
Hai hai para kesayangan yanktie, sehat semua kan? Bagaimana puasa kalian sampai hari ini?
Terima kasih sudah selalu setia mengikuti cerita sederhana ini. Kenapa yanktie selalu menyampaikan terima kasih untuk yang selalu setia membaca dan memberi like saat kalian selesai membaca bab cerita ini? Karena ada notif siapa aja yang kasih like.
Cepat sembuh ya mas Abbhie. Maem yang banyak biar infusnya cepat dibuka. Sekarang kita ikutin terus keseruan bab ini. Selamat membaca!
Yanktie mohon sehabis baca bab langsung tinggalin jejak like dan hadiah ya….
Maturnuwun.
--------
“Kalau Mommy sanggup, mengapa harus ditolak? Sanggup waktu dan tenaga. Jangan hanya bilang tidak bisa atau bisa namun tidak konsekwen. Kalau bisa ya harus total. Kalau tak bisa jangan jadi perusuh.” Anto mempersilakan istrinya berkiprah. Dia tak mau membatasi ruang gerak kekasih hatinya. Dulu saat dia mau reuni pun sahabat-sahabatnya meminta Dini ikut urun saran. Karena istrinya memang dibutuhkan.
“Nah, surat ijin dari jendralku sudah keluar. Insya Allah saya bersedia bergabung di kepanitiaan.” Jawab Dini dengan senyum manis pada Anto. Diusapnya lembut punggung tangan suaminya. Dia membuka sebotol soft drink dan dia berikan pada Anto.
Tok … tok … tok….
Mama dan Sari masuk, rupanya Sari sekalian periksa kehamilan. Steve masuk sesudah mama dan Sari. Dia membawa banyak buah dan langsung di simpan di kulkas. Dini dan Anto pamit sebentar pada para tamunya untuk memberi salam pada mama.
__ADS_1
“Kami pamit saja. Maaf kami terpaksa berbicara ditempat yang tidak seharusnya. Karena kalau by phone tentu beda. Nanti kami akan beritahu kapan pertemuan pertama bisa kita lakukan.” Dharsono pamit. Diikuti oleh Joko.
***
‘Bisa kita bicara sebentar?’ chat yang dikirim Robby baru saja Anto baca.
‘Bisa aja, kapan dan di mana?’ tanya Anto.
‘Di warung kopi seberang rumah sakit. Malam ini pukul 22.00,’ balas Robby.
‘Ok.’ balas Anto. ‘Mau apa ya dia minta ketemu berdua?’ pikir Anto. Dia jadi curiga.
“Ini mas ke depan karena dia sudah nunggu di sana. Dia pengen ngobrol berdua katanya. Mas malah enggak tau dia mau bicara apa,” balas Anto. Anto mengantar mama hingga masuk ke mobil Steve. Tak lupa dia salim dan mencium pipi sang mama sebelum menutup pintu mobil. “Hati-hati Steve.”
Anto bergegas menghubungi Robby memastikan kawannya berada di tempat ngopi yang mana, karena depan rumah sakit sangat banyak kedai kopi. Setelah mengetahui di mana Robby berada, Anto menuju kedai itu. Saat akan ke kedai dia melewati gerobak martabak telur. Dia memesan dua kotak dan meminta di antar ke kedai tempat dia duduk bersama Robby. “Udah lama By?” tanya Anto basa basi sambil menyalami teman masa kecilnya yang pernah menjadi kekasih Dini saat SMA dahulu.
“Baru, kopi pesanan gue aja belum datang,” jawab Robby. Memang dia baru saja duduk saat Anto menghubungi menanyakan di kedai mana dia berada.
“By, lo tahu ‘kan gue enggak bisa lama ninggalin anak gue. Kalau lo tadi minta ngobrol di dalam ‘kan kita bisa lebih leluasa. Ni gue sengaja matiin ponsel biar enggak dicari Dini kalau anak gue rewel. Dia ‘tu kalau sakit cuma mau ama gue. Tadi gue sudah titip pesan ke Steve, kalau Dini telepon dia, bilang gue lagi beli martabak dulu. Dini sih enggak ngelarang gue pergi. Yang jadi kendala ya anak gue. Jadi sebenernya niat lo mau apa, biar gue bisa ngerti.” Anto to the poin. Dia takut Abbhie rewel dan mencarinya.
__ADS_1
“Wah sorry, gue enggak nyangka lo bapak teladan ya.” Cetus Robby jujur. Dia kagum pada Anto.
“Khusus anak pertama dan bungsu emang ke gue, tapi yang nomor dua ke nyokapnya koq.” Jelas Anto, karena memang Arya lebih manja ke Dini bila sedang sakit.
“Anak sulung lo, yang anak Harry ‘kan? Sorry kalau gue lancang.” Robby makin tak percaya.
“Secara biologis dia 100% anak Harry. Siapa pun enggak bisa nyangkal itu By. Tapi secara batin dia 100% anak gue. Sejak Dini masih nolak gue aja, ‘tu anak bakal sakit demam kalau enggak boleh ketemu gue. Kalau lo enggak percaya lo tanya Leo dan Steve. Gue juga sama, kalau enggak ketemu Dini masih bisa gue tahan, tapi kalau enggak ketemu Moya gue kayak pecandu yang enggak dapat barang. Gue sakau dan demam. Lo percaya enggak sebelum gue nikah ama Dini, setia habis maghrib gue teleponan ama Moya minimal satu jam baru ‘tu anak bisa tidur.” Anto tak membantah Moya bukan anak biologisnya. Namun secara batin Moya 100% miliknya.
“Salut gue ama elo. Dan makin yakin gue nyampein ini ke elo. Niat gue ngomong berdua ama elo ‘tu mau minta izin. Gue pengen ngomong berdua ama Dini sebentar aja. Entah mengapa gue punya feeling harus kasih tahu Dini sebelum gue pergi. Gue enggak pengen Dini punya rasa benci ke gue, karena ada salah paham yang belum pernah gue tuntaskan ama dia. Gue yakin Dini pasti udah ngelupain dan udah maafin. Tapi batin gue belum puas bila gue belum ngejelasin semua secara langsung ke dia.” Jelas Robby. Robby pernah bertemu Harry, dan mendengar cerita Harry, Robby tahu bagaimana jiwa pemaaf Dini. Orang yang sudah menodai perkawinannya saja dia maafkan dan dia masih terima, apalagi dirinya yang hanya melukai karena salah paham saja.
“Kalau mau ketemu ama Dini, silakan aja. Setahu gue, dia mau ketemu siapa pun dia akan minta izin dulu ama gue sebagai imamnya. Kalau dia secara enggak sengaja ketemu orang, sore atau malamnya dia pasti lapor karena takut ada orang sirik lalu bikin rumors yang enggak-enggak. Itu sikap Dini sebagai istri. Bahkan dia pernah mikirin mantannya aja dia langsung merasa bersalah dan minta maaf ke gue. Gue dan Dini cuma berprinsip membangun rumah tangga dengan kejujuran. Pertemuan kita ini gue belum bilang ke dia. Nanti saat dia minta izin karena lo ngajak ketemuan, gue akan bilang kita sudah bicara. Anto menyeruput kopinya di lanjut dengan memakan martabak yang tadi dia beli. Memang dia beli dua bungkus karena satu untuk dimakan berdua Robby. Dan satunya untuk Dini di ruangan Abbhie.
***
Terima kasih sudah selesai membaca bab ini, semoga tidak mengecewakan. Nantikan cerita selanjutnya besok ya. Jangan lupa kasih like sebelum menutup cerita ini.
Salam manis dari Jogja
Sambil nunggu yanktie update bab baru esok hari, coba deh mampir ke karya teman yanktie yang super keren ini, ga bakal nyesel baca ceritanya, judulnya ISTRI KECIL DOSEN MUDA karya SUSI SIMILIKITY
__ADS_1