CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
168 MENGUPAS MASA LALU YANG SUDAH TERLUPA


__ADS_3

Hai hai para kesayangan yanktie, sehat semua kan?  Bagaimana puasa kalian sampai hari ini?


Terima kasih sudah selalu setia mengikuti cerita sederhana ini. Kenapa yanktie selalu menyampaikan terima kasih untuk yang selalu setia membaca dan memberi like saat kalian selesai membaca bab cerita ini? Karena ada notif siapa aja yang kasih like.


Andai  ya yanktie punya suami seperti maz Anto yang sabar banget ngadepin serangan para mantan yang datang beruntun seperti itu. Sekarang kita ikutin terus keseruan bab ini. Selamat membaca!


Yanktie mohon sehabis baca bab langsung tinggalin jejak like dan hadiah ya….


Maturnuwun.


--------


“Enggak ah, enggak enak nonton sendirian dan enggak bisa teriak-teriak. Mending bobo sama Mommy aja bisa dapat kisses sampai puas,” Anto segera menciumi Dini. Mereka memang tak bisa melangkah lebih jauh mengingat sedang berada di rumah sakit. Namun setidaknya mereka bisa pengungkapan rasa cinta dari pasangan tercintanya.


***


Seperti biasa mbak War datang pukul 06.00 untuk membawakan sarapan Dini dan Anto. Kali ini dia juga membawakan baju kerja untuk Anto.


“Mbak, nanti akan ada tamu, tolong jaga Abbhie ya, saya akan bicar di ruangan ini, tapi mungkin butuh bicara serius. Takutnya Abbhie rewel. Saya enggak akan bicara di luar biar Abbhie enggak nangis,” Dini memberi tahu mbak War sambil menyiapkan sarapan Anto.


“Janjian jam berapa Momm?” tanya Anto. Dia juga sengaja merespon ucapan Dini agar asisten rumah tangganya tahu, Dini menerima tamu laki-laki sepengetahuan dirinya.

__ADS_1


“Jam sepuluh Dadd, kalau jam besuk, takutnya ada teman kampus, jadi keganggu pembicaraan.” Dini menerangkan sambil dia juga menyiapkan sarapannya.


Pagi ini Anto berangkat kerja, banyak tugas menumpuk yang harus dia kerjakan karena sudah tiga hari menemani Abbhie di rumah sakit. Walau dua hari lalu dan kemarin Pujo datang untuk diskusi dan minta tanda tangan berkas. Hari ini dan esok, Anto harus hadir di kantor karena ada meeting intern bulanan. Untungnya Dini sudah selesai menguji skripsi sehingga mereka bisa gantian menjaga Abbhie.


***


Pukul 07.30 dokter visite dan meminta perawat membuka infus Abbhie bila cairan yang di botol terpasang sudah habis. Tentu Dini senang atas kemajuan kesehatan Abbhie. Dia mengirim chat pada Anto, Steve, Sari dan mama.


Pukul 09.45 Robby sudah datang. Dia kembali membawakan mainan untuk Abbhie. “Jangan ngerepotin gitu By. Makasih ya,” Dini mengucapkan terima kasih atas bawaan Robby. Mbak Warni yang sudah diberitahu kalau Dini akan bicara serius bersiap menemani Abbhie, kebetulan Abbhie baru saja minum obat dan sudah terlihat sangat mengantuk.


Mbak War membuatkan teh panas bagi nyonya dan tamu nya. Tak lupa dia siapkan juga snack yang tadi di bawa dari rumah. “Silahkan minum By,” Dini menawarkan teh dan snack yang sudah di siapkan mbak Warni.


“Din, sorry kalau yang mau gue omongin mungkin udah lo lupain, atau malah udah lo anggap enggak ada. Tapi ini ngeganjel di hati gue. Gue enggak ingin lo punya pandangan jelek ke gue. Gue pengen lo ngenang gue sebagai sosok yang baik, ang enggak pernah nyakitin lo. Sosok yang selalu mencintai lo bahkan sampai saat ini.” Robby bicara tanpa rem.


“Lo ada yang lupa, kita sepakat, siapa pun yang punya pasangan duluan, wajib kasih tau sebelum kita tahu dari orang lain. Saat lo punya pacar duluan, lo wajib kasih tau gue. Gue enggak boleh denger dari orang lain. Gitu juga sebaliknya, saat gue punya pacar duluan, lo harus tahu langsung dari mulut gue, jangan denger dari orang lain.” Robby mengingatkan poin kesepakatan mereka yang Dini lupa.


“Trus? Ada masalah?” tanya Dini. “Aku ‘kan enggak ganti pasangan. Kalau kamu dengar tentang pernikahanku dari orang lain, aku minta maaf. Tapi saat itu, aku terpuruk karena menikah sudah dalam kondisi hamil. Enggak ada teman yang aku kasih tau kecuali Anto.”


“Ada!  Lo keqi kan saat tahu gue jadian ama Lolita, bukan langsung dari mulut gue?” cetus Robby.


“Ya, jujur saat itu aku kecewa, karena kamu enggak memenuhi janji kesepakatan kita. Aku kaget dan kecewa saat itu. Tapi seiring berjalannya waktu, ditambah masalah yang aku hadapi. Aku udah ngelupain. Jadi enggak perlu kamu jadiin beban lagi,” jelas Dini.

__ADS_1


“Itu yang gue enggak mau. Pandangan elo ke gue. Lo pernah berpikiran kalau gue enggak memegang kesepakatan kita. Padahal yang terjadi bukan seperti itu. Saat itu gue lagi ngobrol ama teman di kampus, gue belum jadian ama Lolita. Baru pedekate. Teman kampus gue nanya, kenapa enggak memproklamirkan gue jadian ama Lolita? Gue jawab, gue belum bilang ke elo. Jadi enggak bakalan gue jadian dengan siapa pun kalau belum lapor elo. Gue enggak tau saat itu Vinny saudaranya Loly dengar. Dia lapor ke Loly dan akhirnya mereka berdua yang bilang langsung ke elo.” Robby berupaya mengatakan yang sebenarnya.


“Sejak itu, gue sebel ama Loly yang lancang ngomong sama elo, enggak sampai sebulan, gue putus ama Loly. Gue enggak suka ceweq arogan seperti dia. Gue minta maaf kalau saat itu lo sakit hati denger kata-kata Loly yang ngata-ngatin elo.” Lanjut Robby lagi. Tapi kisah putus nya Robby dengan Loly, Dini sudah tidak tahu, karena dia sudah sibuk dengan kehamilannya.


Dini terpaku, dia ingat sore itu ada dua ceweq cantik datang ke rumahnya saat dia sedang tidur siang. Cantik, tinggi, hitam manis sesuai kulit suku Ambon. Dini mempersilakan tamunya duduk diteras dan menanyakan apa keperluan mereka, karena Dini belum kenal.


‘Gue Lolyta, ceweqnya Robby. Elo enggak usah sok kecantikan, sampe ngelarang Robby pacaran dengan siapa pun sebelum izin ke elo. Emang lo siapa ngelarang-larang dia?’ ucap ketus perempuan cantik di depannya membuat Dini terkejut. Memang siapa yang bilang Robby tak boleh pacaran?


‘Maaf, mungkin anda salah orang, saya dan Robby tak ada hubungan apa pun, bagaimana mungkin saya melarang dia tidak boleh pacaran?’ tanya Dini masih sopan.


‘Udah, enggak usah banyak b4cot deh lo, dasar aja lo keg4t3lan. Lo enggak laku ‘kan mangkanya ngelarang-larang Robby seperti itu,’ cetus perempuan yang satunya, entah siapa namanya. Tadi dia tak memperkenalkan diri.


‘Kalau kalian bilang saya melarang Robby dan Robby mematuhi larangan saya, pertanyaannya, yang enggak laku siapa? Kalau Robby enggak mematuhi saya, baru saya yang enggak laku. Lha anda berdua kalau mau Robby ambil aja. Kenapa harus ndamprat saya? Seribu cowoq model Robby bisa saya dapetin kalau saya mau.’ Dini langsung meninggalkan tamunya ke dalam. Bukan levelnya ngerebutin cowoq.


 -----------------------------------------


Terima kasih sudah selesai membaca bab ini, semoga tidak mengecewakan. Nantikan cerita selanjutnya besok ya. Jangan lupa kasih like sebelum menutup cerita ini.


Salam manis dari Jogja


Sambil nunggu yanktie update bab baru esok hari, coba deh mampir ke karya teman yanktie yang super keren ini, ga bakal nyesel baca ceritanya, judulnya   RANJANG TUAN LUMPUH  karya KAY_21

__ADS_1



__ADS_2