
“Ma, selama ini Yo banyak ngalah, selama ini mama ga anggap Leo ada. Selama ini mama ga pernah dengar kalau Yo kasih tau fakta tentang Harry, jadi sekarang Yo angkat tangan, mama urus aja tu anak emas mama dengan penuh kasih dan kebanggan seperti yang selama ini mama lakukan” sahut Leo sambil bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Lebih baik dia bersiap untuk berangkat kerja.
Sandra berniat meminta Dini menemaninya mengurus Harry, namun dia sadar nomor HP Dini sudah tak pernah ada yang bisa menghubungi, kemungkinan Dini ganti nomor HP. Akhirnya dengan muka tembok Sandra menghubungi Sarah mengajaknya ke polsek.
“Hallo Sarah, bisa kan temani tante urus masalah Harry di polsek?” tanya Sandra setelah basa-basi tanya khabar.
Sarah yang tadi saat basa-basi bilang hari ini dia santai ga ada kegiatan, begitu diajak untuk urus masalah Harry langsung menolaknya. “Wah sorry tante, aku lagi sibuk, ga bisa nemenin kalau ke polsek” jawabnya santai. Kalau diajak shoping maulah, pikir Sandra, makanya tadi dia jawab hari ini jadwalnya kosong.
Sandra tersadar, bagaimana orang yang baik bila ada tujuannya, namun bila dirasa tidak menguntungkan pada berpaling.
Dunianya serasa runtuh pagi ini. Hari dimana seharusnya menjadi hari bahagia bagi seluruh keluarga besarnya karena hari ini adalah hari ulang tahun pertama Amora, cucu pertamanya.
***
“Alhamdulillah, princess bunda sudah bangun ya, semoga kamu selalu sehat dan bahagia ya anak cantiknya bunda” doa Dini untuk putri kecilnya dihari ultah pertama Amora. Di keluarga besarnya tak pernah ada pesta ulang tahun, bukan ga mampu, melainkan tidak dibiasakan. Sejak Dini kecil dia ingat ketika ultah maminya hanya membuat tumpeng kecil untuk dimakan bersama-sama sambil berdoa mengucap syukur. Ga ada kue tart atau baju pesta.
“Mbak masak hari ini cukup buat makan siang aja ya. buat malam nanti saya bikin tumpeng sepulang kuliah” perintah Dini pada ART maminya, karena mbak Yanti memang di focuskan untuk mengasuh Amora.
“Mbak, nanti makan malam dirumah mami ya, Amora ultah” telpon Dini kepada kedua kakaknya sebelum dia berangkat kuliah. Benar-benar tanpa hura-hura, hanya bersyukur Amora sudah bisa melewati tahun pertamanya dengan sehat.
***
Di polsek Harry tertunduk lesu saat menghadapi mamanya. “Mama bilang kan semalam kamu ga usah keluar cari Amora, kenapa kamu tetap keluar juga? Akhirnya sial begini kan? kesal Sandra terhadap Harry.
__ADS_1
Harry mengangkat wajahnya, memandang mata mamanya dengan pandangan sinis. “Harry nurut mama koq, Harry keluar ga cari Amora, tapi Harry cari kepuasan diri” jawabnya.
Sandra sedih melihat amarah dan duka dimata anaknya. “Kamu harusnya ga seperti ini, kamu harus bangkit dan berjuang untuk mendapatkan Dini kembali” hibur Sandra. “Mama tau kamu pasti bisa bangkit”
“Mama ga kenal Dini. Satu kali dia bilang A, sampai kapanpun akan A, ga pernah akan jadi A’ jawab Harry.
“Dulu sebelum menikah, Dini sudah bilang hanya kasih 1x kesempatan. Bila Harry jatuh dia ga akan lagi menolong untuk bangkit. 1x Harry berbohong maka ga akan ada lagi ampunan darinya. Pernah Harry hampir jatuh, Harry mulai buat ga jujur ke dia dengan mulai merokok, dan Dini masih baik hati memperingati agar Harry ga tergelincir,. Dia sudah sangat baik ketika itu. Tapi pas dia tau Harry berbohong waktu mau bikin pesta kelulusan, apalagi dia tau Harry main perempuan, pintu maafnya sudah tertutup ma. Dia ga marah. dia cuma taruh ****** yang Harry lupa simpen dimana keatas HP Harry di meja kamar. Tapi sejak itu dia ga pernah mau liat muka Harry apalagi bicara. Jadi tanpa mama pancing dengan Sarahpun saat itu dalam hati Dini sudah ga ada celah buat Harry masuk. Apalagi mama sengaja pancing dengan Sarah, itu sama aja mama taruh bom di hidup Harry. Selamat ya ma, mama udah hancurin hidup Harry” jelas Harry sambil bangkit dan masuk ke ruangan didalam polsek.
***
Saat sedang memasak nasi kuning Dini ingat ke Leo, bergegas dia menghubunginya. “Yo, habis maghrib lo dan papa bisa ke rumah mami gue ga?” tanyanya.
“Ada yang penting Din?” tanya Leo hati-hati, karena dia dan papanya belum memberitahu Dini soal penangkapan Harry.
“Ok, gue bilang papa, semoga dia bisa ya, kalau gue pasti bisa” jawab Leo.
“Gue tunggu ya Yo, see you” jawab Dini lalu segera memutus sambungan telpon dan lanjut masak lagi.
Malamnya rumah mami Dini rame dengan kedatangan anak cucu dan menantunya. Rona bahagia tampak disemua yang hadir, ditambah dengan kehadiran Leo. Papa Peter ga bisa hadir karena besok pagi-pagi sekali akan terbang ke Kendari untuk menghadiri seminar. Malam ini dia ingin mempersiapkan materi untuk seminarnya di kota itu.
“Gue bisa ngomong bentar ama elo ga, ada pesan dari Papa” kata Leo saat selesai makan dan semua anggota keluarga ngumpul berbincang di ruang keluarga.
“Bisa, lo duluan ke teras, mulut lo pasti asem kan pengen ngerokok habis makan. Gue ambilin kopi dulu bentar” sahut Dini pengertian pada adik iparnya itu.
__ADS_1
Dini keluar ke teras membawa secangkir kopi untuk Leo dan lemon tea untuk dirinya sendiri.
“Kenapa Yo? Ada yang penting? Kenapa papa ga langsung telpon gue aja?” cecar Dini.
“Papa ga mau telpon, tadinya walau tanpa lo undang emang gue mau kesini karena diperintah papa” jelas Leo. Dia mengisap rokoknya dalam, lalu meyeruput sedikit kopi di cangkirnya. “Lo jangan kaget ya, atau malah lo ga mau perduli?” lanjutnya lagi.
“Lo aneh, nyuruh gue jangan kaget, tapi nanya gue ga mau perduli. Gue harus mikir yang mana nih” tanya Dini atas ucapan Leo yang ambigu itu.
“Subuh tadi Harry ketangkep polisi” jelas Leo. Ditatapnya mata kakak iparnya, dia ingin melihat reaksi di wajah manis itu. Dia ingin mengetahui perasaan kakak iparnya terhadap berita yang dia sampaikan barusan. Dilihatnya wajah Dini datar tanpa reaksi terkejut atau sedih, apalagi marah. Leo berasumsi benar-benar di hati Dini sudah tak ada celah untuk Harry.
“Ketangkep kenapa dan dimana?” tanya Dini.
“Nge gele pas digerebeg di Kemayoran, sekarang di polsek” jelas Leo.
“Trus papa pesan apa buat gue? Suruh nengokin? Atau gimana? Kan lo tau gue udah ga perduli dia mau jungkir balik atau apapun, dia udah mati dihati gue” cerocos Dini kesal. “Gue cuma minta tolong papa dan elo bilang ke Harry ngajuin cerai. Kalau udah begini, nanti dikira gue ngajuin cerai karena dia ketangkep, gue ga mau perduli saat dia susah. Pasti menurut nyokap lo gue lagi yang salah.
“Engga, tadi pagi pas habis polisi telpon kerumah papa langsung kasih tau permintaan lo minta cerai, sebelum mama mikir seperti dugaan lo barusan. Papa juga tau lah pasti mama akan mikir lo sengaja buang Harry saat dia di titik nadir seperti sekarang. Mama kaget karena gue ama papa bisa komunikasi ama elo sedang Harry engga. Papa udah kasih tau semua fakta dari lo soal semua kesalahan Harry. Nah trus tadi pagi nyokap nemuin Harry di polsek, Harry juga cerita ke nyokap kalau lo udah buang dia karena dia udah salah banget ga ikutin aturan lo. Harry cuma pengen ketemu lo dan liat Amora” jelas Leo menjawab keraguan Dini.
Simak terus lanjutan cerita ini di bab selanjutnya ya
Makasih yanktie ucapkan buat yang selalu setia baca kisah ini
Jangan lupa kasih like dan vote serta komen ya
__ADS_1
Salam manis dari Jogja