CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
78 JANGAN BUKA LUKA LAMA


__ADS_3

78 JANGAN BUKA LUKA LAMA


“Hahaahhaaahahahaaa” Steve tertawa ngakak sementara Anto hanya senyum kecut mendengar Dini menolak disebut sebagai pacarnya, namun dia juga langsung meralat kata-kata Steve


“Siapa bilang dia pacar gue? Dia tu calon nyonya Prasetyanto” kilah Anto cepat  membuat Dini menunduk malu


“Wo wo wo woooow.. begitu rupanya” kata Steve


“Bukannya ade mu ya maz?” goda Dini mengingatkan pada kesalahan Anto yang sangat fatal dulu


“Please jangan buka luka lama de” pinta Anto serius, dia sangat sedih karena kesalahannya itu membuat Dini terpaksa dekat dengan Harry.


“Luka lama apaan nih? Wah ketinggalan 1 bab nih” kata Steve pura-pura penasaran


 “Aku besok ga usah antar ke bandara ya maz” kata Dini mengalihkan pembicaraan. “Nanti Steve jadi muter antar aku ke sekolah dulu baru ke kantornya” lanjutnya


“Gapapa Din, aku kan ga punya keharusan masuk jam 8 teng kayak bu guru, yang penting kamu ga telat, itu aja” kata Steve


Anto memandang Dini serius, dia tau Dini menantikan jawabannya. “Iya, kamu ga usah antar aku ke bandara gapapa” kata Anto pasti sambil tersenyum pada Dini yang sedang menatapnya


“Ya wis, aku tidur duluan ya, kalian jangan lupa pasang alarm” kata Dini sambil beranjak ke kamarnya


***


Sehabis sholat subuh Dini mengajak Steve dan Anto sarapan, karena masih terlalu pagi, dia hanya menyediakan teh untuk Anto dan kopi untuk Steve, namun juga tetap tersedia roti bakar bila mereka berkenan. Sengaja teh dan kopi dia hidangkan di ruang keluarga agar duduknya santai ga kaku seperti duduk dimeja makan. “Udah siap maz, ada yang ketinggalan ga?” tanya Dini saat Anto keluar kamar membawa ranselnya serta tas oleh-oleh saja.


“Kayaknya sih engga de, coba liat lagi dikamar kata Anto. Dini masuk ke kamar yang ditempati Anto, dia memperhatikan sekelilingnya, dia melihat charger HP Anto masih menancap di saklar, Anto menyusul Dini ke kamar dan menutup pintunya


“Ni kan, charger masih nancep, bisa repot nanti kalau kelupaan” kata Dini menyerahkan charger itu. Anto mengambilnya sambil menarik tangan Dini lalu memeluknya erat, dia memegang dagu Dini dan langsung mengecup bibirnya lembut. Dini terkejut, namun dia diam. Anto melepas bibirnya, memandang Dini lembut, lalu mengulang ciumannya lembut, kali ini Dini membalasnya, sehingga ciuman mereka berlangsung lama karena diulang berkali-kali.

__ADS_1


“Jangan pernah takut untuk memulai lagi, maz akan setia dan sabar nunggu kamu sampai kapanpun” kata Anto mengakhiri kegiatan mereka saat itu.


Dini melepas pelukan mereka dan berjalan keluar kamar. “Hati-hati ya Steve” kata Dini saat mengantar Anto dan Steve sampai ke mobil. “Sampai Jakarta kabarin ade ya maz” pinta Dini


“Insya Allah” jawab Anto, “Cium sayang buat Moya ya de” kata Anto, tadi dia sudah menciumi Amora sehabis sholat, dia minta ijin masuk kamar saat Dini membuat minuman.


“Buat mommy nya engga?” goda Steve


“Mommynya mah langsung cium aja kalau boleh, ga perlu dititipin via orang lain” kata Anto santai


“Emang lo ga bisa nyuri, pake minta ijin dulu” goda Steve lagi


“Udah sana berangkat, nanti telat” usir Dini agar ga kelamaan digoda Steve


 Steve memeluk Dini dan memberikan cium pipi lalu masuk ke mobilnya. Sesudah itu giliran Anto memeluk erat Dini seakan ga ingin melepaskannya, seakan ga rela berpisah. Dibisikannya kata-kata manis ditelinga Dini : “I love you so much de”


***


“Serius dia nolak elo?” tanya Steve yang mendengar cerita Anto tentang penolakan Dini terhadapnya


“Dia trauma akan perpisahan, dia trauma diintervensi mertua, dan pastinya dia benci statusnya sebagai janda” jelas Anto pada Steve


“Mama lo kan ga reseh kayak mamanya Harry, dan kalau kalian nikah kan ga bakal kalian pengen pisah, trauma apa lagi. Ga semua laki-laki sama kan?” tangkis Steve “Dan kalau kalian nikah kan dia udah ga jadi janda lagi?” lanjut Steve bingung, dia jadi gregetan sendiri.


“Dari sudut pandang dia ga semudah itu, gue harus bersabar memadamkan api dukanya dulu. Ga bisa langsung nanam benih kepercayaan kalau bara itu belum padam. Sedihnya, air yang jauh ga bisa memadamkan api disini” kata Anto mencoba bersabar. Walau saat dikamar tadi Dini merespon ciumannya, entah apa yang ada dipikiran Dini, Anto ga bisa menerkanya


“Lo harus rajin datengin Dini, karena percakapan by phone itu ga terlalu sama hasilnya dengan touch saat ketemu Nto. Lo inget kertas ga bisa ngebungkus api”


“Niat gue gitu, pengennya tiap Minggu, tapi gue yakin dia bakal marah” tegas Anto

__ADS_1


Hari ini Dini mengajar membawa mobil, karena dia full ngajar lalu langsung kuliah. Rabu adalah hari yang sangat padat dan melelahkan baginya


***


Sudah seminggu sejak kepulangannya ke Jakarta, Anto belum pernah bisa bicara lagi dengan Dini. Wanita itu benar- benar memutuskan komunikasi antara mereka, setiap telponnya ga pernah diangkat, bahkan Anto sengaja telpon saat jam kosong mengajar, sore bahkan malam sekalipun ga pernah ada tanggapan. Namun dia ga pernah mau minta bantuan Steve mencari tau kondisi Dini


Anto melarikan ke galauan hatinya dengan menenggelamkan dirinya dengan kesibukan bekerja. Hari ini dia pulang sore, karena nanti habis maghrib ada pengajian rutin bapak-bapak setiap malam Jum’at yang kebetulan kali ini dia mendapat kesempatan menjadi tuan rumah. Saat menuju kamarnya dia mendengar Sari sedang menelpon seseorang, biasanya dia ga perduli, namun karena mendengar nama Amora, dia berhenti sejenak didepan kamar Sari yang pintunya tidak tertutup.


“Wah Amora pinter ya mbak, jadi kangen banget ama si chubby itu. Iya mbak nanti aku sampaikan salamnya ke mama. Daaaag assalamu’alaykum” kata Sari mengakhiri telponnya


Kalau ama Sari koq dia mau telpon ya, tanya Anto dalam hatinya. Mengapa semua telponku di tolaknya lanjutnya lagi


***


“Pak, ini jadwal meeting di India dimajukan 2 minggu dari jadwal semula dari kantor pusat. Dan ini berkas data dari email serta kode pemesanan tiketnya” lapor Supriadi, sekretaris Anto


“Makasih Di, berkas-berkas ter update saya tunggu terus selama 2 minggu tersisa ini ya. agar ga ada data yang miss” kata Anto sambil mengernyitkan jadwal keberangkatan tugas nya ke India. Hari pertama pembukaan rapat akbar tahunan itu kan bertepatan dengan ulang tahun ke 4 Amora. Padahal sebelum jadwal dimajukan, dia yakin bisa datang ke Jogja sepulang dari India


“Pak, ada telpon dari bu Gita di line 2, apa mau diterima?” kata Yadi di telpon kantor


“Boleh, gapapa saya terima” kata Anto. “Assalamu’alaykum bu, apa khabar?” kata Anto pada mertuanya yang menghubunginya melalui nomor telpon kantor


“Wa alaykum salam, ibu dan bapak sehat. Ibu mau kita ketemu, kapan ya bisa nya Nto?” tanya bu Gita to the poin.


Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini


Jangan lupa like dan vote nya ya


jangan lupa mulai intip-intip spin cerita ini dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR ya

__ADS_1


__ADS_2