
68 RESMI JADI JANDA
“Baru dapet ( mens maksudnya ) mbak? Kayaknya tadi masih sholat Ashar?” tanya Sari
“Iya de, untung di tas sudah sedia pembalut karena sudah jadwalnya” sahut Dini. Mereka berdua sama-sama ga sholat, hanya Sari sudah hari ke 3. “Kamu ga kasih tau Steve ya?” tanya Dini
“Ngapain? Wong ga ada acara apa-apa mbak?” jawab Sari
“Hehehehe, aku telpon dia barusan, dia pas udah jalan pulang, jadi dia ngomel karena balik arah” kata Dini menjelaskan
“Pantes dia koq datang,” kata Sari, karena dia emang ga kasih tau Steve, lebih-lebih kemaren Sari sedang jengkel pada Steve
“Hallo sayangku, udah lama datengnya?” tanya Steve sambil memeluk Dini
“Dari pagi, aku diundang masak-masak, ga inget kalau ada yang ultah” jawab Dini
Anto yang baru keluar dari ruang sholat baru sadar saat mendengar kata-kata Dini, rupanya kumpul karena ulang tahunnya
“Hai bro, met ultah ya” kata Steve pada calon kakak iparnya itu
“Gue malah lupa hari ini ulang taun. Makasih ya” jawab Anto menerima ucapan Steve
“Met uyang taun daddy” kata Amora sambil menyerahkan satu kado ke Anto
“Anak daddy kasih apa? Harusnya daddy yang kasih Moya kado, bukan Moya yang kasih daddy” kata Anto sambil mencium pipi Amora
“Moya beyom uyang taun” kata Amora
“Met ulang taun ya maz, sehat selalu dan makin sukses” kata Dini mengulurkan tangan untuk memberi ucapan. Anto menyalami lalu memeluknya erat, dibisikinya Dini tepat ditelinganya, “Makasih ya cintaku” di kecupnya kening dan puncak kepala Dini didepan semua yang ada disitu.
__ADS_1
Dini jadi serba salah, mau berontak, ga enak Anto akan malu, diam aja juga ga enak, akhirnya dia mencairkan dengan berkilah mau ambil kado yang masih dikamar. Dikamar Dini menenangkan degup jantungnya terlebih dulu. Dia bahagia mendengar kata-kata Anto, tapi dia juga merasa belum siap untuk memulai cinta baru. Saat dia keluar kamar semua sudah mengucapkan selamat pada Anto. Dia memberikan kado kecilnya, sekarang dia yang mencium pipi Anto sebagai ucapan selamat ulang tahun. Bu Rahma yang melihatnya merasa bahagia, karena dia melihat binar cinta dimata putranya
Sampai saat pamit, Dini tetap merahasiakan rencana kepindahannya ke Jogja hari Sabtu, selain itu dia juga ga ngasih tau soal jadwal sidang keputusan cerainya besok hari Kamis
***
Dini datang ditemani mami dan papinya ke Pengadilan Agama. Disana Harry sudah datang lebih dulu bersama Leo dan Peter. Dini menyalami mereka, dia tetap mencium tangan Harry dan Peter seperti biasa
Tok tok tok
Resmi sudah Harry dan Dini bercerai, resmi sudah Dini menjadi janda, tak ada tangisan. Dini dan Harry sudah siap, mereka bersalaman dengan hakim dan pengacara, lalu Dini memeluk Harry erat, mencium kedua pipi Harry. “Aku ga ingin kita bermusuhan sesudah perceraian ini, aku ingin kita menjalin silaturahmi yang baik” katanya pada Harry
Harry balas memeluk satu-satunya perempuan yang bisa membuat dia jatuh hati itu, dikecupnya kening Dini lembut dan lama, lalu dikecupnya pula puncak kepala Dini. “Sekali lagi aku minta maaf atas semua yang terjadi ya? Juga makasih atas semua yang pernah kamu beri buatku” kata Harry
“Inget, kamu ga boleh jatuh lagi, kamu harus kuat, kamu harus tegar, kamu punya Amora” jawab Dini. “Amora Bernadheta kan emang cintanya Benhard, tepat kan nama itu untuk bidadari kita?” tanya Dini
“Kamu seakan tau, kalau dia emang bukti cintaku” kata Harry
Dini menyalami papa Peter. “Sampai kapanpun kamu anak papa, jangan berubah karena perpisahan ini” kata Peter untuk Dini
“Iya pa. Maafin Dini kalau selama menjadi mantu papa banyak sikap Dini yang ga berkenan di hati papa dan mama, sampaikan salam Dini buat mama” kata Dini. Peter memeluk Dini dan mencium pipinya
“Sekali lagi saya mohon maaf mi, maaf karena sudah mengecewakan mami dan papi” kata Harry pada bu Dyah
Dini sudah mau memasuki mobilnya saat teringat kado yang belum dia berikan ke Harry di ulang tahunnya kemarin. Dia berlari ke mobil Peter dan mengetuk jendela. Harry keluar saat melihat Dini mengetuk mobil papanya
“Maaf lupa, ini kado ulang tahun dari Amora. Selamat ulang tahun ya Harr.” kata Dini sambil mengulurkan tangannya memberi selamat. Dia mencium pipi Harry.
“Besok aku boleh ke rumah ga? Seharian ama Amora sebelum kalian berangkat?” tanya Harry
__ADS_1
“Boleh, kamu ga antar kami ke bandara hari Sabtu?” tanya Dini
“Sabtu engga deh, aku takut Amora jadi rewel” kata Harry memberi alasan
“Iya juga sih, ya udah aku tunggu besok ya, daaaag” kata Dini lalu menuju ke mobilnya
***
Seminggu sudah Dini tinggal di daerah Bumijo, Jogja, dekat dengan stasiun Tugu. Rumah sudah mulai rapih, barang-barang bawaan Dini sudah tertata rapih. Dini menempati rumah besar milik papinya, peninggalan ayahnya papi. Walau dia bukan anak kandung papi, tapi karena papi ga punya anak, maka om nya adik-adik papi ga ada yang protes mengingat jatah mereka sudah dibayarkan oleh papi, sehingga saat ini rumah itu mutlak milik penuh papinya.
Masih seminggu libur semester, rencananya hari Minggu besok Dini akan mulai pengenalan lokasi, namun hari ini dia sedang menunggu kedatangan mbak Sashi dan mas Teguh serta si ganteng Arra, anak sulung mereka. Mas Teguh akan membantunya membeli mobil di Jogja. Mami nya merasa Dini masih anak balitanya yang masih dalam pengawasannya, sehingga menyuruh mas Teguh menemaninya beli mobil. Mobil di Jakarta sedang di promo oleh bang Amir, suami mbak Kiran. Dini berniat membagi dua hasil penjualan mobil tersebut dengan Harry, karena mobil itu dulu mereka beli dari hasil jual motor mereka berdua ditambah uang tabungan mereka, sehingga Dini merasa ada hak Harry disana.
Steve membaca iklan penjualan mobil Dini, dia sengaja mendatangi alamat yang ditulis pada iklan tersebut untuk memastikan apakah benar mobil tersebut milik Dini. Setelah melihat pasti, dia menghubungi Anto menanyakan apakah ada info mengapa Dini menjual mobilnya. Anto malah sama sekali tidak tau tentang iklan mobil tersebut.
“Dimana lo bro?” tanya Steve seperti biasa tanpa salam
“Dirumah lah, dimana lagi gue hari Minggu gini, baru selesai cuci mobil” jawab Anto santai
“Gue liat mobil Dini di iklanin, tapi alamatnya bukan alamat Rawasari, tapi di jalan Paus Rawamangun” Anto mendengar dengan seksama info dari Steve.
“Jalan Paus, daerah rumah mbak Kiran, kakak Dini yang nomor 2, lo yakin itu mobil Dini?” tanya Anto penasaran
“Seriuslah, gue liat nomor polisinya, lo kan tau gue juga suka jual beli mobil buat tambah-tambah uang rokok” tegas Steve. Ya Anto tau, sohibnya itu memang jago jual beli. “Lo ga pernah ngobrol ma Dini? Coba lo tanya dia bener ga dia jual mobilnya” desak Steve
“Gue ketemu terakhir pas dia kerumah gue, barengan ama elo itu, pas ulang tahun gue, abis itu ga pernah. Karena seminggu sebelum itu gue ribut ma dia, dia minta gue menjauh dari Amora, padahal Amora sampai sesak nafas minta ketemu gue” jelas Anto. “Itu dia datang kerumah karena mama nyuruh Sari telpon ke dia” lanjutnya
------------------------
Makasih yang sudah setia di cerita ini, ramein ig yanktie ya, @yanktie_ino
__ADS_1
Mana like dan vote nya??