
88 KALAU GA NYAMAN, BATALIN PROYEK ITU!
Senandung Dini mengajarkan Amora lagu anak-anak. Anto mendengarkan dengan seksama interaksi kedua cintanya ini
Nada dering ponsel Anto terdengar. Anto mengambilnya dari tempat HP di pinggangnya, dilihatnya id yang dia ga suka, diberikannya kepada Dini untuk menjawabnya
“Sapa mom?” suara anak kecil terdengar diujung telpon yang Puspita hubungi
“Pagi mas” sapa Puspita manja, dia tetap mengira yang mengangkat telponnya adalah Anto
“Assalamu’alaykum mbak, ada apa lagi ya?” tanya Dini
“Bisa bicara dengan mas Antonya bu?” tanya Puspita
“Dia sedang nyetir mobil tuh, ga bisa terima telpon, atau bicara aja, sudah saya speaker koq, dia bisa menjawab” kata Dini
“Ada yang perlu dibahas?” tanya Anto
“Daddy sapa?” tanya Amora karena pertanyaannya tadi belum dijawab Dini
“Teman daddy sayang” jawab Anto pada Amora
“Oh maaf mengganggu acara keluarganya mas, bisa kita ketemu untuk membahas detil yang sudah saya gambar” tanya Puspita
“Seperti yang saya bilang beberapa kali, kirim di email aja, ga ada yang perlu dibahas, karena percuma juga membahas dengan saya, yang lebih kompeten membahasnya tu tunangan saya, karena design yang saya pesan itu konsepnya dia” kata Anto pada Puspita
“Mom, design yang kemarin mau kamu ubah?” tanya Anto pada Dini
“Mommy sih ga ada perubahan dad, seperti yang kita rancang berdua aja, apa daddy mau ubah lagi?” jawab Dini seakan tahu bagaimana konsep yang diminta Anto
“See ya mbak, ga ada yang perlu dibahas via pertemuan, semua by email aja” kata Anto langsung mematikan sambungan telpon dari Puspita
“Kalau ga nyaman, maz bilang aja ke bu Gita, batalin proyek pembangunan itu, kalau mau diterusin minta ganti arsitek dengan yang laki-laki. Biar ga ribet maz” saran Dini
“Iya juga ya mom, daddy ga pernah kepikiran hal itu. Nanti sesampai di sunmor maz langsung hubungi bu Gita deh biar ga makin berlarut persoalan ini.” Anto sangat lega ada solusi persoalan ini, dia menggenggam tangan kanan Dini dan membawanya ke bibirnya untuk dikecupnya lembut
__ADS_1
“Daddy tiss” pinta Amora sambil memberikan tangannya meminta di kiss daddy nya
Dini mencubit paha kiri Anto : “Makanya bertindak depan anak tu hati-hati” katanya mengingatkan
“Sorry” kata Anto ambil mengedipkan matanya menggoda Dini
“I love you princess daddy” kata Anto sambil mengecup tangan mungil kekasih kecilnya
***
“Cie cie cie.. beneran pasangan serasi ya, sengaja kembaran gitu bajunya, mau bikin ngiri gue kan?” goda Steve saat mereka bertemu dan bersalaman dengan Anto
“Kita ga janjian lho Steve, keluar kamar baju kita samaan gini” kilah Dini
“Janjian juga gapapa kan? Ga ada yang marah koq” kata Steve lagi
“Ada Steve, mbak-mbak yang ngejar dia” goda Dini “Rajin telpon dan datang ke kantornya” lanjutnya
“Cie kamu curhat mom? Cemburu ya?” goda Anto sambil mencium pipi Dini
“Yeee, siapa yang cemburu” jawab Dini sambil menjauh agar ga jadi sasaran cium Anto lagi
“Itu Steve, yang dijodohin ama mantan mertua” kata Dini semakin menjauh dari Anto
“Hahahhaaa, masih nyosor aja dia bro?” tanya Steve pada Anto
“Barusan aja dia telpon, Dini tu yang njawab” kata Anto
“Kita cari makan dulu yok, lapar nih” kata Dini
Saat menunggu pesanan datang Anto meminta Steve mengawasi Amora karena dia ingin telpon bu Gita
“Assalamu’alaykum bu. Apa khabar?” tanya Anto pada mantan mertuanya itu
“Wa alaykum salam Nto, alhamdulilaah kami sehat.” jawab bu Gita
__ADS_1
“Maaf bu langsung saja, saya ingin pembahasan pembangunan rumah saya tidak usah dilanjutkan bu, karena saya ga nyaman dengan kinerja Puspita
“Kenapa Nto, dia kan lulusan terbaik ITB, pasti hasil kerjanya bagus” kata bu Gita tetap mempromosikan keponakannya
“Benar dia lulusan terbaik, dan hasil kerjanya mungkin akan sebanding dengan kepandaiannya bu, namun sayang attitudenya minus, saya ga bisa kerja dengan orang yang ga bisa menangkap kata-kata saya” jelas Anto
“Tapi itu amanat Shinta, ibu wajib melakukannya” kilah bu Gita
“Kalau ibu memang berniat melaksanakan amanat Shinta, ibu ga perlu menjodohkan saya dengan siapapun apalagi dengan Puspita. Ibu silahkan cari arsitek laki-laki. Atau nanti saya cari arsitek sendiri, nanti tinggal arsitek yang saya tunjuk berbicara biaya dengan ibu. Walau sebenarnya tanpa digantipun saya akan bangun kembali rumah itu dengan biaya saya sendiri” kata Anto tegas
“Ya wis, nanti ibu sampaikan ke Puspita kalau kamu membatalkan kerjasama yang akan dilaksanakan. Sesuai pendapatmu, kamu cari saja arsitek yang kinerjanya sesuai dengan keinginanmu” jawab bu Gita. Dia menyadari Anto sudah terdengar marah. Bu Gita malah belum menyampaikan permintaan Puspita kemarin, yaitu minta diatur pertemuan berdua antara Puspita dan Anto. Bu Gita sadar Puspita terlalu bernafsu mengejar Anto sehingga Anto merasa ga nyaman
“Maturnuwun bu. Salam hormat untuk bapak. Assalamu’alaykum” kata Anto memutuskan pembicaraan
***
Dini mengatur setelan timer di camera digitalnya, mereka sudah dandan dengan baju sarimbit. Berbagai pose mereka bikin. Lalu Anto langsung mencopy photo-pohto itu dengan computer Dini. Dia akan langsung cetak begitu tiba di Jakarta besok. Saat Amora sudah tertidur Dini memperhatikan hasil photo, dia takjub akan mimik natural mereka ber tiga. Ada pose yang dia suka, yaitu saat Anto dan dia mengecup pipi Amora ditengah-tengah mereka, namun pose yang dirinya dan Amora mencium Anto ditengah-tengahpun sangat menarik, Anto malah menyukai pose yang Dini ditengah menjadi target ciuman Anto dan Amora
“Bagus semua sih de, mimik Moya ngegemesin” komentar Anto saat mereka berdua duduk di sofa melihat-lihat hasil jepretan tadi. “Besok daddy mau cetak yang ini besar, buat ditaruh diruang tamu” kata Anto memperlihatkan pose Dini duduk sedang Anto berdiri disamping agak belakang dan Amora berdiri mepet dikaki Dini
“Malu ama mama maz, masa udah mau majang photo kita aja” cegah Dini, padahal dia juga berniat mencetak photo tersebut dengan ukuran besar untuk dipajang di rumah ini.
“Ga problem kalau mama dan semua keluargaku” kata Anto sambil memeluk bahu Dini. Dia tahu masih banyak kekhawatiran Dini untuk memulai langkah baru. Karena itu dia harus terus mensupport dan mengikis ke khawatiran Dini
“Kamu sudah pastikan driver taxi yang kita pesan untuk besok pagi de?” tanya Anto, karena dia ga ingin Dini mengantarkannya ke bandara. Hari Senin jadwal Dini upacara, dan besok jadwal Dini piket sebagai pelaksana upacara.
“Sudah, tadi sore sudah ade pastiin lagi” jawab Dini
“Kamu masih yakin kita ngehalalin habis kamu selesai kuliah?” pancing Anto
“Maz udah pikirin gimana kita sesudah halal nanti? Kita mau tinggal dimana? Aku udah nyaman tinggal disini” kata Dini tidak menjawab pertanyaan Anto
“Kebiasaan, ga jawab pertanyaan malah balik nanya” protes Anto sambil meletakan kepalanya dipangkuan Dini, dia berbaring dengan paha Dini sebagai bantalnya
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote nya ya
jangan lupa mulai intip-intip spin cerita ini dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR ya