
Hai hai para kesayangan yanktie, sehat semua kan? Bagaimana puasa kalian sampai hari ini?
Terima kasih sudah selalu setia mengikuti cerita sederhana ini. Kenapa yanktie selalu menyampaikan terima kasih untuk yang selalu setia membaca dan memberi like saat kalian selesai membaca bab cerita ini? Karena ada notif siapa aja yang kasih like.
Robby kenapa ya koq sepertti ingin merubah bad image dari Dini? Sekarang kita ikutin terus keseruan bab ini. Selamat membaca!
Yanktie mohon sehabis baca bab langsung tinggalin jejak like dan hadiah ya….
Maturnuwun.
--------
Sepulang para tamu, Dini bersiap akan tidur. Dia kembali ke titik diam. Abbhie sudah tidur sejak tadi sebelum eyangnya pulang. Dini mematikan beberapa lampu ruangan agar agak temaram. Karena dia dan keluarganya memang tidak terbiasa tidur dengan lampu terang. Dini membaringkan tubuhnya dan menarik selimut. Memang ada satu bed untuk penunu di ruang rawat VIP rumah sakit itu.
“Jangan tidur dulu Mom. Kita harus bicara.” Anto melarang istrinya tidur menyisakan persoalan antara mereka.
Dini malas berbalik badan. Namun dia tahu memang semua harus dituntaskan. Dia tetap bergeming. Tak beranjak atau bicara apapun. Dini berupaya memejamkan matanya. Dia malas berdebat dengan suaminya. Anto yang tahu istrinya masih enggan bicara, mendekati ranjang yang di gunakan istrinya berbaring. Dia duduk di tepi ranjang dan mendekatkan wajahnya ke pipi sang kekasih hati. “Daddy salah apa? Kalau daddy salah, daddy minta maaf,” lirih Anto berbisik. Dari sikap Dini, dia tahu istrinya sangat terluka. Karena buat Dini anak adalah segalanya. Kalau tak terluka, semarah apa pun pasti Dini akan memberi tahu kondisi Abbhie yang harus di rawat. Bukan malah memblokir nomornya. Anto mengambil jemari tangan kanan Dini dan menciuminya. “Maafin daddy.”
__ADS_1
DINI POV.
Semua sudah pulang. Saat ini tinggal aku dan maz Anto yang ada di ruang rawat Abbhie. Aku baru saja menekan bell agar perawat datang karena cairan infus Abbhie hampir habis. Aku membereskan beberapa barang di meja kecil di ruangan itu. Kusingkirkan gelas kopi dan kututup dus martabak yang Robby bawa tadi. Maz Anto sedang mandi. Sejak datang tadi dia memang belum membersihkan diri. Aku membuat susu coklat hangat yang biasa aku minum sebelum tidur. Kebiasaanku sejak remaja. Langsung kuminum dan aku bersiap sikat gigi. “Kenapa Ibu?” tanya perawat yang masuk ruangan setelah mengetuk pintu.
“Ini mas, cairan infusnya hampir habis,” aku menjelaskan mengapa aku memencet bell.
“Baik Bu, sebentar lagi saya kembali untuk mengganti botol infusnya,” ujar perawat itu, lalu dia bergegas keluar kamar. Benar. Tak berapa lama perawat tadi kembali dan mengganti botol infus. “Nanti malam atau besok subuh saya akan ambil sample darah ya Bu, sesuai perintah dokter. Menunggu jumlah cairan infus yang masuk sedikit lagi. Dia menambahkan suntikan obat di infus.
“Iya Mas, terima kasih ya,” balasku terhadap perawat itu. Anak muda yang ganteng. Aku segera mengurangi cahaya di ruangan. Aku matikan beberapa lampu agar bisa tidur dengan nyaman. Lalu kubaringkan tubuhku. Cukup lelah seharian mengurusi Abbhie sejak dari rumah hingga masuk kamar perawatan. Lelah badan dan lelah otak. Baru saja membaringkan tubuh kudengar maz Anto bicara. “Jangan tidur dulu Mom. Kita harus bicara.”
Aku sudah sangat lelah. Aku tak kuat lagi berdebat. Kutarik selimut dan kucoba memejamkan mata. Kurasakan pinggir ranjang sedikit bergerak. Mungkin maz Anto duduk atau malah tidur di belakangku. Aku tak mau tahu. Aku benar-benar sangat lelah. “Daddy salah apa? Kalau daddy salah, daddy minta maaf,” kudengar bisik suamiku. Dia menciumi pipi dan pelipisku. Ku rasakan dia mengambil jemariku dan seperti biasa dia menciuminya. Masih ku dengar dia bicara, “Maafin daddy.” Setelah itu aku benar-benar tak mendengar apa pun karena aku sudah terlelap.
Anto tak percaya, dia mendengar tarikan napas lembut istrinya. Sebegitu lelahkan kamu sampai bisa langsung tidur? Dia membaringkan tubuhnya di belakang Dini dan memeluknya. ‘Forgive me please.’
Pukul 03.12 Anto mendengar ada orang masuk ruangan. Dia segera bangun dan melihat dua perawat masuk untuk mengambil sample darah Abbhie. Anto memeluk kepala Abbhie dalam dekapan agar anak itu tak kaget dan berontak saat tahu di tusuk jarum suntik untuk diambil darahnya. Perawat juga menambah satu botol infus kecil. Untungnya Abbhie tetap tertidur, mungkin karena tetap merasa nyaman dalam dekap daddynya. Setelah kedua perawat keluar dari ruangan, Anto kembali mematikan lampu agar Dini tidak terganggu. Dia menggantikan diapers Abbhie. Di rumah memang dia biasa menggantikan diapers Abbhie sebelum dia salat subuh.
Anto bergegas mengambil wudhu. Dia ingin salat malam sambil menunggu waktu salat subuh tiba. Dia gelar sajadah di ruang itu dan segera melaksanakan salat. Dini yang terjaga saat adzan subuh melihat suaminya sedang khusuk berdoa di sajadah. Dini bergegas mengambil wudhu. Dilihatnya botol infus Abbhie sudah berganti dan bertambah satu. Dia sampai tidak terbangun saat Abbhie diambil sample darahnya. Dini salat berjamaah dengan Anto. Saat salim seusai salat Anto menarik tangan istrinya sehingga Dini terjerembab ke dada Anto. Anto memeluk dan menciumi puncak kepala Dini. “Kita bicara ya. Tidak baik saling diam lebih dari 24 jam.”
__ADS_1
Dini segera melipat mukena dan sajadahnya. Tadi sebelum salat dia sudah menyalakan dispenser untuk membuat kopi dan hot milk choco. Dia bawa dua gelas minuman panas itu beserta martabak telur dan duduk di sofa. Di sana Anto sudah menunggunya.
Cukup lama Anto diam, dia berpikir panjang apa yang akan diucapkan pada istri kecilnya yang smart ini. Satu kata salah maka akan fatal. Dia tak ingin salah ucap yang bisa membuatnya masuk jurang. ”Mommy marah?” tanyanya lembut sambil menatap wajah kesayangannya itu. Dini tidak menjawab. Dia hanya menggeleng. Anto mendekati istrinya. Dia sengaja bersimpuh dengan lututnya agar bisa sejajar dengan istrinya. Dia pandang lekat wajah istrinya. “Kalau enggak marah, kenapa nomor daddy di blokir? Kalau enggak marah kenapa masalah penting seperti Abbhie masuk rumah sakit daddy enggak di kasih tahu? Mommy anggap daddy ini siapamu?” Walau itu teguran sangat keras, namun Anto menyampaikan dengan sangat lirih dan tanpa emosi marah. Dia menyampaikan dengan duka dan kecewa. Dia tatap mata istrinya yang mulai berkaca-kaca. Dia paling tidak bisa melihat Dini menangis. Sejak mereka bersama di SMP dulu. Saat Dini dapat musibah. Dan sampai Dini menjadi istrinya. Hal yang paling Anto benci adalah melihat air mata dari kejora Dini terjatuh. “Please jangan nangis, daddy minta maaf kalau daddy salah. Tapi harusnya mommy tegur daddy. Bukan malah menghukum daddy seperti ini. Hukuman ini sangat berat buat daddy. Dan makin bikin daddy enggak ngerti salah daddy di mana?” Anto memeluk istrinya yang makin tersedu. Dia berdiri dan duduk di tangan kursi agar mudah memeluk istrinya.
*“Tell me please? *Jangan hukum daddy seperti ini. Maafin daddy kalau daddy salah. Tapi jangan hukum daddy.” Berulang Anto membisiki kata-kata itu di telinga istrinya yang masih tetap terisak dalam pelukannya. Anto mengangkat wajah istrinya. Dia kecup kedua matanya, lalu keningnya. Setelah itu dia menempelkan kening mereka berdua. Dia menatap tajam mata istrinya sambil sesekali menggesek ujung hidungnya yang bersentuhan dengan ujung hidung Dini. “Cerita apa yang kamu rasa!”
-------------------------------
Hiks hiks, yanktie aja sebagai author ikutan sedih karena mas Anto di cuekin mbak Dini.
Terima kasih sudah selesai membaca bab ini, semoga tidak mengecewakan. Nantikan cerita selanjutnya besok ya. Jangan lupa kasih like sebelum menutup cerita ini.
Salam manis dari Jogja
Sambil nunggu yanktie update bab baru esok hari, coba deh mampir ke karya teman yanktie yang super keren ini, ga bakal nyesel baca ceritanya, judulnya PACARKU SEORANG MERMAN TAMPAN karya SYOCHAN
Vanya Apride tiba-tiba didorong ke laut oleh kekasih baru mantan pacarnya saat bekerja paruh waktu di kapal pesiar. Dari kedalaman lautan terlihat ada yang menyelamatkannya seperti seorang merman yang berparas sangat tampan. Ketika Vanya kembali melanjutkan pekerjaannya, ia melihat orang yang menyelamatkannya sangat mirip dengan superstar terkenal bernama James Haolin.
__ADS_1
Apakah benar orang yang menyelamatkannya saat dia tenggelam adalah James Haolin? Namun, mengapa James Haolin berkaki seperti ikan ketika didalam lautan???