CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
158 TERSADAR DARI MIMPI SIANG HARI


__ADS_3

selamat menjalaankan ibadah puasa bagi readers setia yang muslim.


Hai hai para kesayangan yanktie, sehat semua kan? Terima kasih sudah selalu setia mengikuti cerita sederhana ini. Kenapa yanktie selalu menyampaikan terima kasih untuk yang selalu setia membaca dan memberi like saat kalian selesai membaca bab cerita ini? Karena ada notif siapa aja yang kasih like.


Robby tidak menyangka Harry bisa berbesar hati datang ke pernikahan Dini. Dia baru tahu ternyata keluarga Dini memang sangat baik. Sekarang kita ikutin terus keseruan bab ini. Selamat membaca!


Yanktie mohon sehabis baca bab langsung tinggalin jejak like dan hadiah ya….


Maturnuwun.


--------


“Gue datang pas acara akad, karena pas acara resepsi papa yang datang. Saat itu mama masih belum bisa ditinggal hanya dengan perawat.” Harry memberitahu Robby kalau dia datang saat mantan istrinya menikah.


“Gila lo Bro, bisa ya lo datang? Kuat juga nyali lo!” Robby takjub akan sikap Harry.


“Sebelum mereka nikah, Gue ketemu Anto beberapa kali pas ulang tahun anak gue. Anto malah minta gue foto ama dia dan Amora. Buat gue, Dini emang segalanya. Jadi kebahagiaan dia adalah tujuan hidup gue, setelah gue keluar penjara. Dan beberapa bulan lalu pas anak gue ulang tahun, gue ditegur Anto. Dia minta gue selalu perhatiin anak gue. Padahal gue sengaja menjauh karena enggak mau ngeganggu hubungan mereka. Ternyata gue salah besar.” Cerita Harry.


“Karena sejak awal, Dini dan Anto enggak pernah nutupin status gue ke Amora. Jadi ‘tu anak suka sedih kalau gue enggak nyapa dia. Sejak itu gue makin salut ama Anto. Dan gue juga selalu hubungin anak gue kapan pun gue bisa. Dari Anto gue makin yakin, gue enggak akan lagi nyia-nyiain anak gue. Karena Anto ngabarin gue, Amora seneng banget saat pertama gue telepon dia sesudah gue ditegur Anto itu. Orang tua lain mungkin akan nutupin sosok gue yang udah nyakitin Dini ke Amora. Tapi Dini dan Anto enggak. Hidup mereka lurus, makanya mereka bisa berbahagia.” Harry kembali cerita soal Anto dan Dini.


***


Antara sadar dan tidak Anto mengangkat telepon yang menggunakan ponsel istrinya. “Dad.” Terdengar suara Dini menyapanya tanpa salam. Anto terlonjak dari kursinya. Dia terbangun di ruang kerjanya. Rupanya dia tertidur dan bermimpi.* ‘Astagfirullaaaah ….’ *Anto mengucap istigfar berkali-kali. Mimpi di siang hari di kantornya sangat menakutkan dirinya.


“Dad …, koq diem sih?” Dini terus memanggilnya. Dia bingung mengapa suaminya sejak mengangkat teleponnya hanya diam. Apa yang mengangkat bukan Anto? Apa perempuan selingkuhannya? Karena sejak tadi dia menghubungi berkali-kali tidak diangkat. Karena kesal Dini memutus hubungan teleponnya dan langsung mematikan ponselnya. Dia sangat kesal akan sikap suaminya kali ini. Padahal dia menghubungi karena akan melaporkan dia pulang cepat karena akan membawa Abbhie ke rumah sakit.

__ADS_1


Dini segera memacu mobilnya ke rumah dan dia sudah meminta pengasuh Abbhie untuk bersiap. Sehingga saat dia tiba di rumah bisa langsung berangkat ke rumah sakit. “Kalau Bapak pulang bilang saja Ibu pergi. Tidak usah kasih tahu kami ke mana.” Dini berpesan pada semua yang di rumah. Saat itu Amora belum pulang sekolah dan Arya sedang tidur siang. “Ingat, jangan ada yang bilang ke mana saya bawa Abbhie pergi.” Dini segera bergegas membawa Abbhie yang digendong pengasuhnya. Dia segera menyalakan ponselnya. Namun dia blokir nomor suaminya agar tidak terganggu oleh panggilan dari nomor Anto.


***


Anto tersadar, sambungan telepon sudah di putus Dini. Dia segera melihat sekelilingnya. Ternyata dia memang sedang di ruangan kerjanya. Bukan di mobil bersama Amora dan driver sepulang dari pemakaman istrinya. Dia segera meminum teh di mejanya sambil terus mencoba menghubungi kembali nomor istrinya. Sayang nomor Dini tidak aktif. Dia mencoba beberapa kali namun tak juga bisa di hubungi. Akhirnya dia menghubungi nomor kantor Dini. Sayang penerima telepon memberitahu kalau bu Rahdini sudah pulang sejak tadi. Anto jadi ketakutan. Dia takut Dini marah dan membawa mobil sambil marah tentu sangat berbahaya. Anto segera membereskan berkasnya lalu menuju mobilnya. Dia takut terjadi hal buruk karena Dini pulang bukan di jadwal seharusnya. “Pujo, saya keluar sebentar ya, kalau sempat saya kembali ke kantor, tapi kalau tidak sempat ya saya langsung pulang!” demikian pesan Anto saat melewati meja orang kepercayaannya.


‘Aduh Pak, bilang aja langsung enggak bakal balik kantor, bikin ribet aja,’ gumam Pujo dalam hatinya. “Baik Pak.” Namun itu yang keluar dari bibir Pujo saat Anto memberitahu akan keluar kantor dadakan.


***


Anto bergegas menuju ke rumahnya, dari jauh tidak di lihat mobil istrinya. Dia tambah bingung. Karena orang kampus bilang Dini sudah pulang dan ponsel istrinya tidak aktif. Namun dia tetap masuk ke halaman rumah dan segera turun dari mobilnya sambil sedikit berlari. “Assalamu’alaykum. Ibu sudah pulang mbok?” tanya Anto pada asister terlama yang ikut di rumah itu. Simbok sudah bekerja di rumah ini sejak Dini SMA.


“Sampun Pak, terus langsung pergi sama Warni dan den Abbhie.” Simbok jujur menjawab pertanyaan tuannya.


“Ibu bilang mau kemana?” tanya Anto lagi. Apa Abbhie sakit? Tapi saat dia berangkat kerja Abbhie sudah turun demamnya. Beberapa pertanyaan datang ke benaknya. Anto bingung mau menyusul Dini kemana? Sedang ponsel Dini tak bisa di hubungi. Anto hanya bisa mondar mandir di teras rumahnya. Akirnya dia teringat, sang pengasuh Abbhie punya ponsel. Dia masuk ke dalam rumah dan minta nomor ponsel sang pengasuh. Karena nomor itu tak dia simpan di phone book nya.


“Ada di buku telepon dekat telepon rumah Pak,” jawab simbok. Anto segera menghubungi nomor itu dengan nomor rumah. Dia berpikir bila dengan nomor ponselnya bisa jadi Dini akan mengetahuinya dan meminta menolak panggilan darinya. Anto tak ingin mengambil kemungkinan itu.


***


“Ini harus test lab ya Bu, kita ambil sample darah nak Abbhie biar lebih akurat.” Dokter memberi perintah pada suster untuk melakukan serangkaian test pada bocah lucu yang saat ini hanya diam dan pucat.


Sudah hampir dua jam Dini menunggu hasil lab, Abbhie sudah terbaring di kamar rawat dengan infus di tangannya yang di lapis bidai kayu agar tidak mudah tertarik bila Abbhie berontak. Sungguh sedih melihat anaknya harus di rawat. Dini sudah punya tiga anak, dan baru kali ini dia harus menghadapi anak sakit dan di rawat. “Bu, hasil lab sudah selesai. Ibu bisa mengambilnya dan memberikan ke dokter jaga di kantor perawatan ini,” seorang suster memberikan info pada Dini.


“Mbak, aku ambil hasil lab dulu ya, kalau mas Abbhie rewel pencet bel yang ini biar ada yang bantu.” Dini memberi pesan pada pengasuh Abbhie. Niatnya sepulang ambil hasil lab dia akan menghubungi simbok untuk menyiapkan baju Abbhie, baju dirinya juga baju mbak Warni.

__ADS_1


“Njih Bu,” sahut mbak Warni. Dia hanya sedih memikirkan anak asuhan yang dia sayangi sakit. Saat sedang ditinggal ibu majikannya ke laboratorium, ponsel di kantong Warni bergetar. Terlihat panggilan dari nomor rumah majikannya. Warni segera mengangkat sambungan telepon itu. “Assalamu’alaykum Mbok,” sapanya. Dia mengira yang menghubungi adalah simbok, karena semua asisten rumah tangga tidak ada yang berani menggunakan telepon rumah majikannya, kecuali simbok.


“Wa’alaykum salam. Kalian dimana?” tanya Anto tanpa basa basi.


‘Ups Bapak yang telepon,’ batin Warni, dia jadi gugup. “Kami di rumah sakit Bhakti Ibu, Pak. Mas Abbhie di rawat di ruang Cempaka 3. ibu sedang keluar untuk ambil hasil lab darah mas Abbhie,” jawab Warni gugup.


-----------------------------------------


waaah, koq jadi riibut lagi nih mbak Dini dan mas Anto?


 Terima kasih sudah selesai membaca bab ini, semoga tidak mengecewakan. Nantikan cerita selanjutnya besok ya. Jangan lupa kasih like sebelum menutup cerita ini.


Salam manis dari Jogja


Sambil nunggu yanktie update bab baru esok hari, coba deh mampir ke karya teman yanktie yang super keren ini, ga bakal nyesel baca ceritanya, judulnya  ROMANSA DOKTER GANTENG & PELAYAN CAFE   karya    ISTI SHABURU


Niat hati membantu Veronica sang pelayanan cafe cantik dan pendiam yang sedang kesulitan untuk biaya rumah sakit sang ibu dengan cara menikah secara siri.


Agam Arsenio sang dokter ganteng pujaan hati para dokter dan perawat serta pasien wanita malah jatuh cinta kepada Veronica.


Bagaimana kisah cinta mereka?


Apakah mereka akan menikah secara resmi?


Natikan kisah gaje segaje-gajenya.

__ADS_1



__ADS_2