
Semalaman Harry putus asa mencari Dini kemanapun, namun tak ada info yang dia terima. Putus asa, dia mengarahkan mobilnya ketempat dia biasa nongkrong saat belum bertemu Dini. Kalut memikirkan istrinya yang sudah marah sejak hari Sabtu, ditambah tragedi Sarah semalam membuat Harry kembali berpikiran pendek. Harry kembali menyesal karena tidak bisa tegas mengusir Sarah dari sisinya sehingga sama sekalai tidak memperhatikan keberadaaan Dini di pesta semalam. Putus asa, dia kembali mengkonsumsi minuman keras disana, saat itulah ada anak baru di lingkungan itu mengejeknya. “Wah ada orang baru nih, ga kenalan dulu ke gue yang pegang sini” ejek anak tersebut.
Tentu saja teman-teman Harry yang biasa disitu kaget. Harry yang sedang kalut langsung tersulut emosinya dan melayangkan bogemnya kewajah orang yang mengejeknya itu. Namun siapa sangka anak tersebut memberikan perlawanan sambil teriak-teriak sehingga lingkungan makin gaduh. Beberapa teman yang memisahkan mereka, karena terkena pukulan entah dari Harry maupun dari lawannya akhirnya juga ikut memukul. Itulah yang membuat keamanan kampung bertindak menangkap mereka semua yang terlibat keributan disana.
Jam 11 siang Harry baru bangun, dia kaget mengapa bisa tidur dirumah orang tuanya, dia mencari Dini disebelahnya namun ga ada. Dia keluar kamar dan melihat papanya di ruang keluarga sedang nonton tv dengan Leo.
“Bisa bangun juga lo” sapa Leo sinis, “Gue pikir lo mau langsung mokat” lanjutnya lagi.
Harry menuju dapur dan meminta ART membuatkan kopi kental pahit tanpa gula untuk mengurangi pening dikepalanya.
“Makan Harr” mamanya menawari Harry untuk makan, namun Harry hanya menggeleng. “Ada khabar soal Dini ga?” tanya Harry sambil mencari HPnya, dia ingin menghubungi istrinya, semoga HP Dini sudah nyala, karena sepanjang malam HP Dini off.
Ga ada yang menjawab pertanyaan Harry, dia membuka ponselnya dan disana terlihat banyak panggilan dari keluarga Dini sejak semalam tadi hingga jam 6 pagi. Mengapa setelah jam 6 mereka ga ada yang telpon lagi? Apa mereka juga marah kepadanya? tanya Harry di batinnya.
Harry bergegas telpon ke nomor rumah mertuanya, yang angkat ART dan mengatakan Dini ga datang sama sekali dan mami serta papinya Dini pergi kerja, sekarang Harry memberanikan diri menghubungi mbak Kiran.
“Assalamu’alaykum mbak” sapa Harry mengawali pembicaraannya di telpon.
“Wa’alaykum salam de, udah ketemu Dini?” sahut mbak Kiran cepat. Kalau mbak Kiran masih menanyakan keberadaan Dini, artinya Dini belum ketemu kan pikir Harry mendengar jawaban kakak iparnya tersebut, kalau sudah ketemu mbak Sashipun pasti mereka akan segera memberikan info ke keluarga mereka sendiri.
Harry makin putus asa dan menjawab mbak Kiran “Saya malah mau tanya ke mbak, kirain Dini sudah ada disana atau dirumah mbak Sashi”
__ADS_1
“Belum tuh,” jawab mbak Kiran lugas. “Mbak sudahi dulu ya Harr, mau jemput Aldo dan Farid disekolah”
“Iya mbak, makasih, kalau ada khabar langsung kasih tau saya ya mbak” pintanya.
Semua diruang keluarga mendengar percakapan itu dan berkesimpulan Dini belum kembali kerumah keluarganya. Peter khawatir keselamatam Amora, dia takut terjadi kecelakaan sehingga membuat Dini tidak sampai ke rumah atau ke rumah keluarganya.
“Harr, coba cek kantor polisi terdekat yang menuju rumahmu atau rumah keluarga Dini, siapa tau ada info lakalantas sehingga Dini ga sampai ketujuan” perintah Peter.
“Yo, bantu jua” perintah Peter kepada anak keduanya.
“Sorry, gue ga mau jadi payung lo Harr, gue ga mau terus ngelindungin lo lagi. Lo kepala keluarga, lo kapten kapal. Harusnya lo bisa pimpin keluarga lo, harusnya lo bisa arahin tujuan kapal lo mau kemana, tapi apa yang lo lakuin? Lo malah nurut aja ke mama. Sekarang lo makan tu hasil perbuatan lo. Gue pernah bilang waktu gue denger dari Reyhan lo perkosa Dini, gue bilang kalau gue ga mau lagi ngurusinin akibat perbuatan lo. Apalagi mama terus ngebelain lo. Sekarang kalian rasain lah. Gue kasih tau ya, kenapa Sarah pergi ke Australia, dia bukan buat belajar, tapi disana dia aborsi buat yang ke 3 x dari laki-laki yang berbeda. Itukan perempuan pilihan mama. Makan tu sampah buat kalian berdua” kesal Leo menjawab perintah papanya, dia meninggalkan ruang keluarga menuju kamarnya untuk mengambil kunci motornya.
Harry dan mamanya hanya diam, sedang Peter tersenyum mengejek mereka. Belum lagi Leo menyalakan motornya terdengar suara manja Sarah yang baru memasuki pagar rumah mereka. “Hallo semua,” sapanya.
Kamu dimana yank? tanya Harry dalam hatinya, dia mengambil kunci mobilnya, semalam Vionne yang membawa mobilnya pulang dari Sentiong sementara dia dimasukan ke mobil mamanya oleh teman-temannya yang membantunya. Amora ga kangen ayah ya? tanyanya lagi.
Dia membuka dompetnya, melihat photo dirinya, Dini dan Amora di depan kampusnya saat dia masih memakai toga, photo terbaru mereka 2 minggu lalu. Kalian ga kangen ayah? tangis Harry dalam hatinya. Ga lama terdengar pintu kamarnya diketuk, ART nya memberi tahu mamanya memanggil untuk makan siang. Harry mengambil kunci mobilnya dan keluar menuju meja makan. “Harry pergi dulu ma” pamit Harry. Dimeja makan hanya ada Vionne, mamanya dan Sarah, bahkan Peter pun ga mau makan bersama siang ini.
“Makan dulu” jawab mamanya.
“Ga lapar ma” sahut Harry keluar rumah.
__ADS_1
“Kamu bahkan sama sekali belum makan, sarapan aja engga, gimana bisa ga lapar” teriak Sandra karena Harry sudah menjauh menuju pintu depan.
Hari Jum’at, hari ke 3 Harry ga masuk kantor, dia masih sibuk mencari istrinya. Penampilannya semakin amburadul, 3 hari tanpa ganti pakaian, dia sudah lupa sholat, sesekali dia mengecek rumahnya, berharap Dini kembali ke rumah mereka. Bodohnya Harry ga pernah masuk saat mengecek, dia hanya melihat terasnya kotor dan lampu teras masih nyala karena ga ada orang di rumah. Andai dia masuk rumah dia akan tau, Dini pernah pulang untuk mengambil baju-bajunya, baju dan perlengkapan serta permainan Amora serta baju mbak Yanti.
Sebenernya Dini ada dimana sih?.
***
Dini tertawa melihat tingkah lucu putrinya mengejar ayam didepan rumah yang dia tinggali saat ini.
Flash back on
Mendengar mama mertuanya mendorong Harry untuk kembali dalam dekapan perempuan lain langsung didepan matanya membuat hati Dini tercabik-cabik dan merasa dia diludahi di wajahnya. Dengan santai dia mencari mbak Yanti diteras, disana Amora sedang bermain dengan anak-anak sepantarannya ditemani mbak Yanti.
“Mbak, beresin semua barang ibu dan Amora tanpa sisa satu pun, barang bapak ga usah, kalau sudah diem-diem keluar dari pintu belakang dan jalan keujung sana ya, kalau ada taxi kosong stop duluan aja dan tungguin disana sampai ibu datang” perintah Dini berbisik di telinga mbak Yanti. Mbak Yanti mengangguk pelan, dia tau ada yang ga beres dengan hubungan kedua majikannya sejak dia mendengar tuannya teriak tengah malam, “Jangan lupa charger HP ibu ya, tas ibu juga karena dompet kan disitu” lanjut Dini lagi.
Dini mengawasi Amora, dan bercanda dengan beberapa kerabat yang juga menjaga anak mereka diteras. Sekitar setengah jam kemudian Dini melihat mbak Yanti keluar dari pintu belakang. Dini sengaja bersiap dulu, dia ingin begitu keluar jalan sudah ada taxi yang mbak Yanti dapat sehingga dia ga akan tertangkap saat belum sempat kabur. 20 menit berlalu, Dini beranjak keluar rumah dan pamit kebeberapa ibu disitu mau ke warung depan jalan untuk membeli diapers Amora, yang dipamiti ga ada yang curiga karena Dini keluar rumah hanya menggendong Amora tanpa bawa tas atau dompet.
Simak terus lanjutan cerita ini di bab selanjutnya ya
Makasih yanktie ucapkan buat yang selalu setia baca kisah ini
__ADS_1
Jangan lupa kasih like dan vote serta komen ya
Salam manis dari Jogja