
Sementara mbak Kirana sudah keluar untuk ikut memesan asinan untuknya juga untuk Dini. Aldo kebingungan sendiri dapat pertanyaan Dini. “Pokoknya bayarin dulu, kasihan abangnya nunggu belum dibayar” rengek Aldo.
“Mas yang bayar dong, yang makan asinan kan mas, dede lagi bobo mana bisa minta asinan” sahut mbak Kiran yang baru masuk sehabis pesan asinan.
“Uang mas hari ini sudah habis mom” jawab Aldo.
“Ok, mommy bayarkan pakai uang jajan mas besok ya, jadi mas besok ga bawa uang jajan” jawab mbak Kiran santai. “Yang mommy mau, besok-besok ga boleh bohong dan ga boleh pakai nama orang lain untuk keperluanmu. Kalau mas mau, mas bilang jujur ke mommy, nanti kita cari jalan keluar”
Dini mengamati kejadian ini dengan jeli, dia sangat senang akan pola asuh yang mbak Kiran terapkan, dia akan meniru pola asuh seperti ini.
“Iya mom, mas ngaku salah dan ga akan ulangi lagi” saat itu pas Amora bangun, lalu Aldo langsung mendatanginya dan menciumi adik sepupunya itu sambil berbisik “Mas minta maaf ya udah bawa-bawa nama dede”. So sweet, batin Dini. Dia berharap Amora juga akan mempunyai sifat yang baik seperti Aldo.
Saat Dini baru akan memakai asinannya Harry datang menjemput “Ayah mau?” tawar Dini
“Cobain punyamu aja bund, ga usah banyak-banyak” jawab Harry.
“Hahahahaaa, emang cuma sepiring, ya ga bakal banyaklah, wong tukangnya udah pergi dari tadi. Ini aja punya Amora” Dini terkekeh sambil memandangi Aldo.
“Ih tante Dini godain aku” tersipu Aldo menjawab kata-kata Dini barusan.
“Kirain bikin sendiri” Harry menjawab sambil membuka mulutnya karena Dini menyuapi sesendok asinan ke mulutnya.
***
Malam ini Dini bikin sup sayuran dan goreng tempe sebagai makan malam mereka di rumah. Tadi mbak Kiran menawarkan makan dirumahnya, namun Dini lebih memilih langsung pulang. Dia tau Harry pasti lebih nyaman istirahat di rumah, bisa pakai celana pendek dan bergulingan dengan Amora daripada di rumah mbak Kiran.
Saat Dini sedang masak Harry menyapu rumah karena kebetulan Amora tertidur sejak mereka pulang tadi. Dini kaget saat ada yang memeluk pinggangnya dari belakang, padahal dia tau dirumah hanya ada dirinya dan suaminya.
“Kamu tu seneng banget bikin aku kaget” seru Dini.
__ADS_1
“Ya elah bun, dirumah cuma ada kita berdua, masa kaget sih” kekeh Harry sambil menyandarkan wajahnya ke bahu Dini dari belakang. Dia paling suka seperti ini. diciuminya leher Dini sambil sesekali menyesapnya.
“Harr, jangan ganggu ah, aku ni lagi masak. Liat Amora sana” perintah Dini untuk menghentikan serangan Harry.
“Habis makan boleh ya?” rengek Harry.
“Ga janji. Aku banyak tugas nih” jawab Dini.
“Sekali aja lah” Harry masih saja merengek, dia tetap memeluk istrinya yang sibuk masak.
“Kamu ngomongnya doang sekali, prakteknya ga gitu kan?” sanggah Dini.
“Habis kamu tu ngegemesin, bikin ga cukup sekali” Harry mengemukakan alasannya.
“Bodo ah, nih sudah matang, tinggal atur di meja aja sana” perintah Dini.
Amora terbangun ketika Dini sedang mandi sehabis masak, Harry segera menggendongnya, serta menyiapkan baju tidur Amora, sudah menjelang maghrib, sehingga dia berinisiatif langsung menggantikan dengan baju tidur saja sehabis mandi kali ini.
“Takutnya basah pas maem Yah, tapi gapapa sih, maem pakai celemek lehernya aja” Dini menyetujui gagsan Harry.
“Yok, anak ayah kita mandi, tu bunda sudah siapin air hangatnya” ajak Harry pada Amora, mengikuti Dini yang membawa ceret air panas untuk menyiapkan air hangat bagi Amora mandi.
Dini membiarkan Harry mengurus Amora, dari mandi sampai sekarang menyuapinya dengan telaten. Dia focus pada tugas kuliahnya, menggambar mahluk satu sel Paramaecium caudatum dan menjabarkan proses perkembang biakannya. Butuh konsentrasi penuh untuk menggambarnya. Untungnya Dini memang jago gambar dan saat SMA guru gambar perspektive sampai tau teman yang dia buatkan gambar, karena katanya cara ngambil titiknya beda dengan cara yang umum.
“Anak bunda sudah selesai maemnya, sebentar ya bunda ngerampungin ini 1 paragraf lagi habis itu kita main” sapa Dini saat melihat Harry menghampirinya sambil menggendong Amora.
Dini nge save dulu kerjaannya di computer dan menyimpan gambar yang dia buat di plastik transparant untuk di presentasikan dengan OHP lusa.
“Bikin apa bun?” tanya Harry, melihat spidol-spidol khusus Dini yang dia gunakan untuk menggambar di plastik transparansi.
__ADS_1
“Biasalah tugas presentasi, sebentar aku beresin dulu sebelum aku lanjut nanti malam” jawab Dini. Dia tau Harry pasti juga ingin mandi sebelum makan malam mereka.
Minggu lalu Dini sudah mendapat pengasuh untuk Amora, yaitu saudara dari ART mbak Kiran, sehingga Dini ga was-was ninggalin Amora pada orang yang ga dia kenal asal usulnya. Hari-hari awal ART itu bekerja, Amora masih dibawa ke rumah mbak Kiran, tujuannya agar mbak Yanti pengasuh Amora didampingi oleh kakak sepupunya untuk mengenal kebiasaan Amora sehari-hari. Tapi sebenarnya alasan utama Amora masih disuruh datang ke rumah bude Kiran karena budenya gemes dengan bidadari kecil itu, maklum 3 anaknya adalah jagoan semua.
Dan juga Amora sekarang sudah mulai bisa jalan, sehingga makin lucu aja liat geraknya. Untungnya sudah ada mbak Yanti, sehingga 2 ART mbak Kiran ga kerepotan ngawasin 2 batita di rumah itu, yaitu mas Farhan dan Amora. Karena 2 ART mbak Kiran kan juga harus ngawasi mas Farid yang lagi giat-giatnya bongkar barang, walau masih kelas 1 SD, tapi sifat ingin tahunya sangat tinggi, beda dengan mas Aldo yang tukang makan.
“Da, wang” kata Amora begitu melihat Dini sampai rumah mbak Kiran pagi ini, memang Kamis dia hanya kuliah sampai jam 9.40 sehingga jam 10 pagi dia sudah sampai. “Anak bunda koq belom bobo?” Sebentar bunda cuci tangan dulu baru gendong Amora ya” sapa Dini menjawab Amora yang mengatakan bunda pulang tadi.
“Mbak Yanti beresin barang dede ya, biar dia minum asi dulu” perintah Dini pada Yanti sambil menggendong Amora ke kamar.
Sebelum menyusu Dini mengajak Amora bicara. “Ini siapa?” tanya Dini menunjuk dirinya. “Da” jawab Amora cepat sambil memegang 2 gentong susunya agar segera dibuka oleh bundanya. “Buunnnnda” ajar Dini membetulkan panggilan Amora.
“Huuh..huh jawab Amora sambil memegang kemeja Dini, meminta segera diberi asi.
Dini menggeleng-geleng dan mengajari lagi “Bilang dulu, buuuunnnndaa” tuntunnya agar Amora mengikuti “Buuunnda”. Katanya sekali lagi. Tapi sayang Amora sudah ngambeg dan malah menangis karena permintaannya tidak segera dituruti oleh Dini.
“Heheheeheeee..princess bunda udah ga sabar ya” goda Dini.
Saat Amora sedang menyusu, Dini kembali mengajari “Ini Amora, Aaamoooraaaaaaa” kata Dini sambil menunjuk Amora. Amora melepas mulutnya lalu berkata “Oa” lalu kembali menghisap asi.
“Aaamooraaaaa, bukan OA” kata Dini, walau dia bangga Amora sudah mengenal dirinya sendiri. “Nanti bilang ayah ya, ini Amora” kata Dini sambil menunjuk Amora. Yang ditunjuk sudah ga menjawab karena mulai terpejam.
***
Simak terus lanjutan cerita ini di bab selanjutnya ya
Makasih yanktie ucapkan buat yang selalu setia baca kisah ini
Jangan lupa kasih like dan vote serta komen ya
__ADS_1
Salam manis dari Jogja