CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
MAZ BUKAN MAS


__ADS_3

HAPPY READING


Namun bukan penjelasanku yang dia tangkap, tapi kata-kata panggilanku untuknya.


“De? Kamu panggil aku de? Oke aku tetap panggil kamu mas, tapi mas nya beda” jawabnya. Dia mengambil buku milikku dan menuliskan kata MAZ di cover depan bukuku. “Kamu special, jadi kamu maz ku” lanjutnya.


Dan sampai saat ini buku itu aku simpan. Karena itu panggilan special pertama darina untukku.


Kamu special katanya, apa itu artinya dia juga menyukaiku seperti aku menyukainya?


FLASHBACK OFF


Hari ini aku akan mengunjunginya, walau karena kesalahanku delapan bulan lalu dia sedikit menjauh dariku.


Ya delapan bulan lalu aku melukainya di lapangan basket. Aku tidak berpikir dampaknya akan seperti itu. Setelah kejadian itu dia minta izin untuk pacaran dengan Robby. Robby temanku juga, aku pikir dia tak akan lama pacaran dengan Dini gadis kecilku itu.


Robby playboy,  enggak suka musik dan semua kegiatan yang Dini suka. Dia jago pesta, enggak ngerokok, walau sesekali minum. Jadi ku izinkan saja biar Dini tidak marah dulu denganku. Begitu pikiran simple ku saat itu.


Aku pasti akan melarang bila Steve yang menyatakan cinta pada Dini. Steve jago puisi, suaranya merdu saat menyanyi dan dia biduan di groupnya, jago main piano dan gitar, humoris, lembut dan pastinya jago ngerayu wanita, enggak suka miras walau merokok.


Dan Steve juga sangat dekat dengan Dini. Buat Dini dan Steve panggilan sayangku atau yank adalah panggilan antar mereka. Namun setahuku, Steve menyayangi Dini sebagai pengganti adiknya yang sudah meninggal bersama kedua orang tua Steve saat kecelakaan di ruas tol Jagorawi.


Sepulang sekolah aku mencoba ke rumah Dini, ternyata pembantu rumah tangganya bilang dia belum pulang kuliah. Enggak  nyangka gadis kecilku sudah jadi mahasiswi.


Keluar dari rumahnya aku berpapasan dengan Robby.


“Nyari Dini?” sapanya tenang.


“Iya, lo tau jam berapa dia pulang?” tanyaku. Aku pikir sebagai pacarnya Robby pasti hafal jadwal kuliah Dini.


“Hari ini dia pasti nemenin Harry latihan balap motor grass track di Pulo Mas,” jawab Robby santai.

__ADS_1


“Nemani Harry? Buat apa?” tanyaku heran.


“Dia pacaran ama Harry sejak sebulan lalu,” jelas Robby sendu. Aku melihat dia cukup terpukul mengatakan hal itu. Lelaki sekelas Robby menampilkan mimik seperti itu adalah hal yang sangat aneh bagiku. Tak terlihat wajah tengilnya lagi kali ini.


“Serius? Lo ga bo’ongin gue kan?” tanyaku heran.


“Panjang ceritanya Nto, tapi kalau lo mau ketemu dia, cari aja di Pulo Mas,” kata Robby sambil kembali menjalankan motornya.


Saat itu cowoq bawa motor itu sudah cukup bergengsilah. Karena tak semua pemuda bisa memiliki motor. Apalagi mobil. Tak seperti saat ini.


Aku bergegas putar haluan vespaku, tak habis pikir koq bisa aku kecolongan seperti ini? Aku bahkan tidak tau dia putus dengan Robby.


Bahkan yang aku takutkan dia dekat dengan Harry. Laki-laki yang menurutku tidak baik. Harry tiga tahun lebih tua dariku dan Dini, tapi kelakuannya sangat minus. Tak pernah bersikap dewasa, pemabuk, pengguna narkoba, drop out kuliah, enggak kerja, hobby kebut-kebutan.


Bagaimana gadis kecilku bisa berada didekatnya? Aku takut pengaruh buruknya berimbas ke gadis kecilku. Aku berharapDini selalu dalam lindunganNYA.


Sesampai di Pulo Mas aku lihat gadis kecilku dari jauh. Dia masih bawa tas lengkap buku kuliahnya, artinya dia belum pulang ke rumahnya, dari kampus langsung kesini.


Wait, aku enggak salah liat kan? Ada rokok di tas nya. Dia menggunakan tas jaring sehingga apa pun isi tasnya akan terlihat jelas. Dia memberikan handuk kecil ke Harry, juga air kemasan dari botol yang sejak tadi dia pegang.


***


Di sini lagi, di teras ini, teras yang dulu sering kusambangi. Pembantunya  bilang Dini ada di kamarnya. Geram berpadu kangen membuatku tak sabar menunggunya keluar. Dia masih manis, hanya dengan kaos ungu muda dan celana kain dibawah lutut berwarna ungu tua. Warna favoritenya. Rambutnya yang sebahu dia kuncir satu asal-asalan.


Kami tadi bicara panjang di sela sholat maghrib. Aku sudah tau sandiwara yang dibuat Harry, entah kenapa aku menganggapnya sandiwara.


“Ya sudah Maz pamit dulu,” kataku sambil berdiri. “Pamit dulu ke mami yok!” pintaku


“Lho koq pulang Nto, enggak makan di sini aja, habis gitu kita main catur sambil nunggu Om pulang,” kata maminya saat aku pamit. Emang satu rumah di sini semua senang main catur, tidak seperti mama dan anggota keluargaku di rumah, tak ada yang bisa main catur sama sekali.


“Wah kali ini enggak bisa Tante,” jawabku sopan. “Lagi focus buat ujian akhir.”

__ADS_1


“Oh iya, kamu baru mau ujian ya, semoga lulus dengan bagus ya Nto,” doa tulus maminya dapat kutangkap dengan baik.


Di depan aku pamit padanya, aku masih sangat berharap dia segera resmi jadi kekasihku. “Maz pamit ya, masih boleh peluk seperti biasa kan?” tanyaku pelan. Berharap aku masih bisa memeluk dan mencium keningnya seperti dulu saat belum terjadi tragedi lapangan basket itu.


Dia tidak menjawab apa pun, hanya langsung memelukku erat. Kucium puncak kepalanya seperti kebiasaan sejak dulu. Sebelum pulang ku usap rambutnya, hal yang paling dia suka untuk aku lakukan.


PRASETYANTO END POV


***


Dini berupaya sebaik mungkin dan secepat mungkin merubah Harry menjadi lebih baik. Secara perlahan Harry mulai berkurang mengkonsumsi narkoba, mulai jarang mabuk walau masih sering minum. Kata teman-temannya dia juga sudah berkurang main perempuan.


Yang pasti dia mulai mengurus nilai-nilai di kampus lamanya untuk memulai lagi kuliah di kampus baru, Dini berharap beberapa mata kuliah yang sudah lulus bisa diperhitungkan di kampus baru Harry, sehingga dia bisa cepat lulus.


Dini pikir Harry hanya mahluk metropolitan yang kesepian ditengah hiruk pikuk dunia. Dengan sedikit attensi Harry mulai berubah banyak.


Dini sangat senang dengan progress ini. Sesekali Dini ketemu Robby untuk mendiskusikan perkembangan ini. Perasaannya ke Robby kembali seperti sebelum mereka jadian, karena sejak dulu dia tak pernah serius sayang ke Robby sebagai pacar. Dini jadian ama Robby karena buat ngilangin sakit hati sehabis dianggap “adek” oleh Anto.


Dan akhir-akhir ini Dini melihat Robby mulai jalan dengan teman satu fakultasnya. Tak ada rasa cemburu di hatinya, atau sakit hati karena di tinggalkan. Sebaliknya Dini malah senang karena Robby bisa move on.


Dulu dia menangis waktu Robby bilang dia di minta jadian dengan Harry bukan karena sedih diputusin Robby, dia hanya terluka karena dia tidak dianggap! Dia hanya diperhitungkan sebagai barang yang bisa dioper semaunya.


Malam Minggu, Harry datang ngapelin. Seperti malam-malam Minggu sebelumnya, papi dan maminya Dini tidak suka akan kehadirannya. Tiap dia datang mereka akan pasang wajah masam. Begitu pun jika dia pamit.


Malam ini Harry akan mengajak Dini ke ultah temannya, tidak jauh, hanya di Rawamangun, saat dia pamit minta izin mami memberi tahu tidak boleh pulang larut malam. Harry menyetujuinya.


\===================================================


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya

__ADS_1


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2