
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini, 2 hari sebelum pernikahan, calon penganten tambah berdebar nih, malah Dini pakai minta Anto mikir ulang dan dipersilahkan membatalkan niatnya. wah gimana dong kalau batal nikah??
ikutin keseruannya yok.
Tapi jangan hanya baca … kasih yanktie semangat dengan cara kasih kasih like dan vote serta komen dan bintang 5 nya.
Inget juga pesan yanktie, jangan lupa mulai intip-intip spin cerita ini dengan judul ** KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR** ya.
-------------
Sore ini Steve datang ke Bumijo, besok mereka akan berangkat bareng. Dini meminta simbok dan mbak Inah meletakan semua koper mereka di ruang tamu agar tidak ada yang tertinggal. Kali ini simbok pun ikut berangkat ke Jakarta. Dini menitipkan rumah pada pak Narto. Untuk menyiram tanaman, memberi makan burung dan ayam kate serta menyala dan matikan lampu teras.
Besok pagi jadwal penerbangan mereka pukul 07.40. Steve meminta seorang staffnya membawa mobilnya serta di tambah 1 mobil kantor, karena dia yakin 1 mobil ga cukup untuk orang dan barang rombongan mereka kali ini.
“Maz, insya Allah besok ade berangkat ke Jakarta, sebelum terlambat masih ada 1 malam ini untuk Maz berpikir ulang,” kata Dini saat mereka absent malam.
“Mikir apalagi cintaaaa?” tanya Anto memanjangkan kata cinta.
“Maz pikir ulang, apa nanti ga akan nyesal mendapatkanku, kamu nanti bukan laki-laki pertama untukku, aku sudah bekas orang. Kalau Maz mau mundur, masih bisa malam ini, agar aku ga perlu berangkat ke Jakarta,” jelas Dini penuh ragu.
“Andai kamu disini, maz akan langsung njitak kamu de, maz gregetan ama kamu, koq bisa sih punya pikiran gitu, koq bisa sih ragu ama maz? Jangan-jangan kamu yang emang ga mau nikah ama maz!” balas Anto, dia sedih karena Dini masih aja meragukan dirinya.
“Koq malah di balikin, Maz nuduh ade yang ga mau nikah ama Maz, buat ade Maz itu terbaik, ade ga perduli di luar sana banyak laki-laki yang lebih segalanya dari Maz, tapi mereka bukan terbaik untuk ade. Buat apa ade menikah dengan pria seperti mereka,” kilah Dini sedikit kesal.
“Ade inget saat ade cerita tentang kehamilan Moya di taman Suropati? Maz bilang apa de? Maz bilang andai kamu hamil saat maz sudah bukan anak STM, maz pasti bertanggung jawab menikahi kamu, ga perlu maz perduli siapapun yang membuat kamu hamil. Tapi saat itu maz terbentur status maz yang masih anak SLTA yang dalam peraturan ga bisa menikah. Dari situ jelas ga sih maz tu ga perduli maz bukan yang pertama untuk tubuhmu? Karena maz tau dan yakin, maz ini yang pertama dan terakhir di hatimu. Itu yang terpenting de'. Ngerti ya? Jangan pernah rendah diri gitu. Kamu segalanya buatku!” kata-kata itu terucap dari bibir Anto yang terbata, dia sedih karena Dini merasa ragu dan rendah diri akan status janda anak 1 yang di sandangnya. Sedikit airmata keluar dari matanya.
“Maaf Maz, maaf kalau sudah meragukanmu, Maz jangan sedih gitu. Ade minta maaf yaaa. I love you so much. Benar Maz yang pertama dan terakhir di hati ade,” jawab Dini memastikan.
“Besok sejak berangkat, lalu sampai di Jakarta dan sampai Cilandak kabari maz terus ya? please janji ga bikin maz panik,” pinta Anto.
“I promise. Assalamu’alaykum my love,” kata Dini mengakhiri perbincangan mereka malam ini.
__ADS_1
***
Jam 06 pagi 2 orang staff Steve datang dengan mobil kantor, mobil Steve sudah berada di Bumijo. Mereka segera memasukan semua koper, sehabis sarapan mereka berangkat menuju bandara. Sesuai janji Dini menghubungi Anto mengabarkan saat dia sudah di bandara.
“Bismillah ya cinta, have a safe flight my sweet heart!” doa Anto sambil masuk ke mobilnya. Hari ini dia masih kerja sebelum cuti nikah serta libur akhir tahun. Dia akan mulai bekerja lagi tanggal 5 Januari tahun depan.
Di kantor sebentar-sebentar Anto melirik ke jam tangannya, dia menunggu khabar Dini sampai di bandara Jakarta, dia sangat was-was. Sudah 1 jam sejak jadwal pesawat berangkat, seharusnya Dini sudah menghubunginya karena waktu penerbangan Jogja-Jakarta hanya 40 menit. Dia terus berdoa semoga tak terjadi hal-hal yang tidak dia inginkan.
70 menit sejak pesawat take off baru Dini menghubunginya, ternyata karena banyak koper yang mereka bawa, ada 1 koper kecil yang belum mereka temukan. Anto bersyukur mereka tidak mendapat kendala di perjalanan, dia memberitahu mobinya dan mobil kantor sudah standby di bandara untuk mengantar Dini ke Cilandak. Yadi yang menunggunya, sehingga Dini sudah kenal.
Di sinilah Dini saat ini, di rumah masa kecilnya. Di kamar tidurnya sejak dia berumur 5 tahun hingga dia kelas 3 SMP sebelum dia pindah ke Rawasari. Dini meletakan kopernya di kamarnya lalu menggantikan Amora baju agar tidak gerah dengan baju perginya.
“Diminum pak Yadi, pak Zul, ga usah buru-buru balik kantor, cape kan jauh dari bandara ke sini,” kata Dini menawarkan minuman dan snack yang sudah di keluarkan mbak Inah.
“Iya bu, cukup, kami langsung pulang aja, karena boss bilang mau pulang cepat, takut dia nungguin mobil,” kata pak Zul yang menyopiri mobil Anto.
“Oh gitu? Ya sudah, habiskan dulu minumnya dan terima kasih atas bantuannya,” jawab Dini.
“Assalamu”alaykum cintaku, sudah sampai di Cilandak, Moya gimana?” tanya Anto tanpa jeda.
“Daddy” panggil Amora.
“Eh anak daddy yang telepon ya? Assalamu’alaykum anak cantiknya daddy, cape ga sayang? Moya sudah maem?” tanya Anto lembut.
“Wa’alayitum cayam … ndak tape!” jawab Amora.
“Anak daddy nih aneh, salam kamu bilang cayam, kenapa cape jadi tape sih, cape sayang, bukan tape, coba bilang cape,” Anto membetulkan kosa kasa Amora.
“Nda mau, tape,” jawab Amora ngeyel. Dini tertawa mendengar debat daddy dan anaknya itu.
“Mommy, awas ya, malah ngetawain daddy, like mommy like daughter, jago ngeyel” kata Anto mendengar Dini tertawa
__ADS_1
“Kami sudah di Cilandak ya dadd, pak Zul sudah balik dari sini. Daddy jangan kecapean ya,” jelas Dini, karena Amora langsung memberikan HP padanya ketika melihat banyak anak kecil saudara-saudaranya yang bermain di halaman.
“Sebentar Dad, jangan di putus dulu” kata Dini pada Anto. “Mbak Inah, tolong jaga Amora main di depan. Jangan sampai jatuh atau celaka, bisa ribut besok orang-orang yang datang kalau Amora lecet. Mbak Inah focus Amora wae, ra sah nyekel pegawean liyane yo” perintah Dini pada pengasuh Amora, memintanya tidak bekerja apapun selain mengawasi Amora saja.
Anto yang mendengar perintah Dini pada mbak Inah tersenyum kecil. “Hallo dad, jangan telat maem yo,” pinta Dini.
“Mom, kamu mulai cerewet ya,” goda Anto.
“Kalau ga mau di cereweti ra sah rabi,” kata Dini singkat, mengatakan pada Anto kalau engga mau di cereweti engga usah menikah.
“Hahaahaha, iya cintaaaa, tu mulut jangan monyong ya, kalau kelihatan dari sini nanti daddy cium lho,” balas Anto gemas membayangkan mulut Dini yang pasti monyong karena keqi.
“Minum vitamin Maz, jangan sampai drop, lebih-lebih besok mulai acara pengajian dan di sini ada ritual siraman, jangan sampai kita sakit ya,” kata Dini. Bapak memang mengikuti ritual adat, dia mengadakan malam midodareni dan siraman menjelang pernikahan Dini lusa.
“Aku tutup dulu yo Maz, mau ngasih maem Amora dulu, miss you Maz. Assalamu’alaykum”
***
Steve mengikuti pengajian di rumah Anto, dia memperhatikan semua tata caranya. Pengantin pria memang ada yang tidak melakukan siraman, oleh karena itu keluarga Anto melakukan pengajian saja, saat pernikahan dengan Shinta bu Rahma tidak mengadakan pengajian seperti ini.
------------------------
Yuhuuuuuuuuuuuuuuuu, tinggal 2 hari lagi mereka akan halal.
Biar ga penasaran ikuti ceritanya di bab berikutnya yaa, udah mau habis koq.
Sambil nunggu yanktie up bab berikutnya baca kisah menarik milik teman yanktie ini ya
Keren abizz ceritanya
__ADS_1