CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
GELAR KASUR TANPA TEMPAT TIDUR


__ADS_3

HAPPY READING


Harry menerimanya, tetapi tetap diam dan hanya memandangi istri cantiknya. Dini merasa ada yang ingin disampaikan Harry, tapi dia tidak mau sarapan mereka terganggu, jadi dia biarkan Harry makan dalam diam.


Sehabis makan Harry yang membereskan bekas mereka sarapan, dia juga langsung mencucinya sekalian peralatan masak yang tadi digunakan oleh Dini.


“Yah, bisa ayun Amora, dia sudah rewel, kayaknya kekenyangan, mau bobok” pinta Dini.


“Ok, Ayah lap tangan dulu baru gendong princess ya,” kata Harry tanpa beban. Pria ini memang sangat bahagia dengan kehidupannya sekarang. Memiliki Dini sebagi istri dan mempunyai Amora sebagai pelengkap kebahagiaan mereka.


Harry mengambil Amora dari baby walker dengan hati-hati lalu mengangkatnya tinggi, lebih tinggi dari kepalanya. Dikelitiknya perut Amora dengan dagunya, Amora terkekeh senang. “Princess Ayah mau bobo ya?” tanyanya. “Ok, Ayah ayun ya”.


Diayunnya Amora lembut sambil dia berdesis sssttttt … sssttttt … sssttttt. Ha ha ha ha Harry memang tak bersenandung ketika mengayun Amora. Berbeda dengan Dini yang mengayun dengan bersenandung atau bersholawat sampai anaknya tertidur. Pria Ambon ini memang tak bisa bernyanyi.


Saat Amora mulai tertidur di tangan Harry, Dini mulai berkata pelan. “Ayah sayang ke Amora?”


“Koq pertanyaanmu aneh Yank,” tukas Harry cepat. Tentu saja dia sangat menyayangi buah hatinya itu.


“Gimana rasanya kalau Ayah melihat Amora diayun dengan cara diguncang-guncang dengan musik disco yang menggelegar? Sedang kita biasa menidurkannya dengan lembut seperti saat ini sedang Ayah kerjakan?” tanya Dini sambil matanya lekat menikam manik mata Harry.


‘Oh ini rupanya penyebab istriku ngamuk. Namun enggak mau langsung cerita. Dia mau tau dulu pendapatku tentang perlakuan yang diterima Amora,’ pikir Harry.


“Maafin Ayah kalau sampai Amora dapat perlakuan kasar seperti itu, forgive me please, Ayah akan sampaikan kesiapa pun untuk tidak memperlakukan Amora seperti itu. Maafin ya, kenapa enggak langsung tegur pelakunya saat Bunda lihat? Kenapa enggak langsung bilang ke Ayah?” sesal Harry.


Dia sangat terkejut dan juga menyesalkan mengapa Amora bisa diperlakukan seperti itu entah oleh siapa di rumah keluarganya.


“Kamu mau aku berantem dengan mertua atau adik ipar di kandang mereka? Kamu mau aku jadi dendeng di kandang macan? Itu yang kamu inginkan?” cecar Dini cepat.


“Otak aku masih waras, aku enggak mau mati konyol tanpa ada yang tau, sedang kamu enggak ada saat itu.”


“Fine, tadi Ayah sudah minta maafkan?” kata Harry pelan lalu dia meletakkan Amora di kasur dan mengatur bantal mengelilinginya agar tidak jatuh saat terbangun nanti.

__ADS_1


“Nanti Ayah bilang ya ke semua di Kramat ( rumah keluarga Harry ) agar jaga Amora baik-baik. Tapi Bunda janji jangan berhenti kuliah ya?” dipeluknya tubuh istrinya pelan, dia sangat mencintai wanita yang memang belum sepenuhnya mencintainya ini. Namun dia tak akan putus asa menanti waktu istrinya jatuh cinta padanya.


“Aku enggak pengen Ayah ribut ama keluarga. Aku enggak pengen gara-gara aku ngadu lalu Ayah berantem, jadi biar aku aja yang ngalah,” jawab Dini pelan. Dalam keluarganya memang yang terpenting adalah kerukunan.


“Enggak ada yang akan berantem koq. Everything will be fine, trust me” kata Harry meyakinkan Dini.


“Besok kuliah ya? Hari ini kita mau pergi atau seharian di rumah?” tanya Harry mencairkan suasana.


“Di rumah aja, tapi malas masak, siang Ayah beli gado-gado lalu malam beli sate kambing atau ayam goreng didepan aja ya,” kata Dini. Diaa ingin santai sekali-sekali.


“Siaaaap nyonya Benhard,” goda Harry menyebut namanya sendiri. Dini hanya mencibirkan bibirnya menjawab candaan Harry itu.


***


Sore ini Dini dijemput Harry dikampusnya untuk pulang bareng ke Kramat karena pagi tadi mereka mulai menitipkan Amora disana sebelum Dini berangkat kuliah. Sesampainya di rumah, Dini dan Harry melihat Amora sedang menangis kencang sambil digendong opanya.


“Princess Ayah kenapa nangis, koq ngejer gitu nangisnya, kenapa sayang?” tanya Harry sambil mengambil Amora dari tangan papamya. Dini tadi langsung ke kamar mandi karena dia kedatangan tamu bulanan sehingga ingin segera pakai pembalut.


“Dia habis jatuh dari kasur,” kata papanya, “Nih sedikit memar dahinya”


Dirumah dia dan Dini selalu menjaga sekeliling Amora dengan bantal, lalu di bawah kasur juga diletakan banyak bantal serta kasur busa agar bila Amora terjatuh, tak akan memar. Dia yakin habis ini Dini akan marah padanya saat tau anak mereka terjatuh.


Dini mengambil sapu dan meminta Harry membongkar tempat tidur, menyapu lantainya hingga bersih, menggelar karpet dan meletakkan kasur dilantai tanpa tempat tidur. Dia tak ingin Amora terjatuh lagi.


Dini keluar kamar sambil membawa Amora yang sudah tidak menangis dan membiarkan Harry mengerjakan semua sendiri, karena Dini alergi debu. Jangan menuduh dia tak mau bantu, tapi memang dia tak bisa terkena debu.


“Kenapa dibongkar Harr? Enggak pantes kan tidur tanpa ranjang,” tegur mamanya ketus.


“Mama mau Amora sering jatuh lalu bikin dia terganggu otaknya? Yang dirumah kan enggak konsen jaga anak Harry, kepaksa jaga kan?” balas Harry sengit.


“Liat aja di rumah banyak orang tapi enggak ada yang dengar Amora nangis saat bangun tidur, sudah njerit karena jatuh lalu baru pada tau,” lanjut Harry lagi.

__ADS_1


Dini pura-pura tak tau pertengkaran itu, dia sibuk menyuapi makan Amora.


 ***


Hari Kamis Dini kuliah hanya sampai jam 10 pagi, jadi jam 11 dia sudah sampai Kramat. Baru selesai ganti baju, pembantu disana bilang Amora tadi memecahkan vas keramik di meja tamu. Amora memang mulai rambatan, dia menarik apa pun yang bisa dia raih.


‘Oh my God! Ujian apa lagi ini,’ batin Dini. Dia kembali ke kamar untuk berganti baju, sesudah itu dia telepon Harry menanyakan posisinya.


“Hallo, kenapa Yank? Ayah baru keluar kelas,” beritahu Harry saat dia tau Dini meneleponnya.


“Belum juga ditanya” sahut Dini cepat.


“He he he, kangen ya?” goda Harry.


“Bunda mau kepasar Senen bagian keramik-keramik itu Yah, bisa ketemuan disana? Kalau ketemu dirumah kelamaan,” jawab Dini.


“Ada perlu apa? Emang ada hewan disana?” tanya Harry, karena biasanya Dini ke pasar Senen buat cari hewan bahan praktikumnya kuliahnya.


“Nanti aja ceritanya, Bunda berangkat sekarang. Bunda tunggu disana, GPL ( ga pake lama ),” sahut Dini sambil berjalan keluar rumah.


Setelah muter-muter dan tawar menawar alot akhirnya Dini mendapatkan vas yang corak bunganya mirip dengan vas keramik milik mama mertuanya yang dipecahkan Amora.


Menjelang ke parkiran Dini melihat kios-kios buku langganannya, dia sedih karena sudah lama tidak jajan novel kesukaannya. Harry yang melihat istrinya melirik ke kios buku akhirnya menarik tangan mungil Dini untuk beli beberapa buku.


“Pilih buku yang Bunda mau, Ayah yang beliin,” katanya sambil menggoda Dini dengan menaikkan kedua alisnya.


=====================================================================   


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya

__ADS_1


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2