CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
KAMU GA IKHLAS MAAFIN AKU


__ADS_3

HAPPY READING


“Wa’alaykum salam. Pi ini Ade” jawab Dini cepat.  “Mami sudah tidur Pi?” tanyanya lagi


“Belum De, jam sembilan  mamimu pasti masih nonton dunia dalam berita kan,” jawab papi. Ya ampun Dini sampai lupa jadwal nonton TV kesukaan mami yang enggak pernah telat nonton berita di TVRI.


“Ade boleh ngobrol ama Mami enggak Pi?” Dini bertanya ragu. Dia sangat bingung mencari solusi untuk menjaga Amora selama dia kuliah.


“Papi panggilkan dulu ya De,” papi tak menjawab boleh atau tidak, hanya menjawab akan langsung memanggilkan istrinya.


“Assalamu’alaykum De, kenapa?” tanya mami langsung tanpa basa basi


“Yah Mami, Ade telepon bukan ditanya khabar Ade, khabar Amora, malah langsung nembak ‘kenapa’, enggak kangen Ade ya Mi?” canda Dini pada sang mami.


“Kamu aja enggak balas salam Mami, langsung ngomel gitu” sahut mami tak mau kalah.


“Astagfirullaaaah, maaf Mi, Wa’alaykum salam Mi” jawab Dini sambil meringis malu, walau dia tau maminya tak meliat tampang malunya kali ini.


“Ya wis, kenapa?” lanjut mami santai. Dia tahu anaknya butuh bantuannya.


“Minggu depan Ade mulai kuliah Mi. Ade bingung mau titipin Amora kemana, sementara Ade udah cari tenaga yang pulang pergi belum dapat. Gimana ya Mi? Ade enggak pengen brenti kuliah atau cuti lagi,” keluh Dini ke mami Dyah.


“Mami enggak punya pandangan De, mbak Yam dan mbak Surti juga sepertinya kecil kemungkinannya balik lagi ke Jakarta. Karena ibunya ngelarang, jadi mami sudah pesankan mereka untuk cari gantinya. Nah cari ganti kan enggak cepet, apalagi kalau baru datang suruh langsung pegang Amora, enggak mungkin kan?” jelas mami.


Mentok nih, makin buntu aja otak Dini sehabis telepon maminya tadi. Trus apa yang harus dia lakukan? Dipandangi bidadari kecilnya yang makin buntek aja, makin chuby pipinya, bikin pengen gigit pipinya yang seperti bakpao. Diciumi bakpao tembemnya dengan gemas. Amora bergerak, mungkin tidak suka tidurnya diganggu


“Yank, maafin Ayah ya, serius Ayah ngaku salah,” tetiba ada suara dibelakang Dini, dia tak tau sejak kapan suaminya berada dikamar. Selanjutnya dirasakan pelukan dari belakang dan wajah Harry yang ditempelkan ke punggungnya.


“Minta maaf gampang Yah. Tapi semua percuma, toh besok kamu kerjain lagi kesalahan yang sama. Buat apa aku maafin kalau akhirnya mbulet aja enggak selesai-selesai. Aku juga punya batas sabar, aku punya mimpi yang ingin aku raih, aku punya target yang ingin aku capai. Jadi kalau kamu hanya jadi penghambat jalanku, lebih baik aku balik kanan cari jalan lain yang enggak ada penghalangnya. Mundur selangkah untuk maju tiga langkah itu lebih baik daripada diam ditempat,” sahut Dini ketus.


“Sekarang lebih baik tidur, aku malas berdebat,” sahut Dini sambil pindah posisi, sehingga sekarang Amora tidur diantara mereka


“Yank,” telapak tangan Harry mengusap pipi istrinya lembut. “Maafin ya, jangan marah gini, kamu tau kan sejak kenal kamu, Ayah paling enggak bisa kalau Bunda marah seperti ini. Please maafin biar kita bisa tidur nyenyak ya,” bujuknya lagi.

__ADS_1


Sekarang tangannya pindah mengusap dahinya lalu pindah lagi ke puncak kepala Dini. Harry bangkit sedikit dan mencium dahi istrinya dengan Amora ada dibawah lengannya


“Awas Yah, nanti Amora ketindihan, sudah sana ah,” usir Dini sambil memundurkan wajahnya agar tak berada dalam jangkauan suaminya


“Maafin dulu, baru Ayah mundur,” ancam Harry tak mau mengalah.


“Fine, aku maafin,” tukas Dini cepat.


“Maafinnya enggak rela gitu,” sahut Harry.


“Yah, aku sudah maafin, puas?” tanya Dini cepat agar dia bisa segera tidur.


“Kalau kamu beneran ikhlas maafin Ayah, coba cium Ayah satu kali aja, sejak kita kenal kamu enggak pernah kan cium Ayah lebih dulu?” cerca Harry.


‘Oh my God, apa benar aku enggak pernah cium dia duluan? Kalau di ingat-ingat iya juga sih, aku enggak pernah nyium dia duluan duluan. Kalau dia cium ya aku balas sekedarnya. Aku hanya rutin mencium tangannya saja setiap pergi atau baru pulang kerja,’ kata Dini dalam hatinya.


‘Apa aku harus melakukannya sekarang?’ pikir Dini lagi.


“Benerkan? Kamu enggak ikhlaskan maafin aku?” kejar Harry.


“Terserah” kata Harry sambil kembali keposisinya semula dan langsung berbaring memunggungi Dini dan Amora.


Ups….


Dia ngambeg. Baru kali ini Harry ngambeg seperti saat ini.


Dini berpikir keras. ‘Apa aku terlalu kelewatan ya jadi istri. Tapi kan aku enggak niat jadi istrinya,’ bantah hati kecil Dini.


‘Aku kepaksa karena keadaan, bukan kemauanku,’ perang batinnya lagi.


‘Bomat ah, mendingan aku tidur, jadi kalau Amora bangun karena pipis atau butuh ASI aku enggak terlalu ngantuk,’ pikir Dini selanjutnya.


Tengah malam terdengar rengekan Amora, jam dia pipis dan minum ASI.  Saat Dini membuka mata, dilihatnya Harry sedang mengganti kain alas tidur Amora, celana basahnya sudah dia ganti.

__ADS_1


Apa Harry enggak tidur ya? Enggak biasanya Harry terbangun tengah malam seperti ini. Dini duduk dan hendak memberi asi. Diangkatnya Amora dari kasur agar bisa disusui sambil duduk.


Harry keluar dari kamar sehabis menggantikan celana Amora yang basah karena mengompol. Sejak tadi dia belum bisa tidur. Dia bingung memikirkan istrinya yang tetap saja belum bersikap manis dan memberikan tanda cinta padanya.


Istrinya memang tak pernah menolak keinginannya, tapi itu hanya sekedar melaksanakan kewajiban saja, tak pernah dia merasakan attensi yang Dini berikan lebih dulu.


Dini melihat bantal Harry masih rapih diposisi yang biasa sebelum dia tidur, apa dia beneran ga tidur karena enggak dia maafin tadi ya?


 Sehabis menyusui, Dini kembali membaringkan Amora kekasur, diaturnya bantal agar Amora terhalangi bila hendak berguling. Dicarinya Harry di ruang depan. Dia melihat Harry duduk termenung dengan segelas kopi dingin yang hampir habis.


“Kamu enggak tidur sejak tadi?” tanya Dini sambil duduk disebelahnya. Harry hanya menggeleng tanpa mau menengok ke arah Dini.


“Yah liat aku,” pinta Dini. Tapi tetap Harry tidak menengok sama sekali. Oh my God, beginikah rasanya dicuekin pasangan kita? Sesakit inikah rasanya disepelein pasangan sendiri?


Dini memberanikan memegang wajah Harry untuk membuatnya berpaling ke arah dirinya, ada sedikit perlawanan dari Harry, walau ogah-ogahan akhirnya Harry berpaling menatap Dini.


“Ayah marah? Ayah enggak suka ama Bunda?” tanya Dini. Harry masih diam dan tak menjawab semua pertanyaan Dini. Air mata Dini mulai sedikit keluar. Sejujurnya dia tak ingin menangis, tapi sakit hatinya diperlakukan seperti ini pertama kali sejak mereka menikah.


Akhirnya dua sungai terbentuk dipipinya tanpa bisa dicegah lagi karena Harry masih diam tanpa mau menjawab.


“Sayank, koq jadi nangis?” tanya Harry sambil mengusap air mata Dini dengan kedua jempolnya.


Dipeluknya istri mungilnya dan dikecupnya puncak kepalanya. “Sayang, aku enggak marah koq, aku hanya berpikir kamu enggak pernah ikhlas jadi istriku. Kamu enggak bisa memaafkan kesalahan terbesarku sampai Amora terbentuk dan membuatmu terpaksa menikah denganku. Walau kamu jadi istriku, walau semua kewajibanmu kamu lakukan, tapi semua bukan berdasarkan cinta. Kamu melakukannya karena kewajiban. Enggak lebih. Aku sadar aku bajingan yang ngerusak kamu. Aku terlalu berharap lebih,” jelas Harry putus asa.


Dini mengangkat wajahnya dari dada suaminya, ditatapnya mata suaminya yang terluka. Dia sadar semua kata-kata Harry barusan adalah benar. Dini berupaya sadar akan kondisi yang salah. Diberikannya senyum tipis, lalu dikecup bibir suaminya pelan.


\========================================================================


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya

__ADS_1


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2