
Hai hai para kesayangan yanktie, sehat semua kan? Bagaimana puasa kalian sampai hari ini?
Terima kasih sudah selalu setia mengikuti cerita sederhana ini. Kenapa yanktie selalu menyampaikan terima kasih untuk yang selalu setia membaca dan memberi like saat kalian selesai membaca bab cerita ini? Karena ada notif siapa aja yang kasih like.
Mas Anto koq enggak sadar sih bakal dijebak Dini, masa enggak ingat punya perempuan lain yang dia cintai selain Dini? Sekarang kita ikutin terus keseruan bab ini. Selamat membaca!
Yanktie mohon sehabis baca bab langsung tinggalin jejak like dan hadiah ya….
Maturnuwun.
Anto bergegas duduk, dia menarik dagu istrinya dan menatap mata Dini lekat-lekat. Dini yang dipandang curiga oleh Anto hanya bisa menunduk. Dia tak ingin ribut dengan Anto. Dia juga tak ingin acara pernikahan Risye dan Leo mereka hadiri dengan wajah tidak ceria.
“Please Mom, Daddy enggak pernah sekali pun jatuh cinta pada perempuan lain selain Mommy. Mungkin nasib cinta kami sama, hanya endingnya yang berbeda. Cinta Harry, cinta Robby dan cinta Daddy hanya buatmu aja. Jangan pernah menduga salah. Tak ada perempuan lain yang Daddy cinta.” Anto berani berkata tegas meyakinkan belahan jiwanya itu
“Keep your promise, you have to pay if you lose. Daddy barusan bilang tak ada perempuan lain yang Daddy cinta! Daddy enggak ingat, bahkan sejak kita belum menikah, Daddy akan panas dingin kalau kangen ama dia? Daddy nekad mampir ke Jogja padahal harus meeting di Bali saat masih di Jakarta, hanya demi bisa memeluk dan menciumnya? Apa ada rasa itu Daddy rasakan buat Mommy?” cetus Dini sambil senyum smirk. Dia menang sekarang, walau Anto belum mengakuinya. “Coba katakan dengan tegas, kamu tidak mencintainya!”
__ADS_1
Anto merasa kalah telak. Ya Dini benar. Perempuan kecil itu memang sudah merebut hatinya. Perempuan kecil itu membuat dunianya jungkir balik. Kangen untuk Dini berbeda dengan kangen untuknya, dia tau itu karena cinta untuk Dini berbeda dengan cinta untuk gadis kecil itu. Gadis kecil yang sejak keberadaannya di perut telah membuatnya ikut terlibat secara emosional. Karena selain sang ibu, dirinya lah orang pertama yang tahu tentang keberadaan bayi mungil di perut Dini, selain dokter tentunya.
Anto menggelitiki Dini. “Kamu curang, Daddy akui, Daddy memang mencintainya. Tapi kan bukan cinta seorang lelaki terhadap perempuan. Beda kadar cintanya,” protes Anto.
“Lho, sejak awal kita bicara, ‘kan Daddy tidak pernah sekali pun bilang cinta seorang laki-laki terhadap perempuan. Kalau kalah ya ngaku aja lah!” balas Dini sambil menghindar. “Ingat, sepulang kita ke Jogja Daddy harus bayar mobil yang sudah Mommy pesan ke Steve.”
“Kamu sudah pesan? Enggak diskusi dulu ama Daddy? Kamu kayak punya selingkuhan aja enggak lapor Daddy,” kembali Anto protes.
“Hahaha, tadinya mau bikin kejutan, tapi karena barusan taruhan, ya lumayan lah, uang Mommy utuh, enggak jadi bayar mobil!” Dini tertawa renyah berhasil mengelabui suaminya. Mereka malah asyik bercanda tak jadi tidur siang.
***
Dini juga bertemu beberapa teman yang mengira sejak awal dia langsung menikah dengan Anto, ada juga yang mengira dia masih dengan Harry. Banyak hal terjadi, Dini dan Anto hanya menjawab selintas. Tak semua perlu diceritakan. Mereka hanya bercerita punya 3 anak. Dan sekarang mereka tinggal di Jogja.
Terima kasih sudah selesai membaca bab ini, semoga tidak mengecewakan. Nantikan cerita selanjutnya besok ya. Jangan lupa kasih like sebelum menutup cerita ini.
__ADS_1
Salam manis dari Jogja
Sambil nunggu yanktie update bab baru esok hari, coba deh mampir ke karya teman yanktie yang super keren ini, ga bakal nyesel baca ceritanya, judulnya PETAKA KARENA PERJODOHAN karya PenulisRatcheh
Pernikahan yang Airin Pranata jalani tak pernah membuatnya bahagia. Sifat Julian yang dingin, angkuh, bahkan acuh tak acuh kerap kali membawa kepedihan, keretakan, dan kesakitan bagi benak Airin.
Di tengah keterpurukan yang tidak ada jalan keluarnya, Airin hanya bisa mengatakan kalimat, "aku baik-baik saja," untuk menguatkan hati wanita malang tersebut.
Hingga Airin mendengar percakapan Julian yang mengatakan, "Buat rongsokan itu jatuh cinta dalam waktu 30 hari. Jika kau berhasil, aku akan menceraikannya dan memberikannya padamu."
Bagai dihujam ribuan pisau tak kasat mata, rasa sakit langsung menyerang dada Airin.
Apakah Airin mampu membisikkan kalimat "aku baik-baik saja" pada dirinya sendiri?
Jika Julian memintanya mencintai laki-laki lain, apa Airin akan memilih mempertahankan rumah tangganya? Atau
Melangkah untuk menempuh kehidupan baru?
__ADS_1