“Please yank, kasih jawaban yang konkrit agar ayah ga salah langkah” pinta Harry.


“Saya orang luar, jadi semua terserah keputusan anda” jawab Dini sebel sambil berbalik badan.


“Yank, koq malah jadi gitu, koq jadi malah pakai kata saya dan anda?” kata Harry sambil turun dari ranjang menghampiri Dini di kasur bawah.


“Yank, please kita bicara sampai tuntas dulu ya? Jangan marah gitu, jangan pakai kata saya dan anda ya?” pinta Harry lembut sambil menciumi pipi dan pelipis Dini karena dia ga bisa mencium kening Dini yang tiduran miring.


Dini langsung duduk agar mereka bicara serius. Ditatapnya manik mata Harry dengan tajam. “Sekarang mau kamu gimana, nanti aku kasih pendapatku, kamu ga usah tanya pendapatku lebih dulu.” tegas Dini. Dia malas berdebat kelamaan.

__ADS_1


“Namanya anak, ya ayah pengen mereka datang saat wisuda ayah besok” jawab Harry ragu.


“Lho itu kamu sudah punya solusi terbaik, lalu buat apa minta pendapatku? Ga perlu juga kan kamu pertimbangkan pemikiran dan perasaanku?” tanya Dini. Hampir setahun pernikahan mereka, Dini ga pernah menyebut dirinya ade bila bicara dengan Harry. Itu jelas dia belum mau membuka dirinya dan bermanja-manja dengan suaminya itu..


“Bukan gitu yank, kamu yang utama maka ayah tanya pendapatmu” kilah Harry lagi. “Kalau mereka datang, kamu gapapa?” tanya Harry.


“Sebagai wisudawan, berapa undangan yang didapat dan berlaku untuk berapa orang?” tanya Dini, padahal dia sudah tau jawabannya.


“Kamu kan sudah lihat, 1 wisudawan ya 1 undangan berlaku untuk 2 orang pendamping” jawab Harry tanpa berpikir panjang.


“See, kamu hanya dapat jatah untuk 2 orang pendamping, kalau kedua orang tuamu hadir, saya ga akan bisa hadirkan? Lalu kamu tanya pendapat saya buat apa? Sudah saya bilang anda ga perlu tanya saya, ga perlu perdulikan perasaan saya dan ga usah anggap kehadiran saya di hidup anda” isak Dini dengan kata-kata ga beraturan antara anda dan kamu.


“Yank, ga gitu juga, maaf ayah ga mikir sampai sana” sanggah Harry cepat sambil menghapus air mata Dini, dikecupnya kedua pelupuk mata Dini.


“Kamu memang selalu begitu, ga pernah berpikir panjang” sesal Dini.


“Trus sekarang gimana? Ayah harus gimana?” tanya Harry pasrah. “Kamu tau, tanpa kamu memompa semangatku, tanpa kamu melecut cemeti agar ayah bangkit dan menjadwal ulang mata kuliah tertinggal, tanpa amarahmu yang paling ayah takuti, tanpa amukanmu kalau ayah malas bikin tugas, tanpa hardikmu agar ayah berhenti mengkonsumsi barang sial itu, aku pasti sudah jadi mahasiwa DO tanpa masa depan. Mama dan papa ga pernah tau kalau ayah rusak. Jadi ayah ga rela kalau kamu ga hadir disisi ayah saat ayah meraih kemenangan, karena sesungguhnya toga itu milikmu” kata Harry jujur sambil mengecup kening istrinya itu.


“Tabungan kita masih cukup koq Yah, kita bikin makan malam aja di resto lembur kuring, kita undang mama papa dan adik-adikmu serta mami papi serta kakak-kakak, gimana? Kita ga pesta, hanya sekedar mengucap syukur bersama keluarga aja. Pas wisuda kita datang berdua, nanti ketika acara mau selesai Amora biar diantar mbak Sashi buat kita bikin photo bertiga di kampus, kasihan kalau Amora ikut dari pagi. Gimana?” tanya Dini memberi usulan pada Harry. “Pas ngundang kita kasih tau ga bisa minta mereka datang di kampus karena ga punya undangan lebih, agar ga menyakiti siapapun,” lanjut Dini lagi.


Harry mendekap istrinya erat. “Makasih ya sayangku, kamu mau kasih solusi terbaik. You are the best for me, I love you so much” kata Harry.


Sesudah acara makan malam di lembur kuring, komunikasi Harry dengan keluarganya, terutama mamanya semakin intensif. Komunikasi yang tadi nya tertutup dan sembunyi-sembunyi sejak peristiwa pengusiran pun kembali lancar karena Harry membuka pintu lebih dulu dengan cara mengundang saat acara syukuran wisudanya, yang versi mamanya itu bukan syukuran.


Simak terus lanjutan cerita ini di bab selanjutnya ya


Makasih yanktie ucapkan buat yang selalu setia baca kisah ini


Jangan lupa kasih like dan vote serta komen ya

__ADS_1


Salam manis dari Jogja


__ADS_2