
75 ADE BELUM BISA MEMBUKA HATI UNTUK SIAPAPUN TERMASUK UNTUK MAZ
“Ga perlu liat juga tau, ade bicara buat maz, karena disini cuma ada kita berdua” sahut Dini enggan
“De..” kata Anto lalu diam, menunggu reaksi Dini
“De..” katanya lagi, Dini masih tak menoleh
“De..” Anto tetap mengulangi panggilannya.
Akhirnya Dini mengangkat wajahnya, ditatapnya mata laki-laki yang pernah jadi pujaan hatinya itu.
“pernah”???
Apa sekarang rasa itu sudah hilang???
Dini mencari kepastian dengan menatap mata itu dalam-dalam. Dia masih memujanya, rasa itu ga pernah hilang walau pernah sedikit digeser untuk memberi ruang pada Harry yang ga pernah bisa mengisi sedikiiiiit saja ruang dihati Rahdini Mustika.
Dini menyadari itu, namun dia tetap masih ingin menutup hatinya. Dia belum siap berkomitmen. Dia masih belum siap menerima tudingan, kalau perceraiannya karena ada orang ketiga.
Anto melihat Dini menatapnya. “Maz bisa bicara serius?” tanya Anto. Dia akan merubah planningnya, tidak seperti yang dia ceritakan ke Steve, dia butuh kepastian sebelum dia pulang ke Jakarta. Dilihatnya Dini mengangguk pelan
“Maz memang merencanakan kesini jauh-jauh hari, yaitu sejak Steve telpon kamu dan dia tau kamu sudah di Jogja. Kalau ngikutin emosi, sebenernya maunya maz saat itu juga terbang kesini. Tapi maz sadar, kamu butuh waktu buat sendiri, maka itu maz memutuskan menemani Steve ke Jogja karena dia berangkat bawa mobil. Sehubungan dengan pertanyaanmu kemarin, kenapa maz belum bisa memastikan kapan maz pulang. Itu karena berhubungan denganmu de’. Maz ingin kejelasan, bisakah kita menjalin rasa seperti yang kita rencanakan saat kamu pertama pisah dengan Robby?” tanya Anto
Dini diam, dia sudah memperhitungkan, pertanyaan ini akan dia dengar, cepat atau lambat pasti Anto akan bertanya hal ini. “Maaf maz, ade ga bisa” jawab Dini lirih
__ADS_1
“Kenapa de? Kita sekarang sama-sama free. Bukan karena maz kamu berpisah dengan Harry. Lalu ada kendala apa lagi? Apa sudah ada orang lain di hatimu, seperti Joko atau orang lain mungkin?” cecar Anto bingung. Dia pikir setelah sama- sama tak ada pasangan lalu mereka bisa bersama.
“Ade mau focus sama Amora dulu, ade belum bisa membuka hati buat siapapun termasuk maz” jawab Dini pasti.
“Itu sebabnya ade pindah ke Jogja. Ade niatin pindah sejak berniat pisah dengan Harry, saat itu kita belum ketemu lagi, dan makin memantapkan hati saat Shinta meninggal. Ade ingin menata hidup lebih baik, ade sedang ambil S2 juga disini. Ade mohon maz ngertiin kondisi ade.
Anto kaget Dini sedang ambil kuliah lagi, ternyata yang Sari bilang ketika itu bukan hanya khayalan Dini.
Flash back on
“Mas, mbak Dini mau kuliah lagi lho, mau ambil S2 di Jogja, katanya biar bisa jadi dosen” kata Sari dimobil saat mereka pulang dari rumah Dini karena ditelpon mbak Rina yang datang ke rumah mama mereka
“Masak sih, cuma wacana kali, mas malah belum dengar dia mau kuliah lagi” kata Anto sambil memarkirkan mobilnya kedalam halaman rumah mereka.
“Kuliah dan Amora kan ga menghalangi hubungan yang akan kita jalin de, apa maz ganggu 2 hal itu bila kita jadian?” kejar Anto, tentu saja Amora bukan halangan, dan soal kuliah dia juga ga akan melarang karena itu untuk kemajuan Dini.
“Ade juga yakin, maz akan bilang gitu, Amora dan kuliah ga akan ganggu bila kita berhubungan. Tapi ade belum ingin berkomitmen lagi maz. Ade masih bingung mau kemana langkah ini. Kalau emang maz serius, please ngertiin ade, tunggu sampe ade siap. Maz tau ade ga mudah jatuh cinta, jadi ade ga akan cari orang lain. Tapi kalau selama ade belum bisa nerima maz, lalu maz ada orang lain, monggo, ade ga akan halangi. Silahkan maz pilih dia.” jawab Dini pasti
“Artinya kamu terima maz tapi entah kapan gitu?” tanya Anto
“Ga bisa diartikan gitu juga maz, bisa aja diartikan aku nolak maz entah sampai kapan” sahut Dini santai. “Jangan ke pede an” lanjutnya lagi
“Maz ga ke pede an de, kamu tau sejak dulu maz juga ga pernah mencintai siapapun. Maz setia nunggu kamu sejak kita kelas 1 SMP. Lalu dengan gampangnya kamu bilang, kalau ada yang mau maz pilih silahkan, seakan kamu ga yakin akan kesetiaan maz” ada nada sesal dikalimat yang Anto ucapkan
“ Maz nikah dengan Shinta tanpa rasa cinta, maz nikah hanya karena mama tanya kapan maz nikah, sedang kamu sudah ga ada khabar dan saat itu kamu juga sudah ada suami. Itulah sebabnya saat Shinta mendekati maz, maz terima tanpa pernah punya rasa sayang apalagi cinta. Segitu kamu masih ga percaya ama maz?” keluh Anto
__ADS_1
Dini terperangah mendengar keluhan Anto, ternyata Anto menikah karena merasa sudah ga ada harapan akan bersama lagi dengannya
“Bahkan sejak menikah dengan Shinta maz belum pernah mencium bibirnya, apalagi making love dengan dia. Maz mencium pipinya saat dia ulang tahun karena didepan keluarganya, sebulan sejak kami menikah, dan mencium keningnya saat habis ijab kabul” lanjut Anto
Dini semakin ragu menerima Anto. Bagaimana mungkin dia yang janda anak 1 mendapat duda yang masih orisinil? Dia semakin minder, sehingga makin menyurutkan kemauannya untuk menjalin hubungan dengan Anto. Dia merasa Anto ber hak mendapat yang lebih baik darinya.
“Maaf maz, bukan ade nuduh maz mudah berpaling atau nyuruh maz cari yang lain, tapi ade merasa maz pantas mendapatkan yang lebih baik dari ade. Ade semakin merasa ga pantas buat maz setelah mendengar maz belum pernah menyentuh Shinta sama sekali” sesal Dini
“De, maz cerita hal itu bukan mau menyinggung kamu atau merendahkan kamu, maksud maz itu, maz ga bisa berpaling dari kamu. Bukan hanya karena maz tau keburukan Shinta, bahkan saat belum tau karakternya pun memang ga ingin menyentuh dia. Please jangan salah paham” kata Anto sambil menggeser kursinya dan menggenggam kedua tangan Dini dengan dua tangannya. Dia merasakan tangan Dini sangat dingin.
Dini melihat dua tangan hangat yang memegang kedua tangannya yang berada dipangkuannya. Dia merasakan nyaman yang dialirkan kedua tangan itu, mengalirkan kehangatan cinta, mengalirkan rasa percaya diri, namun juga mengalirkan rasa was-was. Dia pernah gagal, dan ga ingin merasakannya lagi. Dia tahu Anto ga akan membuatnya terluka seperti yang Harry lakukan, namun tetap saja rasa ragu itu ada.
“Ade bingung maz, serius ade ga berani jawab sekarang, ade ga ingin gagal lagi” curhat Dini memberi tahu ketakutannya
“Titik mana dari maz yang ade takutkan membuat ade gagal lagi? Kesetiaan? Ga berada dibelakangmu saat kamu butuh? Ga mendekapmu saat kamu terpuruk? Atau apa?” desak Anto “Katakan biar maz bisa instropeksi diri, sehingga saat kita melangkah bersama kita sudah sejalan” desak Anto
“Ade ga tau maz, ade ga tau, ade ga tau” jawab Dini sambil terisak. Dia masih trauma atas kegagalannya, walau dia tau Anto ga akan berlaku seperti Harry, tapi tetap aja keraguan itu ga bisa ditepisnya
Anto berpindah ke kursi panjang yang diduduki Dini, dia memeluk bahu perempuan idamannya itu. Mengecup puncak kepalanya “Lepaskan keraguanmu, menangislah sepuasmu agar kau bisa lapang” bujuk Anto
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini
Jangan lupa like dan vote nya ya
jangan lupa mulai intip-intip spin cerita ini dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR YA
__ADS_1