
71 TAKUT KHILAF
“Maunya sih sekamar bukan ama Steve” goda Anto
“Steve, istirahat sana, pilih aja tu kamar depan sudah disiapin simbok, mau sekamar ama Anto atau sendiri-sendiri?” tanya Dini mengalihkan pertanyaannya. “Kamu juga wedang jahenya belum diminum tuh udah mau dingin” kata Dini
“Lha emang siapa yang mau nginep? Kita nginep sini Nto?” tanya Steve serius
“Gue ikut elo lah, yang punya kamar di Jogja kan elo, masa gue harus nyebrang buat tidur di Inna Garuda” kata Anto menyebutkan hotel disebrang stasiun Tugu
“Iiih sombong, daripada buat bayar kamar Inna Garuda, mending buat beli wedang ronde di alkid ( Alun-alun Kidul )” canda Dini
“Eh kita ke Alkid yok” ajak Steve, dia malah lupa kalau ragu nginep di Bumijo
“Besok malam lah, Sabtu kan aku libur” kata Dini “Atau lusa pas malam minggu. Maz pulang kapan?” tanya Dini pada Anto
“Mungkin hari Rabu” kata Anto
“Ya sudah, pada istirahat sana” usir Dini
“Masa kami tidur lebih dulu dari Amora? Baru juga jam 8” tolak Steve
“Terserah kalian lah. Kalian yang tau kondisi badannya sendiri, yang pasti habiskan itu wedang jahenya” perintah Dini. “Maz kalau mau sholat kiblatnya kesana ya,” kata Dini menunjuk arah kiblat, “Tapi kalau mau di belakang ada ruang sholat. Seperti rumah jaman dulu pada umumnya, ga ada kamar mandi dikamar, kamar mandi terdekat dengan kamar kalian yang itu,” kata Dini menjelaskan letak kamar mandi dan ruang sholat. “Aku sholat dulu ya. Maz mau bareng?” ajak Dini
“Iya bareng aja de” jawab Anto dengan senang.
***
__ADS_1
“Aku ngeloni Amora dulu ya, kalian rehat aja sana’” kata Dini, namun kedua tamunya itu tetap menolak dan memilih duduk di teras, cari angin kilah mereka
Amora sudah lelap, Dini menciuminya sebelum menyelimutinya, Amora adalah dunianya, walau dia mengajar, tapi focus hidupnya saat ini adalah bidadari kecilnya. Ditinggalnya Amora dikamar, tak lupa dia mengatur bantal dan guling untuk menghalangi Amora agar tidak terjatuh
Keluar kamar Dini menghampiri simbok terlebih dahulu, memintanya untuk membuat jahe lagi 2 gelas saja, 1 gelas dengan gula batu dan yang lain dengan gula merah
“Mbok, besok pagi bikinkan kopi dan teh ya buat tamunya, sarapane roti bakar aja” kata Dini pada simbok yang memang belum tidur bila Dini belum masuk kamar
“Besok sudah siap buat bikin bubur ayam mbak, tadi sudah beli cakwe,” jawab simbok
“Oh yo apik, nek wis siap bubur ayam, malah enak mbok” jawab Dini. “Habis bikin wedang jahe simbok tidur aja, takutnya aku ngobrol sampai malam, ga usah nunggu aku tidur” perintah Dini
“Njih mbak” kata simbok lalu beranjak menuju dapur
Dini menuju teras, diruang tamu saja sudah tercium bau asap rokok yang masuk kedalam rumah. “Kenapa kamu ga milih Bali?” tanya Dini pada Steve
“Koq bisa?” tanya Dini
“Tiap hari saat mau ke kantor atau pulang kantor akan liat wisatawan pakai bikini, karena ngelewatin lokasi pantai” jelas Steve
“Cemen, kan kalau udah rutin liat malah mblenger ( dari bahasa jawa yang artinya hampir sama dengan bosan karena terlalu banyak atau terlalu sering ), malah udah ga minat” kata Dini
“Dia mah mana ada istilah mblenger, yang ada malah pengen nyaplok, makanya dia bilang takut khilaf” sindir Anto yang dibalas dengan tawa oleh Steve
“Ngomong-ngomong pantai, hari Sabtu kita ke paris ( Parang Tritis ) yok. Aku kangen lokasi wisata Jogja, sudah lama banget aku ga kesini setelah mami dan papi meninggal” sela Steve. Dia memang lahir hingga berusia 8 tahun tinggal di Jogja karena ibunya adalah putri Klaten yang sejak kecil sudah menetap di Jogja. Namun embah nya tetap tinggal di Klaten
“Boleh” kata Dini. “Tu, diminum lagi wedang jahenya, malam ini ga ada kopi buat kalian” kata Dini
__ADS_1
“Besok berangkat jam berapa de?” tanya Anto.
“Jam 7.30 biasanya becak langganan sudah njemput maz,” jawab Dini
“Besok bareng kita aja, aku harus ambil baju ganti di mess kalau mesti nginap sini, sekalian besok seharian mau liat-liat jalur terdekat dari mess ke kantor, juga mau beli perlangkapan kamar yang belum ada, selain sembako buat isi dapur.” kata Steve memaparkan rencana kegiatannya besok
“Emang ada yang mengharuskan kamu nginep sini” goda Dini yang ga sadar malah akan jadi boomerang bagi dirinya sendiri
“Oh gitu, jadi yang diharuskan nginep sini cuma maz nya aja? Cuma daddynya Moya aja, papa engga?” tembak Steve langsung, membuat Dini tersipu malu. Andai wajahnya putih tentu akan terlihat rona merah dipipinya. Untungnya saat itu sudah malam dan wajahnya hitam manis sehingga ga akan ada yang melihat rona merah itu
“Udah ah, aku masuk duluan ya, tolong nanti kunci pintu depan, aku ga mau besok telat ngajar karena begadang dengan kalian” pamitnya untuk menghentikan godaan Steve. Sebelum masuk diambilnya bungkus rokok jisamsoe milik Anto. Steve dan Anto hanya tersenyum melihatnya
“Lo liat kan? Rokok gue ga dia ambil, karena dia cuma perduli ama elo. Belum lagi ni wedang jahe bakar, gara-gara lo bilang kembung. Tunggu apa lagi sih lo?” kejar Steve pada Anto
“Gue udah bilang ama dia pas gue ultah, mungkin timing nya ga tepat bikin dia malah marah. Waktu itu kan dia belum resmi pisah, gue pikir dia ga mau nama gue keseret-seret sebagai pihak ketiga yang bikin dia cerai. Makanya sehabis lo cerita dia udah cerai dan pindah kesini aja gue ga mau hubungi dia, gue mau dia cooling down, gue tau berat buat dia nyandang gelar janda. Gue ga mau salah langkah, walau gue dan dia sama-sama tau kalau kami pernah saling cinta dan juga tau rasa itu masih ada sampai sekarang, tapi gue hafal sifat dia. Dia pasti akan mikir 1000 kali buat nerima gue, apalagi nerima orang baru” cetus Anto
“Jadi gue ga khawatir akan ada kompetitor, tapi gue lebih khawatir dia belum siap dan ga yakin memulai langkah ama gue. Maka sampai gue pulang besok, gue ga akan negasin kalau gue mau memulai langkah ama dia. Gue cuma mau bikin dia ngerasa nyaman lagi seperti dulu. Gue yakin dia bisa tau alasan gue sampai sini walau gue ga ngucap apapun” jelas Anto panjang lebar
“Lo salah besar kalau lo ga ngungkapin alasan lo kesini, lo tau kan dia ga mau ke ge er an. Inget tragedy lapangan basket. Sejelas apapun lo tunjukin sikap lo ke dia, kalau lo ga ucapin, dia akan ragu menentukan langkah. Apalagi sekarang dia minder karena bukan single tapi janda anak satu” Steve menjelaskan panjang lebar pendapatnya, dia ga mau Anto kembali gagal membina hubungan dengan Dini seperti ketika masih remaja dulu.
Paginya Dini berangkat diantar Steve dan Anto, namun dia tetap memesan pada tukang becak langganannya untuk menjemputnya jam 10 nanti. Karena dia memang biasa pulang dulu. Nanti jam 1 siang baru berangkat kegiatan MGMP.
“Pak mangke petuk jam setunggal nggeh, bioso teng dinas” kata Dini saat akan tiba di rumah sepulang ngajar. Dia minta agar dijemput jam 1 siang untuk pertemuan di dinas pendidikan. Memang dia juga sering seperti itu.
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini
Jangan lupa like dan vote nya ya
__ADS_1