CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
156 KEPERGIAN KEKASIH HATI


__ADS_3

Hai hai para kesayangan yanktie, sehat semua kan? Terima kasih sudah selalu setia mengikuti cerita sederhana ini. Kenapa yanktie selalu menyampaikan terima kasih untuk yang selalu setia membaca dan memberi like saat kalian selesai membaca bab cerita ini? Karena ada notif siapa aja yang kasih like.


Sediiiiiiih. Gimana ya nasib Dini selanjutnya? Sekarang kita ikutin terus keseruan bab ini. Selamat membaca!


Yanktie mohon sehabis baca bab langsung tinggalin jejak like dan hadiah ya….


Maturnuwun.


----------------


Gadis kecil itu hanya mengangguk sambil terus menangis. ‘Kalau menangis, kamu jadi jelek, nanti enggak punya teman,’ pak Iman yang memang belum pernah punya anak tentu bingung membujuk anak berusia dua tahun. Dan kata-kata yang dia ucapkan juga bukan bujukan karena dia belum berpengalaman membujuk anak kecil. ‘Sini om lihat lukanya,’ Iman mencoba melihat luka gores yang hanya kecil. Dia coba tiup-tiup, namun Dini kecil terpaku akan perbuatannya dan tangisnya berhenti.


Setelah itu Dini kecil tak pernah ingin turun dari gendongannya. Iman bingung mengapa Dini berperilaku seperti itu. Akhirnya dia mendapat jawaban, sejak berusia setahun Dini sudah berpisah dari ayahnya karena kedua orang tuanya bercerai. Iman yang perjaka jatuh cinta pada gadis kecil berkulit hitam itu.


Tentu saja orang tua Iman tak langsung memberi restu saat setahun kemudian Iman minta mereka melamar janda anak tiga. Namun tekad Iman yang kuat membuat sang ayah luluh dan memberi restu. Di belakang hari kedua orang tua Iman bersyukur karena dari pernikahan itu terbukti Iman tidak bisa memiliki anak dari benihnya sendiri. Mereka bersyukur karena menikahi Dyah, mereka punya tiga cucu dari Iman.


Iman turun dari mobilnya dengan bingung. Dia bingung mau bertindak seperti apa menyampaikan berita kecelakaan dan kondisi Dini pada istrinya.


“Tumben Pi, kesini siang-siang dan enggak ngabarin?” tanya bu Dyah. Dipandangi wajah kusut suaminya.

__ADS_1


Pak Iman mengajak istrinya duduk di sofa. Dia menggenggam tangan mungil perempuan yang telah memberinya kebahagiaan dalam berumah tangga. Dengan Dyah dia bisa merasakan dan berperan sebagai suami dan ayah tiga putri. Setelah berkali-kali menarik napas panjang, pak Iman memberanikan diri mengatakan khabr yang pastinya akan membuat istrinya sedih. “Tadi Anto telepon, dia ngasih tahu Dini kecelakaan. Dan kondisinya sekarang kritis di rumah sakit Margoyudan.”


Dyah hanya terpaku mendengar khabar dari mulut suaminya. Lama terdiam, tetiba Iman melihat Dyah sudah terkulai di sofa. Ini yang Iman perkirakan bila dia menyampaikan khabar melalui telepon. Istrinya akan pingsan dan tak ada yang menangani. Makanya dia lebih memilih menyampaikan khabar itu secara langsung. Dia baringkan tubuh istrinya di sofa dan memanggil OB untuk mencari minyak kayu putih serta membuatkan teh hangat untuk istrinya.


***


Sudah sore, saat ini di luar ruang ICU terlihat Steve dan mama yang baru saja keluar. Dan saat ini Anto kembali masuk duduk di sebelah tubuh istrinya. Air mata Anto tak pernah berhenti mengalir. Sesekali dia menjauh dari tubuh istrinya untuk menjawab telepon yang masuk. Dia menjawab dengan berbisik karena kondisi ruang ICU tentu tak memperbolehkan keluarga pasien bicara keras. Tadi Steve bilang Sari dan Adhisty dia antar ke Bumijo agar lebih mudah pengawasannya. Steve dan Sari juga sudah memberi tahu anak-anak Anto kalau mommynya sedang tugas. Dan daddy mereka menemani mommynya. Semua asisten rumah tangga di minta tutup mulut dan jangan terus menangis di depan anak-anak. Memandang ketiga keponakannya, Sari terus menangis. Tak terbayangkan bila mereka menjadi piatu di usia seperti saat ini. Dia mengingat dirinya yang menjadi yatim saat masih kecil.


Pukul 21.30 pak Iman dan rombongan datang ke rumah sakit. Mereka baru dapat pesawat yang berangkat pukul 19.15.  Tangis keluarga langsung pecah melihat kondisi Dini yang pucat dan koma. Mereka hanya bisa mengharap keajaiban. Di rumah sakit yang pingsan adalah mbak Sashi. Dia tak menyangka adik bungsunya mengalami nasib seperti itu.


Menurut teman-teman Dini yang selamat dan saksi mata, saat itu Dini baru saja berhenti karena lampu merah, namun dari arah depan sebuah truk dengan kecepatan tinggi melaju ke arah tiang lampu. Menabraknya dan lalu membanting ke arah mobil Dini. Jadi mobil Dini sedang diam, bukan sedang jalan. Ditabrak dari depan oleh truck yang rem nya blong dalam kecepatan tinggi. Sopir truck mati ditempat. Sedang kondektur truck kritis saat dibawa ke rumah sakit, tapi saat ini juga sudah meninggal. Bu Dyah yang mendengar cerita itu hanya diam tanpa suara. Air matanya terus luruh.


Teguh mencoba mengurut tangan Sashi dan memberinya minyak kayu putih di hidung istrinya. Sashi terpukul karena dia siang tadi baru saja ngobrol dengan Dini saat Dini akan pulang dari meeting.* ‘Aku pamit yo Mbak, ojo kangen aku,’* demikian kata-kata terakhir Dini pada Sashi. “Kuat dong Ma, kita harus kuat. Kita harus ngejaga mami dan papi,” bisik teguh pada istrinya.


Anto langsung memencet bel darurat berkali-kali. Dia panik detak jantung istrinya sudah berhenti. “Mom!” pekiknya sambil menangis.  Dokter dan suster berlarian dan meminta Anto untuk keluar ruangan. Anto keluar dengan lunglai. Dia sangat terpukul dengan kondisi istrinya. Dia tak sanggup membayangkan hidup dirinya dan ketiga anaknya tanpa Dini. Begitu sampai di luar ruang ICU, Anto yang sejak tadi belum makan siang langsung pingsan.


Semua segera berupaya menolong Anto. Mereka sangat mengerti duka Anto. Mereka tahu perjuangan Anto mendapat cinta Dini sejak kecil. “Dengan keluarga ibu Rahdini.” panggil seorang perawat. Tak lama dokter juga keluar.


“Saya papinya,” pak Iman segera mengambil alih komando karena Anto masih pingsan.

__ADS_1


“Maaf, kami sudah berupaya maksimal, namun ibu Rahdini tak bisa bertahan.” dengan pelan dan wajah duka dokter menyampaikan bahwa Dini sudah tiada. Steve bergerak cepat, dia menghubungi Sari dan menyuruh simbok lapor ke RT dan meminta bantuan RT agar di sediakan tenda serta membantu membereskan rumah duka. Mas Teguh segera mengurusi administrasi rumah sakit. Bang Amir dan pak Iman menjaga para wanita yang sedang histeris juga menjaga Anto yang belum tersadar.


“Kamu harus kuat mas, ada tiga anak di pundakmu. Kalau sekarang kamu harus di rawat, apa kamu enggak ingin nganter Dini terakhir kali?” bu Rahma membisiki anaknya.


Pukul 01.43 jenasah Dini dan rombongan tiba di rumah duka. Anto yang baru saja tersadar sejak tadi memegangi dan menciumi tangan dingin istrinya. Matanya sudah bengkak. Begitu sampai di rumah, papi memaksa Anto makan bubur dan minum wedang jahe. Tadi sebelum mereka meluncur pulang memang bu Rahma memerintah simbok masak bubur untuk Anto yang sejak siang belum makan apa pun.


Walau berat Anto menelan bubur yang disiapkan untuknya. Dia harus kuat karena ada tiga anak yang akan bergantung padanya. Dia belum bisa membayangkan apa yang akan dia katakan pada Amora dan Arya nanti ketika mereka bangun?


Dipandanginya wajah tenang istrinya. ‘Kamu tega Mom ninggalin aku.’


***


Hiks hiks, yanktie aja sebagai author nangis nulis berita duka ini. Enggak kebayang maz Anto hidup tanpa kekasih kecilnya itu. Terima kasih sudah selesai membaca bab ini, semoga tidak mengecewakan. Nantikan cerita selanjutnya besok ya. Jangan lupa kasih like sebelum menutup cerita ini.


Salam manis dari Jogja


Sambil nunggu yanktie update bab baru esok hari, coba deh mampir ke karya teman yanktie yang super keren ini, ga bakal nyesel baca ceritanya, judulnya   THE UGLY DUCKLING   karya   BLACK ROSE


Seorang gadis dengan tubuh yang gendut, jelek, dan hitam sedang berusaha merubah takdirnya menjadi cantik dan menarik.

__ADS_1


Saat dia berada di titik terendah dalam hidupnya, masih ada orang baik yang mau mengangkat derajatnya dan menjadikannya seorang putri. Bagaimana kisah selanjutnya? Apakah dia akan menemukan seorang pangeran tampan dan baik hati?



__ADS_2