
Hai hai para kesayangan yanktie, sehat semua kan? Bagaimana puasa kalian sampai hari ini?
Terima kasih sudah selalu setia mengikuti cerita sederhana ini. Kenapa yanktie selalu menyampaikan terima kasih untuk yang selalu setia membaca dan memberi like saat kalian selesai membaca bab cerita ini? Karena ada notif siapa aja yang kasih like.
Cepat sembuh ya mas Abbhie. Maem yang banyak biar infusnya cepat dibuka. Sekarang kita ikutin terus keseruan bab ini. Selamat membaca!
Yanktie mohon sehabis baca bab langsung tinggalin jejak like dan hadiah ya….
Maturnuwun.
--------
*“Tell me please? *Jangan hukum daddy seperti ini. Maafin daddy kalau daddy salah. Tapi jangan hukum daddy.” Berulang Anto membisiki kata-kata itu di telinga istrinya yang masih tetap terisak dalam pelukannya. Anto mengangkat wajah istrinya. Dia kecup kedua matanya, lalu keningnya. Setelah itu dia menempelkan kening mereka berdua. Dia menatap tajam mata istrinya sambil sesekali menggesek ujung hidungnya yang bersentuhan dengan ujung hidung Dini. “Cerita apa yang kamu rasa!”
Dini menarik napas panjang. Dia upayakan berhenti menangis. Ditatapnya mata teduh suaminya. Mata yang selalu ada dalam hatinya sejak dia remaja. Mata yang tak pernah bisa dia lupakan walau saat itu dia telah memiliki suami dan seorang anak. Dia perhatikan bibir suaminya. Bibir pertama yang mencium dirinya saat dia tersadar. “Ade marah ke Maz!” lirih Dini berucap. Kalau dia menggunakan sebutan ade dan maz maka percakapan itu lebih intim daripada mommy dan daddy yang biasa mereka gunakan. Karena panggilan ade dan maz sudah ada sejak mereka sama-sama suka, dikala SMP dulu. Saat mereka masih murni suka, belum terkontaminasi dengan orang lain. Sejak mereka menikah panggilan ade dan maz hanya mereka gunakan saat mereka sedang bicara berdua. Karena kalau ada anak-anak, mereka akan ikut memanggil dengan sebutan itu.
Anto yang mendengar kalimat istrinya hanya bisa mengernyitkan alisnya tanda tak mengerti. Dia menunggu kalimat lanjutan dari istrinya. Namun hingga beberapa saat Dini tak juga menyambung kalimatnya. Sehingga membuat dia bertanya. “Kenapa?”
__ADS_1
“Sejak dapat telepon dari rumah kalau Abbhie sakit, ade langsung hubungi Maz. Berkali-kali tapi enggak diangkat. Ade kesel, marah, sedih, takut jadi satu karena Abbhie sakit. Dua jam ade berupaya hubungi Maz. Pas Maz angkat, malah cuma diam enggak bicara. Apa yang angkat teleponku adalah selingkuhanmu?” cecar Dini. Dia mengemukakan perasaannya yang kacau saat mendengar simbok telepon Abbhie sangat panas.
Anto menciumi seluruh wajah istrinya dengan gemas. Matanya, hidungnya, keningnya, pipinya, keningnya dan terakhir bibirnya. Dia ingat kemarin habis mimpi buruk sehingga saat mendengar suara Dini dia hanya bisa terpaku. “Dengerin cerita Maz ya? Jangan dipotong, jangan protes atau interupsi dan jangan marah atau ngetawain.” Anto memberi warning pada Dini sebelum dia memulai cerita sebenarnya mengapa dia hanya bisa terpaku mendengar suara kekasih hatinya.”Promise?”
Dini hanya mengangguk. “Inget ‘kan malam kemarin Abbhie mulai demam dan rewel? Dia sama sekali enggak mau turun dari gendongan Maz. Nah sampai kantor Maz ngantuk, walau di lawan, ternyata enggak sadar Maz tidur. Mungkin ade telepon pas Maz baru aja pulas jadi Maz enggak kerasa ada getar. Pas tidur itu Maz mimpi yang menyeramkan. Maz dapat telepon dari rumah sakit kalau kamu kecelakaan. Maz langsung ngibrit ke rumah sakit. Kamu kritis. Maz hubungi semua. Mami dan semua kakak ngumpul. Tapi kamu enggak selamat. Kamu meninggal. Sampai esoknya dimakamkan. Sepulang pemakaman Moya ngancem Maz. Kalau Maz cari penggantimu, dia akan ikut mami di Jakarta. Enggak mau ikut Maz lagi. Kamu bisa bayangin gimana down nya Maz ditinggal kamu? Belum juga bisa menata hati dan pikiran, dapat ancaman dari Moya. Pulang dari makam, Maz dan Moya satu mobil. Di mobil karena dua malam enggak tidur saat nunggu Abbhie dan kamu, Maz ketiduran. Saat itu Maz kerasa ada telepon. Pas Maz lihat panggilan dari nomor ponselmu. Maz ingat ponselmu ada di mobilmu yang hancur. Maka Maz penasaran siapa yang menghubungi dengan nomor mu. Saat itu masuk suaramu tanpa salam! Maz cuma bisa bingung karena kamu baru aja dimakamin. Maz baru sadar, saat itu Maz bukan di mobil tapi di ruang kantor. Maz coba hubungi nomormu lagi tapi sudah enggak bisa. Saat itu Maz pikir kamu matiin ponsel. Maz telepon ke kampus. Disana mereka bilang kamu sudah pulang. Langsung Maz pulang ke rumah. Di rumah maz baru tahu Abbhie di rawat karena nelepon Warni pakai nomor rumah. Sedihnya mama telepon saat itu mau berangkat ke rumah sakit. Gimana perasaan Maz saat tahu kamu blokir dan kasih tau mama kalau Abbhie di rawat. Sedang Maz sebagai daddynya enggak tau apa-apa?” jelas Anto.
“Ade enggak salah, Maz bisa bayangin dua jam aku hubungi Maz buat kasih tau Abbhie sakit. Kalau Maz marah karena merasa disepelekan sebagai daddy malah enggak dikasih tahu, ya silahkan aja. Lihat aja jam berapa ade mulai hubungi Maz?” Seperti biasa, sifat enggak mau kalahnya Dini mencuat, saat Anto bilang dia terluka karena dia tak diberitahu saat anak mereka sakit.
“Iya, Maz salah. Maafin ya?” Anto tak mau memperpanjang. Ini memang bukan kesalahan mereka berdua. Dia tahu Dini tak salah marah padanya, karena dua jam dia tidak merespon teleponnya. Sedang dia sendiri pun tak salah saat menerima telepon hanya bisa terpaku karena dia baru saja memakamkan orang yang menelpon dirinya. Sampai kapan pun persoalan ini tak akan ada ujungnya bila salah satu tidak ada yang mau mengakui salah. Dia kembali menciumi wajah istrinya.
“Iya sayang, daddy disini,” Anto langsung menggendong Abbhie dan menggeser tiang infus. Saat bersamaan mbak Warni masuk dengan petugas pembawa sarapan bagi Abbhie.
“Dadd, jam sepuluh mommy mau nguji skripsi mahasiswa, jadi jam sembilan mommy ke kampus dulu ya, kalau daddy harus ngantor, biar mbak War nemani Abbhie sebentar. Jam satu an mommy sudah sampai sini lagi.” Dini menerima sarapan yang dibawa mbak Warni dari rumah.
“Daddy enggak ke kantor, nanti jam 9, Pujo akan kesini. Semalam sudah daddy kasih tahu kalau Abbhie di rawat.” Jelas Anto. Dia sudah tahu hari ini Dini tidak bisa mbolos karena dia mendengar semalam Dini minta dibawakan baju kerja. Dan Anto sadar diri kalau Abbhie pasti super rewel bila sakit tak ada dirinya. Tentu saja Dini tenang saat mendengar Anto akan stand by menjaga Abbhie. Dia menyiapkan sarapan dan mengambil sendok. Lalu menyuapi Anto yang sedang menggendong putra mereka. Anto duduk di sofa agar petugas rumah sakit mudah membereskan kasur Abbhie.
“Mau nambah enggak?” tanya Dini.
__ADS_1
“Cukup.” Balas Anto, dia merasa lega saat merasakan Dini sudah kembali normal. Dini menyiapkan air hangat di kamar mandi untuk membasuh badan Abbhie. Dia juga sudah menyiapkan semua perlengkapan mandi dan baju ganti Abbhie.
“Ayok Dadd, bukain baju Abbhie biar basuh dulu badannya.” Dini memberitahu kalau kebutuhan mandi Abbhie sudah siap. Anto perlahan membuka baju Abbhie. Agak sulit di tangan kiri karena ada botol infus. Mereka bekerja sama membasuh badan Abbhie serta memakaikan baju ganti. Sehabis mandi tugas Anto yang menyuapi Abbhie, sementara Dini bersiap untuk berangkat kerja. Andai tak ada ujian skripsi tentu dia bisa minta ijin. Dini sarapan dengan pelan, dia memperhatikan Abbhie sudah selesai makan dan minum obat. Saat ini putranya sedang bermain dengan mainan miliknya yang dibawakan mbak Warni.
----------------------
Terima kasih sudah selesai membaca bab ini, semoga tidak mengecewakan. Nantikan cerita selanjutnya besok ya. Jangan lupa kasih like sebelum menutup cerita ini.
Salam manis dari Jogja
Sambil nunggu yanktie update bab baru esok hari, coba deh mampir ke karya teman yanktie yang super keren ini, ga bakal nyesel baca ceritanya, judulnya SUAMIKU CEO CILOK karya TIE TIK
Mempunyai cita-cita menjadi istri seorang CEO adalah mimpi sebagian besar seorang wanita, apalagi jika wanita tersebut seorang penulis novel online, pasti khayalannya melampaui batas wajar.
Shasa, itulah nama seorang gadis berusia dua puluh tiga tahun yang memiliki cita-cita aneh—ia ingin nasibnya seperti salah satu tokoh film Hollywood yang memiliki suami seorang pemilik perusahaan besar, bahkan Shasa rela menolak lamaran dari anak pak lurah hanya karena cita-cita yang aneh. Akankah harapan Shasa terpenuhi? Mungkinkah Shasa menjadi istri seorang CEO muda seperti cita-citanya selama ini?
__ADS_1