CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
95 IJINKAN AKU JAHAT KALI INI


__ADS_3

95  IJINKAN AKU JAHAT KALI INI


“Terlalu seneng maz bangun ya sampai lupa lapor dokter?” goda Anto saat dokter sudah keluar ruangan.


“Maz tau, semalam aku ga bisa tidur blas mikirin kamu” rajuk Dini.


“Ya wis, sekarang sini baring disebelahku” kata Anto sambil dia menggeser sedikit badannya.


“Ga, sekarang maz maem dulu, habis itu minum obat baru kita tidur ya?” kata Dini.


“De, maz baru bangun dari tidur lebih dari 12 jam, masih kamu suruh tidur lagi?” rengek Anto. “Maz maem, minum obat lalu nemani kamu bobo ya, kamu bisa sakit lho karena kurang tidur, dan kamu juga belum makan kan?” kata Anto yang tau Dini belum makan karena mengkhawatirkan dirinya.


Dini menyuapi Anto dengan telatennya, dipandangi wajah laki-laki yang semalam  membuatnya putus asa karena saat laki-laki ini sakit dia ga bisa berada disisinya. “Koq ngeliatinnya gitu, kenapa?” tanya Anto bingung.


“Mommy boleh minta sesuatu ke daddy?” tanya Dini dengan masih menatap Anto dalam-dalam.


Mengapa dia mengatakan mommy dan daddy dalam permintaannya, ada apa dengan cinta kecilku ini, tanya Anto di batinnya. Dia jadi takut bila Dini ingin serius menjauh darinya, dia yakin dia ga akan sanggup!


Anto tidak menjawabnya, hanya mengangguk pelan.


“Jawab dad!” perintah Dini.


“What’s wrong with you my sweet heart?” tanya Anto, dia ragu untuk menjawab.


“Jawab aja, boleh ga ade minta sesuatu?” desak Dini lagi.

__ADS_1


“Asal masih bisa maz sanggupi, asal masih bisa ditoleransi, asal ga minta harus pisah ama kamu, maz akan membolehkannya” jawab Anto diplomatis. “Kamu mau minta apa?” tanyanya lagi.


“Maz beneran cinta ma ade? Maz tau gimana rasanya ade waktu tau maz sakit dan ade ga ada disisi maz? Ade ga kuat maz” kata Dini mulai terisak.


Anto mengambil piring ditangan kiri Dini lalu diletakkannya di meja sebelah tempat tidur, dia menarik tangan kiri Dini agar badan Dini bisa lebih dekat dirinya dan dapat dia peluk. Direngkuhnya kepala Dini di dadanya, dia mengecupi puncak kepala Dini. “Mom, I really really love you, believe me, I love you so much, don’t doubt it and don’t ask again” bisiknya.


Dini mengangkat wajahnya dari dada Anto, sekali lagi dipandanginya wajah kekasihnya itu lekat-lekat, dia berkata lirih : “Ijinkan ade jahat sekali ini”


“Apa maksudmu?” tanya Anto, dia sangat ketakutan ditinggal Dini.


“Ade ingin kasus ini tidak dihentikan, ade ingin tidak ada damai kekeluargaan! Ade ga mau ada toleransi, itu permintaan mommy” kata Dini tegas.


“Maksudmu apa de?” tanya Anto bingung.


“Kemarin sore pak Irhan membawa perempuan itu langsung ke kantor polisi dengan membawa sisa kopi maz dan sisa roti yang maz makan. Tadi polisi juga sudah bertemu dokter dan ade dengar semua keterangan dokter serta penjelasan polisi. Polisi bilang saat ini perempuan itu ( Dini malas menyebut nama Puspita ) ada dalam sel karena barang bukti dan keterangan saksi merujuk dia berniat buruk ke maz. Tapi polisi ga menutup kemungkinan dia bebas bila maz tidak memperpanjang masalah ini dan mau damai secara kekeluargaan.” jelas Dini. “Coba maz berdiri disisi Dini, berpikir maz jadi Dini, bila saat itu ga ada pak Irhan dan teamnya, dia akan membuat seolah-olah maz dan dia making love lalu dia akan menyebarkan phooto-photo itu ke Dini dan kantor maz agar dia dinikahi maz. Kebayang ga gimana ade kalau itu terjadi?” isak Dini tapi tetap memandang Anto dengan tegar.


Belum sempat Anto menjawab terdengar salam dari bu Rahma dan Sari “Assalamu’alaykum” kata mereka berbarengan. Bu Rahma dan Sari terpaku melihat Dini duduk dikasur Anto dengan mata sembab sambil tangan kanannya masih memegang sendok makan.


“Wa alaykum salam” balas Dini, turun dari tempat tidur dan menyalami calon mertuanya, namun bu Rahma merengkuhnya dalam pelukan erat. Mendapat perlakuan itu Dini kembali menangis terisak.


“Kenapa nduk? Wis tenang, kan masmu udah sadar tho?” tanya bu Rahma.


“Aku sholat dulu ya ma, sekalian mau keluar makan, mumpung ada mama dan Sari disini” pamit Dini tanpa menjawab pertanyaan bu Rahma, dia keluar membawa tas mukena dan dompetnya.


Sudah hampir 2 jam Dini keluar dari kamarnya, Anto mulai gelisah, dia meminta Sari menghubungi Dini. Terdengar nada dering di tas Dini di meja, rupanya Dini tidak membawa HP nya. Anto ingin lari mencarinya. “Emang tadi mbak Dini nangis kenapa tho mas?” tanya Sari yang penasaran. Anto menceritakan permintaan Dini, Dini sangat sakit hati atas kelakuan Puspita. Dini depresi memikirkan bila teamnya pak Irhan ga ada saat Anto dijebak oleh Puspita.

__ADS_1


“Mama sependapat dengan Dini, perempuan itu emang sudah kelewatan, kalau usahanya berhasil, dan kamu menolak menikahinya, kamu ga akan bisa berkelit bila dia nunjukin dia positive hamil padahal kamu ga pernah melakukan apapun ke dia. Mama juga bisa ngerasain ketakutan Dini semalaman ga bisa langsung terbang kesini saat kamu sedang ga sadar. Jadi kalau kamu lemah dan mau nurutin permintaan damai dari keluarga pak Hadi dan bu Murni, ya mama juga akan marah” kata bu Rahma membela Dini.


“Yang bilang mau damai siapa? Mas belum jawab Dini, saat mama masuk, lalu dia udah pergi aja tanpa kasih kesempatan mas ngejawab. Gimana coba?” keluh Anto putus asa.


HP Sari berbunyi, telpon dari Steve. Setelah saling mengucap salam, Sari memberitahu dia dan mamanya sudah di RS, sedang Steve bilang dia baru bisa meluncur ke rumah sakit sepulang jam kantor, karena Jakarta macet kemungkinan baru sampai rumah sakit sekitar jam 7 malam.


“Ya gapapa, jangan dipaksain kabur kalau masih meeting. Hanya sekarang sedang ada masalah dikit, mbak Dini kabur sudah 2 jam lebih belum kembali, tadi dia sedikit ribut dengan mas Anto” lapor Sari.


“Masalah apa de?” tanya Steve.


“Keluarga Puspita minta damai, dan mbak Dini ga mau kalau mas Anto kasih damai, dan sepertinya mbak Dini memilih mundur bila emang ada perdamainan”


“Udah coba telpon Dini?” tanya Steve.


“HP mbak Dini ditinggal di rumah sakit” jawab Sari.


“Abang masuk dulu ya? Ini bisa telpon karena ijin ke toilet” kata Steve. Walau bingung dengan masalah di rumah sakit namun Steve ga bisa kabur begitu saja karena kedatangannya ke Jakarta saat ini memang untuk urusan pekerjaan.


***


Dini keluar dari ruang rawat Anto, dia menuju mushola lalu nanti akan makan di kantin, dia ingin telpon ke rumah untuk tanya keadaan Amora, namun ternyata dia keluar ga bawa HP. Daripada balik ke ruang rawat Dini memutuskan pulang aja ke Rawasari, bisa makan, sholat serta sekalian melihat kondisi anaknya. Toh Rawasari-Rawamangun sangat dekat, ga butuh waktu lama untuk pp, pikirnya.


Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini, nah lhooooooooooo..mbak Dini kabur kemana ya??


Jangan lupa like dan vote nya ya

__ADS_1


jangan lupa mulai intip-intip spin cerita ini dengan judul  KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR  ya


__ADS_2